<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sunan Kudus Menusuk Siku Kebo Kenanga Murid Syeh Siti Jenar   </title><description>DALAM Babad Tanah Jawi diceritakan tentang Kebo Kenanga. Kakaknya bernama Raden Kebo Kanigara, dan adiknya bernama Kebo Amiluhur</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405763/kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405763/kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar"/><item><title>Kisah Sunan Kudus Menusuk Siku Kebo Kenanga Murid Syeh Siti Jenar   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405763/kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/05/337/2405763/kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar</guid><pubDate>Rabu 05 Mei 2021 07:08 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/05/337/2405763/kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar-DpJ9cLLB95.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Sunan Kudus.(Foto:Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/05/337/2405763/kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar-DpJ9cLLB95.jpeg</image><title>Sunan Kudus.(Foto:Dok Okezone)</title></images><description>DALAM Babad Tanah Jawi diceritakan tentang Kebo Kenanga. Kakaknya bernama Raden Kebo Kanigara, dan adiknya bernama Kebo Amiluhur. Ketiganya adalah putra pasangan Andayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh dan Retno Pembayun).
Nama asli Andayaningrat adalah Jaka Sengara. Ia diangkat menjadi Bupati Pengging, karena berjasa dalam menemukan Retno Pembayun, putri dari Brawijaya V, Raja Majapahit  yang diculik Menak Daliputih, Raja Blambangan,  putra Menak Jingga.
Jaka Sengara berhasil menemukan sang putri dan membunuh penculiknya.Jaka Sengara kemudian menjadi Raja Muda Pengging, bergelar Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging I.
Serat Kanda mengisahkan, Andayaningrat tewas di tangan Sunan Ngudung panglima pasukan Demak  yang juga anggota Walisanga. Kebo Kenanga kemudian menjadi penguasa Pengging menggantikan ayahnya. Kebo Kenanga adalah  juga keponakan ,Sultan Demak, Raden Patah.
Baca Juga: Kisah Sunan Bonang Temukan Kitab Sultan Minangkabau yang Tenggelam di Laut
Kebo Kenanga  kebingungan antara mempertahankan keyakinan warisan orang tuanya dengan tekanan dari kerajaan Demak, akhirnya mempertemukan dirinya dengan Syeh Siti Jenar.
Ajaran Syeh Siti Jenar dipandang bisa menjadi jalan tengah di antara dua keyakinan yang harus dipilihnya. Ia menjadi murid terbaik sebagai generasi penerus setelah Syeh Siti Jenar dihukum mati.
Nama Kebo Kenanga menjadi salah satu orang yang diburu di masa pemerintahan Raden Patah. Ia dicurigai Raden Patah hendak memberontak karena tidak mau menghadap ke Demak. Patih Wanapala dikirim ke Pengging untuk menyampaikan teguran. Waktu setahun berlalu dan Ki Ageng Pengging tetap menolak menghadap.
Kerajaan Demak juga menganggap ajaran yang disampaikan oleh Syeh Siti Jenar dipandang sesat.  Agar kesesatan itu tidak sampai meluas, maka Syeh Siti Jenar harus dihukum mati. Hukuman yang sama juga diterapkan pada para pengikut sang wali, bila tidak segera bertobat.Kebo Kenanga bidikan utama, posisinya sebagai seorang adipati di  wilayah Pengging  banyak mmeiliki pengikut. Kebo Kenanga kukuh dalam  mempertahankan keyakinannya.
Akhirnya penguasa Demak yang didukung  Wali Songo, memutuskan untuk  memberikan hukuman mati kepada Kebo Kenanga. Sunan Kudus yang diutus  sebagai eksekutornya.
Sunan Kudus disambut baik  di Pengging. Hingga kemudian keduanya saling beradu pandangan terkait ajaran Islam.
