<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Livonia, Etnis Minoritas di Eropa yang Terancam Punah Akibat Penjajahan Soviet</title><description>Livonia kini merupakan etnis minoritas terkecil di Eropa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414247/livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414247/livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet"/><item><title>Livonia, Etnis Minoritas di Eropa yang Terancam Punah Akibat Penjajahan Soviet</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414247/livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414247/livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet</guid><pubDate>Minggu 23 Mei 2021 13:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/23/18/2414247/livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet-btn0naqOZm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Etnis Livonia mengenakan pakaian tradisional mereka. (Foto: Aldis Pinkens/BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/23/18/2414247/livonia-etnis-minoritas-di-eropa-yang-terancam-punah-akibat-penjajahan-soviet-btn0naqOZm.jpg</image><title>Etnis Livonia mengenakan pakaian tradisional mereka. (Foto: Aldis Pinkens/BBC)</title></images><description>RIGA - Puluhan ribu penduduk Livonia pernah hidup bahagia di pantai barat terpencil Latvia, kawasan Baltik, Eropa utara. Namun kini, populasinya diperkirakan hanya 200 orang, menjadikannya etnis minoritas terkecil di Eropa.
Saat Davis Stalts mengingat tentang kakeknya yang seorang pelaut, digambarkan layaknya seorang pahlawan dalam cerita mitos. &quot;Dia memiliki tangan sebesar ini dan dia terbuat dari baja.&quot;
Kami sedang duduk di H&amp;#257;genskalna Kom&amp;#363;na, sebuah bar dan pusat budaya yang didirikan oleh Stalts di Riga, ibu kota Latvia. Tersembunyi di lingkungan yang remang-remang di tepi kiri Sungai Daugava.
BACA JUGA: Suku Anak Dalam dan Keberadaannya yang Kian Terancam
Stalts memiliki mata abu-abu dan tubuh gagah, jadi tidaklah sulit untuk membayangkan pria remaja ini mengagumi kakeknya - seorang kapten raksasa yang telah mengarungi dunia dan melewati beragam petualangan laut.
Tetapi kapten tua itu jarang berbicara dalam bahasa etnisnya. Pada waktu Stalts berusia 10 tahun, dia mulai menyadari bahwa selain beberapa kerabat, tidak ada orang lain di sekitarnya yang berbicara seperti ini. &quot;Saya berpikir apa yang terjadi? Mengapa tidak ada yang berbicara bahasa ini? Hanya beberapa orang yang sudah sangat tua.&quot;
Faktanya, kakek Stalts adalah salah satu penutur asli terakhir bahasa Livonia, bahasa yang sekarang dianggap oleh ahli bahasa terancam punah.
BACA JUGA: Ada Dugaan Perbudakan, AS Larang Warganya Impor Kapas dari Xinjiang China
Tidak seperti bahasa Latvia, yang merupakan bahasa Indo-Eropa dari kelompok Baltik, Livonia termasuk dalam kelompok bahasa Finno-Ugric, yang sebagian besar digunakan oleh etnis minoritas di Rusia modern.
Seperti sepupunya, Finlandia dan Estonia, Livonia memiliki tata bahasa yang rumit: ada 17 ciri; seperti kata benda yang tidak memiliki gender; dan tidak ada kalimat dengan bentuk masa depan.
Berabad-abad lalu, ras nelayan Finno-Ugric ini berkembang pesat di pantai barat terpencil Latvia, dengan 30.000 orang berbicara bahasa tersebut pada abad pertengahan.Warga Livonia dengan hati-hati melestarikan warisan unik itu saat  wilayah tersebut berpindah tangan dari Jerman ke Rusia, dan akhirnya,  pada awal abad ke-20, menjadi bagian dari Republik Latvia yang merdeka.
Tetapi di dekade perang dan pendudukan Soviet yang membawa represi,  eksekusi, dan deportasi yang keras bagi orang Latvia dan Livonia - bagi  Stalin, siapa pun yang memiliki identitas nasional yang kuat adalah  ancaman. Nasib keluarga Stalts adalah bukti cobaan mengerikan yang  dialami banyak orang Livonia ketika Soviet &quot;menyapu&quot; negara-negara  Baltik saat Nazi mundur pada tahun 1944.
