<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenal Sistem Pertahanan Kubah Besi Israel yang Dihujani 1.500 Roket Hamas</title><description>Sistem pertahanan Kubah Besi merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal Israel yang berbiaya miliaran dolar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/15/18/2410343/mengenal-sistem-pertahanan-kubah-besi-israel-yang-dihujani-1-500-roket-hamas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/15/18/2410343/mengenal-sistem-pertahanan-kubah-besi-israel-yang-dihujani-1-500-roket-hamas"/><item><title>Mengenal Sistem Pertahanan Kubah Besi Israel yang Dihujani 1.500 Roket Hamas</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/15/18/2410343/mengenal-sistem-pertahanan-kubah-besi-israel-yang-dihujani-1-500-roket-hamas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/15/18/2410343/mengenal-sistem-pertahanan-kubah-besi-israel-yang-dihujani-1-500-roket-hamas</guid><pubDate>Sabtu 15 Mei 2021 04:07 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/15/18/2410343/mengenal-sistem-pertahanan-kubah-besi-israel-yang-dihujani-1-500-roket-hamas-TBLYa7VJRd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: BBC</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/15/18/2410343/mengenal-sistem-pertahanan-kubah-besi-israel-yang-dihujani-1-500-roket-hamas-TBLYa7VJRd.jpg</image><title>Foto: BBC</title></images><description>JAKARTA - Konflik Israel dan Palestina kembali memanas. Dalam sepekan terakhir, militer Israel merilis sebanyak 1.500 roket ditembakkan oleh pejuang Hamas dan kelompok Palestina.
Namun, serangan tersebut berhasil dicegah dengan sistem pertahanan Kubah Besi Israel. Pejabat Israel mengklaim sistem ini 90% sukses dalam menghancurkan roket-roket musuh dari udara, sebelum menyentuh tanah.
Sistem pertahanan Kubah Besi merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal Israel yang berbiaya miliaran dolar. Sistem yang disebut Iron Dome itu menggunakan radar untuk melacak roket yang ditembakkan musuh, lalu meluncurkan rudal pencegat untuk menghancurkan roket musuh tersebut di udara.
Teknologi yang digunakan Kubah Besi itu bisa memilah tembakan musuh yang kemungkinan akan mencapai target dan harus dihancurkan, maupun yang meleset. Sehingga hanya roket yang mengarah ke kota atau kawasan padat penduduk yang diprioritaskan untuk dihancurkan dari udara agar lebih efisien.
Setiap rudal pencegat dari Kubah Besi itu berbiaya US$150 ribu atau sekitar Rp2,1 miliar, ungkap harian Times of Israel. Pembuatan Kubah Besi ini berawal dari konflik tahun 2006 antara Israel versus Hizbullah, kelompok yang berbasis di selatan Lebanon.
Hizbullah saat itu menembakkan ribuan roket, menyebabkan banyak kerusakan dan menewaskan puluhan warga Israel.
Baca juga:&amp;nbsp;Minggu Ini, DK PBB Akan Bahas Konflik Israel dan Palestina
Setahun kemudian, Israel mengumumkan perusahaan pertahanan milik negara, Rafael Advanced Defense Systems membuat perisai pertahanan rudal yang baru. Proyek itu mendapat pendanaan lebih dari US$200 juta (sekitar Rp2,8 triliun) dari AS.
Setelah penelitian dan pengembangan bertahun-tahun, sistem ini diuji di medan tempur kali pertama pada 2011, saat merontokkan rudal yang ditembakkan ke kota Beersheba, Israel bagian selatan.
Sistem pertahanan Kubah Besi berhasil menyelamatkan banyak warga Israel. Tim medis Israel mengatakan bahwa roket-roket yang ditembakkan dari Gaza sejauh ini telah menewaskan tujuh orang, termasuk dua anak-anak.
Baca juga:&amp;nbsp;Tak Akui Israel, Timnas Indonesia Pernah Tolak Main dan Lepas Kesempatan Masuk Piala Dunia
Sedangkan jumlah korban jiwa akibat rangkaian serangan udara Israel sudah mencapai 83 jiwa, 17 di antaranya adalah anak-anak, ungkap otoritas kesehatan Palestina
Tidak diragukan bahwa Kubah Besi telah melindungi banyak warga Israel dari rentetan serangan yang bisa menyebabkan banyak kematian, namun bukan berarti sistem ini sudah sempurna.Analis luar negeri BBC, Jonathan Marcus, melaporkan bahwa unit pertahanan di Kota Ashkelon tampaknya tidak berfungsi karena gangguan teknis selama konflik bersenjata terkini antara Israel dan kelompok Palestina di Gaza.
&amp;nbsp;Kritikus mempertanyakan apakah tingkat kesuksesan Kubah Besi sebesar 90% dalam menghalau hujan roket dari Gaza, dapat dipertahankan bila Israel menghadapi lawan yang berbeda di lain waktu.
Yonah Jeremy Bob, editor intelijen dari harian Jerusalem Post, mengatakan bahwa Hizbullah punya kapasitas meluncurkan lebih banyak roket dalam waktu yang lebih singkat, dan ini bisa membuat Kubah Besi kewalahan menghalau tembakan-tembakan rudal itu.
Baca juga:&amp;nbsp;Ini Bukti RI Tidak Pernah Akui Israel sebagai Sebuah Negara
Warga Israel memang patut bersyukur atas peran Kubah Besi dalam menyelamatkan nyawa mereka. Namun Yoav Fromer, pakar politik dari Universitas Tel Aviv, menyatakan bahwa ketergantungan sistem pertahanan itu malah menahan pemerintah Israel untuk mencari solusi jangka panjang secara politis untuk mengatasi konflik.
