<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laksamana Cheng Ho, Penjelajah Muslim yang Pernah Terlibat Perang di Jawa</title><description>MUHIBAH pelayaran Laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Nusantara terjadi pada abad ke XV. Tujuannya, untuk perdagangan dan mempererat hubungan</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410187/laksamana-cheng-ho-penjelajah-muslim-yang-pernah-terlibat-perang-di-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410187/laksamana-cheng-ho-penjelajah-muslim-yang-pernah-terlibat-perang-di-jawa"/><item><title>Laksamana Cheng Ho, Penjelajah Muslim yang Pernah Terlibat Perang di Jawa</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410187/laksamana-cheng-ho-penjelajah-muslim-yang-pernah-terlibat-perang-di-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/14/337/2410187/laksamana-cheng-ho-penjelajah-muslim-yang-pernah-terlibat-perang-di-jawa</guid><pubDate>Jum'at 14 Mei 2021 15:31 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/14/337/2410187/laksamana-cheng-ho-penjelajah-muslim-yang-pernah-terlibat-perang-di-jawa-Zj2MPJRGaC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Laksamana Zheng He alias Ceng Ho.(Foto:Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/14/337/2410187/laksamana-cheng-ho-penjelajah-muslim-yang-pernah-terlibat-perang-di-jawa-Zj2MPJRGaC.jpg</image><title>Laksamana Zheng He alias Ceng Ho.(Foto:Wikipedia)</title></images><description>MUHIBAH pelayaran Laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Nusantara terjadi pada abad ke XV. Tujuannya, untuk perdagangan dan mempererat hubungan antara negara Tiongkok dan negara-negara Asia Afrika.
Banyak dari anak buah kapal Laksamana Zheng He adalah Muslim, seperti Ma Huan, Guo Chong Li dan Ha San Shaban dan Pu He-ri. Ma Huan dan Guo Chong-li pandai berbahasa Arab dan Persia. Keduanya bekerja sebagai penerjemah. Ha San adalah seorang ulama Masjid Yang Shi di kota Ki An.
Kisah tentang Laksamana Cheng Ho dikupas dalam buku &quot;Laksamana Cheng Ho- Kisah Ekspedisi Tionghoa Muslim &quot;dan buku &quot;Laksamana Cheng Ho: Jejak Damai Penjelajah Dunia&quot;.
Cheng Ho mengunjungi Nusantara (Kepulauan Indonesia) sebanyak tujuh kali. Ketika singgah di Samudera Pasai, ia menghadiah Sultan Aceh sebuah lonceng raksasa &quot;Cakra Donya&quot;, yang hingga kini tersimpan di museum Banda Aceh.
Baca Juga: Masjid Muhammad Cheng Ho Desain Unik Bergaya China dan Indonesia
Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati ( Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok  kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring keramik yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Dalam perjalanannya melalui laut Jawa , Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang dan menetap di sana.
Bukti peninggalannya antara lain kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.
Cheng Ho juga sempat berkunjung ke kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Wikramawardhana.Di pantai utara Jawa saja, ada de&amp;not;lapan tempat yang disinggahi Cheng  Ho. Mulai Sunda Kelapa (Ancol), Cirebon, Semarang, Demak, Lasem (masuk  Rembang), Tuban, Gresik, hingga Surabaya. Dari Pelabuhan Ujung Galuh  (Surabaya), Cheng Ho berlayar menyusuri Kali Brantas menuju Trowulan  (Mojokerto), ibu kota Majapahit.
Cheng Ho menginjakkan kaki di ibu kota Wilwatikta itu pada 1406.  Setahun setelah angkat jangkar dari Suzhou, Tiongkok. Setelah singgah di  Champa, Ayutthaya, Malaka, Ancol, Cirebon, Semarang, dan beberapa  pelabuhan di Jateng serta Jatim.
Anak buah Cheng Ho sempat terlibat perang antara  Majapahit Barat  dengan Raja Wikramawardhana dan  Majapahit Timur dengan Raja Bhre  Wirabumi. Literatur sejarah Tiongkok menyebutkan perang antara Raja  Barat dan Raja Timur di Zhua Wa (Jawa).
Saat itu, Cheng Ho mengirimkan 170 anak buahnya ke kawasan dekat  Semarang. Raja Wikramawardhana mengira pasukan itu sebagai bala bantuan  untuk Bhre Wirabumi. Pasukannya langsung menghabisi 170 tentara Tiongkok  tersebut.
Meski marah, Cheng Ho tidak menurutkan nafsu. Ia  datang dengan  sejumlah kecil pengiring. Karena menyadari kesalahannya, Wikramawardhana   minta maaf. Wikramawardhana berjanji membayar ganti rugi 60 ribu tael  emas. Cheng Ho setuju.