Menyadari kedatangan Tentara Merah, saudara laki-laki kakeknya  melarikan diri dari desa asalnya Kolka dengan perahu ke Swedia bersama  dengan banyak warga Livonia lainnya.
Saudara perempuannya ditangkap dan dijatuhi hukuman 25 tahun di  Siberia, baru kembali pada pertengahan 1950-an setelah kematian Stalin.  Suaminya, seorang polisi setempat, ditembak.
Pada saat Latvia memperoleh kembali kemerdekaannya pada 1991,  komunitas Livonia telah terpecah-pecah, dan perkawinan silang dengan  orang Latvia telah menyusutkan penggunaan bahasa Livonia.
Grizelda Kristi&amp;#326;a, penutur asli terakhir bahasa Livonia, meninggal  pada tahun 2013, menyisakan segelintir orang Livonia yang hanya dapat  berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Para orang tua terlalu takut akan  hukuman dari Soviet jika berbicara dengan anak-anak mereka dalam bahasa  Livonia.
&quot;Karena itulah bahasa ibu kami hampir punah,&quot; keluh Stalts. &quot;Hanya  dalam waktu 50 tahun, Uni Soviet melakukan apa yang tidak bisa dilakukan  700 tahun zaman Jerman. Ini sulit, sangat sulit bagi bangsa kami.&quot;
Dia menunjukkan buku foto hitam-putih yang diambil oleh fotografer  Jepang Yuki Nakamura pada tahun 2000-an: perempuan berpose di samping  rumah asap yang terbuat dari perahu tua; pria kekar dengan kemeja dan  jaket memperbaiki jaring ikan atau berdiri di ambang pintu, menatap  lensa dengan bermartabat.
Apakah Livonia masih memiliki masa depan yang dimimpikan, saya   bertanya-tanya, atau apakah sejarah telah menghancurkan warisan mereka?   Untuk mengetahui lebih lanjut, saya menuju ke tanah air leluhur suku   Livonia di pantai terpencil yang alami di Latvia bagian barat.
Hari sudah gelap saat bus mencapai Kolka, di utara Riga, dan hanya   satu penumpang yang tersisa. Aroma getah pinus menggantung di udara asin   yang lembap saat saya menyusuri jalan menuju kegelapan, deburan ombak   terdengar di kejauhan.

Bendera Livonia yang secara abstrak menampilkan gambaran hutan, pasir, dan air di kawasan itu. (Foto: Alastair Gill/BBC)
D¸eneta Marinska, yang mengelola wisma tempat saya menginap, telah   menyiapkan suguhan tradisional Livonia sebagai hadiah selamat datang:   pai kentang dan wortel dalam kue gandum hitam yang disebut s&amp;#363;rkak&amp;#363;d, ini   adalah warisan asal etnis Livonia: pai serupa juga dimakan oleh budaya   Finno-Ugric di Finlandia dan, tepat di seberang perbatasan Rusia, di   Karelia.
Ketika saya bertanya apakah dia mendeskripsikan dirinya sebagai orang   Livonia, Marinska tertawa: &quot;Saya&amp;hellip; juga Livonia. Saya dibesarkan di   lingkungan Latvia, tapi tentu saja saya belajar dari orang tua dan kakek   nenek saya di masa kecil yang mana ada hubungannya dengan Livonia.&quot;
Tidak seperti Stalts, Marinska tidak pernah mengenal kakek    Livonia-nya yang meninggal sebelum dia lahir. Neneknya orang Latvia, dan    ibunya tidak pernah belajar bahasa itu. Namun, Marinska mengingat  bibi   buyutnya berbicara bahasa Livonia kepada sepupunya yang  berkunjung.   &quot;Saya masih kecil waktu itu dan saya mendengar bahasa ini  bukan bahasa   Latvia. Itu aneh bagi saya, dan saya selalu ingat itu.  Itu menghubungkan   saya dengan akar saya.&quot;
Keesokan harinya saya meminjam sepeda dari Marinska dan berangkat ke    pantai dari Tanjung Kolka, sebuah tanjung berpasir yang menandai batas    antara Teluk Riga di timur dan Baltik terbuka di barat.
