<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sunan Drajat Tercebur ke Laut Ditolong Ikan Talang dan Cucut</title><description>Kedua ikan membawa Raden Qosim lepas dari badai.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403822/kisah-sunan-drajat-tercebur-ke-laut-ditolong-ikan-talang-dan-cucut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403822/kisah-sunan-drajat-tercebur-ke-laut-ditolong-ikan-talang-dan-cucut"/><item><title>Kisah Sunan Drajat Tercebur ke Laut Ditolong Ikan Talang dan Cucut</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403822/kisah-sunan-drajat-tercebur-ke-laut-ditolong-ikan-talang-dan-cucut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/01/337/2403822/kisah-sunan-drajat-tercebur-ke-laut-ditolong-ikan-talang-dan-cucut</guid><pubDate>Sabtu 01 Mei 2021 07:32 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/01/337/2403822/kisah-sunan-drajat-tercebur-ke-laut-ditolong-ikan-talang-dan-cucut-LUmdNtqaD1.png" expression="full" type="image/jpeg">Sunan Drajat (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/01/337/2403822/kisah-sunan-drajat-tercebur-ke-laut-ditolong-ikan-talang-dan-cucut-LUmdNtqaD1.png</image><title>Sunan Drajat (Ist)</title></images><description>DALAM Babad  Tanah Jawi dikisahkan riwayat Sunan Drajat yang  lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, bersaudara dengan Sunan Bonang.

Setelah menguasai pelajaran Islam, ia menyebarkan agama Islam di Desa Drajat sebagai tanah perdikan di Kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan Kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Drajat oleh Raden Patah pada tahun saka 1442 atau 1520 masehi.

Sunan Drajat  mempunyai kisah yang menakjubkan.  Suatu saat Raden Qosim mendapat tugas dakwah ke dusun barat Gresik, Jawa Timur.

Raden Qosim berlayar,  berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Angin yang baik membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa cuaca akan memburuk. Tetapi, saat berada di tengah lautan, tiba-tiba  muncul badai yang sangat dahsyat. Kapal terombang-ambing, dipermainkan ombak , diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.&amp;nbsp;
Perahu itu hancur berkeping-keping. Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Raden Qosim  tercebur di laut, lalu pertolongan yang tak diduga-duga datang menghampiri.

Baca Juga : Jejak Prajurit P.Diponegoro di Malang Ciptakan Tari Reog Bulkio

Seekor ikan talang muncul dan berenang menuju arah Raden Qosim. Awalnya ia panik. Namun, akhirnya mengerti ikan itu dikirim Allah SWT untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk dinaiki Raden Qosim.&amp;nbsp;
Konon, tak hanya ikan talang yang menolong Raden Qosim. Ikan cucut juga mempersilakan dirinya dinaiki untuk dibawa ke pantai. Kedua ikan membawa Raden Qosim lepas dari badai.

Raden Qosim bisa selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua tokoh penting di Jelak, yaitu Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk Islam dan melayani membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya.&amp;nbsp;

Baca Juga : Misteri Makam Syekh Siti Jenar, Jadi Bunga Melati, Moksa atau di Bawah Masjid Demak

Sebuah surau kemudian didirikan Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu berkembang menjadi pesantren.
</description><content:encoded>DALAM Babad  Tanah Jawi dikisahkan riwayat Sunan Drajat yang  lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, bersaudara dengan Sunan Bonang.

Setelah menguasai pelajaran Islam, ia menyebarkan agama Islam di Desa Drajat sebagai tanah perdikan di Kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan Kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Drajat oleh Raden Patah pada tahun saka 1442 atau 1520 masehi.

Sunan Drajat  mempunyai kisah yang menakjubkan.  Suatu saat Raden Qosim mendapat tugas dakwah ke dusun barat Gresik, Jawa Timur.

Raden Qosim berlayar,  berangkat dari pelabuhan di Surabaya. Angin yang baik membuat pelayaran Raden Qosim lancar. Selepas pelabuhan tak ada tanda-tanda bahwa cuaca akan memburuk. Tetapi, saat berada di tengah lautan, tiba-tiba  muncul badai yang sangat dahsyat. Kapal terombang-ambing, dipermainkan ombak , diseret badai di tengah laut yang jauh dari daratan.&amp;nbsp;
Perahu itu hancur berkeping-keping. Raden Qosim masih mampu meraih dayung perahu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengapung. Raden Qosim  tercebur di laut, lalu pertolongan yang tak diduga-duga datang menghampiri.

Baca Juga : Jejak Prajurit P.Diponegoro di Malang Ciptakan Tari Reog Bulkio

Seekor ikan talang muncul dan berenang menuju arah Raden Qosim. Awalnya ia panik. Namun, akhirnya mengerti ikan itu dikirim Allah SWT untuk menolongnya. Ikan itu membentangkan punggungnya untuk dinaiki Raden Qosim.&amp;nbsp;
Konon, tak hanya ikan talang yang menolong Raden Qosim. Ikan cucut juga mempersilakan dirinya dinaiki untuk dibawa ke pantai. Kedua ikan membawa Raden Qosim lepas dari badai.

Raden Qosim bisa selamat sampai di pantai nelayan yang kemudian dikenal sebagai kampung Jelak, Banjarwati. Kedatangan Raden Qosim ternyata sudah dinantikan dua tokoh penting di Jelak, yaitu Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Dua orang ini telah memeluk Islam dan melayani membantu kerja dakwah Raden Qosim di daerahnya.&amp;nbsp;

Baca Juga : Misteri Makam Syekh Siti Jenar, Jadi Bunga Melati, Moksa atau di Bawah Masjid Demak

Sebuah surau kemudian didirikan Raden Qosim sebagai sarana awal dakwahnya. Lambat laun pengajian yang digelar Raden Qosim dibanjiri peminat. Surau itu berkembang menjadi pesantren.
</content:encoded></item></channel></rss>