&quot;Ironisnya, produk sukses seperti Kubah Besi ini menunjukkan gagalnya kebijakan luar negeri, yang langsung memicu peningkatan kekerasan,&quot; kata Fromer kepada BBC.
&quot;Bertahun-tahun lamanya kita masih terjebak dalam lingkaran yang sama dalam kekerasan tak berujung ini,&quot; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Kicauan Kontroversial Gal Gadot tentang Konflik Israel dan Palestina</description><content:encoded>JAKARTA - Konflik Israel dan Palestina kembali memanas. Dalam sepekan terakhir, militer Israel merilis sebanyak 1.500 roket ditembakkan oleh pejuang Hamas dan kelompok Palestina.
Namun, serangan tersebut berhasil dicegah dengan sistem pertahanan Kubah Besi Israel. Pejabat Israel mengklaim sistem ini 90% sukses dalam menghancurkan roket-roket musuh dari udara, sebelum menyentuh tanah.
Sistem pertahanan Kubah Besi merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal Israel yang berbiaya miliaran dolar. Sistem yang disebut Iron Dome itu menggunakan radar untuk melacak roket yang ditembakkan musuh, lalu meluncurkan rudal pencegat untuk menghancurkan roket musuh tersebut di udara.
Teknologi yang digunakan Kubah Besi itu bisa memilah tembakan musuh yang kemungkinan akan mencapai target dan harus dihancurkan, maupun yang meleset. Sehingga hanya roket yang mengarah ke kota atau kawasan padat penduduk yang diprioritaskan untuk dihancurkan dari udara agar lebih efisien.
Setiap rudal pencegat dari Kubah Besi itu berbiaya US$150 ribu atau sekitar Rp2,1 miliar, ungkap harian Times of Israel. Pembuatan Kubah Besi ini berawal dari konflik tahun 2006 antara Israel versus Hizbullah, kelompok yang berbasis di selatan Lebanon.
Hizbullah saat itu menembakkan ribuan roket, menyebabkan banyak kerusakan dan menewaskan puluhan warga Israel.
Baca juga:&amp;nbsp;Minggu Ini, DK PBB Akan Bahas Konflik Israel dan Palestina
Setahun kemudian, Israel mengumumkan perusahaan pertahanan milik negara, Rafael Advanced Defense Systems membuat perisai pertahanan rudal yang baru. Proyek itu mendapat pendanaan lebih dari US$200 juta (sekitar Rp2,8 triliun) dari AS.
Setelah penelitian dan pengembangan bertahun-tahun, sistem ini diuji di medan tempur kali pertama pada 2011, saat merontokkan rudal yang ditembakkan ke kota Beersheba, Israel bagian selatan.
Sistem pertahanan Kubah Besi berhasil menyelamatkan banyak warga Israel. Tim medis Israel mengatakan bahwa roket-roket yang ditembakkan dari Gaza sejauh ini telah menewaskan tujuh orang, termasuk dua anak-anak.
Baca juga:&amp;nbsp;Tak Akui Israel, Timnas Indonesia Pernah Tolak Main dan Lepas Kesempatan Masuk Piala Dunia
Sedangkan jumlah korban jiwa akibat rangkaian serangan udara Israel sudah mencapai 83 jiwa, 17 di antaranya adalah anak-anak, ungkap otoritas kesehatan Palestina
Tidak diragukan bahwa Kubah Besi telah melindungi banyak warga Israel dari rentetan serangan yang bisa menyebabkan banyak kematian, namun bukan berarti sistem ini sudah sempurna.Analis luar negeri BBC, Jonathan Marcus, melaporkan bahwa unit pertahanan di Kota Ashkelon tampaknya tidak berfungsi karena gangguan teknis selama konflik bersenjata terkini antara Israel dan kelompok Palestina di Gaza.
&amp;nbsp;Kritikus mempertanyakan apakah tingkat kesuksesan Kubah Besi sebesar 90% dalam menghalau hujan roket dari Gaza, dapat dipertahankan bila Israel menghadapi lawan yang berbeda di lain waktu.
Yonah Jeremy Bob, editor intelijen dari harian Jerusalem Post, mengatakan bahwa Hizbullah punya kapasitas meluncurkan lebih banyak roket dalam waktu yang lebih singkat, dan ini bisa membuat Kubah Besi kewalahan menghalau tembakan-tembakan rudal itu.
Baca juga:&amp;nbsp;Ini Bukti RI Tidak Pernah Akui Israel sebagai Sebuah Negara
Warga Israel memang patut bersyukur atas peran Kubah Besi dalam menyelamatkan nyawa mereka. Namun Yoav Fromer, pakar politik dari Universitas Tel Aviv, menyatakan bahwa ketergantungan sistem pertahanan itu malah menahan pemerintah Israel untuk mencari solusi jangka panjang secara politis untuk mengatasi konflik.
&quot;Ironisnya, produk sukses seperti Kubah Besi ini menunjukkan gagalnya kebijakan luar negeri, yang langsung memicu peningkatan kekerasan,&quot; kata Fromer kepada BBC.
&quot;Bertahun-tahun lamanya kita masih terjebak dalam lingkaran yang sama dalam kekerasan tak berujung ini,&quot; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Kicauan Kontroversial Gal Gadot tentang Konflik Israel dan Palestina</content:encoded></item></channel></rss>
