<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menjelang Olimpiade, Sistem Kesehatan Jepang Kacau</title><description>Sistem kesehatan Jepang kewalahan menghadapi pandemi Covid-19.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414306/menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414306/menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau"/><item><title>Menjelang Olimpiade, Sistem Kesehatan Jepang Kacau</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414306/menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/23/18/2414306/menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau</guid><pubDate>Minggu 23 Mei 2021 16:32 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/23/18/2414306/menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau-AIMyLf4pjM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/23/18/2414306/menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau-AIMyLf4pjM.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>TOKYO - Sambil berjuang untuk menarik nafas, Shizue Akita harus menunggu lebih dari enam jam saat petugas paramedis mencari rumah sakit di Osaka, Jepang untuk merawat sakitnya yang kian memburuk akibat COVID-19.
Saat ia berhasil masuk ke salah satu rumah sakit yang sepi, dokter mendiagnosanya menderita pneumonia akut dan mengalami kegagalan organ sehingga harus dibius. Akita, yang berusia 87 tahun, meninggal dunia dua minggu kemudian.
BACA JUGA: Yamabushi, Para Pertapa di Pegunungan Jepang yang Kembali ke Alam, Kembali ke Diri Sendiri
&amp;ldquo;Sistem kesehatan Osaka telah runtuh.&amp;rdquo; kata putranya, Kazuyuki Akita. Ia hanya bisa menyaksikan dari rumahnya di utara Tokyo saat tiga anggota keluarganya di Osaka berjuang melawan virus corona, tanpa adanya perawatan kesehatan yang memadai. &amp;ldquo;Rasanya seperti neraka,&quot; ujarnya.
Rumah-rumah sakit di Osaka, kota nomor tiga terbesar di Jepang dan hanya 2,5 jam perjalanan dengan kereta super cepat dari Tokyo ke lokasi Olimpiade musim panas - kini kebanjiran pasien yang terjangkit virus corona. Sekitar 35 orang orang di seluruh Jepang - dua kali lipat dari angka tersebut dirawat di rumah sakit - harus dikarantina di rumah, dan seringkali sakitnya bertambah parah dan terkadang meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan medis.
BACA JUGA: IOC Yakin Olimpiade Tokyo Berjalan Sukses Meski Ditolak Publik Jepang
Seiring dengan tingginya angka kasus di Osaka, para tenaga medis mengatakan bahwa sistem kesehatan, dari semua sisi, telah melambat, meregang, dan membebani. Dan itu terjadi di wilayah lain di Jepang.
Rasa frustasi dan ketakutan tampak jelas saat The Associated Press mewawancarai sejumlah pekerja medis dan keluarga pasien di Osaka. Suasananya sangat berbeda dengan kondisi di ibu kota Tokyo, di mana panitia Olimpiade dan pejabat pemerintah tetap bersikukuh untuk melangsungkan acara di bulan Juli itu, Panitia mengatakan Olimipiade akan berjalan aman dan tertib meskipun kondisi darurat menyebar ke semakin banyak bagian negara itu dan bertambah banyak warga yang menyerukan pembatalan.Beberapa pihak memandang kondisi di Osaka sebagai sebuah peringatan  akan situasi yang bisa terjadi di seluruh bagian Jepang jika krisis ini  memburuk pada saat pejabat pemerintah - dan dunia - fokus pada  Olimpiade.
Pergulatan Osaka adalah &amp;ldquo;bencana buatan manusia,&amp;rdquo; kata Akita kepada  AP dalam pesan tertulis, yang disebabkan sebagian oleh pemerintah yang  mencabut kondisi darurat meskipun melihat tanda-tanda akan berbaliknya  serangan virus. Ia berpendapat ibunya akan selamat jika dirawat lebih  awal.
Banyak warga di sini yang terkejut dengan apa yang terjadi.  Bagaimanapun, Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ketiga  di dunia dan telah menangani pandemi ini lebih baik daripada banyak  negara maju lainnya. Namun lonjakan kasus saat ini telah membawa data  harian orang yang sakit dan sekarat ke titik tertinggi baru.
Kekacauan tersebut paling terlihat di Osaka.
Paramedis, berbalut APD, tak bisa memberikan nafas buatan dari mulut  ke mulut dan harus mengambil tindakan pencegahan ekstrem untuk mencegah  penularan dengan aerosol, kata pejabat dan tenaga kesehatan. Setelah  sebuah ambulans mengangkut pasien COVID-19, kendaraan itu harus  disinfektan selama satu jam, memperlambat proses paramedis untuk  menangani pasien berikutnya.
