<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Misteri Makam Syekh Siti Jenar, Jadi Bunga Melati, Moksa atau di Bawah Masjid Demak</title><description>Sampai kini keberadaan makam Syekh Siti Jenar. Keberadaan makamnya tak bisa dipastikan di mana yang sebenarnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403815/misteri-makam-syekh-siti-jenar-jadi-bunga-melati-moksa-atau-di-bawah-masjid-demak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403815/misteri-makam-syekh-siti-jenar-jadi-bunga-melati-moksa-atau-di-bawah-masjid-demak"/><item><title>Misteri Makam Syekh Siti Jenar, Jadi Bunga Melati, Moksa atau di Bawah Masjid Demak</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403815/misteri-makam-syekh-siti-jenar-jadi-bunga-melati-moksa-atau-di-bawah-masjid-demak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403815/misteri-makam-syekh-siti-jenar-jadi-bunga-melati-moksa-atau-di-bawah-masjid-demak</guid><pubDate>Sabtu 01 Mei 2021 06:53 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/01/337/2403815/misteri-makam-syekh-siti-jenar-jadi-bunga-melati-moksa-atau-di-bawah-masjid-demak-NdIOu9OmkH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/01/337/2403815/misteri-makam-syekh-siti-jenar-jadi-bunga-melati-moksa-atau-di-bawah-masjid-demak-NdIOu9OmkH.jpg</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>JAKARTA - Sampai kini keberadaan makam Syekh Siti Jenar. Keberadaan makamnya tak bisa dipastikan di mana yang sebenarnya. Karena  petilasan atau makam yang diyakini sebagai makam Syekh Siti Jenar tlberada di berbagai daerah.

Ada beberapa makam Syekh Siti Jenar, ada yang  menyebutkan  makam Syech Siti Jenar  berada di daerah Gedongombo, Kecamatan Semanding, dan berjarak sekitar 3 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tuban, Jawa Timur.

Makamnya berada di tengah makam desa dan berdekatan dengan Masjid Syekh Siti Jenar. Nama Syekh Siti Jenar tertulis di gapura masuk kampung dan gapura makam.

Kemudian di Carita Purwaka Caruban Nagari dikisahkan, setelah Syekh Siti Jenar dihukum mati, dia dimakamkan di pemakaman Mandala Anggaraksa, di Cirebon.

Namun karena kuburan itu selalu didatangi para murid bahkan masyarakat yang berziarah, kuburnya lalu dibongkar dan diganti dengan seekor anjing. Akan halnya, mayat Syekh Siti Jenar sendiri berubah menjadi sekuntum melati, sehingga area makam itu dikenal dengan Pamlaten.

Disebutkan bahwa petilasan atau Sunan Kalijaga terletak di Barat Sungai Sipadu, di Jalan Pramuka, Desa Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Daerah ini juga dikenal sebagai Taman Kera, karena ada ratusan kera yang hidup di sini.

Di sisi lain, makam Syeh Siti Djenar berada  di Desa Kemlaten, Kecamatan Harjamukti, yang tak jauh dari situs petilasan Sunan Kalijaga. Bentuk makamnya sederhana, hanya berupa satu cungkup kuburan 180 x 90 sentimeter yang dipayungi kelambu putih.

Keterangan dalam buku Babad Cerbon yang menerangkan asal kata Desa Kemlaten dari kata &quot;melati&quot; atau bau wangi bunga melati yang keluar dari jasad Syekh Siti Jenar ketika makamnya dibongkar.

Muhammad Sholikhin dalam bukunya yang berjudul &quot;Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo &quot;dan diterbit oleh Erlangga pada 2001 menjelaskan bahawa kematian Syekh Siti Jenar cukup wajar.

Dalam buku itu sesungguhnya yang dihukum mati oleh para wali adalah kedua murid Syekh Siti Jenar yang bernama San Ali Anshar dan Hasan Ali.

Dalam beberapa babad dan hikayat Jawa, dua orang ini dianggap sebagai satu orang yaitu Syaikh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar sendiri. Padahal, keduanya memiliki konflik dan persoalan yang berbeda-beda. Kedua orang inilah yang dihukum mati oleh para wali.

Sementara Syekh Siti Jenar meninggal dunia secara wajar dan disemayamkan di sebuah dukuh terpencil sebelah selatan dukuh Lemah Abang di Cirebon. Dia dikuburkan secara terhormat oleh para wali di Astana Kemlaten.

Namun, ada pula yang berpendapat Syekh Siti Jenar wafat secara moksa,  dimana  jasadnya menghilang terserap menjadi ruh dan terbang ke surga.

Teori lain, makam Syekh Siti Jenar  yang memiliki nama asli Raden  Abdul Jalil berada di kompleks Makam Kalinyamat di sekitar Mesjid  Mantingan,  Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Di komplek ini  juga terdapat makam Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin,   dan beberapa makam kerabat Ratu Kalinyamat.  Kalinyamat adalah seorang  ratu dengan nama asli Retna Kencana, puteri Sultan Trenggono yang  merupakan Raja Demak (1521-1546).

Namun masyarakat Jepara meyakini bahwa makam Syekh Siti Jenar berada  di desa Lemah Abang, Jepara. Ada lagi yang menyebut bahwa makamnya  berada di desa Balong Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Masyarakat  Desa Lemah Abang, Kecamatan Doro, Pekalongan percaya  bahwa makam Syekh Siti Jenar ada di daerahnya. petilasan ini berada di  daerah tinggi dan terdapat beberapa pohon besar di sekitarnya, yang  tidak jauh dari pemukiman penduduk.