Sebenarnya Sunan Kudus mengakui bahwa apa yang disampaikan Kebo  Kebanga benar. Tapi sebagaimana ajaran Syeh Itu Jenar. Tentu dibutuhkan  tingkatan spiritualitas tinggi untuk bisa memahami dengan baik.
Padahal saat itu masyarakat masih dalam tahap awal mengenal Islam.  Sehingga justru dipandang membahayakan akidah mereka. Makanya Kebo  Kenanga tetap harus dihukum mati. Di Babad Tanah Jawi diceritakan  pertemuan Sunan Kudus dan Kebo Kenanga.
Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lenggang. Penduduk pergi ke  sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten tidak  kelihatan.
Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung  desa. Dia sendiri berjalan menuju rumah Kebo Kenanga atau Ki Ageng  Pengging.
Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita  setengah baya. Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud  kedatangannya untuk menemui Ki Ageng Pengging.
Ki Ageng bersedia menerima tamunya. Sunan Kudus dipersilahkan masuk  ke dalam rumahnya. Istri Ki Ageng Pengging membuatkan minuman untuk  menghormat tamu khusus itu. Tinggallah di ruang tamu itu Ki Ageng  Pengging dan Sunan Kudus.
&quot;Wahai Ki Ageng, saya diperintahnya oleh Sultan Demak Bintoro.  Manakah yang kau pilih. Di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah?&quot;  tanya Sunan Kudus.
Ki Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan serupa oleh Ki Wanasalam, Patih Demak Bintoro.
&quot;Jawabanku tetap sama dengan tiga tahun yang lalu,&quot; kata Ki Ageng  Pengging. &quot;Atas-bawah, luar-dalam adalah milikku. Aku tak bisa  memilihnya,&quot; tuturnya.
Jawaban itu bagi Sunan Kudus sudah sangat jelas. Berarti Ki Ageng  Pengging punya maksud ganda. Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak  Bintoro sekaligus ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Ia tidak mau  mengakui Raden Patah sebagai raja Demak.
Ki Ageng Pengging murid Syekh Siti Jenar, gurunya yang sudah dihukum  mati karena kesesatannya. Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng  Pengging masih meyakini ilmu dari Syekh Siti Jenar itu atau sudah  meninggalkan sama sekali.
&quot;Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan  mati di dalam hidup,&quot; ujar Sunan Kudus. &quot;Benarkah apa yang saya dengar  itu? Saya ingin melihat buktinya.&quot;
&quot;Memang begitu!&quot; jawab Ki Ageng Pengging. &quot;Kau anggap apa aku ini  maka aku akan menurut apa yang kau sangka. Kau anggap aku santri memang  aku santri, kau anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau  anggap aku ini rakyat memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah  aku memang Allah!&quot; lanjut Ki Ageng
Maka jelas Ki Ageng Pengging adalah pengikut Syekh Siti Jenar yang  berpaham Wihdatul Wujud atau berfilsafat serba Tuhan. Paham itu adalah  bertentangan dengan Islam yang disiarkan para Wali, sehingga Syekh Siti  Jenar dihukum mati.
Sunan Kudus  tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu mempunyai  ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal. Maka Sunan Kudus mengorek  kelemahan Ki Ageng Pengging dengan jalan diplomasi.
&quot;Seperti pengakuan Ki Ageng bahwa Ki Ageng dapat mati di dalam hidup. Saya ingin melihat buktinya!&quot; ujar Sunan Kudus lagi.
&quot;Jadi itukah yang dikehendaki Sultan Demak?&quot; ujar Ki Ageng dengan  suara parau. &quot;Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus  membuat sebab kematianku. Tapi jangan melibatkan orang lain. Cukup aku  saja yang mati,&quot; ujarnya.
Sunan Kudus menyanggupi permintaan Ki Ageng. &quot;Tusuklah siku lenganku  ini &amp;hellip;!&quot; ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya. Sunan Kudus pun  melakukannya.Siku Ki Ageng ditusuk dengan ujung keris, seketika matilah Ki Ageng  Pengging. Sunan Kudus kemudian keluar rumah Ki Ageng Pengging dengan  langkah tenang. Disambut oleh tujuh pengikutnya di ujung desa. Mereka  berjalan menuju Demak Bintoro.
