<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Norman, Mantan Pedagang Rokok Kaki Lima Punya Tanah Hektaran</title><description>Saat SMA ia bekerja sebagai fotografer di studio foto milik orangtuanya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/29/337/2417319/norman-mantan-pedagang-rokok-kaki-lima-punya-tanah-hektaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/05/29/337/2417319/norman-mantan-pedagang-rokok-kaki-lima-punya-tanah-hektaran"/><item><title>Norman, Mantan Pedagang Rokok Kaki Lima Punya Tanah Hektaran</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/05/29/337/2417319/norman-mantan-pedagang-rokok-kaki-lima-punya-tanah-hektaran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/05/29/337/2417319/norman-mantan-pedagang-rokok-kaki-lima-punya-tanah-hektaran</guid><pubDate>Sabtu 29 Mei 2021 19:54 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/29/337/2417319/norman-mantan-pedagang-rokok-kaki-lima-punya-tanah-hektaran-MNRFORsbCs.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/29/337/2417319/norman-mantan-pedagang-rokok-kaki-lima-punya-tanah-hektaran-MNRFORsbCs.JPG</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>JAKARTA - Kp.Norman Hadinegoro sejak kecil ia adalah tipikal pekerja keras dan mandiri. Di usianya yang baru menginjak SMP, ia sudah berwirausaha dengan berjualan rokok keliling.

Saat SMA ia  bekerja sebagai fotografer di studio foto milik orangtuanya.

Kemudian Norman pindah ke Jakarta untuk kuliah. Menjadi sarjana ekonomi lalu dosen, kemudian keluar dan lebih memilih berjualan tanah seluas 280 hektar.

Pribadinya memang pekerja keras. Lahir di Lampung, 5 September 1955, ayah Norman adalah seorang tentara. Ekonomi keluarganya pas-pasan. Karena itulah di saat usianya masih SMP, ia sudah mulai mandiri menjadi pedagang kaki lima,  berjualan rokok keliling.

&amp;ldquo;Saya mengasong rokok dari rumah sakit ke rumah sakit di Lampung. Kalau libur saya juga nyambi jualan koran di kapal laut Merak-Panjang. Hasilnya lumayan, uang jajan tidak minta sama orangtua dan saya sudah bisa beli sepeda sendiri,&amp;rdquo; kisahnya.

Lulus SMP ia melanjutkan sekolahnya ke SMA. Kali ini otak bisnisnya juga tak pernah surut. Ia menjalani profesi sebagai fotografer di sebuah studio foto mini milik ayahnya.

Sebagai hasil dari jerih payahnya itu, ia bisa membatu orangtuanya membuat rumah. &amp;ldquo;Kebetulan orangtua punya studio foto. Jadi warga sekampung kalau mau buat KTP, difotonya di studio itu. Saya yang jadi juru foto-nya,&amp;rdquo; ucap Norman.

Tamat SMA di tahun 1974 lantas ia meminta izin ke orangtuanya untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta. Berbekal uang pensiunan ayahnya selama 6 bulan, Norman pun berangkat ke Jakarta. Ia memilih masuk pada Lembaga Kesenian Jakarta atau sekarang IKJ jurusan teater.

&amp;ldquo;Karena kekurangan bekal, saya waktu itu tidak punya kosan. Saya tinggal di kampus secara sembunyi-sembunyi,&amp;rdquo; ucapnya setengah bercanda.

Kesibukannya di dunia seni membuat kuliahnya terbengkalai. Selama 10 tahun kuliah, ia tak berhasil menjadi sarjana. &amp;ldquo;Karena sudah 10 tahun saya tidak tamat, akhirnya saya keluar dari kampus. Lalu saya pindah ke Universitas Jayabaya. Di kampus itu, saya dari awal sampai selesai tidak bayar. Bukan karena saya mahasiswa program beasiswa, tapi setiap ada pembayaran uang semester, saya pinjam bukti lunasnya ke teman, lalu saya foto kopi dan diganti namanya menjadi nama saya. Pihak kampus percaya saja,&amp;rdquo; ungkapnya.

Namun naas, saat ia sudah mulai sidang skripsi, kebohongannya mulai  terbongkar. Padahal, nilai mata kuliahnya dari awal sampai akhir  terbilang bagus.

&amp;ldquo;Saya ketahuan tidak pernah bayaran semesteran dari awal hingga  akhir. Saya babak belur. Saya hanya bisa menangis. Rencana wisuda saya  hampir saja gagal. Akhirnya saya meminta bantuan seseorang yang sudah  saya anggap sebagai bapak untu membereskan masalah saya. Alhamdulillah  akhirnya saya bisa juga diwisuda, dengan pembayaran dibayar kemudian,&amp;rdquo;  kenang Norman.

