<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bocah 7 Tahun Koma Setelah Dibanting 27 Kali dalam Latihan Judo</title><description>Kasus ini mengejutkan Taiwan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/08/18/2407614/bocah-7-tahun-koma-setelah-dibanting-27-kali-dalam-latihan-judo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/08/18/2407614/bocah-7-tahun-koma-setelah-dibanting-27-kali-dalam-latihan-judo"/><item><title>Bocah 7 Tahun Koma Setelah Dibanting 27 Kali dalam Latihan Judo</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/08/18/2407614/bocah-7-tahun-koma-setelah-dibanting-27-kali-dalam-latihan-judo</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/08/18/2407614/bocah-7-tahun-koma-setelah-dibanting-27-kali-dalam-latihan-judo</guid><pubDate>Sabtu 08 Mei 2021 11:31 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/08/18/2407614/bocah-7-tahun-koma-setelah-dibanting-27-kali-dalam-latihan-judo-dKlvkHEVxb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Getty Images.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/08/18/2407614/bocah-7-tahun-koma-setelah-dibanting-27-kali-dalam-latihan-judo-dKlvkHEVxb.jpg</image><title>Foto: Getty Images.</title></images><description>TAIPEI - Kasus seorang anak laki-laki yang tengah bertahan hidup setelah dibanting ke lantai sebanyak 27 kali saat latihan judo oleh pelatih dan temannya mengejutkan Taiwan sekaligus menyoroti apa yang dikatakan para kritikus sebagai budaya menutup mata terhadap kekerasan pada anak.
Wei Wei adalah tipikal anak laki-laki berusia tujuh tahun yang tinggal di Taiwan.
Dia adalah penggemar Super Mario, penyuka olahraga, dan pernah memenangkan tempat ketiga dalam perlombaan lari.
BACA JUGA: Restoran Taiwan Diserang dengan 1.000 Kecoak, Diduga Ulah Geng Kriminal
Sebelumnya pada April, dia meyakinkan keluarganya bahwa dia ingin mencoba latihan judo.
Hanya dua minggu setelah latihan, dia terbaring dalam keadaan koma. Kondisinya kemungkinan akan terus berada dalam keadaan vegetatif, atau tak bisa bergerak normal, bahkan jika dia bertahan hidup.
Sebuah video muncul, yang menunjukkan dia dibanting ke atas tikar oleh seorang teman sekelasnya yang lebih tua selama latihan judo.
Saat latihan berlanjut, dia terdengar berteriak &quot;kaki saya&quot;, &quot;kepala saya&quot; dan &quot;saya tidak menginginkan ini!&quot;. Tetapi pelatihnya terus memerintahkan dia untuk berdiri dan menyuruh anak laki-laki yang lebih tua untuk terus membantingnya.
Ketika Wei Wei terlalu lemah untuk bangun, pelatihnya, yang jauh lebih besar darinya, mengangkatnya dan membantingnya beberapa kali.
Pada satu titik, anak itu muntah, tetapi &quot;latihan&quot; tidak berhenti.
Secara keseluruhan, kata keluarganya, dia dibanting lebih dari 27 kali.
BACA JUGA: Taiwan Selidiki Pria yang Seberangi Selat Taiwan dengan Perahu Karet Kecil
Wei Wei akhirnya pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan bocah laki-laki itu menderita pendarahan otak yang parah. Dia sekarang dalam keadaan koma dan dipasangkan alat-alat yang mendukungnya untuk tetap hidup.
&quot;Saya masih ingat pagi itu ketika saya mengantarnya ke sekolah,&quot; kata ibunya.
&quot;Dia berbalik dan berkata, 'Mama selamat tinggal'. Di malam hari, dia sudah menjadi seperti ini.&quot;

'Otoritas dan penyalahgunaan'
Pelatih judo, yang berusia akhir 60-an dan diidentifikasi hanya dengan nama belakang Ho, telah ditahan untuk penyelidikan atas dugaan kelalaian yang menyebabkan cedera serius.
Dia membantah melakukan kesalahan, menurut Pengadilan Distrik Taichung.
Jaksa penuntut distrik awalnya membebaskannya setelah diinterogasi,  menerima penjelasannya bahwa apa yang terjadi pada Wei Wei adalah bagian  dari &quot;pelatihan normal&quot;.
