<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Prajurit Pangeran Diponegoro Dirikan Pesantren di Beberapa Wilayah di Jatim   </title><description>DALAM jurnal ilmiah berjudul &quot;Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren&quot; diterbitkan di FALASIFA</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405757/kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405757/kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim"/><item><title>Kisah Prajurit Pangeran Diponegoro Dirikan Pesantren di Beberapa Wilayah di Jatim   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405757/kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405757/kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim</guid><pubDate>Rabu 05 Mei 2021 06:42 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/337/2405757/kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim-eoPY9DNApk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro.(Foto:Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/337/2405757/kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim-eoPY9DNApk.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro.(Foto:Dok Okezone)</title></images><description>DALAM jurnal ilmiah berjudul &quot;Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren&quot; diterbitkan di FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman karya Rizal Mumazziq Z STAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember, ditulis penyebaran prajurut Pangeran Diponegoro di wilayah Jawa Timur,  pasca-perang jawa.
Di Jawa Timur jejak perjuangan  laskar Diponegoro bisa dilacak melalui teritorial Magetan. Di kota ini,  ada Pesantren Takeran, yang didirikan oleh Kiai Kasan Ngulama (Kiai  Hasan Ulama), seorang guru Tarekat Syattariyah, yang juga merupakan  putera Kiai Khalifah, pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Kiai Khalifah  alias Pangeran Kertopati usai perang mengungsi ke arah timur Gunung  Lawu, Magetan, dan membangun sebuah padepokan agama di Bogem, Sampung,  Ponorogo.
Baca Juga: Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa
Sezaman dengan Kiai Khalifah, seorang sahabatnya saat  berperang, Kiai Abdurrahman, juga mendirikan sebuah masjid di Dusun  Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Di kemudian  hari, salah seorang putera Kiai Khalifah, yaitu Kiai Hasan Ulama,  mendirikan pesantren di Takeran Magetan.
Di pondok yang merupakan cikal  bakal Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM), Kiai Hasan melakukan kaderisasi  para santri yang kelak juga banyak mendirikan pesantren lain di berbagai  daerah.
Berasal dari Bagelen, Purworejo, trio veteran Perang Jawa: Kiai  Nur Qoiman, Nuriman dan Ya&amp;rsquo;qub, memutuskan mbabat alas di Desa Gondang,  Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Di desa ini, tiga bersaudara  tersebut mendirikan sebuah masjid.
Keberadaan masjid sederhana ini  kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren salaf di era kepemimpinan  Kiai Murdiyah alias Kiai Muhammad Asrori, yang merupakan murid Kiai  Kholil Bangkalan.
Di era Kiai Asrori, banyak santri yang datang berguru.  Kebanyakan  berasal dari wilayah Mataraman dan Jawa Tengah. Pesantren  berusia tua  ini sekarang menggunakan nama PP. Qomarul Hidayah.
Di  Kediri, seorang saudara tiri Diponegoro, Sabar Iman alias Kiai  Bariman  bin Hamengkubowono III, menyingkir dari keratonnya dan memilih  tinggal  di kota ini. Dari silsilah Kiai Sabar Iman ini lahir Abdul  Ghofur.
Di  kemudian hari salah satu putra Abdul Ghofur, Mukhtar Syafa&amp;rsquo;at,  menjadi  salah seorang ulama terkemuka di Banyuwangi. Pesantren yang  dirintis,  Darussalam, berkembang dengan ribuan santri. Saat ini,  pesantren yang  didirikan oleh Kiai Mukhtar Syafaat diasuh oleh  putranya, KH. Ahmad  Hisyam Syafaat.
Di Kediri juga terdapat Pesantren Kapurejo yang  didirikan oleh Kiai  Hasan Muhyi. Setelah bergerilya di lereng Gunung  Lawu, Wilis, dan  Kelud, Kiai Hasan Muhyi (Raden Mas Ronowidjoyo),  seorang perwira tinggi  dalam Detasemen Sentot Alibasah Prawirodirdjo,  akhirnya mendirikan  Pesantren Kapurejo, di Kecamatan Pagu.
Pesantren tua  ini banyak menelurkan alumni yang kemudian mendirikan  pesantren di  wilayah Nganjuk dan Kediri. Kiai Ahmad Sangi mendirikan  Pesantren Jarak  di Plosoklaten, Kiai Nawawi merintis Pesantren  Ringinagung, Kiai  Sirojuddin merintis pendirian Pesantren Jombangan,  dan beberapa kiai  lain juga mendirikan masjid di berbagai tempat  tinggal masing-masing.
