<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Karomah Kiai Musyafa Kaliwungu, Air Satu Ceret Beda Rasa dan Uang yang Tak Pernah Berkurang   </title><description>KIAI MUSYAFA  (wafat 13 maret 1969, seperti tertulis di batu nisannya) semasa hidupnya terkenal sebagai ulama islam Kaliwungu</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410172/karomah-kiai-musyafa-kaliwungu-air-satu-ceret-beda-rasa-dan-uang-yang-tak-pernah-berkurang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410172/karomah-kiai-musyafa-kaliwungu-air-satu-ceret-beda-rasa-dan-uang-yang-tak-pernah-berkurang"/><item><title>Karomah Kiai Musyafa Kaliwungu, Air Satu Ceret Beda Rasa dan Uang yang Tak Pernah Berkurang   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410172/karomah-kiai-musyafa-kaliwungu-air-satu-ceret-beda-rasa-dan-uang-yang-tak-pernah-berkurang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410172/karomah-kiai-musyafa-kaliwungu-air-satu-ceret-beda-rasa-dan-uang-yang-tak-pernah-berkurang</guid><pubDate>Jum'at 14 Mei 2021 14:52 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/14/337/2410172/karomah-kiai-musyafa-kaliwungu-air-satu-ceret-beda-rasa-dan-uang-yang-tak-pernah-berkurang-7ZknwpJuda.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga sedang membaca Yasin di makam Kiai Musyafa.(Foto:Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/14/337/2410172/karomah-kiai-musyafa-kaliwungu-air-satu-ceret-beda-rasa-dan-uang-yang-tak-pernah-berkurang-7ZknwpJuda.jpg</image><title>Warga sedang membaca Yasin di makam Kiai Musyafa.(Foto:Istimewa)</title></images><description>KIAI MUSYAFA&amp;nbsp; (wafat 13 maret 1969, seperti tertulis di batu nisannya) semasa hidupnya terkenal sebagai ulama Islam Kaliwungu, Kendal yang memiliki karomah dan kesaktian.
Karena beliau dikenal sebagai waliyullah (kekasih Allah), maka tidak heran jika beliau memiliki banyak kelebihan berupa karomah. Kyai Musafa' hidup antara tahun 1920 sampai dengan 1969.
Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa&amp;rsquo;,  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riadah.
Selama hidup (antara tahun 1920 &amp;ndash; 1969), Mbah Syafa&amp;rsquo; dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa&amp;rsquo; sebagai Kiai yang sangat miskin.
Baca Juga: Syaikhona Kholil Pantas Jadi Pahlawan Nasional, Dukungan Terus Mengalir
&amp;ldquo;Bahkan ada orang yang menganggap Mbah Syafa&amp;rsquo; adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Persangkaan orang bahwa Mbah Syafa&amp;rsquo; adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya,&amp;rdquo;ujar Tomo, pengurus makam wali di kota Kaliwungu.
Rahasia Mbah Syafa sebagai wali akhirnya terbongkar. Ceritanya pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa&amp;rsquo; dibuat gempar. Saat itu  setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke desa Mbah Syafa.
Dia mengaku dititipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa&amp;rsquo;, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa&amp;rsquo; mengetahui sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa&amp;rsquo; berada di rumahnya.&amp;ldquo;Tetangga &amp;ndash;tetangga menganggap tak mungkin mbah Syafa akan  menunaikan ibadah haji. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih  kekurangan,&amp;rdquo;ungkapnya.
Sejak peristiwa menakjubkan itu pandangan orang pada dirinya berubah,  apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya.
Banyak cerita menarik seputar kewalian Kiai Musyafa'. Konon di Kendal  dahulu pernah ada seorang waliyullah Abdul Hadi namanya. Ketika beliau  akan wafat, beliau menyampaikan pesan pada Habib Umar, penjaganya kala  sakit, yang tak jelas maknanya.
Beliau mengatakan, &quot;Nyonya dengklek kidul mesjid Kaliwungu nyambut  gawe kulak jaritan&quot; (Artinya :Nyonya Dengklek sebelah selatan masjid  Kaliwungu Bekerja sebagai tengkulak kain).
Pada saat waliyullah Abdul Hadi itu meninggal dunia, maka terlihat  cahaya (nur) yang bersinar ke arah Kiai Musyafa'. itulah barangkali  tanda awal kewalian Kyai Musyafa'.
Terdapat beberapa cerita orang tua yang merupakan saksi ahli tentang  keanehan-keanehan yang diangap merupakan ciri karomah atau kewalian Mbah  Kyai Musyafa'. Suatu saat Mbah Syafa&amp;rsquo; menjamu tamu yang datang.  Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah  disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di  rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.
Kisah unik lain ketika Mbah Wali Syafa' memotong pohon kelapa.  Ceritanya berawal dari seorang tetangga yang resah dan khawatir karena  pohon kelapanya condong di atas rumahnya. Mendengar keresahan itu, maka  Mbah Syafa' bertandang. Beliau langsung yang naik pohon kelapa untuk  memotong pohon yang condong di atas atap rumah tetangganya itu.