Tetapi setelah keluarga anak itu mengadakan konferensi pers,  pengadilan mengatakan ada bukti untuk mencurigai bahwa pelatih itu  mungkin telah melakukan kejahatan serius dan ada risiko kerja sama  dengan para saksi.
Pengadilan mengabulkan permintaan jaksa penuntut untuk menempatkannya  dalam penahanan incommunicado - yakni seseorang tidak diperbolehkan  berhubungan dengan siapa pun kecuali dengan pengacaranya.
Para ahli mengatakan bahwa kasus Wei Wei telah menimbulkan pertanyaan  mengganggu yang menyoroti masalah mendasar dalam sikap Taiwan terhadap  anak-anak dan pembelajaran.
Pertanyaan utama adalah: mengapa tidak ada yang menghentikan pelatih itu?
Ada orang dewasa di studio judo yang menyaksikan apa yang terjadi,  termasuk paman Wei Wei, yang dilaporkan merekam video untuk menunjukkan  kepada ibu bocah lelaki itu bahwa judo mungkin tidak cocok untuknya.
&quot;Di Timur, adalah umum untuk mengharapkan anak-anak bertahan  menghadapi kesulitan dan mematuhi otoritas,&quot; kata Joanna Feng, direktur  eksekutif Yayasan Pendidikan Humanistik, sebuah LSM yang telah melobi  selama bertahun-tahun untuk mengakhiri hukuman fisik dan pelecehan anak.
&quot;Dalam budaya kami, guru diperlakukan sebagai orang yang sangat hebat.&quot;
Sikap ketaatan dan penghormatan kepada guru ini begitu dalam sehingga  mungkin menjelaskan mengapa tidak ada orang dewasa - termasuk paman  anak itu- yang hadir mempertanyakan otoritas pelatih, meskipun anak itu  berteriak.
Ibu Wei Wei kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa pamannya merasa &quot;sangat tidak enak atas apa yang terjadi&quot;.
&quot;Mereka mungkin berpikir karena pelatih yang meminta, saya seharusnya   tidak menentang persyaratan pelatih,&quot; kata Feng. &quot;Kami telah melihat   banyak contoh reaksi dan pola pikir ini; bahkan dalam kasus yang   serius.&quot;
Dalam satu kejadian misalnya, orang tua siswa yang difilmkan   ditendang perutnya oleh guru opera beberapa kali, tidak hanya membela   pelatihnya, tetapi juga meminta maaf karena telah membuat dia kesusahan.
Dalam kasus lain, tidak ada pengaduan yang diajukan terhadap pelatih   senam yang direkam menampar salah satu siswanya dan menarik rambut  murid  lainnya,yang menyebabkan dia jatuh ke belakang saat dalam  perjalanan  kompetisi di Thailand.

Hukuman fisik di sekolah
Wang Yan-shu, direktur Asosiasi Promosi Kerukunan Kampus, sebuah   kelompok orang tua yang bekerja untuk menghentikan hukuman fisik,   mengatakan bahwa sikap diam ini banyak hubungannya dengan budaya Taiwan.
&quot;Budaya kami membuat banyak orang tidak sepenuhnya menghormati   hak-hak anak. Sekarang lebih baik, tetapi Taiwan benar-benar tertinggal   dari negara-negara maju lainnya dalam aspek hak asasi manusia ini,&quot;  kata  Wang.
Pada 2019, Kementerian Pendidikan mencatat 625 siswa telah menjadi sasaran hukuman fisik di sekolah.
Meskipun memukul siswa telah dilarang di Taiwan sejak 2007, dan   hukuman fisik terus menurun, praktik tersebut masih ada, dan sikap yang   menoleransi tetap berlaku.
&quot;Jika orang dewasa melakukan itu satu sama lain, itu pasti akan   menjadi masalah. Bagaimana kita bisa melakukan itu pada anak-anak?&quot; dia   berkata. &quot;Ini menunjukkan kami masih menganggap hak anak tidak  sepenting  hak orang dewasa.&quot;
Hank Hsu, yang putra remajanya diduga dipukuli dan dilecehkan secara    verbal oleh gurunya hampir setiap hari selama setahun, mengatakan  kasus   Wei Wei telah membawa kembali kenangan menyakitkan dari tahun  2017,   tahun ia dan istrinya mengetahui tentang pelecehan yang dialami  putra   mereka.