Selain  itu, ada juga Pesantren Miftahul Ulum, Jombangan, Tertek,  Pare, Kediri,  yang didirikan oleh Kiai Sirojuddin, kurang lebih  limabelas tahun  setelah penangkapan Pangeran Diponegoro.
Kiai Sirojuddin kelahiran  Kudus, bergabung dengan pasukan gerilya  Diponegoro beberapa saat  menjelang Perang Jawa pecah. Hingga saat ini,  Pesantren Miftahul Ulum  dilanjutkan oleh keturunannya dan fokus pada  pengembangan kajian  al-Qur&amp;rsquo;an dan kitab kuning.
Di Nganjuk, terdapat Pesantren  Miftahul Ula, Nglawak, Kertosono. Pendirinya adalah Kiai Abdul Fattah  Djalalain. Ayahnya,
Kiai Arif, adalah cucu Pangeran Diponegoro, karena  Kiai Arif adalah  putera Kiai Hasan Alwi, yang merupakan putera  Diponegoro dari selirnya.  Kiai Arif semasa hidupnya diburu serdadu  Belanda dan sering berpindah  tempat. Terakhir, ia menetap di desa  Banyakan, Grogol, Kediri.
Di kemudian hari, Kiai Arif menikah dengan  Sriyatun binti Kiai Hasan  Muhyi, pengasuh Pesantren Kapurejo. Dari  pasangan ini, Kiai Fattah  lahir.
Pada era revolusi fisik, Kiai Fattah  yang juga santri Kiai Hasyim  Asyari ini menjadi magnet para laskar  rakyat, termasuk Hizbullah dan  Sabilillah. Sebab, beliau banyak  memberikan wirid, amalan keselamatan,  serta kekebalan bagi para pasukan  yang mau terjun ke medan perang. Kiai  kelahiran 9 April 1909 ini juga  menjadikan pesantren asuhannya sebagai  markas Hizbullah dan Sabilillah.
Di  Jombang, terdapat nama Kiai Abdussalam, salah seorang pasukan   Diponegoro, yang merintis pondok di Desa Tambakberas. Ketika mbabat   alas, ia bersama pengikutnya mendirikan sebuah langgar kecil dan   pemondokan di sampingnya untuk 25 pengikutnya.
Kelak, karena jumlah  santrinya dibatasi 25 orang, pondok ini dikenal  dengan nama pondok  selawe alias &amp;ldquo;pesantren dua puluh lima&amp;rdquo; atau  disebut pondok telu karena  hanya ada tiga unit bangunan.
Di kemudian hari, Bani Abdussalam  mendominasi jaringan ulama di  wilayah Jombang, Kediri, dan sekitarnya.  Hal ini dikarenakan mayoritas  silsilah para kiai di wilayah ini  mengerucut pada namanya.
Salah seorang puterinya, Layyinah, dipersunting  Kiai Usman yang  kemudian menurunkan Kiai Asy&amp;rsquo;ari, ayah dari KH. M.  Hasyim Asy&amp;rsquo;ari. Adik  Layyinah yang bernama Fatimah menikah dengan Kiai  Said.
Pasangan ini dikaruniai putera bernama Chasbullah Said. Nama   terakhir ini adalah ayah dari KH. A. Wahab Chasbullah, salah satu   pendiri NU.
Sedangkan adik Kiai Wahab menikah dengan KH. Bisri Syansuri,  ulama  yang berasal dari Pati. Kiai Bisri kemudian berbesanan dengan  gurunya,  Kiai Hasyim Asy&amp;rsquo;ari.
Di kemudian hari, pesantren ini menjadi  cikal bakal pesantren besar  lain di wilayah Jombang, seperti Tebuireng,  Rejoso, Denanyar, Seblak,  dan sebagainya.
Sedangkan  Kiai Abdul Wahid, veteran lainnya, merintis pesantren di  Desa Ngroto.  Adapun anaknya, Asy&amp;rsquo;ari, di kemudian hari mendirikan  pesantren di Desa  Keras. Nama terakhir ini adalah ayah dari KH. M.  Hasyim Asy&amp;rsquo;ari.
Di  Pacitan, ada Pondok Tremas yang banyak melahirkan ulama besar ,  dari  Syaikh Mahfudz Attarmasi , Mbah Hamid Pasuruan , Kiai Ali Maksum  Krapyak ,  Kiai Zubair Umar , Rektor IAIN Walisongo Semarang ; hingga  Menteri Agama era 1970-an , Prof. Mukti Ali.Pondok tua ini berdiri tepat ketika Perang Jawa berakhir , 1830 .  Pendirinya , Kiai Abdul Manan Dipomenggolo , adalah menantu perwira  laskar Diponegoro yang bernama Raden Ngabehi Honggo Widjoyo .