Pasien gawat darurat hanya mendapatkan perawatan yang kebetulan  tersedia saat itu, dan bukan perawatan yang seharusnya memperbesar  peluang mereka untuk bertahan hidup, kata ahli medis.
Seorang pasien yang menderita gagal jantung, misalnya, ditolak oleh   rumah sakit darurat lanjutan, dan seorang anak dengan kondisi kritis   gagal mendapatkan rumah sakit anak karena semuanya penuh, menurut   seorang paramedis di Osaka yang hanya mengungkapkan nama depannya,   Satoshi, karena ia tidak berwenang untuk bicara dengan media. Anak itu   kemudian meninggal, katanya.
&amp;ldquo;Tugas kami adalah membawa mereka yang sekarat dan kondisinya   memburuk ke rumah sakit,&amp;rdquo; ia menambahkan. &amp;ldquo;Di situasi seperti ini, kami   bahkan tak mampu melakukan tugas kami.&amp;rdquo;
Saat aturan darurat lambat di tengah lonjakan kasus, dukungan   terhadap pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga merosot. Sementara   Ia menegaskan bahwa Jepang aman untuk menggelar Olimpiade, jajak   pendapat menunjukkan 60% hingga 80% warganya menentang pelaksanaan ajang   olah raga itu.
Sejauh ini belum ada indikasi bahwa Olimpiade akan dibatalkan. Komite   Olimpiade Internasional (IOC), yang telah menyelesaikan sesi rencana   terakhirnya Jumat (21/5/2021) ini dengan Panitia Olimpiade Tokyo, telah   berulang kali menyatakan bahwa mereka akan jalan terus.
Namun anggota paling senior IOC, Richard Pound, dalam sebuah     wawancara dengan JiJi Press Jepang mengatakan bahwa tenggat waktu akhir     untuk membatalkan ajang ini adalah &amp;ldquo;sebelum akhir bulan Juni.&amp;rdquo; Pound     mengulang apa yang disampaikan IOC bahwa jika Olimpiade tak bisa   digelar   musim panas ini maka perhelatan itu akan dibatalkan, bukan   ditunda   lagi.
Sejumlah lembaga kesehatan Jepang mengatakan, mereka tak mampu     mengakomodasi kebutuhan medis Olimpiade di tengah tekanan akan     meningkatnya perawatan terkait virus corona.Pada minggu ini Osaka  telah melampaui Tokyo, kota terbesar di negara   itu, dengan jumlah  kematian akibat virus terbanyak, di angka 2.036.  Dari  sekitar 15.000  pasien di Osaka, hanya 12% yang dirawat di rumah  sakit,  sementara  sisanya harus menunggu di rumah atau di hotel.  Berdasarkan  data  statistik kepolisian, angka kematian akibat COVID-19  yang terjadi  di  luar rumah sakit di bulan April meningkat tiga kali  lipat  dibandingkan  bulan Maret menjadi 96, termasuk 39 di Osaka dan 10  di  Tokyo.
Lalu mengapa kekacauan terjadi?
Sebagian penyebabnya adalah, karena perawatan COVID-19 yang tergolong    non-profit, kebanyakan terbatas hanya pada rumah sakit pemerintah,   yang  jumlahnya hanya seperlima dari 8000 rumah sakit di Jepang. Rumah   sakit  swasta, yang kebanyakan berskala kecil, ragu-ragu atau tidak siap   untuk  menangani kasus terkait virus corona.
Pemerintah juga secara signifikan telah mengurangi jumlah pusat    kesehatan lokal, yang menjadi kunci pencegahan penyebaran penyakit ini,    dari sekitar 850 pada tahun 1990an menjadi 469 di tahun 2020,    menyebabkan &amp;ldquo;penyumbatan&amp;rdquo; karena pegawai berkurang namun jam kerja    bertambah.
Kurang dari 5% dari sekitar 1.5 juta ranjang rumah sakit di Jepang     diperuntukkan bagi perawatan COVID-19, meningkat dari sekitar 1000 di     bulan April tahun lalu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, namun     tetap saja jumlah itu tidak cukup.
Lonjakan kasus terbaru menunjukkan kasus lebih serius yang cepat memenuhi rumah sakit.