&quot;Dia menarik anak saya keluar dari kelas dan memukulnya dengan pipa atau tongkat atau menendangnya dengan lutut,&quot; kata Hsu.
&quot;Dia  juga sering menyuruh anak saya berlutut di luar kantor guru.   Kepala  sekolah dan guru lain melihat ini, tapi tidak melakukan apa-apa.&quot;
Kementerian Pendidikan mengatakan kepada BBC bahwa mereka menyarankan sekolah dan guru untuk tidak menggunakan hukuman fisik.
Guru yang menyebabkan cedera fisik atau mental dapat diskors antara    satu hingga empat tahun, diberhentikan, atau dilarang dipekerjakan    sebagai guru seumur hidup.
Pada kenyataannya, bagaimanapun, kebanyakan guru, hanya diberikan skors atau skors singkat - hanya sedikit yang diberhentikan.
Guru dari putra Tuan Hsu diberi hukuman dan denda ringan.
Budaya pelecehan dimulai di rumah
Sistem peradilan juga cenderung berpihak pada guru, kata Hsu.
Jaksa dalam kasus putranya tidak menuntut guru tersebut meski sudah    menyebabkan cedera, dengan alasan keluarga tersebut harus membuktikan    bahwa luka-lukanya terkait dengan kekerasan tersebut.
Hsu menambahkan bahwa beberapa orang tua di sekolah kemudian    menyalahkannya, mengatakan hal-hal seperti: &quot;Kamu tidak mengajari anakmu    dengan baik. Mengapa dia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya?&quot;
Faktanya, tidak jarang di seluruh Asia orang tua mendisiplin anak    mereka dengan cara yang kasar. Di Taiwan, beberapa orang tua memukuli    anaknya karena mendapat nilai ujian yang rendah.
Tahun lalu, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan menerima     laporan 12.610 kasus kekerasan terhadap anak, yang sebagian besar     terjadi di rumah.
Namun, banyak kasus tidak dilaporkan karena keyakinan bahwa anak-anak harus didisiplinkan secara ketat agar mereka belajar.
&quot;Orang Taiwan masih tidak terlalu mementingkan masalah ini dan bahkan tetap diam,&quot; kata Wang.
Kementerian Pendidikan mengatakan pihaknya kini telah meminta     pemerintah daerah dan asosiasi olahraga untuk meningkatkan pengawasan     terhadap kelompok olahraga dan meningkatkan kesadaran tentang     keselamatan saat olahraga.
Tetapi para kritikus mengatakan kasus Wei Wei telah mengungkap celah       yang sudah lama ada dalam sistem - pelatih itu diizinkan oleh    asosiasi    judo lokal untuk mengajar meskipun dia tidak memiliki izin    dan studio    yang dijalankan oleh asosiasi tersebut tidak diawasi    secara memadai  oleh   pemerintah.
Selain itu, publik tidak diajarkan untuk  mengenali bahwa semua    bentuk   pelecehan tidak dapat diterima dan mereka  harusnya melakukan    campur   tangan ketika mereka melihat perilaku kasar  terhadap    anak-anak.
&quot;Dalam menghadapi kejadian ini, pelaku harus bertanggung jawab, orang       yang mengetahui hal itu harus bertanggung jawab, dan sistem harus       bertanggung jawab,&quot; kata Yayasan Pendidikan Humanistik dalam sebuah       pernyataan.&quot;Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memberi tahu rakyat bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak!&quot;
Mereka menambahkan bahwa tidak seharusnya seorang anak terluka parah untuk membawa perubahan.
&quot;Kita perlu mendidik orang dewasa untuk benar-benar menghormati dan      melindungi anak-anak,&quot; kata Feng. &quot;Ini tanggung jawab pemerintah.      Pemerintah dan masyarakat perlu mengevaluasi kembali diri mereka      sendiri.&quot;

'Kami menunggunya bangun'
Keluarga Wei Wei masih tidak mengerti bagaimana pelatih bisa memperlakukan anak mereka seperti ini.
Mereka mengatakan pelatih itu awalnya memberi tahu paman Wei Wei      bahwa dia berpura-pura tidak sadarkan diri dan kemudian memberi tahu      ayahnya bahwa Wei Wei dengan sengaja jatuh keras di atas tikar.
Mereka sekarang bertekad untuk &quot;mencari keadilan&quot;.
Orang tuanya menghabiskan setiap hari di samping ranjang rumah sakitnya.
