<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cegah Stigmatisasi Terhadap Negara, WHO Gunakan Sistem Penamaan Baru untuk Varian Covid-19</title><description>Penamaan baru akan menggunakan alfabet Yunani.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/01/18/2418496/cegah-stigmatisasi-terhadap-negara-who-gunakan-sistem-penamaan-baru-untuk-varian-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/01/18/2418496/cegah-stigmatisasi-terhadap-negara-who-gunakan-sistem-penamaan-baru-untuk-varian-covid-19"/><item><title>Cegah Stigmatisasi Terhadap Negara, WHO Gunakan Sistem Penamaan Baru untuk Varian Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/01/18/2418496/cegah-stigmatisasi-terhadap-negara-who-gunakan-sistem-penamaan-baru-untuk-varian-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/01/18/2418496/cegah-stigmatisasi-terhadap-negara-who-gunakan-sistem-penamaan-baru-untuk-varian-covid-19</guid><pubDate>Selasa 01 Juni 2021 15:09 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/01/18/2418496/cegah-stigmatisasi-terhadap-negara-who-gunakan-sistem-penamaan-baru-untuk-varian-covid-19-LMS6NN9Ths.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/01/18/2418496/cegah-stigmatisasi-terhadap-negara-who-gunakan-sistem-penamaan-baru-untuk-varian-covid-19-LMS6NN9Ths.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan sistem penamaan baru untuk varian Covid-19. Mulai saat ini, WHO bakal menggunakan alfabet Yunani untuk merujuk varian yang pertama kali terdeteksi di negara-negara, seperti Inggris, Afrika Selatan, dan India.
Varian Covid-19 yang ditemukan di Inggris, misalnya, akan diberi label sebagai Alfa. Sementara varian di Afrika Selatan dan India akan dilabeli sebagai Beta dan Delta.
WHO menilai sistem penamaan ini dapat menyederhanakan pengucapannya dan menghilangkan stigma dari penamaan varian Covid-19.
BACA JUGA: Bantu Penanggulangan Covid-19, Menteri dan Wakil Menteri Malaysia Sumbangkan 3 Bulan Gajinya
Awal Mei lalu, pemerintah India mengkritik penamaan varian B.1.617.2 sebagai &quot;varian India&quot; karena pertama kali terdeteksi di negara itu Oktober lalu.
WHO menyangkal bahwa mereka tidak pernah secara resmi melabeli varian itu dengan terminologi tersebut.
&quot;Tidak boleh ada negara yang mendapat stigma setelah mendeteksi dan melaporkan varian di wilayah mereka,&quot; kata Pimpinan WHO untuk Teknis Covid-19, Maria Van Kerkhove, lewat akun Twitter miliknya.
Van Kerkhove juga menyerukan &quot;pengawasan ketat&quot; varian serta dan gerakan berbagi data ilmiah untuk menghentikan penyebaran Covid-19.
Nama yang akan dilabelkan ke setiap varian Covid-19 akan mengacu pada variant of concern (VOC) dan variant of interest (VOI).
VOC merujuk varian yang lebih dianggap mengancam atau turunan virus baru yang bermutasi sehingga lebih menular atau mematikan serta lebih resisten terhadap vaksin dan pengobatan.
BACA JUGA: Kim Jong-un Perintahkan Bunuh Kucing dan Merpati, Takut Bawa Covid-19 dari China
Sementara VOI merujuk pada varian yang harus diteliti lebih lanjut agar karakteristiknya dipahami.
Daftar lengkap nama varian ini sudah dipublikasikan di situs WHO.
Bagaimanapun, alfabet Yunani ini tidak akan menggantikan nama ilmiah varian Covid-19 yang ada.
Apabila lebih dari 24 varian diidentifikasi secara resmi, alfabet Yunani akan habis. Jika ini terjadi, WHO akan mengumumkan sistem penamaan baru, kata Van Kerkhove kepada STAT News.

&quot;Kami tidak mengatakan mengganti B.1.1.7, tapi benar-benar hanya  untuk mencoba mempermudah pembicaraan varian ini dengan masyarakat  awam,&quot; ujarnya.
