<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sunan Bonang Temukan Kitab Sultan Minangkabau yang Tenggelam di Laut   </title><description>DI MASYARAKAT Lasem, Kabupaten Rembang, terdapat cerita lesan atau cerita tutur tentang Sunan Jejeruk atau Sultan Jejeruk</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405760/kisah-sunan-bonang-temukan-kitab-sultan-minangkabau-yang-tenggelam-di-laut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405760/kisah-sunan-bonang-temukan-kitab-sultan-minangkabau-yang-tenggelam-di-laut"/><item><title>Kisah Sunan Bonang Temukan Kitab Sultan Minangkabau yang Tenggelam di Laut   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405760/kisah-sunan-bonang-temukan-kitab-sultan-minangkabau-yang-tenggelam-di-laut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405760/kisah-sunan-bonang-temukan-kitab-sultan-minangkabau-yang-tenggelam-di-laut</guid><pubDate>Rabu 05 Mei 2021 06:53 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/337/2405760/kisah-sunan-bonang-temukan-kitab-sultan-minangkabau-yang-tenggelam-di-laut-IOZMF0WGwN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sunan Bonang.(Foto:Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/337/2405760/kisah-sunan-bonang-temukan-kitab-sultan-minangkabau-yang-tenggelam-di-laut-IOZMF0WGwN.jpg</image><title>Sunan Bonang.(Foto:Istimewa)</title></images><description>DI MASYARAKAT Lasem, Kabupaten Rembang, terdapat cerita lesan atau cerita tutur tentang  Sunan Jejeruk atau Sultan Jejeruk. Kisah ini juga diceritakan di buku &quot;Dongeng Rakyat Kab. Rembang&quot; ditulis oleh Kusaeri, YS.
Nama asli dari Sunan  Jejeruk adalah Raden Abdur Rachman, dikenal juga dengan nama Sultan Machmud Minangkabau, raja dari kerajaan Minangkabau.
Ketika ayahnya wafat, Sultan Machmud mendapat warisan sebuah kitab, tetapi sayangnya tidak dapat mengartikan kitab itu. Untuk itu lalu pergi ke daerah Arab yang dapat menerangkan maksud dari kitab itu, tetapi sia-sia.
Kebetulan ada seorang pengail yang mengetahui bahwa di tanah Jawa ada seorang pengail yang mengatakan bahwa di tanah Jawa ada ulama yang sangat alim, tentang hal tersebut disampaikan kepada Patih. Oleh Patih hal tersebut disampaikan kepada Sang Raja. Raja sangat bergembira memutuskan untuk pergi ke tanah Jawa untuk menemui kiai yang dimaksudkan.
Baca Juga: Kisah Jenderal Bambu Runcing Kiai Subchi, 10 Ribu Orang Tiap Hari Disepuh
Dengan perbekalan yang cukup, berangkatlah Sultan Machmud bersama Patihnya dengan menumpang sebuah perahu besar.
&quot;Sayang, ditengah perjalanan datanglah angin kencang yang mengakibatkan perahu tersebut karam (dalam bahasa Jawa &amp;ldquo;Karem Kemambang&amp;rdquo;) dan di daerah tersebut dinamakan daerah Rembang. Semua perbekalan dan kitab beliau hilang ke dasar laut,&quot;kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah Lasem.Sultan Machmud sangat bersedih karena kitabnya telah hilang. Dengan  hati susah, ia memutuskan untuk kembali ke kerajaan. Namun, Patih tidak  menyetujuinya.Akhirnya perjalanan diteruskan hingga dapat menemui sang  Kiai.
Di hadapan Sunan Bonang,  Sultan Machmud mengenalkan diri, maksud dan  kedatangannya serta musibah yang menimpanya. Tiba-tiba Sunan Bonang  mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dan menanyakan apakah ini kitab yang  dimaksud.
&quot;Setelah diteliti, ternyata benar itulah kitab sang Raja. Seketika  itu Sultan Machmud melepas baju dan pangkat kesultanannya, sujud  (sungkem) dihadapan S. Bonang tetapi hal itu dapat dicegah,&quot;ucapnya.
Sunan Bonang mulai membaca dan menerangkan semua isi yang terkandung dalam kitab tadi. Isi kitab itu  difahami oleh sang Raja.
Setelah semua difahami, Sultan lalu memerintahkan kepada sang Patih  untuk kembali ke Minangkabau dengan sebuah pesan , Sultan Machmud akan  menetap ke tanah Jawa di Bonang.