Ayahnya menunjukkan foto Wei Wei yang berbaring di samping boneka Mario, karakter favoritnya, yang dia belikan untuknya.
&quot;Ketika saya mengunjunginya di rumah sakit, saya berbicara dengannya,&quot; kata ayahnya, Tuan Huang.
&quot;Saya ingin Wei Wei mendengar bahwa kami menunggunya bangun.&quot;
Namun, rumah sakit mengatakan kemungkinan itu kecil.
Keluarga itu, bagaimanapun, berdoa untuk keajaiban.
</description><content:encoded>TAIPEI - Kasus seorang anak laki-laki yang tengah bertahan hidup setelah dibanting ke lantai sebanyak 27 kali saat latihan judo oleh pelatih dan temannya mengejutkan Taiwan sekaligus menyoroti apa yang dikatakan para kritikus sebagai budaya menutup mata terhadap kekerasan pada anak.
Wei Wei adalah tipikal anak laki-laki berusia tujuh tahun yang tinggal di Taiwan.
Dia adalah penggemar Super Mario, penyuka olahraga, dan pernah memenangkan tempat ketiga dalam perlombaan lari.
BACA JUGA: Restoran Taiwan Diserang dengan 1.000 Kecoak, Diduga Ulah Geng Kriminal
Sebelumnya pada April, dia meyakinkan keluarganya bahwa dia ingin mencoba latihan judo.
Hanya dua minggu setelah latihan, dia terbaring dalam keadaan koma. Kondisinya kemungkinan akan terus berada dalam keadaan vegetatif, atau tak bisa bergerak normal, bahkan jika dia bertahan hidup.
Sebuah video muncul, yang menunjukkan dia dibanting ke atas tikar oleh seorang teman sekelasnya yang lebih tua selama latihan judo.
Saat latihan berlanjut, dia terdengar berteriak &quot;kaki saya&quot;, &quot;kepala saya&quot; dan &quot;saya tidak menginginkan ini!&quot;. Tetapi pelatihnya terus memerintahkan dia untuk berdiri dan menyuruh anak laki-laki yang lebih tua untuk terus membantingnya.
Ketika Wei Wei terlalu lemah untuk bangun, pelatihnya, yang jauh lebih besar darinya, mengangkatnya dan membantingnya beberapa kali.
Pada satu titik, anak itu muntah, tetapi &quot;latihan&quot; tidak berhenti.
Secara keseluruhan, kata keluarganya, dia dibanting lebih dari 27 kali.
BACA JUGA: Taiwan Selidiki Pria yang Seberangi Selat Taiwan dengan Perahu Karet Kecil
Wei Wei akhirnya pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan bocah laki-laki itu menderita pendarahan otak yang parah. Dia sekarang dalam keadaan koma dan dipasangkan alat-alat yang mendukungnya untuk tetap hidup.
&quot;Saya masih ingat pagi itu ketika saya mengantarnya ke sekolah,&quot; kata ibunya.
&quot;Dia berbalik dan berkata, 'Mama selamat tinggal'. Di malam hari, dia sudah menjadi seperti ini.&quot;

'Otoritas dan penyalahgunaan'
Pelatih judo, yang berusia akhir 60-an dan diidentifikasi hanya dengan nama belakang Ho, telah ditahan untuk penyelidikan atas dugaan kelalaian yang menyebabkan cedera serius.
Dia membantah melakukan kesalahan, menurut Pengadilan Distrik Taichung.
Jaksa penuntut distrik awalnya membebaskannya setelah diinterogasi,  menerima penjelasannya bahwa apa yang terjadi pada Wei Wei adalah bagian  dari &quot;pelatihan normal&quot;.
Tetapi setelah keluarga anak itu mengadakan konferensi pers,  pengadilan mengatakan ada bukti untuk mencurigai bahwa pelatih itu  mungkin telah melakukan kejahatan serius dan ada risiko kerja sama  dengan para saksi.
Pengadilan mengabulkan permintaan jaksa penuntut untuk menempatkannya  dalam penahanan incommunicado - yakni seseorang tidak diperbolehkan  berhubungan dengan siapa pun kecuali dengan pengacaranya.
Para ahli mengatakan bahwa kasus Wei Wei telah menimbulkan pertanyaan  mengganggu yang menyoroti masalah mendasar dalam sikap Taiwan terhadap  anak-anak dan pembelajaran.
