<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konflik Palestina-Israel: Ini Fakta-Fakta Penting di Balik Sengketa Berusia 100 Tahun</title><description>Beberapa fakta penting tentang konflik Palestina-Israel.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/11/18/2409161/konflik-palestina-israel-ini-fakta-fakta-penting-di-balik-sengketa-berusia-100-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/11/18/2409161/konflik-palestina-israel-ini-fakta-fakta-penting-di-balik-sengketa-berusia-100-tahun"/><item><title>Konflik Palestina-Israel: Ini Fakta-Fakta Penting di Balik Sengketa Berusia 100 Tahun</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/11/18/2409161/konflik-palestina-israel-ini-fakta-fakta-penting-di-balik-sengketa-berusia-100-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/11/18/2409161/konflik-palestina-israel-ini-fakta-fakta-penting-di-balik-sengketa-berusia-100-tahun</guid><pubDate>Selasa 11 Mei 2021 17:23 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/11/18/2409161/konflik-palestina-israel-ini-fakta-fakta-penting-di-balik-sengketa-berusia-100-tahun-0FvUkGU97z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/11/18/2409161/konflik-palestina-israel-ini-fakta-fakta-penting-di-balik-sengketa-berusia-100-tahun-0FvUkGU97z.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>RATUSAN warga Palestina dan lebih dari 20 polisi Israel terluka dalam bentrokan terbaru di Yerusalem. Insiden itu terjadi menyusul kenaikan ketegangan selama satu bulan terakhir, tetapi konflik Israel dan Palestina itu sendiri telah berlangsung puluhan tahun.
Bagaimana awal mulanya? Berikut sejumlah fakta penting dan penjelasannya.

Masalah 100 tahun
Inggris mengambil alih kawasan yang dikenal sebagai Palestina setelah penguasa sebagian wilayah Timur Tengah, Kesultanan Utsmaniyah, kalah dalam Perang Dunia Pertama. Wilayah itu ditempati oleh bangsa minoritas Yahudi dan bangsa mayoritas Arab.
BACA JUGA: Balas Tembakan 200 Roket Hamas, Serangan Udara Israel Hantam 130 Target di Gaza
Ketegangan antara dua kelompok tersebut meningkat ketika masyarakat dunia menugaskan Inggris untuk mendirikan &quot;rumah nasional&quot; di Palestina bagi warga Yahudi.
Bagi orang Yahudi, wilayah itu adalah tanah air leluhur mereka, tetapi warga Arab Palestina juga
Antara 1920-an hingga 1940-an, jumlah orang Yahudi yang datang ke wilayah itu bertambah. Banyak di antara mereka adalah orang Yahudi yang menyelamatkan diri dari persekusi Eropa dan mencari tanah air sesudah Holokaus Perang Dunia Kedua.
Kekerasan antara Yahudi dan Arab, dan aksi menentang kekuasaan Inggris, juga meningkat.
Pada 1947, PBB memutuskan wilayah Palestina dibagi menjadi dua negara terpisah bagi bangsa Yahudi dan bangsa Arab Palestina. Adapun Yerusalem ditetapkan sebagai kota internasional.
BACA JUGA: PM Palestina: Tindakan Israel Bentuk Rasisme Paling Keji
Pengaturan itu diterima oleh kalangan pemimpin Yahudi tetapi ditolak oleh bangsa Arab dan kemudian tidak pernah diterapkan.