Berhasil menyabet gelar sebagai sarjana ekonomi, Norman  meniti karir  sebagai dosen di Universitas Mercubuana dan Trisakti Jakarta. Pekerjaan  sebagai dosen itu ia lakoni hampir 12 tahun lamanya.

&amp;ldquo;Jabatan saya saat itu sudah lektor. Di tahun 1996, saya memutuskan  untuk berhenti menjadi dosen. Anak dan istri puasa untuk sementara  waktu. Saya sudah mulai tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Kebetulan  ketika saya menjadi dosen saya sudah mulai senang investasi tanah. Saat  itu, ada orang menawari tanah pada saya seluas 30 hektar di Jonggol.  Dengan nekat saya pinjam uang ke teman senilai Rp 150 juta,&amp;rdquo; jelasnya.

Waktu itu harga tanah permeternya masih sekitar Rp 2000. Norman   cerdik, dengan meminta pembayaran secara bertahap meskipun uang sudah  ada di tangan.

&amp;ldquo;Saya bayar sebagai tanda jadi sebesar Rp 75 juta. Sisanya saya pakai  untuk buat master plan dan dikavling-kavling juga buat brosur. Lalu  saya tawarkan di DPR RI. Hasilnya banyak anggota DPR yang membeli tanah  saya itu. Saya jual permeternya menjadi Rp 15 ribu. Saya dapat uang  segar dari sana. Hanya dengan menjual 5 hektar saja saya sudah dapat  uang sekitar Rp 750 juta. Dan saya masih punya 25 hektar lagi,&amp;rdquo;  sebutnya.

Sepertinya investasi tanah sudah menjadi hobinya. Keuntungan dari  penjualan sebagian tanahnya itu ia investasikan lagi untuk membeli tanah  lainnya. Sampai kini ia setidaknya telah memiliki 280 hektar tanah di  beberapa wilayah, juga di Jonggol yang sudah semakin luas.

&amp;ldquo;Keuntungannya itu saya investasikan lagi ke tanah. Saya jadi punya  tanah di Jakarta dan di Gunung Geulis. Buat saya itu tabungan.  Prinspinya, kalau saya jual tanah di satu tempat, saya harus beli tanah  di tempat lain. Dengan begitu, tanah saya tidak habis-habis, malahan  makin berkembang,&amp;rdquo; imbuhnya.

Menurutnya, kesuksesan yang kini didapatnya adalah berkat dari perilakunya yang bisa dipercaya orang lain.

&amp;ldquo;Hidup ini soal kepercayaan. Kalau saya jualan tanah, saya buat  sertifikatnya. Dan sampai sekarang mereka aman-aman saja, tidak pernah  ada sengketa. Sebua kebanggan bagai saya, karena tanah saya ini banyak  pembelinya dari kalangan elit,&amp;rdquo; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kp.Norman Hadinegoro sejak kecil ia adalah tipikal pekerja keras dan mandiri. Di usianya yang baru menginjak SMP, ia sudah berwirausaha dengan berjualan rokok keliling.

Saat SMA ia  bekerja sebagai fotografer di studio foto milik orangtuanya.

Kemudian Norman pindah ke Jakarta untuk kuliah. Menjadi sarjana ekonomi lalu dosen, kemudian keluar dan lebih memilih berjualan tanah seluas 280 hektar.

Pribadinya memang pekerja keras. Lahir di Lampung, 5 September 1955, ayah Norman adalah seorang tentara. Ekonomi keluarganya pas-pasan. Karena itulah di saat usianya masih SMP, ia sudah mulai mandiri menjadi pedagang kaki lima,  berjualan rokok keliling.

&amp;ldquo;Saya mengasong rokok dari rumah sakit ke rumah sakit di Lampung. Kalau libur saya juga nyambi jualan koran di kapal laut Merak-Panjang. Hasilnya lumayan, uang jajan tidak minta sama orangtua dan saya sudah bisa beli sepeda sendiri,&amp;rdquo; kisahnya.

Lulus SMP ia melanjutkan sekolahnya ke SMA. Kali ini otak bisnisnya juga tak pernah surut. Ia menjalani profesi sebagai fotografer di sebuah studio foto mini milik ayahnya.

Sebagai hasil dari jerih payahnya itu, ia bisa membatu orangtuanya membuat rumah. &amp;ldquo;Kebetulan orangtua punya studio foto. Jadi warga sekampung kalau mau buat KTP, difotonya di studio itu. Saya yang jadi juru foto-nya,&amp;rdquo; ucap Norman.