Pertanyaan utama adalah: mengapa tidak ada yang menghentikan pelatih itu?
Ada orang dewasa di studio judo yang menyaksikan apa yang terjadi,  termasuk paman Wei Wei, yang dilaporkan merekam video untuk menunjukkan  kepada ibu bocah lelaki itu bahwa judo mungkin tidak cocok untuknya.
&quot;Di Timur, adalah umum untuk mengharapkan anak-anak bertahan  menghadapi kesulitan dan mematuhi otoritas,&quot; kata Joanna Feng, direktur  eksekutif Yayasan Pendidikan Humanistik, sebuah LSM yang telah melobi  selama bertahun-tahun untuk mengakhiri hukuman fisik dan pelecehan anak.
&quot;Dalam budaya kami, guru diperlakukan sebagai orang yang sangat hebat.&quot;
Sikap ketaatan dan penghormatan kepada guru ini begitu dalam sehingga  mungkin menjelaskan mengapa tidak ada orang dewasa - termasuk paman  anak itu- yang hadir mempertanyakan otoritas pelatih, meskipun anak itu  berteriak.
Ibu Wei Wei kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa pamannya merasa &quot;sangat tidak enak atas apa yang terjadi&quot;.
&quot;Mereka mungkin berpikir karena pelatih yang meminta, saya seharusnya   tidak menentang persyaratan pelatih,&quot; kata Feng. &quot;Kami telah melihat   banyak contoh reaksi dan pola pikir ini; bahkan dalam kasus yang   serius.&quot;
Dalam satu kejadian misalnya, orang tua siswa yang difilmkan   ditendang perutnya oleh guru opera beberapa kali, tidak hanya membela   pelatihnya, tetapi juga meminta maaf karena telah membuat dia kesusahan.
Dalam kasus lain, tidak ada pengaduan yang diajukan terhadap pelatih   senam yang direkam menampar salah satu siswanya dan menarik rambut  murid  lainnya,yang menyebabkan dia jatuh ke belakang saat dalam  perjalanan  kompetisi di Thailand.

Hukuman fisik di sekolah
Wang Yan-shu, direktur Asosiasi Promosi Kerukunan Kampus, sebuah   kelompok orang tua yang bekerja untuk menghentikan hukuman fisik,   mengatakan bahwa sikap diam ini banyak hubungannya dengan budaya Taiwan.
&quot;Budaya kami membuat banyak orang tidak sepenuhnya menghormati   hak-hak anak. Sekarang lebih baik, tetapi Taiwan benar-benar tertinggal   dari negara-negara maju lainnya dalam aspek hak asasi manusia ini,&quot;  kata  Wang.
Pada 2019, Kementerian Pendidikan mencatat 625 siswa telah menjadi sasaran hukuman fisik di sekolah.
Meskipun memukul siswa telah dilarang di Taiwan sejak 2007, dan   hukuman fisik terus menurun, praktik tersebut masih ada, dan sikap yang   menoleransi tetap berlaku.
&quot;Jika orang dewasa melakukan itu satu sama lain, itu pasti akan   menjadi masalah. Bagaimana kita bisa melakukan itu pada anak-anak?&quot; dia   berkata. &quot;Ini menunjukkan kami masih menganggap hak anak tidak  sepenting  hak orang dewasa.&quot;
Hank Hsu, yang putra remajanya diduga dipukuli dan dilecehkan secara    verbal oleh gurunya hampir setiap hari selama setahun, mengatakan  kasus   Wei Wei telah membawa kembali kenangan menyakitkan dari tahun  2017,   tahun ia dan istrinya mengetahui tentang pelecehan yang dialami  putra   mereka.
&quot;Dia menarik anak saya keluar dari kelas dan memukulnya dengan pipa atau tongkat atau menendangnya dengan lutut,&quot; kata Hsu.
&quot;Dia  juga sering menyuruh anak saya berlutut di luar kantor guru.   Kepala  sekolah dan guru lain melihat ini, tapi tidak melakukan apa-apa.&quot;
Kementerian Pendidikan mengatakan kepada BBC bahwa mereka menyarankan sekolah dan guru untuk tidak menggunakan hukuman fisik.
Guru yang menyebabkan cedera fisik atau mental dapat diskors antara    satu hingga empat tahun, diberhentikan, atau dilarang dipekerjakan    sebagai guru seumur hidup.