Lebih dari 50 persen dari sekitar 55 kasus kematian akibat virus     Corona di rumah sakit Juso Kota Osaka berasal dari lonjakan terbaru,     kata Dr. Yukio Nishiguchi, kepala rumah sakit. &amp;ldquo;Rasanya seperti     bencana,&amp;rdquo; ia menambahkan.
</description><content:encoded>TOKYO - Sambil berjuang untuk menarik nafas, Shizue Akita harus menunggu lebih dari enam jam saat petugas paramedis mencari rumah sakit di Osaka, Jepang untuk merawat sakitnya yang kian memburuk akibat COVID-19.
Saat ia berhasil masuk ke salah satu rumah sakit yang sepi, dokter mendiagnosanya menderita pneumonia akut dan mengalami kegagalan organ sehingga harus dibius. Akita, yang berusia 87 tahun, meninggal dunia dua minggu kemudian.
BACA JUGA: Yamabushi, Para Pertapa di Pegunungan Jepang yang Kembali ke Alam, Kembali ke Diri Sendiri
&amp;ldquo;Sistem kesehatan Osaka telah runtuh.&amp;rdquo; kata putranya, Kazuyuki Akita. Ia hanya bisa menyaksikan dari rumahnya di utara Tokyo saat tiga anggota keluarganya di Osaka berjuang melawan virus corona, tanpa adanya perawatan kesehatan yang memadai. &amp;ldquo;Rasanya seperti neraka,&quot; ujarnya.
Rumah-rumah sakit di Osaka, kota nomor tiga terbesar di Jepang dan hanya 2,5 jam perjalanan dengan kereta super cepat dari Tokyo ke lokasi Olimpiade musim panas - kini kebanjiran pasien yang terjangkit virus corona. Sekitar 35 orang orang di seluruh Jepang - dua kali lipat dari angka tersebut dirawat di rumah sakit - harus dikarantina di rumah, dan seringkali sakitnya bertambah parah dan terkadang meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan medis.
BACA JUGA: IOC Yakin Olimpiade Tokyo Berjalan Sukses Meski Ditolak Publik Jepang
Seiring dengan tingginya angka kasus di Osaka, para tenaga medis mengatakan bahwa sistem kesehatan, dari semua sisi, telah melambat, meregang, dan membebani. Dan itu terjadi di wilayah lain di Jepang.
Rasa frustasi dan ketakutan tampak jelas saat The Associated Press mewawancarai sejumlah pekerja medis dan keluarga pasien di Osaka. Suasananya sangat berbeda dengan kondisi di ibu kota Tokyo, di mana panitia Olimpiade dan pejabat pemerintah tetap bersikukuh untuk melangsungkan acara di bulan Juli itu, Panitia mengatakan Olimipiade akan berjalan aman dan tertib meskipun kondisi darurat menyebar ke semakin banyak bagian negara itu dan bertambah banyak warga yang menyerukan pembatalan.Beberapa pihak memandang kondisi di Osaka sebagai sebuah peringatan  akan situasi yang bisa terjadi di seluruh bagian Jepang jika krisis ini  memburuk pada saat pejabat pemerintah - dan dunia - fokus pada  Olimpiade.
Pergulatan Osaka adalah &amp;ldquo;bencana buatan manusia,&amp;rdquo; kata Akita kepada  AP dalam pesan tertulis, yang disebabkan sebagian oleh pemerintah yang  mencabut kondisi darurat meskipun melihat tanda-tanda akan berbaliknya  serangan virus. Ia berpendapat ibunya akan selamat jika dirawat lebih  awal.
Banyak warga di sini yang terkejut dengan apa yang terjadi.  Bagaimanapun, Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ketiga  di dunia dan telah menangani pandemi ini lebih baik daripada banyak  negara maju lainnya. Namun lonjakan kasus saat ini telah membawa data  harian orang yang sakit dan sekarat ke titik tertinggi baru.
Kekacauan tersebut paling terlihat di Osaka.
Paramedis, berbalut APD, tak bisa memberikan nafas buatan dari mulut  ke mulut dan harus mengambil tindakan pencegahan ekstrem untuk mencegah  penularan dengan aerosol, kata pejabat dan tenaga kesehatan. Setelah  sebuah ambulans mengangkut pasien COVID-19, kendaraan itu harus  disinfektan selama satu jam, memperlambat proses paramedis untuk  menangani pasien berikutnya.
Pasien gawat darurat hanya mendapatkan perawatan yang kebetulan  tersedia saat itu, dan bukan perawatan yang seharusnya memperbesar  peluang mereka untuk bertahan hidup, kata ahli medis.