Kiai Manan ini adalah salah satu perintis hubungan intelektual  Nusantara dan Mesir , sebab beliau pernah menunut ilmu di Al-Azhar dan   mendirikan sebuah ruwaq Jawi alias semacam asrama tempat tinggal para   penuntut ilmu asal Nusantara .
Di Banyuwangi, keberadaan  laskar Diponegoro bisa dilacak melalui  jaringan intelektual - spiritual yang dibina oleh Kiai Sabar Iman bin  Sultan Diponegoro II ( Raden Mas  Alip alias Raden Mas Sadewo) yang  cucunya , Kiai Mukhtar Syafaat , kelak  mendirikan pesantren terbesar di  Banyuwangi , Darussalam , yang terletak di Desa Blokagung .
Beberapa nama pesantren di atas adalah  sebagian kecil dari lembaga  pendidikan yang dirintis oleh para veteran  Perang Jawa ini, khususnya  di Jawa Timur.
Selain itu masih ada banyak  pesantren di Jawa Tengah yang didirikan  oleh mereka. Belum terhitung  lagi jumlah masjid kuno dan langgar yang  nama pendirinya tidak terlacak.
Peralihan strategi dari perjuangan  bersenjata ke perjuangan  pencerdasan masyarakat di bidang pendidikan ini  di kemudian hari  menampakkan hasilnya .
Usai perang , beberapa pesantren  yang didirikan oleh anak - cucu  laskar Diponegoro maupun muridnya semakin  bertumbuh kembang . Misalnya  Pesantren Maskumambang Gresik ( 1859 ) ,  Pesantren Berjan Purworejo (  1870 ) , Pesantren Arjawinangun Cirebon , Pesantren al-Amin Prenduan  Sumenep , Pesantren Kedunglo Kediri , Pesantren Genggong Probolinggo (  1839 ) , Pesantren Langitan Tuban ( 1852 ) , Pesantren Rejoso Jombang  (1885 ) , Pesantren Guluk-Guluk Sumenep ( 1887 ) dan sebagainya.
Hingga saat ini pesantren - pesantren di atas masih bertahan dan  berkembang pesat . Perjuangan Laskar Diponegoro , sungguhpun  secara  kasat mata berakhir manakala sang pangeran ditangkap Belanda , namun  secara faktual justru dimulai manakala strategi perjuangan diubah :   dari medan perang ke arena pendidikan.</description><content:encoded>DALAM jurnal ilmiah berjudul &quot;Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren&quot; diterbitkan di FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman karya Rizal Mumazziq Z STAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember, ditulis penyebaran prajurut Pangeran Diponegoro di wilayah Jawa Timur,  pasca-perang jawa.
Di Jawa Timur jejak perjuangan  laskar Diponegoro bisa dilacak melalui teritorial Magetan. Di kota ini,  ada Pesantren Takeran, yang didirikan oleh Kiai Kasan Ngulama (Kiai  Hasan Ulama), seorang guru Tarekat Syattariyah, yang juga merupakan  putera Kiai Khalifah, pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Kiai Khalifah  alias Pangeran Kertopati usai perang mengungsi ke arah timur Gunung  Lawu, Magetan, dan membangun sebuah padepokan agama di Bogem, Sampung,  Ponorogo.
Baca Juga: Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa
Sezaman dengan Kiai Khalifah, seorang sahabatnya saat  berperang, Kiai Abdurrahman, juga mendirikan sebuah masjid di Dusun  Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Di kemudian  hari, salah seorang putera Kiai Khalifah, yaitu Kiai Hasan Ulama,  mendirikan pesantren di Takeran Magetan.
Di pondok yang merupakan cikal  bakal Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM), Kiai Hasan melakukan kaderisasi  para santri yang kelak juga banyak mendirikan pesantren lain di berbagai  daerah.
Berasal dari Bagelen, Purworejo, trio veteran Perang Jawa: Kiai  Nur Qoiman, Nuriman dan Ya&amp;rsquo;qub, memutuskan mbabat alas di Desa Gondang,  Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Di desa ini, tiga bersaudara  tersebut mendirikan sebuah masjid.
Keberadaan masjid sederhana ini  kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren salaf di era kepemimpinan  Kiai Murdiyah alias Kiai Muhammad Asrori, yang merupakan murid Kiai  Kholil Bangkalan.
