<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bethara Kala di Mustaka Masjid Lasem</title><description>Mustaka itu bisa didapati di bangunan keraton atau masjid.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/23/337/2414158/bethara-kala-di-mustaka-masjid-lasem</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/23/337/2414158/bethara-kala-di-mustaka-masjid-lasem"/><item><title>Bethara Kala di Mustaka Masjid Lasem</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/23/337/2414158/bethara-kala-di-mustaka-masjid-lasem</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/23/337/2414158/bethara-kala-di-mustaka-masjid-lasem</guid><pubDate>Minggu 23 Mei 2021 07:29 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/23/337/2414158/bethara-kala-di-mustaka-masjid-lasem-kV287XU6z1.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/23/337/2414158/bethara-kala-di-mustaka-masjid-lasem-kV287XU6z1.JPG</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>JAKARTA - Kubah atau mustaka biasanya  akan diletakkan di tempat tertinggi di atas bangunan (sebagai atap). Mustaka itu bisa didapati di bangunan keraton atau masjid. Di masjid Lasem, Kab.Rembang terdapat mustaka masjid yang unik.

Menurut kitab Carita Sejarah Lasem , masjid Jami&amp;rsquo; Lasem diperkirakan berdiri tahun 1588, berkat jasa Adipati Lasem, Pangeran Tejakusuma I atau Mbah Srimpet dan menantunya, Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.

&amp;ldquo;P.Tejakusuma membangun Masjid dengan tetap memperhatikan budaya masyarakat lokal, yang masih banyak terpengaruh agama Hindu. Salah satunya terlihat pada mustaka masjid, terdapat ornamen berbentuk barongan.&amp;rdquo;kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah Lasem dan pengurus masjid Lasem.

Mustaka merupakan salah satu bagian penting sejarah penyebaran agama Islam di tanah Pulau Jawa. Posisinya yang berada paling atas di sebuah bangunan masjid  adalah simbol keagungan.

Dijelaskannya, mustaka masjid ini diyakini mustoko tertua di kabupaten Rembang.  Ia  menceritakan mustaka setinggi 1,5 meter itu terbuat dari bahan tembikar, dengan ornamen khas.

Pada tahun tahun 2005, mustaka kuno itu musti dicopot, karena masjid Lasem direnovasi.Mengingat ada kekhawatiran semakin rusak, mustaka kemudian diganti berbahan tembaga, namun bentuknya hampir menyerupai mustaka lama.

Setelah renovasi masjid, mustaka tersebut diamankan ke sebuah tempat khusus. Mustaka  yang lama disimpan  ke dalam kerangkeng besi, sehingga dapat disaksikan umum.

Mustaka itu berwujud barongan dari tembikar. Menurut Masud Thoyib, budayawan jawa masih ada unsur hindu di mustaka.

&quot; Barongan itu wujud dari Bethara Kala yang dipercaya oleh umat hindu sebagai dewa,&quot;ucapnya.

Dalam ajaran agama hindu, Kala  adalah putera Dewa Siwa. Kata kala berasal dari bahasa sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai raksasa  yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang dewa.

Dalam filsafat hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak  dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan  dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya.

Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri,  maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat  menakutkan, bersifat memaksa semua orang

Selain mustaka masjid, di bagian atap dalam masjid terdapat  tumpangsari terbagi 3 tingkat yang mencerminkan simbol ajaran agama  islam  yaitu  iman,   islam, dan ihsan. Sementara singkup lima  tingkat  mencerminkan rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan menunaikan  haj&amp;iacute;).

Berdasarkan luas bangunan tersebut, masjid ini memiliki daya tampung  sekitar 3500 jama&amp;rsquo;ah. Sedangkan sisa tanah digunakan untuk bangunan  tempat wudhu, gedung perkantoran, gudang, tempat parkir, gedung madrasah  dan kawasan bisnis (pertokoan dan swalayan).

Di belakang  masjid  terdapat makam para pendiri dan ulama-ulama  sepuh Lasem, yaitu  Adipati Tejokusumo I atau mbah Srimpet, wafat tahun  1632 M, Sayyid Abdurrohman Sambu, wafat tahun 1671 M,  Mbah Djoyotirto  atau KH. Baedhowi Awwal, pendiri PP. Al-Wahdah, wafat tahun 1950 M.

Kemudian, KH. Cholil Bin Abdurrosyid, pendiri PP. Annur, wafat tahun  1948 M, KH.Baidhowi Tsani, Pengasuh PP Al Wahdah dan Pendiri NU dan KH.  Ma&amp;rsquo;soem Ahmad, pendiri PP. Al-Hidayat, wafat tahun 1972 M.