Setelah selesai di potong, ternyata pohon kelapa itu jatuhnya justru  berlawanan dengan rumah warga itu. Logikanya pohon itu seharusnya jatuh  persis di atas rumah tetangganya itu. Tetapi yang terjadi malah  sebaliknya. Di sinilah orang makin yakin akan kelebihan karomah Mbah  Syafa.
Sekitar tahun 1960-an, Mbah Syafa&amp;rsquo; kedatangan seorang tentara.  Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia  mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan  membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda.
Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa&amp;rsquo; dan mengemukakan  maksudnya, Mbah Syafa&amp;rsquo; tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya  mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara.
Oleh Mbah Syafa&amp;rsquo; wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut  sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah  dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas  menyerahkannya pada orang itu.
&amp;ldquo;Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa&amp;rsquo;, namun ia tetap  menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa&amp;rsquo;. Di belakang hari, isyarat  tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia  hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut  selamat,&amp;rdquo;jelas Tomo.
Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940-an, suatu hari Mbah  Syafa&amp;rsquo; menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa  heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu  akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan  dibuat sumur.
Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa&amp;rsquo; mengetahui  peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang,  tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan  sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ketika terjadi serangan tentara Jepang, masyarakat sudah panik dan  lari kesana kemari mencari perlindungan. Namun Mbah Wali Syafa' justru  tenang-tenang aja di teras rumahnya membaca surat Yasin.Beberapa kali Mbah Wali membacanya, akhirnya tba-tiba  berhentilah serangan montir tentara Jepang tadi. &amp;ldquo;Ini Barokahnya bacaan  surat Yasin yang dibaca Kiai Musyafa',&amp;rdquo;papar Tomo.
Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya).
Suatu ketika Rasyid saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon,  Kaliwungu. Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui  Mbah Syafa&amp;rsquo;  tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa&amp;rsquo; memberinya uang seribu rupiah. Dia  tidak mengetahui pada saat itu Mbah Syafa ia telah meninggal dunia.
Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada  di saku Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga  kali, membuat gundah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia  kembalikan ke kuburan Kiai Syafa&amp;rsquo;.
&amp;ldquo;Maka sekarang makam Kiai Musyafa dikenal untuk memperlancar rejeki ,&amp;rdquo;jelasnya.
Meski  telah terbukti karomhanya, masih terdapat pula orang yang tidak  mempercayai bahwa Mbah Syafa adalah wali. Maka suatu saat Kiai Muchid  dari Jagalan, Kutoharjo, Kaliwungu berguman, serasa meragukan berita  kewalian Mbah Wali Syafa'.
Akhirnya dia mempunyai rencana untuk menguji kewalian Mbah Syafa.   &quot;Apa benar  Mbah Kyai Musyafa'itu seorang waliyullah? Coba aku aku  mencoba karomahnya akan  pura-pura meminjam uangnya Kiai&quot;,niat Kyai  Muchid pada dirinya sendiri.
Kyai Muchid kemudian sampai di halaman rumah Kiai Musyafa', tiba-tiba  Kiai Musyafa' berkata dengan nada perintah, &quot;Muchid, ke pasar saja  memakai bathok kelapa kalau akan mengemis&quot;.
Padahal saat itu Kiai Muchid belum mengatakakan apapun. Begitu  mendengar ucapan Kiai Musyafa, maka Kiai Muchid terdiam, tak berani  berkata sepatah kata pun. Dia tidak jadi mengutarakan niatnya akan  meminjam uang.</description><content:encoded>KIAI MUSYAFA&amp;nbsp; (wafat 13 maret 1969, seperti tertulis di batu nisannya) semasa hidupnya terkenal sebagai ulama Islam Kaliwungu, Kendal yang memiliki karomah dan kesaktian.
Karena beliau dikenal sebagai waliyullah (kekasih Allah), maka tidak heran jika beliau memiliki banyak kelebihan berupa karomah. Kyai Musafa' hidup antara tahun 1920 sampai dengan 1969.
Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa&amp;rsquo;,  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riadah.
Selama hidup (antara tahun 1920 &amp;ndash; 1969), Mbah Syafa&amp;rsquo; dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa&amp;rsquo; sebagai Kiai yang sangat miskin.
Baca Juga: Syaikhona Kholil Pantas Jadi Pahlawan Nasional, Dukungan Terus Mengalir
&amp;ldquo;Bahkan ada orang yang menganggap Mbah Syafa&amp;rsquo; adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Persangkaan orang bahwa Mbah Syafa&amp;rsquo; adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya,&amp;rdquo;ujar Tomo, pengurus makam wali di kota Kaliwungu.
Rahasia Mbah Syafa sebagai wali akhirnya terbongkar. Ceritanya pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa&amp;rsquo; dibuat gempar. Saat itu  setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke desa Mbah Syafa.
Dia mengaku dititipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa&amp;rsquo;, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa&amp;rsquo; mengetahui sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa&amp;rsquo; berada di rumahnya.&amp;ldquo;Tetangga &amp;ndash;tetangga menganggap tak mungkin mbah Syafa akan  menunaikan ibadah haji. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih  kekurangan,&amp;rdquo;ungkapnya.