Sementara itu istri Ki Ageng Pengging yang hendak menghidangkan  jamuan makan menjerit  melihat suaminya mati di ruang tamu. Penduduk  sekitar berdatangan ke rumahnya. Setelah tahu pemimpinnya dibunuh mereka  memanggil penduduk lainnya dan bersama-sama mengejar Sunan Kudus.
Sekitar 200 orang bekas prajurit dan perwira dipimpin oleh bekas  Senopati Kadipaten Pengging mencabut senjata dan berteriak-teriak  memanggil Sunan Kudus dari kejauhan.
Sunan Kudus berhenti. Dibunyikannya Bende Kyai Sima. Tiba-tiba muncul  ribuan prajurit Demak yang berlarian ke arah timur. Orang-orang  Pengging mengejar ke arah timur, padahal Sunan Kudus dan pengikutnya  berada di sebelah utara.
Tidak berapa lama kemudian 10 ribuan prajurit itu lenyap. Orang  Pengging kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Akal mereka seperti  hilang.
Sunan Kudus kasihan melihat keadaan mereka, akhirnya mereka dibuat  sadar kembali. &quot;Jangan turut campur urusan besar ini. Ki Ageng Pengging  sudah diperingatkan selama tiga tahun. Tapi dia tetap tak mau menghadap  ke Demak. Itu berarti dia sengaja hendak memberontak! Nah, kalian rakyat  kecil, tak ada hubungannya dengan urusan ini. Pulanglah!&quot; suara Sunan  Kudus.
Penduduk Pengging baru sadar dan mengerti bahwa yang mereka hadapi  adalah seorang Senopati Demak Bintoro. Mereka tak akan mampu  menghadapinya.
&quot;Ada tugas yang lebih penting daripada berbuat kesia-siaan ini,&quot; kata  Sunan Kudus. &quot;Segeralah kalian urus jenazah Ki Ageng. Itulah  penghormatan kalian yang terakhir kepada pemimpin kalian.&quot;
Orang-orang Pengging itu tak menemukan pilihan lain. Akhirnya mereka  kembali ke rumah Ki Ageng untuk menguburkan jenazah pemimpin mereka.</description><content:encoded>DALAM Babad Tanah Jawi diceritakan tentang Kebo Kenanga. Kakaknya bernama Raden Kebo Kanigara, dan adiknya bernama Kebo Amiluhur. Ketiganya adalah putra pasangan Andayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh dan Retno Pembayun).
Nama asli Andayaningrat adalah Jaka Sengara. Ia diangkat menjadi Bupati Pengging, karena berjasa dalam menemukan Retno Pembayun, putri dari Brawijaya V, Raja Majapahit  yang diculik Menak Daliputih, Raja Blambangan,  putra Menak Jingga.
Jaka Sengara berhasil menemukan sang putri dan membunuh penculiknya.Jaka Sengara kemudian menjadi Raja Muda Pengging, bergelar Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging I.
Serat Kanda mengisahkan, Andayaningrat tewas di tangan Sunan Ngudung panglima pasukan Demak  yang juga anggota Walisanga. Kebo Kenanga kemudian menjadi penguasa Pengging menggantikan ayahnya. Kebo Kenanga adalah  juga keponakan ,Sultan Demak, Raden Patah.
Baca Juga: Kisah Sunan Bonang Temukan Kitab Sultan Minangkabau yang Tenggelam di Laut
Kebo Kenanga  kebingungan antara mempertahankan keyakinan warisan orang tuanya dengan tekanan dari kerajaan Demak, akhirnya mempertemukan dirinya dengan Syeh Siti Jenar.