Pembentukan Israel dan 'Malapetaka'
Karena tidak bisa menyelesaikan masalah, pada 1948 penguasa Inggris angkat kaki dan para pemuka Yahudi mendeklarasikan pembentukan negara Israel.
Banyak warga Palestina menolaknya dan kemudian pecah perang. Tentara dari negara-negara Arab yang bertetangga melakukan penyerbuan.
Ratusan ribu warga Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai Al Nakba atau &quot;Malapetaka&quot;. Menjelang akhir pertempuran satu tahun kemudian melalui gencatan senjata, Israel sudah berhasil menguasai sebagian besar wilayah.
Yordania menduduki wilayah yang kemudian menjadi Tepi Barat, dan Mesir menguasai Gaza.
Yerusalem dibagi antara pasukan Israel di bagian Barat, dan pasukan Yordania di bagian Timur.
Karena tidak pernah ada perjanjian perdamaian - kedua belah pihak  saling menyalahkan - terjadi lah perang dan pertempuran selama puluhan  tahun berikutnya.
Dalam perang berikutnya pada tahun 1967, Israel menduduki Yerusalem  Timur dan Tepi Barat, dan juga sebagian besar wilayah Dataran Tinggi  Golan yang dikuasai Suriah, Gaza dan Semenanjung Sinai yang dikuasai  Mesir.
Mayoritas pengungsi Palestina dan keturunan mereka tinggal di Gaza  dan Tepi Barat. Mereka juga tinggal di negara tetangga Suriah, Yordania  dan Lebanon.
Israel tidak mengizinkan para pengungsi itu dan keturunan mereka  pulang ke rumah mereka sendiri. Israel beralasan kepulangan pengungsi  akan membebani negara itu dan mengancam keberadaan negara itu sebagai  negara Yahudi.
Israel masih menduduki Tepi Barat, dan meskipun sudah mundur dari    Gaza, PBB masih menganggap wilayah itu sebagai bagian dari wilayah yang    diduduki Israel.
Israel mengakui seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya, sedangkan    Palestina menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya di masa depan.Amerika Serikat (AS) adalah salah satu dari segelintir negara yang mengakui klaim Israel atas seluruh wilayah kota tersebut.
Selama 50 tahun terakhir, Israel telah membangun permukiman di   daerah-daerah itu yang kini ditempati oleh lebih dari 600.000 warga   Yahudi.
Palestina menegaskan pembangunan itu melanggar hukum internasional   dan menjadi batu sandungan dalam perundingan perdamaian, tetapi Israel   menepisnya.

Apa saja masalah utamanya?
Israel dan Palestina gagal mencapai titik temu dalam sejumlah masalah.
Di antaranya adalah apa yang dilakukan terhadap pengungsi Palestina,   apakah permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki Israel dibiarkan   atau dibongkar.
Masalah lain terkait dengan Yerusalem, apakah kedua pihak seharusnya   berbagi kota itu. Dan yang mungkin paling pelik adalah apakah negara   Palestina semestinya didirikan berdampingan dengan Israel.
Selama 25 tahun terakhir, perundingan perdamaian kadang kala digelar, namun hingga kini belum berhasil menyelesaikan konflik.

Bagaimana prospek masa depannya?
Singkat kata, konflik Palestina-Israel belum akan terselesaikan dalam waktu dekat.
Rencana paling baru, yang ditawarkan Amerika Serikat ketika Donald   Trump menjabat presiden, ditolak oleh Palestina karena dianggap condong   ke Israel dan pada akhirnya tidak pernah diterapkan.
Perjanjian damai apa pun di masa depan akan memerlukan kesepakatan kedua pihak untuk menuntaskan masalah-masalah yang rumit.
Sampai ada penyelesaian,maka konflik Palestina-Israel akan terus berlanjut.</description><content:encoded>RATUSAN warga Palestina dan lebih dari 20 polisi Israel terluka dalam bentrokan terbaru di Yerusalem. Insiden itu terjadi menyusul kenaikan ketegangan selama satu bulan terakhir, tetapi konflik Israel dan Palestina itu sendiri telah berlangsung puluhan tahun.
Bagaimana awal mulanya? Berikut sejumlah fakta penting dan penjelasannya.

Masalah 100 tahun
Inggris mengambil alih kawasan yang dikenal sebagai Palestina setelah penguasa sebagian wilayah Timur Tengah, Kesultanan Utsmaniyah, kalah dalam Perang Dunia Pertama. Wilayah itu ditempati oleh bangsa minoritas Yahudi dan bangsa mayoritas Arab.
BACA JUGA: Balas Tembakan 200 Roket Hamas, Serangan Udara Israel Hantam 130 Target di Gaza
Ketegangan antara dua kelompok tersebut meningkat ketika masyarakat dunia menugaskan Inggris untuk mendirikan &quot;rumah nasional&quot; di Palestina bagi warga Yahudi.
Bagi orang Yahudi, wilayah itu adalah tanah air leluhur mereka, tetapi warga Arab Palestina juga
Antara 1920-an hingga 1940-an, jumlah orang Yahudi yang datang ke wilayah itu bertambah. Banyak di antara mereka adalah orang Yahudi yang menyelamatkan diri dari persekusi Eropa dan mencari tanah air sesudah Holokaus Perang Dunia Kedua.
Kekerasan antara Yahudi dan Arab, dan aksi menentang kekuasaan Inggris, juga meningkat.
Pada 1947, PBB memutuskan wilayah Palestina dibagi menjadi dua negara terpisah bagi bangsa Yahudi dan bangsa Arab Palestina. Adapun Yerusalem ditetapkan sebagai kota internasional.
BACA JUGA: PM Palestina: Tindakan Israel Bentuk Rasisme Paling Keji
Pengaturan itu diterima oleh kalangan pemimpin Yahudi tetapi ditolak oleh bangsa Arab dan kemudian tidak pernah diterapkan.