Secara historis, Livonia mendiami 12 desa yang membentang sepanjang    40 kilometer di selatan Kolka. Dulunya ramai dengan kehidupan, kini    pedesaan memiliki rumah pertanian kayu, padang, dan lumbung kayu ini    adalah rumah bagi segelintir penduduk yang menua.
Tepat di luar desa Mazirbe - yang secara historis merupakan jantung    budaya Livonia - sebuah jalan setapak menuntun saya melalui bukit pasir    pantai menuju hutan di belakangnya, berkelok-kelok melewati pohon    cemara, dan pinus.
Setelah beberapa ratus meter, wujud-wujud hantu mulai muncul dari    sela pepohonan - lambung kapal di sini, busur rusak di sana, garis besar    perahu dayung yang larut di antara blueberry dan lumut. Di sini, di    dalam hutan, seluruh kapal nelayan kecil membusuk.
Menurut Teiksma Pobuse, penjaga Latvia di pusat komunitas Mazirbe,    kuburan perahu ini adalah simbol pedih dari bencana yang menimpa    komunitas Livonia selama pendudukan Soviet.


Soviet melarang penangkapan ikan komersial, meninggalkan nelayan     lokal dengan pilihan yang sulit antara bergabung dengan koperasi negara     atau mencari pekerjaan di tempat lain.
&quot;Di zaman kuno, orang Livonia akan membakar perahu tua di tepi laut,&quot;     katanya. &quot;Tapi di masa Soviet dilarang pergi ke pantai karena itu   zona   perbatasan. Jadi, apa yang dilakukan orang-orang? Mereka   meninggalkan   perahu tua mereka di hutan.&quot;
Takut akan penindasan dan lebih memilih peluang yang ditawarkan di     kota-kota daripada pekerjaan pertanian kolektif, para nelayan Livonia     mulai menjauh dari desa mereka untuk mencari mata pencaharian baru.
Sebelum saya pergi, Pobuse menunjukkan bendera Livonia yang berkibar     dari gedung, dengan garis horizontal hijau, putih, dan biru -  gambaran    abstrak pantai Livonia: &quot;Orang Livonia adalah nelayan, dan  apa yang    dilihat nelayan saat pergi ke laut ? Hutan hijau, pasir  putih dan air    biru.&quot;
Ikatan hidup Mazirbe dengan budaya mungkin memudar, tetapi seperti     yang ditunjukkan oleh pusat budaya Livonia yang didanai Uni Eropa,  Kolka    memiliki harapan di cakrawala, terlepas dari masa lalu  komunitas  kecil   ini yang tragis.
Faktanya, minat terhadap budaya Livonia telah bangkit kembali dalam      beberapa tahun terakhir, dibantu oleh program dan kursus bahasa yang      didanai oleh negara Latvia dan berbagai LSM asing.
Sadar bahwa waktu semakin singkat, banyak orang Livonia kini      terhubung kembali dengan warisan linguistik mereka dalam upaya untuk      mencegah budaya itu hilang selamanya.
Dan beberapa keluarga mengajarkan anak-anak mereka yang kini tenggelam dari bahasa leluhur, bahasa Livonia.