Selain itu memberi kebebasan kepada sang putri ratu (Istri) untuk  memilih tetap tinggal di keratin atau menyusul ke tanah Jawa. Juga  menyerahkan tahta kerajaan kepada adik baginda raja, untuk memegang  pusat pemerintahan Minangkabau.
Karena kesetiaan istri kepada suami, maka menyusul ke tanah Jawa  walau harus melepaskan tahta kerajaan. Akhirnya, beliau Sultan Machmud  dan istrinya menjadi murid Sunan Bonang yang wafat di bumi Bonang dan  dikenal dengan nama Sunan Jejeruk.</description><content:encoded>DI MASYARAKAT Lasem, Kabupaten Rembang, terdapat cerita lesan atau cerita tutur tentang  Sunan Jejeruk atau Sultan Jejeruk. Kisah ini juga diceritakan di buku &quot;Dongeng Rakyat Kab. Rembang&quot; ditulis oleh Kusaeri, YS.
Nama asli dari Sunan  Jejeruk adalah Raden Abdur Rachman, dikenal juga dengan nama Sultan Machmud Minangkabau, raja dari kerajaan Minangkabau.
Ketika ayahnya wafat, Sultan Machmud mendapat warisan sebuah kitab, tetapi sayangnya tidak dapat mengartikan kitab itu. Untuk itu lalu pergi ke daerah Arab yang dapat menerangkan maksud dari kitab itu, tetapi sia-sia.
Kebetulan ada seorang pengail yang mengetahui bahwa di tanah Jawa ada seorang pengail yang mengatakan bahwa di tanah Jawa ada ulama yang sangat alim, tentang hal tersebut disampaikan kepada Patih. Oleh Patih hal tersebut disampaikan kepada Sang Raja. Raja sangat bergembira memutuskan untuk pergi ke tanah Jawa untuk menemui kiai yang dimaksudkan.
Baca Juga: Kisah Jenderal Bambu Runcing Kiai Subchi, 10 Ribu Orang Tiap Hari Disepuh
Dengan perbekalan yang cukup, berangkatlah Sultan Machmud bersama Patihnya dengan menumpang sebuah perahu besar.
&quot;Sayang, ditengah perjalanan datanglah angin kencang yang mengakibatkan perahu tersebut karam (dalam bahasa Jawa &amp;ldquo;Karem Kemambang&amp;rdquo;) dan di daerah tersebut dinamakan daerah Rembang. Semua perbekalan dan kitab beliau hilang ke dasar laut,&quot;kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah Lasem.Sultan Machmud sangat bersedih karena kitabnya telah hilang. Dengan  hati susah, ia memutuskan untuk kembali ke kerajaan. Namun, Patih tidak  menyetujuinya.Akhirnya perjalanan diteruskan hingga dapat menemui sang  Kiai.
Di hadapan Sunan Bonang,  Sultan Machmud mengenalkan diri, maksud dan  kedatangannya serta musibah yang menimpanya. Tiba-tiba Sunan Bonang  mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dan menanyakan apakah ini kitab yang  dimaksud.
&quot;Setelah diteliti, ternyata benar itulah kitab sang Raja. Seketika  itu Sultan Machmud melepas baju dan pangkat kesultanannya, sujud  (sungkem) dihadapan S. Bonang tetapi hal itu dapat dicegah,&quot;ucapnya.
Sunan Bonang mulai membaca dan menerangkan semua isi yang terkandung dalam kitab tadi. Isi kitab itu  difahami oleh sang Raja.
Setelah semua difahami, Sultan lalu memerintahkan kepada sang Patih  untuk kembali ke Minangkabau dengan sebuah pesan , Sultan Machmud akan  menetap ke tanah Jawa di Bonang.
Selain itu memberi kebebasan kepada sang putri ratu (Istri) untuk  memilih tetap tinggal di keratin atau menyusul ke tanah Jawa. Juga  menyerahkan tahta kerajaan kepada adik baginda raja, untuk memegang  pusat pemerintahan Minangkabau.
Karena kesetiaan istri kepada suami, maka menyusul ke tanah Jawa  walau harus melepaskan tahta kerajaan. Akhirnya, beliau Sultan Machmud  dan istrinya menjadi murid Sunan Bonang yang wafat di bumi Bonang dan  dikenal dengan nama Sunan Jejeruk.</content:encoded></item></channel></rss>