Ajaran Syeh Siti Jenar dipandang bisa menjadi jalan tengah di antara dua keyakinan yang harus dipilihnya. Ia menjadi murid terbaik sebagai generasi penerus setelah Syeh Siti Jenar dihukum mati.
Nama Kebo Kenanga menjadi salah satu orang yang diburu di masa pemerintahan Raden Patah. Ia dicurigai Raden Patah hendak memberontak karena tidak mau menghadap ke Demak. Patih Wanapala dikirim ke Pengging untuk menyampaikan teguran. Waktu setahun berlalu dan Ki Ageng Pengging tetap menolak menghadap.
Kerajaan Demak juga menganggap ajaran yang disampaikan oleh Syeh Siti Jenar dipandang sesat.  Agar kesesatan itu tidak sampai meluas, maka Syeh Siti Jenar harus dihukum mati. Hukuman yang sama juga diterapkan pada para pengikut sang wali, bila tidak segera bertobat.Kebo Kenanga bidikan utama, posisinya sebagai seorang adipati di  wilayah Pengging  banyak mmeiliki pengikut. Kebo Kenanga kukuh dalam  mempertahankan keyakinannya.
Akhirnya penguasa Demak yang didukung  Wali Songo, memutuskan untuk  memberikan hukuman mati kepada Kebo Kenanga. Sunan Kudus yang diutus  sebagai eksekutornya.
Sunan Kudus disambut baik  di Pengging. Hingga kemudian keduanya saling beradu pandangan terkait ajaran Islam.
Sebenarnya Sunan Kudus mengakui bahwa apa yang disampaikan Kebo  Kebanga benar. Tapi sebagaimana ajaran Syeh Itu Jenar. Tentu dibutuhkan  tingkatan spiritualitas tinggi untuk bisa memahami dengan baik.
Padahal saat itu masyarakat masih dalam tahap awal mengenal Islam.  Sehingga justru dipandang membahayakan akidah mereka. Makanya Kebo  Kenanga tetap harus dihukum mati. Di Babad Tanah Jawi diceritakan  pertemuan Sunan Kudus dan Kebo Kenanga.
Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lenggang. Penduduk pergi ke  sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten tidak  kelihatan.
Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung  desa. Dia sendiri berjalan menuju rumah Kebo Kenanga atau Ki Ageng  Pengging.
Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita  setengah baya. Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud  kedatangannya untuk menemui Ki Ageng Pengging.
Ki Ageng bersedia menerima tamunya. Sunan Kudus dipersilahkan masuk  ke dalam rumahnya. Istri Ki Ageng Pengging membuatkan minuman untuk  menghormat tamu khusus itu. Tinggallah di ruang tamu itu Ki Ageng  Pengging dan Sunan Kudus.
&quot;Wahai Ki Ageng, saya diperintahnya oleh Sultan Demak Bintoro.  Manakah yang kau pilih. Di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah?&quot;  tanya Sunan Kudus.
Ki Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan serupa oleh Ki Wanasalam, Patih Demak Bintoro.
&quot;Jawabanku tetap sama dengan tiga tahun yang lalu,&quot; kata Ki Ageng  Pengging. &quot;Atas-bawah, luar-dalam adalah milikku. Aku tak bisa  memilihnya,&quot; tuturnya.
Jawaban itu bagi Sunan Kudus sudah sangat jelas. Berarti Ki Ageng  Pengging punya maksud ganda. Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak  Bintoro sekaligus ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Ia tidak mau  mengakui Raden Patah sebagai raja Demak.
Ki Ageng Pengging murid Syekh Siti Jenar, gurunya yang sudah dihukum  mati karena kesesatannya. Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng  Pengging masih meyakini ilmu dari Syekh Siti Jenar itu atau sudah  meninggalkan sama sekali.