Di era Kiai Asrori, banyak santri yang datang berguru.  Kebanyakan  berasal dari wilayah Mataraman dan Jawa Tengah. Pesantren  berusia tua  ini sekarang menggunakan nama PP. Qomarul Hidayah.
Di  Kediri, seorang saudara tiri Diponegoro, Sabar Iman alias Kiai  Bariman  bin Hamengkubowono III, menyingkir dari keratonnya dan memilih  tinggal  di kota ini. Dari silsilah Kiai Sabar Iman ini lahir Abdul  Ghofur.
Di  kemudian hari salah satu putra Abdul Ghofur, Mukhtar Syafa&amp;rsquo;at,  menjadi  salah seorang ulama terkemuka di Banyuwangi. Pesantren yang  dirintis,  Darussalam, berkembang dengan ribuan santri. Saat ini,  pesantren yang  didirikan oleh Kiai Mukhtar Syafaat diasuh oleh  putranya, KH. Ahmad  Hisyam Syafaat.
Di Kediri juga terdapat Pesantren Kapurejo yang  didirikan oleh Kiai  Hasan Muhyi. Setelah bergerilya di lereng Gunung  Lawu, Wilis, dan  Kelud, Kiai Hasan Muhyi (Raden Mas Ronowidjoyo),  seorang perwira tinggi  dalam Detasemen Sentot Alibasah Prawirodirdjo,  akhirnya mendirikan  Pesantren Kapurejo, di Kecamatan Pagu.
Pesantren tua  ini banyak menelurkan alumni yang kemudian mendirikan  pesantren di  wilayah Nganjuk dan Kediri. Kiai Ahmad Sangi mendirikan  Pesantren Jarak  di Plosoklaten, Kiai Nawawi merintis Pesantren  Ringinagung, Kiai  Sirojuddin merintis pendirian Pesantren Jombangan,  dan beberapa kiai  lain juga mendirikan masjid di berbagai tempat  tinggal masing-masing.
Selain  itu, ada juga Pesantren Miftahul Ulum, Jombangan, Tertek,  Pare, Kediri,  yang didirikan oleh Kiai Sirojuddin, kurang lebih  limabelas tahun  setelah penangkapan Pangeran Diponegoro.
Kiai Sirojuddin kelahiran  Kudus, bergabung dengan pasukan gerilya  Diponegoro beberapa saat  menjelang Perang Jawa pecah. Hingga saat ini,  Pesantren Miftahul Ulum  dilanjutkan oleh keturunannya dan fokus pada  pengembangan kajian  al-Qur&amp;rsquo;an dan kitab kuning.
Di Nganjuk, terdapat Pesantren  Miftahul Ula, Nglawak, Kertosono. Pendirinya adalah Kiai Abdul Fattah  Djalalain. Ayahnya,
Kiai Arif, adalah cucu Pangeran Diponegoro, karena  Kiai Arif adalah  putera Kiai Hasan Alwi, yang merupakan putera  Diponegoro dari selirnya.  Kiai Arif semasa hidupnya diburu serdadu  Belanda dan sering berpindah  tempat. Terakhir, ia menetap di desa  Banyakan, Grogol, Kediri.
Di kemudian hari, Kiai Arif menikah dengan  Sriyatun binti Kiai Hasan  Muhyi, pengasuh Pesantren Kapurejo. Dari  pasangan ini, Kiai Fattah  lahir.
Pada era revolusi fisik, Kiai Fattah  yang juga santri Kiai Hasyim  Asyari ini menjadi magnet para laskar  rakyat, termasuk Hizbullah dan  Sabilillah. Sebab, beliau banyak  memberikan wirid, amalan keselamatan,  serta kekebalan bagi para pasukan  yang mau terjun ke medan perang. Kiai  kelahiran 9 April 1909 ini juga  menjadikan pesantren asuhannya sebagai  markas Hizbullah dan Sabilillah.
Di  Jombang, terdapat nama Kiai Abdussalam, salah seorang pasukan   Diponegoro, yang merintis pondok di Desa Tambakberas. Ketika mbabat   alas, ia bersama pengikutnya mendirikan sebuah langgar kecil dan   pemondokan di sampingnya untuk 25 pengikutnya.
Kelak, karena jumlah  santrinya dibatasi 25 orang, pondok ini dikenal  dengan nama pondok  selawe alias &amp;ldquo;pesantren dua puluh lima&amp;rdquo; atau  disebut pondok telu karena  hanya ada tiga unit bangunan.