Seorang pasien yang menderita gagal jantung, misalnya, ditolak oleh   rumah sakit darurat lanjutan, dan seorang anak dengan kondisi kritis   gagal mendapatkan rumah sakit anak karena semuanya penuh, menurut   seorang paramedis di Osaka yang hanya mengungkapkan nama depannya,   Satoshi, karena ia tidak berwenang untuk bicara dengan media. Anak itu   kemudian meninggal, katanya.
&amp;ldquo;Tugas kami adalah membawa mereka yang sekarat dan kondisinya   memburuk ke rumah sakit,&amp;rdquo; ia menambahkan. &amp;ldquo;Di situasi seperti ini, kami   bahkan tak mampu melakukan tugas kami.&amp;rdquo;
Saat aturan darurat lambat di tengah lonjakan kasus, dukungan   terhadap pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga merosot. Sementara   Ia menegaskan bahwa Jepang aman untuk menggelar Olimpiade, jajak   pendapat menunjukkan 60% hingga 80% warganya menentang pelaksanaan ajang   olah raga itu.
Sejauh ini belum ada indikasi bahwa Olimpiade akan dibatalkan. Komite   Olimpiade Internasional (IOC), yang telah menyelesaikan sesi rencana   terakhirnya Jumat (21/5/2021) ini dengan Panitia Olimpiade Tokyo, telah   berulang kali menyatakan bahwa mereka akan jalan terus.
Namun anggota paling senior IOC, Richard Pound, dalam sebuah     wawancara dengan JiJi Press Jepang mengatakan bahwa tenggat waktu akhir     untuk membatalkan ajang ini adalah &amp;ldquo;sebelum akhir bulan Juni.&amp;rdquo; Pound     mengulang apa yang disampaikan IOC bahwa jika Olimpiade tak bisa   digelar   musim panas ini maka perhelatan itu akan dibatalkan, bukan   ditunda   lagi.
Sejumlah lembaga kesehatan Jepang mengatakan, mereka tak mampu     mengakomodasi kebutuhan medis Olimpiade di tengah tekanan akan     meningkatnya perawatan terkait virus corona.Pada minggu ini Osaka  telah melampaui Tokyo, kota terbesar di negara   itu, dengan jumlah  kematian akibat virus terbanyak, di angka 2.036.  Dari  sekitar 15.000  pasien di Osaka, hanya 12% yang dirawat di rumah  sakit,  sementara  sisanya harus menunggu di rumah atau di hotel.  Berdasarkan  data  statistik kepolisian, angka kematian akibat COVID-19  yang terjadi  di  luar rumah sakit di bulan April meningkat tiga kali  lipat  dibandingkan  bulan Maret menjadi 96, termasuk 39 di Osaka dan 10  di  Tokyo.
Lalu mengapa kekacauan terjadi?
Sebagian penyebabnya adalah, karena perawatan COVID-19 yang tergolong    non-profit, kebanyakan terbatas hanya pada rumah sakit pemerintah,   yang  jumlahnya hanya seperlima dari 8000 rumah sakit di Jepang. Rumah   sakit  swasta, yang kebanyakan berskala kecil, ragu-ragu atau tidak siap   untuk  menangani kasus terkait virus corona.
Pemerintah juga secara signifikan telah mengurangi jumlah pusat    kesehatan lokal, yang menjadi kunci pencegahan penyebaran penyakit ini,    dari sekitar 850 pada tahun 1990an menjadi 469 di tahun 2020,    menyebabkan &amp;ldquo;penyumbatan&amp;rdquo; karena pegawai berkurang namun jam kerja    bertambah.
Kurang dari 5% dari sekitar 1.5 juta ranjang rumah sakit di Jepang     diperuntukkan bagi perawatan COVID-19, meningkat dari sekitar 1000 di     bulan April tahun lalu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, namun     tetap saja jumlah itu tidak cukup.
Lonjakan kasus terbaru menunjukkan kasus lebih serius yang cepat memenuhi rumah sakit.
Lebih dari 50 persen dari sekitar 55 kasus kematian akibat virus     Corona di rumah sakit Juso Kota Osaka berasal dari lonjakan terbaru,     kata Dr. Yukio Nishiguchi, kepala rumah sakit. &amp;ldquo;Rasanya seperti     bencana,&amp;rdquo; ia menambahkan.
</content:encoded></item></channel></rss>