Pada sekitar petilasan terdapat sejumlah makam yang terletak di  bagian kiri dan kanan jalan masuk ke tempat bangunan utama petilasan  yang hanya terdapat satu makam.

Di makam Syekh Siti Jenar itu setiap satu tahun  sekali  di  peringati  khaul.

Terdapat pula pendapat bahwa Syekh Siti Jenar dimakamkan di bawah  pengimanan masjid Demak. Sengaja dimakamkan di sana sehingga tidak bisa  dicari pengikutnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Sampai kini keberadaan makam Syekh Siti Jenar. Keberadaan makamnya tak bisa dipastikan di mana yang sebenarnya. Karena  petilasan atau makam yang diyakini sebagai makam Syekh Siti Jenar tlberada di berbagai daerah.

Ada beberapa makam Syekh Siti Jenar, ada yang  menyebutkan  makam Syech Siti Jenar  berada di daerah Gedongombo, Kecamatan Semanding, dan berjarak sekitar 3 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tuban, Jawa Timur.

Makamnya berada di tengah makam desa dan berdekatan dengan Masjid Syekh Siti Jenar. Nama Syekh Siti Jenar tertulis di gapura masuk kampung dan gapura makam.

Kemudian di Carita Purwaka Caruban Nagari dikisahkan, setelah Syekh Siti Jenar dihukum mati, dia dimakamkan di pemakaman Mandala Anggaraksa, di Cirebon.

Namun karena kuburan itu selalu didatangi para murid bahkan masyarakat yang berziarah, kuburnya lalu dibongkar dan diganti dengan seekor anjing. Akan halnya, mayat Syekh Siti Jenar sendiri berubah menjadi sekuntum melati, sehingga area makam itu dikenal dengan Pamlaten.

Disebutkan bahwa petilasan atau Sunan Kalijaga terletak di Barat Sungai Sipadu, di Jalan Pramuka, Desa Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Daerah ini juga dikenal sebagai Taman Kera, karena ada ratusan kera yang hidup di sini.

Di sisi lain, makam Syeh Siti Djenar berada  di Desa Kemlaten, Kecamatan Harjamukti, yang tak jauh dari situs petilasan Sunan Kalijaga. Bentuk makamnya sederhana, hanya berupa satu cungkup kuburan 180 x 90 sentimeter yang dipayungi kelambu putih.

Keterangan dalam buku Babad Cerbon yang menerangkan asal kata Desa Kemlaten dari kata &quot;melati&quot; atau bau wangi bunga melati yang keluar dari jasad Syekh Siti Jenar ketika makamnya dibongkar.

Muhammad Sholikhin dalam bukunya yang berjudul &quot;Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo &quot;dan diterbit oleh Erlangga pada 2001 menjelaskan bahawa kematian Syekh Siti Jenar cukup wajar.

Dalam buku itu sesungguhnya yang dihukum mati oleh para wali adalah kedua murid Syekh Siti Jenar yang bernama San Ali Anshar dan Hasan Ali.

Dalam beberapa babad dan hikayat Jawa, dua orang ini dianggap sebagai satu orang yaitu Syaikh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar sendiri. Padahal, keduanya memiliki konflik dan persoalan yang berbeda-beda. Kedua orang inilah yang dihukum mati oleh para wali.

Sementara Syekh Siti Jenar meninggal dunia secara wajar dan disemayamkan di sebuah dukuh terpencil sebelah selatan dukuh Lemah Abang di Cirebon. Dia dikuburkan secara terhormat oleh para wali di Astana Kemlaten.

Namun, ada pula yang berpendapat Syekh Siti Jenar wafat secara moksa,  dimana  jasadnya menghilang terserap menjadi ruh dan terbang ke surga.

Teori lain, makam Syekh Siti Jenar  yang memiliki nama asli Raden  Abdul Jalil berada di kompleks Makam Kalinyamat di sekitar Mesjid  Mantingan,  Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Di komplek ini  juga terdapat makam Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin,   dan beberapa makam kerabat Ratu Kalinyamat.  Kalinyamat adalah seorang  ratu dengan nama asli Retna Kencana, puteri Sultan Trenggono yang  merupakan Raja Demak (1521-1546).

Namun masyarakat Jepara meyakini bahwa makam Syekh Siti Jenar berada  di desa Lemah Abang, Jepara. Ada lagi yang menyebut bahwa makamnya  berada di desa Balong Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Masyarakat  Desa Lemah Abang, Kecamatan Doro, Pekalongan percaya  bahwa makam Syekh Siti Jenar ada di daerahnya. petilasan ini berada di  daerah tinggi dan terdapat beberapa pohon besar di sekitarnya, yang  tidak jauh dari pemukiman penduduk.

Pada sekitar petilasan terdapat sejumlah makam yang terletak di  bagian kiri dan kanan jalan masuk ke tempat bangunan utama petilasan  yang hanya terdapat satu makam.

Di makam Syekh Siti Jenar itu setiap satu tahun  sekali  di  peringati  khaul.

Terdapat pula pendapat bahwa Syekh Siti Jenar dimakamkan di bawah  pengimanan masjid Demak. Sengaja dimakamkan di sana sehingga tidak bisa  dicari pengikutnya.</content:encoded></item></channel></rss>