Di kemudian hari, Bani Abdussalam  mendominasi jaringan ulama di  wilayah Jombang, Kediri, dan sekitarnya.  Hal ini dikarenakan mayoritas  silsilah para kiai di wilayah ini  mengerucut pada namanya.
Salah seorang puterinya, Layyinah, dipersunting  Kiai Usman yang  kemudian menurunkan Kiai Asy&amp;rsquo;ari, ayah dari KH. M.  Hasyim Asy&amp;rsquo;ari. Adik  Layyinah yang bernama Fatimah menikah dengan Kiai  Said.
Pasangan ini dikaruniai putera bernama Chasbullah Said. Nama   terakhir ini adalah ayah dari KH. A. Wahab Chasbullah, salah satu   pendiri NU.
Sedangkan adik Kiai Wahab menikah dengan KH. Bisri Syansuri,  ulama  yang berasal dari Pati. Kiai Bisri kemudian berbesanan dengan  gurunya,  Kiai Hasyim Asy&amp;rsquo;ari.
Di kemudian hari, pesantren ini menjadi  cikal bakal pesantren besar  lain di wilayah Jombang, seperti Tebuireng,  Rejoso, Denanyar, Seblak,  dan sebagainya.
Sedangkan  Kiai Abdul Wahid, veteran lainnya, merintis pesantren di  Desa Ngroto.  Adapun anaknya, Asy&amp;rsquo;ari, di kemudian hari mendirikan  pesantren di Desa  Keras. Nama terakhir ini adalah ayah dari KH. M.  Hasyim Asy&amp;rsquo;ari.
Di  Pacitan, ada Pondok Tremas yang banyak melahirkan ulama besar ,  dari  Syaikh Mahfudz Attarmasi , Mbah Hamid Pasuruan , Kiai Ali Maksum  Krapyak ,  Kiai Zubair Umar , Rektor IAIN Walisongo Semarang ; hingga  Menteri Agama era 1970-an , Prof. Mukti Ali.Pondok tua ini berdiri tepat ketika Perang Jawa berakhir , 1830 .  Pendirinya , Kiai Abdul Manan Dipomenggolo , adalah menantu perwira  laskar Diponegoro yang bernama Raden Ngabehi Honggo Widjoyo .
Kiai Manan ini adalah salah satu perintis hubungan intelektual  Nusantara dan Mesir , sebab beliau pernah menunut ilmu di Al-Azhar dan   mendirikan sebuah ruwaq Jawi alias semacam asrama tempat tinggal para   penuntut ilmu asal Nusantara .
Di Banyuwangi, keberadaan  laskar Diponegoro bisa dilacak melalui  jaringan intelektual - spiritual yang dibina oleh Kiai Sabar Iman bin  Sultan Diponegoro II ( Raden Mas  Alip alias Raden Mas Sadewo) yang  cucunya , Kiai Mukhtar Syafaat , kelak  mendirikan pesantren terbesar di  Banyuwangi , Darussalam , yang terletak di Desa Blokagung .
Beberapa nama pesantren di atas adalah  sebagian kecil dari lembaga  pendidikan yang dirintis oleh para veteran  Perang Jawa ini, khususnya  di Jawa Timur.
Selain itu masih ada banyak  pesantren di Jawa Tengah yang didirikan  oleh mereka. Belum terhitung  lagi jumlah masjid kuno dan langgar yang  nama pendirinya tidak terlacak.
Peralihan strategi dari perjuangan  bersenjata ke perjuangan  pencerdasan masyarakat di bidang pendidikan ini  di kemudian hari  menampakkan hasilnya .
Usai perang , beberapa pesantren  yang didirikan oleh anak - cucu  laskar Diponegoro maupun muridnya semakin  bertumbuh kembang . Misalnya  Pesantren Maskumambang Gresik ( 1859 ) ,  Pesantren Berjan Purworejo (  1870 ) , Pesantren Arjawinangun Cirebon , Pesantren al-Amin Prenduan  Sumenep , Pesantren Kedunglo Kediri , Pesantren Genggong Probolinggo (  1839 ) , Pesantren Langitan Tuban ( 1852 ) , Pesantren Rejoso Jombang  (1885 ) , Pesantren Guluk-Guluk Sumenep ( 1887 ) dan sebagainya.
Hingga saat ini pesantren - pesantren di atas masih bertahan dan  berkembang pesat . Perjuangan Laskar Diponegoro , sungguhpun  secara  kasat mata berakhir manakala sang pangeran ditangkap Belanda , namun  secara faktual justru dimulai manakala strategi perjuangan diubah :   dari medan perang ke arena pendidikan.</content:encoded></item></channel></rss>