Pembentukan Israel dan 'Malapetaka'
Karena tidak bisa menyelesaikan masalah, pada 1948 penguasa Inggris angkat kaki dan para pemuka Yahudi mendeklarasikan pembentukan negara Israel.
Banyak warga Palestina menolaknya dan kemudian pecah perang. Tentara dari negara-negara Arab yang bertetangga melakukan penyerbuan.
Ratusan ribu warga Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai Al Nakba atau &quot;Malapetaka&quot;. Menjelang akhir pertempuran satu tahun kemudian melalui gencatan senjata, Israel sudah berhasil menguasai sebagian besar wilayah.
Yordania menduduki wilayah yang kemudian menjadi Tepi Barat, dan Mesir menguasai Gaza.
Yerusalem dibagi antara pasukan Israel di bagian Barat, dan pasukan Yordania di bagian Timur.
Karena tidak pernah ada perjanjian perdamaian - kedua belah pihak  saling menyalahkan - terjadi lah perang dan pertempuran selama puluhan  tahun berikutnya.
Dalam perang berikutnya pada tahun 1967, Israel menduduki Yerusalem  Timur dan Tepi Barat, dan juga sebagian besar wilayah Dataran Tinggi  Golan yang dikuasai Suriah, Gaza dan Semenanjung Sinai yang dikuasai  Mesir.
Mayoritas pengungsi Palestina dan keturunan mereka tinggal di Gaza  dan Tepi Barat. Mereka juga tinggal di negara tetangga Suriah, Yordania  dan Lebanon.
Israel tidak mengizinkan para pengungsi itu dan keturunan mereka  pulang ke rumah mereka sendiri. Israel beralasan kepulangan pengungsi  akan membebani negara itu dan mengancam keberadaan negara itu sebagai  negara Yahudi.
Israel masih menduduki Tepi Barat, dan meskipun sudah mundur dari    Gaza, PBB masih menganggap wilayah itu sebagai bagian dari wilayah yang    diduduki Israel.
Israel mengakui seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya, sedangkan    Palestina menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya di masa depan.Amerika Serikat (AS) adalah salah satu dari segelintir negara yang mengakui klaim Israel atas seluruh wilayah kota tersebut.
Selama 50 tahun terakhir, Israel telah membangun permukiman di   daerah-daerah itu yang kini ditempati oleh lebih dari 600.000 warga   Yahudi.
Palestina menegaskan pembangunan itu melanggar hukum internasional   dan menjadi batu sandungan dalam perundingan perdamaian, tetapi Israel   menepisnya.

Apa saja masalah utamanya?
Israel dan Palestina gagal mencapai titik temu dalam sejumlah masalah.
Di antaranya adalah apa yang dilakukan terhadap pengungsi Palestina,   apakah permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki Israel dibiarkan   atau dibongkar.
Masalah lain terkait dengan Yerusalem, apakah kedua pihak seharusnya   berbagi kota itu. Dan yang mungkin paling pelik adalah apakah negara   Palestina semestinya didirikan berdampingan dengan Israel.
Selama 25 tahun terakhir, perundingan perdamaian kadang kala digelar, namun hingga kini belum berhasil menyelesaikan konflik.

Bagaimana prospek masa depannya?
Singkat kata, konflik Palestina-Israel belum akan terselesaikan dalam waktu dekat.
Rencana paling baru, yang ditawarkan Amerika Serikat ketika Donald   Trump menjabat presiden, ditolak oleh Palestina karena dianggap condong   ke Israel dan pada akhirnya tidak pernah diterapkan.
Perjanjian damai apa pun di masa depan akan memerlukan kesepakatan kedua pihak untuk menuntaskan masalah-masalah yang rumit.
Sampai ada penyelesaian,maka konflik Palestina-Israel akan terus berlanjut.</content:encoded></item></channel></rss>