Marinska memberi tahu saya bahwa dia memilih belajar bahasa Livonia      karena menurutnya itu adalah bagian penting dari identitasnya.  &quot;Karena     saya mendengar bahasa ini saat masih kecil, itu ada di  ingatan saya   atau   di otak saya,&quot; katanya. &quot;Itu membuat saya bahagia  atau bangga,   saya   bisa mengerti ketika seseorang berbicara. Saat  kami bernyanyi   bersama,   itu adalah perasaan yang sangat emosional.&quot;
Karena kurang dari 30 orang Livonia saat ini yang dapat  berbicara       dalam bahasa ibu mereka, musik telah menjadi cara penting  untuk       terhubung ke warisan leluhur. Beberapa grup folk dan  ansambel vokal       menampilkan lagu-lagu lama untuk merayakan cara  hidup tradisional       Livonia.Stalts dan pacarnya Monta Kvjatkovska, yang juga seorang Livonia,         sedang berusaha untuk membuat generasi muda terlibat pula.  Pasangan   itu      telah membentuk NeiUm, yang dia gambarkan sebagai  proyek yang   lebih      &quot;avant-garde&quot;: &quot;Kami bernyanyi dalam bahasa  Livonia,   bercampur  dengan     beberapa musik elektronik dengan getaran  etnik.&quot;
Sementara itu, Kvjatkovska menyelenggarakan Festival Lagu Livonia dua       tahunan di Riga, yang menampilkan berbagai pertunjukan Livonia       tradisional dan kontemporer. Stalts mengatakan penting &quot;untuk membuat       sesuatu yang baru, untuk membawa bangsa kita ke tahap berikutnya,   untuk     tetap hidup.&quot;
Bagaimana perasaan Stalts tentang masa  depan komunitas Livonia? &quot;Saya      tidak tahu tentang komunitasnya,&quot;  katanya, &quot;tapi saya merasa  optimis     dengan Livonia. Saya rasa  semakin banyak orang yang akan  menemukan   akar   Livonia mereka dan  akan memahami bahwa budaya ini  penting bagi   mereka.&quot;
Mungkin, sedikit demi sedikit, komunitas Livonia meletakkan fondasi yang akan mengamankan kelangsungan hidupnya.
Kembali ke H&amp;#257;genskalna Kom&amp;#363;na di Riga, NeiUm sedang bersiap untuk       membawakan lagu tradisional Livonia sebagai bagian dari malam khusus       untuk menandai Velu Laiks, &quot;waktu jiwa&quot;, periode musim gugur di mana       orang Latvia dan Livonia secara tradisional mengadakan perayaan   ritual     untuk berkomunikasi dengan kematian.
Kvjatkovska melangkah maju dan mengambil tempatnya di samping Stalts,        dan ruangan itu gelap gulita. Dikelilingi oleh lilin yang        berkedip-kedip, mereka memulai lagu mereka. Dalam bait yang pelan dan        merdu, mereka mengucapkan permohonan yang sungguh-sungguh kepada  dewi       Livonia untuk melindungi roh leluhur mereka.
Saat mendengarkannya, saya membayangkan pria dan perempuan yang        pernah tinggal di pesisir Livonia bermain mengikuti irama bahasa ini,        lilin-lilin yang tersebar bergetar, tetapi terus menyala. Dan lagu   itu      berlanjut.</description><content:encoded>RIGA - Puluhan ribu penduduk Livonia pernah hidup bahagia di pantai barat terpencil Latvia, kawasan Baltik, Eropa utara. Namun kini, populasinya diperkirakan hanya 200 orang, menjadikannya etnis minoritas terkecil di Eropa.
Saat Davis Stalts mengingat tentang kakeknya yang seorang pelaut, digambarkan layaknya seorang pahlawan dalam cerita mitos. &quot;Dia memiliki tangan sebesar ini dan dia terbuat dari baja.&quot;
Kami sedang duduk di H&amp;#257;genskalna Kom&amp;#363;na, sebuah bar dan pusat budaya yang didirikan oleh Stalts di Riga, ibu kota Latvia. Tersembunyi di lingkungan yang remang-remang di tepi kiri Sungai Daugava.
BACA JUGA: Suku Anak Dalam dan Keberadaannya yang Kian Terancam
Stalts memiliki mata abu-abu dan tubuh gagah, jadi tidaklah sulit untuk membayangkan pria remaja ini mengagumi kakeknya - seorang kapten raksasa yang telah mengarungi dunia dan melewati beragam petualangan laut.
Tetapi kapten tua itu jarang berbicara dalam bahasa etnisnya. Pada waktu Stalts berusia 10 tahun, dia mulai menyadari bahwa selain beberapa kerabat, tidak ada orang lain di sekitarnya yang berbicara seperti ini. &quot;Saya berpikir apa yang terjadi? Mengapa tidak ada yang berbicara bahasa ini? Hanya beberapa orang yang sudah sangat tua.&quot;
Faktanya, kakek Stalts adalah salah satu penutur asli terakhir bahasa Livonia, bahasa yang sekarang dianggap oleh ahli bahasa terancam punah.