Pada kenyataannya, bagaimanapun, kebanyakan guru, hanya diberikan skors atau skors singkat - hanya sedikit yang diberhentikan.
Guru dari putra Tuan Hsu diberi hukuman dan denda ringan.
Budaya pelecehan dimulai di rumah
Sistem peradilan juga cenderung berpihak pada guru, kata Hsu.
Jaksa dalam kasus putranya tidak menuntut guru tersebut meski sudah    menyebabkan cedera, dengan alasan keluarga tersebut harus membuktikan    bahwa luka-lukanya terkait dengan kekerasan tersebut.
Hsu menambahkan bahwa beberapa orang tua di sekolah kemudian    menyalahkannya, mengatakan hal-hal seperti: &quot;Kamu tidak mengajari anakmu    dengan baik. Mengapa dia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya?&quot;
Faktanya, tidak jarang di seluruh Asia orang tua mendisiplin anak    mereka dengan cara yang kasar. Di Taiwan, beberapa orang tua memukuli    anaknya karena mendapat nilai ujian yang rendah.
Tahun lalu, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan menerima     laporan 12.610 kasus kekerasan terhadap anak, yang sebagian besar     terjadi di rumah.
Namun, banyak kasus tidak dilaporkan karena keyakinan bahwa anak-anak harus didisiplinkan secara ketat agar mereka belajar.
&quot;Orang Taiwan masih tidak terlalu mementingkan masalah ini dan bahkan tetap diam,&quot; kata Wang.
Kementerian Pendidikan mengatakan pihaknya kini telah meminta     pemerintah daerah dan asosiasi olahraga untuk meningkatkan pengawasan     terhadap kelompok olahraga dan meningkatkan kesadaran tentang     keselamatan saat olahraga.
Tetapi para kritikus mengatakan kasus Wei Wei telah mengungkap celah       yang sudah lama ada dalam sistem - pelatih itu diizinkan oleh    asosiasi    judo lokal untuk mengajar meskipun dia tidak memiliki izin    dan studio    yang dijalankan oleh asosiasi tersebut tidak diawasi    secara memadai  oleh   pemerintah.
Selain itu, publik tidak diajarkan untuk  mengenali bahwa semua    bentuk   pelecehan tidak dapat diterima dan mereka  harusnya melakukan    campur   tangan ketika mereka melihat perilaku kasar  terhadap    anak-anak.
&quot;Dalam menghadapi kejadian ini, pelaku harus bertanggung jawab, orang       yang mengetahui hal itu harus bertanggung jawab, dan sistem harus       bertanggung jawab,&quot; kata Yayasan Pendidikan Humanistik dalam sebuah       pernyataan.&quot;Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memberi tahu rakyat bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak!&quot;
Mereka menambahkan bahwa tidak seharusnya seorang anak terluka parah untuk membawa perubahan.
&quot;Kita perlu mendidik orang dewasa untuk benar-benar menghormati dan      melindungi anak-anak,&quot; kata Feng. &quot;Ini tanggung jawab pemerintah.      Pemerintah dan masyarakat perlu mengevaluasi kembali diri mereka      sendiri.&quot;

'Kami menunggunya bangun'
Keluarga Wei Wei masih tidak mengerti bagaimana pelatih bisa memperlakukan anak mereka seperti ini.
Mereka mengatakan pelatih itu awalnya memberi tahu paman Wei Wei      bahwa dia berpura-pura tidak sadarkan diri dan kemudian memberi tahu      ayahnya bahwa Wei Wei dengan sengaja jatuh keras di atas tikar.
Mereka sekarang bertekad untuk &quot;mencari keadilan&quot;.
Orang tuanya menghabiskan setiap hari di samping ranjang rumah sakitnya.
Ayahnya menunjukkan foto Wei Wei yang berbaring di samping boneka Mario, karakter favoritnya, yang dia belikan untuknya.
&quot;Ketika saya mengunjunginya di rumah sakit, saya berbicara dengannya,&quot; kata ayahnya, Tuan Huang.
&quot;Saya ingin Wei Wei mendengar bahwa kami menunggunya bangun.&quot;
Namun, rumah sakit mengatakan kemungkinan itu kecil.
Keluarga itu, bagaimanapun, berdoa untuk keajaiban.
</content:encoded></item></channel></rss>