Tamat SMA di tahun 1974 lantas ia meminta izin ke orangtuanya untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta. Berbekal uang pensiunan ayahnya selama 6 bulan, Norman pun berangkat ke Jakarta. Ia memilih masuk pada Lembaga Kesenian Jakarta atau sekarang IKJ jurusan teater.

&amp;ldquo;Karena kekurangan bekal, saya waktu itu tidak punya kosan. Saya tinggal di kampus secara sembunyi-sembunyi,&amp;rdquo; ucapnya setengah bercanda.

Kesibukannya di dunia seni membuat kuliahnya terbengkalai. Selama 10 tahun kuliah, ia tak berhasil menjadi sarjana. &amp;ldquo;Karena sudah 10 tahun saya tidak tamat, akhirnya saya keluar dari kampus. Lalu saya pindah ke Universitas Jayabaya. Di kampus itu, saya dari awal sampai selesai tidak bayar. Bukan karena saya mahasiswa program beasiswa, tapi setiap ada pembayaran uang semester, saya pinjam bukti lunasnya ke teman, lalu saya foto kopi dan diganti namanya menjadi nama saya. Pihak kampus percaya saja,&amp;rdquo; ungkapnya.

Namun naas, saat ia sudah mulai sidang skripsi, kebohongannya mulai  terbongkar. Padahal, nilai mata kuliahnya dari awal sampai akhir  terbilang bagus.

&amp;ldquo;Saya ketahuan tidak pernah bayaran semesteran dari awal hingga  akhir. Saya babak belur. Saya hanya bisa menangis. Rencana wisuda saya  hampir saja gagal. Akhirnya saya meminta bantuan seseorang yang sudah  saya anggap sebagai bapak untu membereskan masalah saya. Alhamdulillah  akhirnya saya bisa juga diwisuda, dengan pembayaran dibayar kemudian,&amp;rdquo;  kenang Norman.

Berhasil menyabet gelar sebagai sarjana ekonomi, Norman  meniti karir  sebagai dosen di Universitas Mercubuana dan Trisakti Jakarta. Pekerjaan  sebagai dosen itu ia lakoni hampir 12 tahun lamanya.

&amp;ldquo;Jabatan saya saat itu sudah lektor. Di tahun 1996, saya memutuskan  untuk berhenti menjadi dosen. Anak dan istri puasa untuk sementara  waktu. Saya sudah mulai tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Kebetulan  ketika saya menjadi dosen saya sudah mulai senang investasi tanah. Saat  itu, ada orang menawari tanah pada saya seluas 30 hektar di Jonggol.  Dengan nekat saya pinjam uang ke teman senilai Rp 150 juta,&amp;rdquo; jelasnya.

Waktu itu harga tanah permeternya masih sekitar Rp 2000. Norman   cerdik, dengan meminta pembayaran secara bertahap meskipun uang sudah  ada di tangan.

&amp;ldquo;Saya bayar sebagai tanda jadi sebesar Rp 75 juta. Sisanya saya pakai  untuk buat master plan dan dikavling-kavling juga buat brosur. Lalu  saya tawarkan di DPR RI. Hasilnya banyak anggota DPR yang membeli tanah  saya itu. Saya jual permeternya menjadi Rp 15 ribu. Saya dapat uang  segar dari sana. Hanya dengan menjual 5 hektar saja saya sudah dapat  uang sekitar Rp 750 juta. Dan saya masih punya 25 hektar lagi,&amp;rdquo;  sebutnya.

Sepertinya investasi tanah sudah menjadi hobinya. Keuntungan dari  penjualan sebagian tanahnya itu ia investasikan lagi untuk membeli tanah  lainnya. Sampai kini ia setidaknya telah memiliki 280 hektar tanah di  beberapa wilayah, juga di Jonggol yang sudah semakin luas.

&amp;ldquo;Keuntungannya itu saya investasikan lagi ke tanah. Saya jadi punya  tanah di Jakarta dan di Gunung Geulis. Buat saya itu tabungan.  Prinspinya, kalau saya jual tanah di satu tempat, saya harus beli tanah  di tempat lain. Dengan begitu, tanah saya tidak habis-habis, malahan  makin berkembang,&amp;rdquo; imbuhnya.

Menurutnya, kesuksesan yang kini didapatnya adalah berkat dari perilakunya yang bisa dipercaya orang lain.

&amp;ldquo;Hidup ini soal kepercayaan. Kalau saya jualan tanah, saya buat  sertifikatnya. Dan sampai sekarang mereka aman-aman saja, tidak pernah  ada sengketa. Sebua kebanggan bagai saya, karena tanah saya ini banyak  pembelinya dari kalangan elit,&amp;rdquo; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