Lasem terletak di pantai utara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.   Kota di tepi pantai yang masuk wilayah Kabupaten Rembang ini dikenal  sebagai daerah santri.

Hampir di setiap sudut kota terdapat pesantren tradisional yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Di tengah kota , di pinggir jalan raya Dendels Semarang-Surabaya terdapatlah masjid Jami Lasem.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kubah atau mustaka biasanya  akan diletakkan di tempat tertinggi di atas bangunan (sebagai atap). Mustaka itu bisa didapati di bangunan keraton atau masjid. Di masjid Lasem, Kab.Rembang terdapat mustaka masjid yang unik.

Menurut kitab Carita Sejarah Lasem , masjid Jami&amp;rsquo; Lasem diperkirakan berdiri tahun 1588, berkat jasa Adipati Lasem, Pangeran Tejakusuma I atau Mbah Srimpet dan menantunya, Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.

&amp;ldquo;P.Tejakusuma membangun Masjid dengan tetap memperhatikan budaya masyarakat lokal, yang masih banyak terpengaruh agama Hindu. Salah satunya terlihat pada mustaka masjid, terdapat ornamen berbentuk barongan.&amp;rdquo;kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah Lasem dan pengurus masjid Lasem.

Mustaka merupakan salah satu bagian penting sejarah penyebaran agama Islam di tanah Pulau Jawa. Posisinya yang berada paling atas di sebuah bangunan masjid  adalah simbol keagungan.

Dijelaskannya, mustaka masjid ini diyakini mustoko tertua di kabupaten Rembang.  Ia  menceritakan mustaka setinggi 1,5 meter itu terbuat dari bahan tembikar, dengan ornamen khas.

Pada tahun tahun 2005, mustaka kuno itu musti dicopot, karena masjid Lasem direnovasi.Mengingat ada kekhawatiran semakin rusak, mustaka kemudian diganti berbahan tembaga, namun bentuknya hampir menyerupai mustaka lama.

Setelah renovasi masjid, mustaka tersebut diamankan ke sebuah tempat khusus. Mustaka  yang lama disimpan  ke dalam kerangkeng besi, sehingga dapat disaksikan umum.

Mustaka itu berwujud barongan dari tembikar. Menurut Masud Thoyib, budayawan jawa masih ada unsur hindu di mustaka.

&quot; Barongan itu wujud dari Bethara Kala yang dipercaya oleh umat hindu sebagai dewa,&quot;ucapnya.

Dalam ajaran agama hindu, Kala  adalah putera Dewa Siwa. Kata kala berasal dari bahasa sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai raksasa  yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang dewa.

Dalam filsafat hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak  dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan  dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya.

Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri,  maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat  menakutkan, bersifat memaksa semua orang

Selain mustaka masjid, di bagian atap dalam masjid terdapat  tumpangsari terbagi 3 tingkat yang mencerminkan simbol ajaran agama  islam  yaitu  iman,   islam, dan ihsan. Sementara singkup lima  tingkat  mencerminkan rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan menunaikan  haj&amp;iacute;).

Berdasarkan luas bangunan tersebut, masjid ini memiliki daya tampung  sekitar 3500 jama&amp;rsquo;ah. Sedangkan sisa tanah digunakan untuk bangunan  tempat wudhu, gedung perkantoran, gudang, tempat parkir, gedung madrasah  dan kawasan bisnis (pertokoan dan swalayan).

Di belakang  masjid  terdapat makam para pendiri dan ulama-ulama  sepuh Lasem, yaitu  Adipati Tejokusumo I atau mbah Srimpet, wafat tahun  1632 M, Sayyid Abdurrohman Sambu, wafat tahun 1671 M,  Mbah Djoyotirto  atau KH. Baedhowi Awwal, pendiri PP. Al-Wahdah, wafat tahun 1950 M.

Kemudian, KH. Cholil Bin Abdurrosyid, pendiri PP. Annur, wafat tahun  1948 M, KH.Baidhowi Tsani, Pengasuh PP Al Wahdah dan Pendiri NU dan KH.  Ma&amp;rsquo;soem Ahmad, pendiri PP. Al-Hidayat, wafat tahun 1972 M.

Lasem terletak di pantai utara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.   Kota di tepi pantai yang masuk wilayah Kabupaten Rembang ini dikenal  sebagai daerah santri.

Hampir di setiap sudut kota terdapat pesantren tradisional yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Di tengah kota , di pinggir jalan raya Dendels Semarang-Surabaya terdapatlah masjid Jami Lasem.
</content:encoded></item></channel></rss>