Lalu, Cheng Ho datang lagi pada pelayaran kedua. Namun,  Wikramawardhana tak membayar penuh. Hanya 10 ribu tael emas. Cheng Ho  tak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, Wikramawardhana sudah mengaku  bersalah dan itu semua terjadi karena kesalahpahaman belaka.
Pada 1421, Laksamana Cheng Ho memimpin sebuah armada yang melakukan  pelayaran ke berbagai penjuru dunia. Dengan panjang kapalnya yang  mencapai 160 meter, ia memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar,  menengah, dan kecil yang disertai kurang lebih 27.800 awak kapal.
Armada besar ini dipimpinnya dengan dibantu 3 panglima: Hong Bao,  Zhou Man, dan Zhou Wen. Cheng Ho bersama pasukannya telah menjelajah  samudera selama 28 tahun (1405-1433 M).
Laksamana Cheng Ho berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa  minoritas Tiongkok. Cheng Ho lahir pada 1371, dengan nama Ma He. Ia  adalah putra kedua dari Ma Hazhi dan Wen.
Ia memiliki seorang saudara laki-laki dan empat perempuan.  Keluarganya berasal dari Kunyang (saat ini Jinning), selatan Kunming  atau barat daya Danau Dian di provinsi Yunnan.
Cheng Ho masih keturunan bangsawan Persia. Ia adalah cicit dari  Sayyid Ajjal Syams al-Din Umar, seorang berkebangsaan Persia yang  memiliki posisi strategis di Kekaisaran Mongol.
Sayyid Ajjal ditunjuk menjadi Gubernur Provinsi Yunnan pada masa  pemerintahan Dinasti Yuan. Sejak kecil, Cheng Ho sudah fasih berbahasa  Tiongkok dan Arab. Ia belajar pada ayah dan kakeknya. Ia juga  mempelajari geografi dunia.
Pada 1381, ayahnya wafat karena hukuman eksekusi menyusul kekalahan  Yuan Utara oleh pasukan Dinasti Ming yang dikirim ke Yunnan untuk  membendung pemberontakan orang-orang Mongol yang dipimpin oleh  Basalawarmi.
Saat itu, Cheng Ho memasuki usia 11 tahun. Ia pun ditangkap dan  dijadikan kasim (pelayan yang dikebiri) di istana kaisar. Ia menjadi  pelayan khusus Pangeran Zhu Di, anak keempat kaisar.
Pergaulannya dengan pangeran membuat Cheng Ho menjadi pemuda yang  tangguh. Ia mahir berdiplomasi serta menguasai seni berperang. Ia  kemudian diangkat menjadi pegawai khusus pangeran.Saat itu, Cheng Ho diberi nama &amp;ldquo;San Bao&amp;rdquo; yang berarti tiga permata.  Posisinya pun makin kuat ketika Zhu Di diangkat menjadi kaisar pada  1402.
Cheng Ho merupakan abdi istana pertama yang memiliki posisi tinggi  dalam militer China. Cheng Ho memiliki karakter militer sejati dengan  prestasi militer yang cukup membanggakan sehingga ia dengan mudah meraih  gelar Laksamana. Hal ini juga karena postur tubuhnya yang tinggi,  besar, dan berwibawa.
Cheng Ho  didaulat menjadi laksamana dan diperintahkan melakukan  ekspedisi. Pemerintahan Dinasti Ming menyeponsori tujuh kali ekspedisi  laut Laksamana Cheng Ho.
Sebagai Muslim yang taat, sebelum memulai ekspedisi pertamanya,  rombongan besar yang dipimpinnya terlebih dahulu menunaikan shalat di  sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Ia memimpin  ekspedisi ke wilayah yang saat itu dikenal dengan nama lautan barat.
Cheng Ho memimpin kapal yang diberi nama &amp;ldquo;Kapal Pusaka&amp;rdquo;. Kapal  terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan  lebar 18 zhang (56 m).
Kapal dibuat tanpa besi, serta dilengkapi teknologi yang saat itu  tergolong canggih seperti kompas magnetik. Ukuran kapalnya 5 kali kapal  Vasco da Gama dan Christoper Columbus.
Selain berekspedisi, Cheng Ho juga menuliskan perjalanannya dan peta  navigasi yang berisi arah pelayaran, jarak di lautan dan berbagai  pelabuhan. Sebanyak 24 peta navigasi yang dibuat Cheng Ho mampu mengubah  peta navigasi dunia abad 15. Jalur perdagangan Tiongkok  berubah, tidak  sekadar bertumpu pada &amp;lsquo;Jalur Sutera&amp;rsquo; antara Beijing-Bukhara.