&quot;Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan  mati di dalam hidup,&quot; ujar Sunan Kudus. &quot;Benarkah apa yang saya dengar  itu? Saya ingin melihat buktinya.&quot;
&quot;Memang begitu!&quot; jawab Ki Ageng Pengging. &quot;Kau anggap apa aku ini  maka aku akan menurut apa yang kau sangka. Kau anggap aku santri memang  aku santri, kau anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau  anggap aku ini rakyat memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah  aku memang Allah!&quot; lanjut Ki Ageng
Maka jelas Ki Ageng Pengging adalah pengikut Syekh Siti Jenar yang  berpaham Wihdatul Wujud atau berfilsafat serba Tuhan. Paham itu adalah  bertentangan dengan Islam yang disiarkan para Wali, sehingga Syekh Siti  Jenar dihukum mati.
Sunan Kudus  tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu mempunyai  ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal. Maka Sunan Kudus mengorek  kelemahan Ki Ageng Pengging dengan jalan diplomasi.
&quot;Seperti pengakuan Ki Ageng bahwa Ki Ageng dapat mati di dalam hidup. Saya ingin melihat buktinya!&quot; ujar Sunan Kudus lagi.
&quot;Jadi itukah yang dikehendaki Sultan Demak?&quot; ujar Ki Ageng dengan  suara parau. &quot;Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus  membuat sebab kematianku. Tapi jangan melibatkan orang lain. Cukup aku  saja yang mati,&quot; ujarnya.
Sunan Kudus menyanggupi permintaan Ki Ageng. &quot;Tusuklah siku lenganku  ini &amp;hellip;!&quot; ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya. Sunan Kudus pun  melakukannya.Siku Ki Ageng ditusuk dengan ujung keris, seketika matilah Ki Ageng  Pengging. Sunan Kudus kemudian keluar rumah Ki Ageng Pengging dengan  langkah tenang. Disambut oleh tujuh pengikutnya di ujung desa. Mereka  berjalan menuju Demak Bintoro.
Sementara itu istri Ki Ageng Pengging yang hendak menghidangkan  jamuan makan menjerit  melihat suaminya mati di ruang tamu. Penduduk  sekitar berdatangan ke rumahnya. Setelah tahu pemimpinnya dibunuh mereka  memanggil penduduk lainnya dan bersama-sama mengejar Sunan Kudus.
Sekitar 200 orang bekas prajurit dan perwira dipimpin oleh bekas  Senopati Kadipaten Pengging mencabut senjata dan berteriak-teriak  memanggil Sunan Kudus dari kejauhan.
Sunan Kudus berhenti. Dibunyikannya Bende Kyai Sima. Tiba-tiba muncul  ribuan prajurit Demak yang berlarian ke arah timur. Orang-orang  Pengging mengejar ke arah timur, padahal Sunan Kudus dan pengikutnya  berada di sebelah utara.
Tidak berapa lama kemudian 10 ribuan prajurit itu lenyap. Orang  Pengging kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Akal mereka seperti  hilang.
Sunan Kudus kasihan melihat keadaan mereka, akhirnya mereka dibuat  sadar kembali. &quot;Jangan turut campur urusan besar ini. Ki Ageng Pengging  sudah diperingatkan selama tiga tahun. Tapi dia tetap tak mau menghadap  ke Demak. Itu berarti dia sengaja hendak memberontak! Nah, kalian rakyat  kecil, tak ada hubungannya dengan urusan ini. Pulanglah!&quot; suara Sunan  Kudus.
Penduduk Pengging baru sadar dan mengerti bahwa yang mereka hadapi  adalah seorang Senopati Demak Bintoro. Mereka tak akan mampu  menghadapinya.
&quot;Ada tugas yang lebih penting daripada berbuat kesia-siaan ini,&quot; kata  Sunan Kudus. &quot;Segeralah kalian urus jenazah Ki Ageng. Itulah  penghormatan kalian yang terakhir kepada pemimpin kalian.&quot;
Orang-orang Pengging itu tak menemukan pilihan lain. Akhirnya mereka  kembali ke rumah Ki Ageng untuk menguburkan jenazah pemimpin mereka.</content:encoded></item></channel></rss>