BACA JUGA: Ada Dugaan Perbudakan, AS Larang Warganya Impor Kapas dari Xinjiang China
Tidak seperti bahasa Latvia, yang merupakan bahasa Indo-Eropa dari kelompok Baltik, Livonia termasuk dalam kelompok bahasa Finno-Ugric, yang sebagian besar digunakan oleh etnis minoritas di Rusia modern.
Seperti sepupunya, Finlandia dan Estonia, Livonia memiliki tata bahasa yang rumit: ada 17 ciri; seperti kata benda yang tidak memiliki gender; dan tidak ada kalimat dengan bentuk masa depan.
Berabad-abad lalu, ras nelayan Finno-Ugric ini berkembang pesat di pantai barat terpencil Latvia, dengan 30.000 orang berbicara bahasa tersebut pada abad pertengahan.Warga Livonia dengan hati-hati melestarikan warisan unik itu saat  wilayah tersebut berpindah tangan dari Jerman ke Rusia, dan akhirnya,  pada awal abad ke-20, menjadi bagian dari Republik Latvia yang merdeka.
Tetapi di dekade perang dan pendudukan Soviet yang membawa represi,  eksekusi, dan deportasi yang keras bagi orang Latvia dan Livonia - bagi  Stalin, siapa pun yang memiliki identitas nasional yang kuat adalah  ancaman. Nasib keluarga Stalts adalah bukti cobaan mengerikan yang  dialami banyak orang Livonia ketika Soviet &quot;menyapu&quot; negara-negara  Baltik saat Nazi mundur pada tahun 1944.
Menyadari kedatangan Tentara Merah, saudara laki-laki kakeknya  melarikan diri dari desa asalnya Kolka dengan perahu ke Swedia bersama  dengan banyak warga Livonia lainnya.
Saudara perempuannya ditangkap dan dijatuhi hukuman 25 tahun di  Siberia, baru kembali pada pertengahan 1950-an setelah kematian Stalin.  Suaminya, seorang polisi setempat, ditembak.
Pada saat Latvia memperoleh kembali kemerdekaannya pada 1991,  komunitas Livonia telah terpecah-pecah, dan perkawinan silang dengan  orang Latvia telah menyusutkan penggunaan bahasa Livonia.
Grizelda Kristi&amp;#326;a, penutur asli terakhir bahasa Livonia, meninggal  pada tahun 2013, menyisakan segelintir orang Livonia yang hanya dapat  berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Para orang tua terlalu takut akan  hukuman dari Soviet jika berbicara dengan anak-anak mereka dalam bahasa  Livonia.
&quot;Karena itulah bahasa ibu kami hampir punah,&quot; keluh Stalts. &quot;Hanya  dalam waktu 50 tahun, Uni Soviet melakukan apa yang tidak bisa dilakukan  700 tahun zaman Jerman. Ini sulit, sangat sulit bagi bangsa kami.&quot;
Dia menunjukkan buku foto hitam-putih yang diambil oleh fotografer  Jepang Yuki Nakamura pada tahun 2000-an: perempuan berpose di samping  rumah asap yang terbuat dari perahu tua; pria kekar dengan kemeja dan  jaket memperbaiki jaring ikan atau berdiri di ambang pintu, menatap  lensa dengan bermartabat.
Apakah Livonia masih memiliki masa depan yang dimimpikan, saya   bertanya-tanya, atau apakah sejarah telah menghancurkan warisan mereka?   Untuk mengetahui lebih lanjut, saya menuju ke tanah air leluhur suku   Livonia di pantai terpencil yang alami di Latvia bagian barat.
Hari sudah gelap saat bus mencapai Kolka, di utara Riga, dan hanya   satu penumpang yang tersisa. Aroma getah pinus menggantung di udara asin   yang lembap saat saya menyusuri jalan menuju kegelapan, deburan ombak   terdengar di kejauhan.