Sekalipun dokumentasi perjalanan Cheng Ho telah banyak yang  dimusnahkan oleh Zhu Gaozi dan Zhu Zhanji yang ingin menutup akses dunia  bagi Tiongkok, tapi ternyata beberapa masih ada yang tercecer, termasuk  salah satu peta perjalanan armada Cheng Ho.
Sebuah peta lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Cheng Ho.
Laksamana Cheng Ho wafat setelah melakukan ekspedisi ketujuhnya.  Tepatnya pada tahun ke-10 bertahtanya Kaisar Xuan De. Cheng Ho  dimakamkan di pinggiran selatan Bukit Niushou di Nanjing.</description><content:encoded>MUHIBAH pelayaran Laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Nusantara terjadi pada abad ke XV. Tujuannya, untuk perdagangan dan mempererat hubungan antara negara Tiongkok dan negara-negara Asia Afrika.
Banyak dari anak buah kapal Laksamana Zheng He adalah Muslim, seperti Ma Huan, Guo Chong Li dan Ha San Shaban dan Pu He-ri. Ma Huan dan Guo Chong-li pandai berbahasa Arab dan Persia. Keduanya bekerja sebagai penerjemah. Ha San adalah seorang ulama Masjid Yang Shi di kota Ki An.
Kisah tentang Laksamana Cheng Ho dikupas dalam buku &quot;Laksamana Cheng Ho- Kisah Ekspedisi Tionghoa Muslim &quot;dan buku &quot;Laksamana Cheng Ho: Jejak Damai Penjelajah Dunia&quot;.
Cheng Ho mengunjungi Nusantara (Kepulauan Indonesia) sebanyak tujuh kali. Ketika singgah di Samudera Pasai, ia menghadiah Sultan Aceh sebuah lonceng raksasa &quot;Cakra Donya&quot;, yang hingga kini tersimpan di museum Banda Aceh.
Baca Juga: Masjid Muhammad Cheng Ho Desain Unik Bergaya China dan Indonesia
Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati ( Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok  kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring keramik yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Dalam perjalanannya melalui laut Jawa , Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang dan menetap di sana.
Bukti peninggalannya antara lain kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.
Cheng Ho juga sempat berkunjung ke kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Wikramawardhana.Di pantai utara Jawa saja, ada de&amp;not;lapan tempat yang disinggahi Cheng  Ho. Mulai Sunda Kelapa (Ancol), Cirebon, Semarang, Demak, Lasem (masuk  Rembang), Tuban, Gresik, hingga Surabaya. Dari Pelabuhan Ujung Galuh  (Surabaya), Cheng Ho berlayar menyusuri Kali Brantas menuju Trowulan  (Mojokerto), ibu kota Majapahit.
Cheng Ho menginjakkan kaki di ibu kota Wilwatikta itu pada 1406.  Setahun setelah angkat jangkar dari Suzhou, Tiongkok. Setelah singgah di  Champa, Ayutthaya, Malaka, Ancol, Cirebon, Semarang, dan beberapa  pelabuhan di Jateng serta Jatim.
Anak buah Cheng Ho sempat terlibat perang antara  Majapahit Barat  dengan Raja Wikramawardhana dan  Majapahit Timur dengan Raja Bhre  Wirabumi. Literatur sejarah Tiongkok menyebutkan perang antara Raja  Barat dan Raja Timur di Zhua Wa (Jawa).
Saat itu, Cheng Ho mengirimkan 170 anak buahnya ke kawasan dekat  Semarang. Raja Wikramawardhana mengira pasukan itu sebagai bala bantuan  untuk Bhre Wirabumi. Pasukannya langsung menghabisi 170 tentara Tiongkok  tersebut.
Meski marah, Cheng Ho tidak menurutkan nafsu. Ia  datang dengan  sejumlah kecil pengiring. Karena menyadari kesalahannya, Wikramawardhana   minta maaf. Wikramawardhana berjanji membayar ganti rugi 60 ribu tael  emas. Cheng Ho setuju.
Lalu, Cheng Ho datang lagi pada pelayaran kedua. Namun,  Wikramawardhana tak membayar penuh. Hanya 10 ribu tael emas. Cheng Ho  tak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, Wikramawardhana sudah mengaku  bersalah dan itu semua terjadi karena kesalahpahaman belaka.
Pada 1421, Laksamana Cheng Ho memimpin sebuah armada yang melakukan  pelayaran ke berbagai penjuru dunia. Dengan panjang kapalnya yang  mencapai 160 meter, ia memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar,  menengah, dan kecil yang disertai kurang lebih 27.800 awak kapal.