&quot;Sehingga dalam wacana publik, kita bisa membahas beberapa varian  tersebut dalam bahasa yang lebih mudah digunakan,&quot; kata Van Kerkhove.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;en&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Today, &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/WHO?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;@WHO&amp;lt;/a&amp;gt; announces new, easy-to-say labels for &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/hashtag/SARSCoV2?src=hash&amp;amp;amp;ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;#SARSCoV2&amp;lt;/a&amp;gt; Variants of Concern (VOCs) &amp;amp;amp; Interest (VOIs)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;They will not replace existing scientific names, but are aimed to help in public discussion of VOI/VOC&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Read more here (will be live soon):&amp;lt;br&amp;gt; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/VNvjJn8Xcv&quot;&amp;gt;https://t.co/VNvjJn8Xcv&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/hashtag/COVID19?src=hash&amp;amp;amp;ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;#COVID19&amp;lt;/a&amp;gt; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/L9YOfxmKW7&quot;&amp;gt;pic.twitter.com/L9YOfxmKW7&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Maria Van Kerkhove (@mvankerkhove) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/mvankerkhove/status/1399388129300205569?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;May 31, 2021&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Senin (31/5/2021) lalu, seorang ilmuwan sekaligus penasehat bidang  kesehatan untuk pemerintah Inggris menyebut negara itu berada pada tahap  awal gelombang ketiga infeksi virus corona.
Menurutnya, salah satu pemicu gelombang ketiga ini adalah Delta atau varian Covid-19 yang pertama kali ditemukan di India.
Delta dinilai menyebar lebih cepat daripada varian Alpha, yang menyebabkan lonjakan kasus di Inggris selama musim dingin lalu.

Apa saja varian corona yang ada di Indonesia?
Sejauh ini terpantau tujuh varian corona yang berhasil  teridentifikasi di Indonesia, yakni varian D614G, B117, N439K, E484K,  B1525, B1617, dan B1351.
Pemerintah Indonesia belum merilis informasi apakah varian baru yang terdeteksi di Vietnam telah ditemukan di Indonesia.
Wiku Adisasmito, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah  untuk Penanganan Covid-19, mengatakan pemerintah berupaya mengantisipasi  masuknya varian baru dari luar negeri dengan memperketat pengawasan dan  karantina bagi pekerja migran yang kembali ke kampung halaman.
Namun, seberapa cepat pemerintah Indonesia mendeteksi varian baru virus corona?
Jawabannya: lambat, seperti diutarakan pakar biomolekular Universitas Yarsi, Ahmad Rusjdan Utomo.
&quot;Jika Inggris melakukan sampling dengan sangat agresif ketika  ditemukan kasus dan klaster besar, mereka segera melakukan genome  sequencing. Indonesia, masalahnya, kita tidak punya kemewahan itu,&quot; kata  Ahmad.
Sementara itu, Siti Nadia Tarmizi dari Kementerian Kesehatan  mengungkap alasan mengapa diperlukan waktu hampir empat bulan untuk  mengonfirmasi varian baru dari Afrika Selatan terdeteksi di Indonesia.Ia mengatakan hanya ada 17 laboratorium - dari sekitar 700   laboratorium yang ada di Indonesia - yang bisa melakukan whole genome   sequencing (WGS) untuk mengetahui varian virus Covid-19
&quot;Dan mengapa prosesnya lama, ini sangat tergantung pada bagaimana   pengambilan spesimen. Karena dari pengambilan spesimen, dia harus   mengalami suatu proses kalau proses itu baik dan menghasilkan kualitas   spesimen yang sesuai, itu baru bisa dibaca oleh mesinnya. Karena kalau   spesimennya tidak baik dan dalam prosesnya tidak baik, pasti akan dibaca   negatif oleh mesinnya. Ini lebih memang perlu sedikit kehati-hatian,&quot;   katanya.
Hingga saat ini, baru ada sekitar 1.771 sekuens genom virus corona di   Indonesia, atau hanya 0,098% dari total kasus di seluruh dunia, yang   diunggah ke Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID),   sebuah inisiatif global dan sumber utama yang menyediakan akses terbuka   ke data genom virus influenza dan corona yang bertanggung jawab atas   pandemi Covid-19.
Minimnya data informasi genom ini akan berpengaruh pada penanganan Covid-19.</description><content:encoded>JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan sistem penamaan baru untuk varian Covid-19. Mulai saat ini, WHO bakal menggunakan alfabet Yunani untuk merujuk varian yang pertama kali terdeteksi di negara-negara, seperti Inggris, Afrika Selatan, dan India.
Varian Covid-19 yang ditemukan di Inggris, misalnya, akan diberi label sebagai Alfa. Sementara varian di Afrika Selatan dan India akan dilabeli sebagai Beta dan Delta.
WHO menilai sistem penamaan ini dapat menyederhanakan pengucapannya dan menghilangkan stigma dari penamaan varian Covid-19.
BACA JUGA: Bantu Penanggulangan Covid-19, Menteri dan Wakil Menteri Malaysia Sumbangkan 3 Bulan Gajinya
Awal Mei lalu, pemerintah India mengkritik penamaan varian B.1.617.2 sebagai &quot;varian India&quot; karena pertama kali terdeteksi di negara itu Oktober lalu.
WHO menyangkal bahwa mereka tidak pernah secara resmi melabeli varian itu dengan terminologi tersebut.