Bendera Livonia yang secara abstrak menampilkan gambaran hutan, pasir, dan air di kawasan itu. (Foto: Alastair Gill/BBC)
D¸eneta Marinska, yang mengelola wisma tempat saya menginap, telah   menyiapkan suguhan tradisional Livonia sebagai hadiah selamat datang:   pai kentang dan wortel dalam kue gandum hitam yang disebut s&amp;#363;rkak&amp;#363;d, ini   adalah warisan asal etnis Livonia: pai serupa juga dimakan oleh budaya   Finno-Ugric di Finlandia dan, tepat di seberang perbatasan Rusia, di   Karelia.
Ketika saya bertanya apakah dia mendeskripsikan dirinya sebagai orang   Livonia, Marinska tertawa: &quot;Saya&amp;hellip; juga Livonia. Saya dibesarkan di   lingkungan Latvia, tapi tentu saja saya belajar dari orang tua dan kakek   nenek saya di masa kecil yang mana ada hubungannya dengan Livonia.&quot;
Tidak seperti Stalts, Marinska tidak pernah mengenal kakek    Livonia-nya yang meninggal sebelum dia lahir. Neneknya orang Latvia, dan    ibunya tidak pernah belajar bahasa itu. Namun, Marinska mengingat  bibi   buyutnya berbicara bahasa Livonia kepada sepupunya yang  berkunjung.   &quot;Saya masih kecil waktu itu dan saya mendengar bahasa ini  bukan bahasa   Latvia. Itu aneh bagi saya, dan saya selalu ingat itu.  Itu menghubungkan   saya dengan akar saya.&quot;
Keesokan harinya saya meminjam sepeda dari Marinska dan berangkat ke    pantai dari Tanjung Kolka, sebuah tanjung berpasir yang menandai batas    antara Teluk Riga di timur dan Baltik terbuka di barat.
Secara historis, Livonia mendiami 12 desa yang membentang sepanjang    40 kilometer di selatan Kolka. Dulunya ramai dengan kehidupan, kini    pedesaan memiliki rumah pertanian kayu, padang, dan lumbung kayu ini    adalah rumah bagi segelintir penduduk yang menua.
Tepat di luar desa Mazirbe - yang secara historis merupakan jantung    budaya Livonia - sebuah jalan setapak menuntun saya melalui bukit pasir    pantai menuju hutan di belakangnya, berkelok-kelok melewati pohon    cemara, dan pinus.
Setelah beberapa ratus meter, wujud-wujud hantu mulai muncul dari    sela pepohonan - lambung kapal di sini, busur rusak di sana, garis besar    perahu dayung yang larut di antara blueberry dan lumut. Di sini, di    dalam hutan, seluruh kapal nelayan kecil membusuk.
Menurut Teiksma Pobuse, penjaga Latvia di pusat komunitas Mazirbe,    kuburan perahu ini adalah simbol pedih dari bencana yang menimpa    komunitas Livonia selama pendudukan Soviet.


Soviet melarang penangkapan ikan komersial, meninggalkan nelayan     lokal dengan pilihan yang sulit antara bergabung dengan koperasi negara     atau mencari pekerjaan di tempat lain.
&quot;Di zaman kuno, orang Livonia akan membakar perahu tua di tepi laut,&quot;     katanya. &quot;Tapi di masa Soviet dilarang pergi ke pantai karena itu   zona   perbatasan. Jadi, apa yang dilakukan orang-orang? Mereka   meninggalkan   perahu tua mereka di hutan.&quot;
Takut akan penindasan dan lebih memilih peluang yang ditawarkan di     kota-kota daripada pekerjaan pertanian kolektif, para nelayan Livonia     mulai menjauh dari desa mereka untuk mencari mata pencaharian baru.
Sebelum saya pergi, Pobuse menunjukkan bendera Livonia yang berkibar     dari gedung, dengan garis horizontal hijau, putih, dan biru -  gambaran    abstrak pantai Livonia: &quot;Orang Livonia adalah nelayan, dan  apa yang    dilihat nelayan saat pergi ke laut ? Hutan hijau, pasir  putih dan air    biru.&quot;
Ikatan hidup Mazirbe dengan budaya mungkin memudar, tetapi seperti     yang ditunjukkan oleh pusat budaya Livonia yang didanai Uni Eropa,  Kolka    memiliki harapan di cakrawala, terlepas dari masa lalu  komunitas  kecil   ini yang tragis.