Armada besar ini dipimpinnya dengan dibantu 3 panglima: Hong Bao,  Zhou Man, dan Zhou Wen. Cheng Ho bersama pasukannya telah menjelajah  samudera selama 28 tahun (1405-1433 M).
Laksamana Cheng Ho berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa  minoritas Tiongkok. Cheng Ho lahir pada 1371, dengan nama Ma He. Ia  adalah putra kedua dari Ma Hazhi dan Wen.
Ia memiliki seorang saudara laki-laki dan empat perempuan.  Keluarganya berasal dari Kunyang (saat ini Jinning), selatan Kunming  atau barat daya Danau Dian di provinsi Yunnan.
Cheng Ho masih keturunan bangsawan Persia. Ia adalah cicit dari  Sayyid Ajjal Syams al-Din Umar, seorang berkebangsaan Persia yang  memiliki posisi strategis di Kekaisaran Mongol.
Sayyid Ajjal ditunjuk menjadi Gubernur Provinsi Yunnan pada masa  pemerintahan Dinasti Yuan. Sejak kecil, Cheng Ho sudah fasih berbahasa  Tiongkok dan Arab. Ia belajar pada ayah dan kakeknya. Ia juga  mempelajari geografi dunia.
Pada 1381, ayahnya wafat karena hukuman eksekusi menyusul kekalahan  Yuan Utara oleh pasukan Dinasti Ming yang dikirim ke Yunnan untuk  membendung pemberontakan orang-orang Mongol yang dipimpin oleh  Basalawarmi.
Saat itu, Cheng Ho memasuki usia 11 tahun. Ia pun ditangkap dan  dijadikan kasim (pelayan yang dikebiri) di istana kaisar. Ia menjadi  pelayan khusus Pangeran Zhu Di, anak keempat kaisar.
Pergaulannya dengan pangeran membuat Cheng Ho menjadi pemuda yang  tangguh. Ia mahir berdiplomasi serta menguasai seni berperang. Ia  kemudian diangkat menjadi pegawai khusus pangeran.Saat itu, Cheng Ho diberi nama &amp;ldquo;San Bao&amp;rdquo; yang berarti tiga permata.  Posisinya pun makin kuat ketika Zhu Di diangkat menjadi kaisar pada  1402.
Cheng Ho merupakan abdi istana pertama yang memiliki posisi tinggi  dalam militer China. Cheng Ho memiliki karakter militer sejati dengan  prestasi militer yang cukup membanggakan sehingga ia dengan mudah meraih  gelar Laksamana. Hal ini juga karena postur tubuhnya yang tinggi,  besar, dan berwibawa.
Cheng Ho  didaulat menjadi laksamana dan diperintahkan melakukan  ekspedisi. Pemerintahan Dinasti Ming menyeponsori tujuh kali ekspedisi  laut Laksamana Cheng Ho.
Sebagai Muslim yang taat, sebelum memulai ekspedisi pertamanya,  rombongan besar yang dipimpinnya terlebih dahulu menunaikan shalat di  sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Ia memimpin  ekspedisi ke wilayah yang saat itu dikenal dengan nama lautan barat.
Cheng Ho memimpin kapal yang diberi nama &amp;ldquo;Kapal Pusaka&amp;rdquo;. Kapal  terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan  lebar 18 zhang (56 m).
Kapal dibuat tanpa besi, serta dilengkapi teknologi yang saat itu  tergolong canggih seperti kompas magnetik. Ukuran kapalnya 5 kali kapal  Vasco da Gama dan Christoper Columbus.
Selain berekspedisi, Cheng Ho juga menuliskan perjalanannya dan peta  navigasi yang berisi arah pelayaran, jarak di lautan dan berbagai  pelabuhan. Sebanyak 24 peta navigasi yang dibuat Cheng Ho mampu mengubah  peta navigasi dunia abad 15. Jalur perdagangan Tiongkok  berubah, tidak  sekadar bertumpu pada &amp;lsquo;Jalur Sutera&amp;rsquo; antara Beijing-Bukhara.
Sekalipun dokumentasi perjalanan Cheng Ho telah banyak yang  dimusnahkan oleh Zhu Gaozi dan Zhu Zhanji yang ingin menutup akses dunia  bagi Tiongkok, tapi ternyata beberapa masih ada yang tercecer, termasuk  salah satu peta perjalanan armada Cheng Ho.
Sebuah peta lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Cheng Ho.
Laksamana Cheng Ho wafat setelah melakukan ekspedisi ketujuhnya.  Tepatnya pada tahun ke-10 bertahtanya Kaisar Xuan De. Cheng Ho  dimakamkan di pinggiran selatan Bukit Niushou di Nanjing.</content:encoded></item></channel></rss>