Sejak peristiwa menakjubkan itu pandangan orang pada dirinya berubah,  apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya.
Banyak cerita menarik seputar kewalian Kiai Musyafa'. Konon di Kendal  dahulu pernah ada seorang waliyullah Abdul Hadi namanya. Ketika beliau  akan wafat, beliau menyampaikan pesan pada Habib Umar, penjaganya kala  sakit, yang tak jelas maknanya.
Beliau mengatakan, &quot;Nyonya dengklek kidul mesjid Kaliwungu nyambut  gawe kulak jaritan&quot; (Artinya :Nyonya Dengklek sebelah selatan masjid  Kaliwungu Bekerja sebagai tengkulak kain).
Pada saat waliyullah Abdul Hadi itu meninggal dunia, maka terlihat  cahaya (nur) yang bersinar ke arah Kiai Musyafa'. itulah barangkali  tanda awal kewalian Kyai Musyafa'.
Terdapat beberapa cerita orang tua yang merupakan saksi ahli tentang  keanehan-keanehan yang diangap merupakan ciri karomah atau kewalian Mbah  Kyai Musyafa'. Suatu saat Mbah Syafa&amp;rsquo; menjamu tamu yang datang.  Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah  disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di  rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.
Kisah unik lain ketika Mbah Wali Syafa' memotong pohon kelapa.  Ceritanya berawal dari seorang tetangga yang resah dan khawatir karena  pohon kelapanya condong di atas rumahnya. Mendengar keresahan itu, maka  Mbah Syafa' bertandang. Beliau langsung yang naik pohon kelapa untuk  memotong pohon yang condong di atas atap rumah tetangganya itu.
Setelah selesai di potong, ternyata pohon kelapa itu jatuhnya justru  berlawanan dengan rumah warga itu. Logikanya pohon itu seharusnya jatuh  persis di atas rumah tetangganya itu. Tetapi yang terjadi malah  sebaliknya. Di sinilah orang makin yakin akan kelebihan karomah Mbah  Syafa.
Sekitar tahun 1960-an, Mbah Syafa&amp;rsquo; kedatangan seorang tentara.  Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia  mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan  membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda.
Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa&amp;rsquo; dan mengemukakan  maksudnya, Mbah Syafa&amp;rsquo; tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya  mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara.
Oleh Mbah Syafa&amp;rsquo; wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut  sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah  dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas  menyerahkannya pada orang itu.
&amp;ldquo;Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa&amp;rsquo;, namun ia tetap  menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa&amp;rsquo;. Di belakang hari, isyarat  tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia  hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut  selamat,&amp;rdquo;jelas Tomo.
Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940-an, suatu hari Mbah  Syafa&amp;rsquo; menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa  heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu  akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan  dibuat sumur.
Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa&amp;rsquo; mengetahui  peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang,  tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan  sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ketika terjadi serangan tentara Jepang, masyarakat sudah panik dan  lari kesana kemari mencari perlindungan. Namun Mbah Wali Syafa' justru  tenang-tenang aja di teras rumahnya membaca surat Yasin.Beberapa kali Mbah Wali membacanya, akhirnya tba-tiba  berhentilah serangan montir tentara Jepang tadi. &amp;ldquo;Ini Barokahnya bacaan  surat Yasin yang dibaca Kiai Musyafa',&amp;rdquo;papar Tomo.
Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya).
Suatu ketika Rasyid saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon,  Kaliwungu. Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui  Mbah Syafa&amp;rsquo;  tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa&amp;rsquo; memberinya uang seribu rupiah. Dia  tidak mengetahui pada saat itu Mbah Syafa ia telah meninggal dunia.
Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada  di saku Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga  kali, membuat gundah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia  kembalikan ke kuburan Kiai Syafa&amp;rsquo;.
&amp;ldquo;Maka sekarang makam Kiai Musyafa dikenal untuk memperlancar rejeki ,&amp;rdquo;jelasnya.
Meski  telah terbukti karomhanya, masih terdapat pula orang yang tidak  mempercayai bahwa Mbah Syafa adalah wali. Maka suatu saat Kiai Muchid  dari Jagalan, Kutoharjo, Kaliwungu berguman, serasa meragukan berita  kewalian Mbah Wali Syafa'.
Akhirnya dia mempunyai rencana untuk menguji kewalian Mbah Syafa.   &quot;Apa benar  Mbah Kyai Musyafa'itu seorang waliyullah? Coba aku aku  mencoba karomahnya akan  pura-pura meminjam uangnya Kiai&quot;,niat Kyai  Muchid pada dirinya sendiri.
Kyai Muchid kemudian sampai di halaman rumah Kiai Musyafa', tiba-tiba  Kiai Musyafa' berkata dengan nada perintah, &quot;Muchid, ke pasar saja  memakai bathok kelapa kalau akan mengemis&quot;.
Padahal saat itu Kiai Muchid belum mengatakakan apapun. Begitu  mendengar ucapan Kiai Musyafa, maka Kiai Muchid terdiam, tak berani  berkata sepatah kata pun. Dia tidak jadi mengutarakan niatnya akan  meminjam uang.</content:encoded></item></channel></rss>