Faktanya, minat terhadap budaya Livonia telah bangkit kembali dalam      beberapa tahun terakhir, dibantu oleh program dan kursus bahasa yang      didanai oleh negara Latvia dan berbagai LSM asing.
Sadar bahwa waktu semakin singkat, banyak orang Livonia kini      terhubung kembali dengan warisan linguistik mereka dalam upaya untuk      mencegah budaya itu hilang selamanya.
Dan beberapa keluarga mengajarkan anak-anak mereka yang kini tenggelam dari bahasa leluhur, bahasa Livonia.
Marinska memberi tahu saya bahwa dia memilih belajar bahasa Livonia      karena menurutnya itu adalah bagian penting dari identitasnya.  &quot;Karena     saya mendengar bahasa ini saat masih kecil, itu ada di  ingatan saya   atau   di otak saya,&quot; katanya. &quot;Itu membuat saya bahagia  atau bangga,   saya   bisa mengerti ketika seseorang berbicara. Saat  kami bernyanyi   bersama,   itu adalah perasaan yang sangat emosional.&quot;
Karena kurang dari 30 orang Livonia saat ini yang dapat  berbicara       dalam bahasa ibu mereka, musik telah menjadi cara penting  untuk       terhubung ke warisan leluhur. Beberapa grup folk dan  ansambel vokal       menampilkan lagu-lagu lama untuk merayakan cara  hidup tradisional       Livonia.Stalts dan pacarnya Monta Kvjatkovska, yang juga seorang Livonia,         sedang berusaha untuk membuat generasi muda terlibat pula.  Pasangan   itu      telah membentuk NeiUm, yang dia gambarkan sebagai  proyek yang   lebih      &quot;avant-garde&quot;: &quot;Kami bernyanyi dalam bahasa  Livonia,   bercampur  dengan     beberapa musik elektronik dengan getaran  etnik.&quot;
Sementara itu, Kvjatkovska menyelenggarakan Festival Lagu Livonia dua       tahunan di Riga, yang menampilkan berbagai pertunjukan Livonia       tradisional dan kontemporer. Stalts mengatakan penting &quot;untuk membuat       sesuatu yang baru, untuk membawa bangsa kita ke tahap berikutnya,   untuk     tetap hidup.&quot;
Bagaimana perasaan Stalts tentang masa  depan komunitas Livonia? &quot;Saya      tidak tahu tentang komunitasnya,&quot;  katanya, &quot;tapi saya merasa  optimis     dengan Livonia. Saya rasa  semakin banyak orang yang akan  menemukan   akar   Livonia mereka dan  akan memahami bahwa budaya ini  penting bagi   mereka.&quot;
Mungkin, sedikit demi sedikit, komunitas Livonia meletakkan fondasi yang akan mengamankan kelangsungan hidupnya.
Kembali ke H&amp;#257;genskalna Kom&amp;#363;na di Riga, NeiUm sedang bersiap untuk       membawakan lagu tradisional Livonia sebagai bagian dari malam khusus       untuk menandai Velu Laiks, &quot;waktu jiwa&quot;, periode musim gugur di mana       orang Latvia dan Livonia secara tradisional mengadakan perayaan   ritual     untuk berkomunikasi dengan kematian.
Kvjatkovska melangkah maju dan mengambil tempatnya di samping Stalts,        dan ruangan itu gelap gulita. Dikelilingi oleh lilin yang        berkedip-kedip, mereka memulai lagu mereka. Dalam bait yang pelan dan        merdu, mereka mengucapkan permohonan yang sungguh-sungguh kepada  dewi       Livonia untuk melindungi roh leluhur mereka.
Saat mendengarkannya, saya membayangkan pria dan perempuan yang        pernah tinggal di pesisir Livonia bermain mengikuti irama bahasa ini,        lilin-lilin yang tersebar bergetar, tetapi terus menyala. Dan lagu   itu      berlanjut.</content:encoded></item></channel></rss>