&quot;Tidak boleh ada negara yang mendapat stigma setelah mendeteksi dan melaporkan varian di wilayah mereka,&quot; kata Pimpinan WHO untuk Teknis Covid-19, Maria Van Kerkhove, lewat akun Twitter miliknya.
Van Kerkhove juga menyerukan &quot;pengawasan ketat&quot; varian serta dan gerakan berbagi data ilmiah untuk menghentikan penyebaran Covid-19.
Nama yang akan dilabelkan ke setiap varian Covid-19 akan mengacu pada variant of concern (VOC) dan variant of interest (VOI).
VOC merujuk varian yang lebih dianggap mengancam atau turunan virus baru yang bermutasi sehingga lebih menular atau mematikan serta lebih resisten terhadap vaksin dan pengobatan.
BACA JUGA: Kim Jong-un Perintahkan Bunuh Kucing dan Merpati, Takut Bawa Covid-19 dari China
Sementara VOI merujuk pada varian yang harus diteliti lebih lanjut agar karakteristiknya dipahami.
Daftar lengkap nama varian ini sudah dipublikasikan di situs WHO.
Bagaimanapun, alfabet Yunani ini tidak akan menggantikan nama ilmiah varian Covid-19 yang ada.
Apabila lebih dari 24 varian diidentifikasi secara resmi, alfabet Yunani akan habis. Jika ini terjadi, WHO akan mengumumkan sistem penamaan baru, kata Van Kerkhove kepada STAT News.

&quot;Kami tidak mengatakan mengganti B.1.1.7, tapi benar-benar hanya  untuk mencoba mempermudah pembicaraan varian ini dengan masyarakat  awam,&quot; ujarnya.
&quot;Sehingga dalam wacana publik, kita bisa membahas beberapa varian  tersebut dalam bahasa yang lebih mudah digunakan,&quot; kata Van Kerkhove.
&amp;lt;blockquote class=&quot;twitter-tweet&quot;&amp;gt;&amp;lt;p lang=&quot;en&quot; dir=&quot;ltr&quot;&amp;gt;Today, &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/WHO?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;@WHO&amp;lt;/a&amp;gt; announces new, easy-to-say labels for &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/hashtag/SARSCoV2?src=hash&amp;amp;amp;ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;#SARSCoV2&amp;lt;/a&amp;gt; Variants of Concern (VOCs) &amp;amp;amp; Interest (VOIs)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;They will not replace existing scientific names, but are aimed to help in public discussion of VOI/VOC&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Read more here (will be live soon):&amp;lt;br&amp;gt; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/VNvjJn8Xcv&quot;&amp;gt;https://t.co/VNvjJn8Xcv&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/hashtag/COVID19?src=hash&amp;amp;amp;ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;#COVID19&amp;lt;/a&amp;gt; &amp;lt;a href=&quot;https://t.co/L9YOfxmKW7&quot;&amp;gt;pic.twitter.com/L9YOfxmKW7&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;mdash; Maria Van Kerkhove (@mvankerkhove) &amp;lt;a href=&quot;https://twitter.com/mvankerkhove/status/1399388129300205569?ref_src=twsrc%5Etfw&quot;&amp;gt;May 31, 2021&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &amp;lt;script async src=&quot;https://platform.twitter.com/widgets.js&quot; charset=&quot;utf-8&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;
Senin (31/5/2021) lalu, seorang ilmuwan sekaligus penasehat bidang  kesehatan untuk pemerintah Inggris menyebut negara itu berada pada tahap  awal gelombang ketiga infeksi virus corona.
Menurutnya, salah satu pemicu gelombang ketiga ini adalah Delta atau varian Covid-19 yang pertama kali ditemukan di India.
Delta dinilai menyebar lebih cepat daripada varian Alpha, yang menyebabkan lonjakan kasus di Inggris selama musim dingin lalu.

Apa saja varian corona yang ada di Indonesia?
Sejauh ini terpantau tujuh varian corona yang berhasil  teridentifikasi di Indonesia, yakni varian D614G, B117, N439K, E484K,  B1525, B1617, dan B1351.
Pemerintah Indonesia belum merilis informasi apakah varian baru yang terdeteksi di Vietnam telah ditemukan di Indonesia.
Wiku Adisasmito, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah  untuk Penanganan Covid-19, mengatakan pemerintah berupaya mengantisipasi  masuknya varian baru dari luar negeri dengan memperketat pengawasan dan  karantina bagi pekerja migran yang kembali ke kampung halaman.
Namun, seberapa cepat pemerintah Indonesia mendeteksi varian baru virus corona?
Jawabannya: lambat, seperti diutarakan pakar biomolekular Universitas Yarsi, Ahmad Rusjdan Utomo.
&quot;Jika Inggris melakukan sampling dengan sangat agresif ketika  ditemukan kasus dan klaster besar, mereka segera melakukan genome  sequencing. Indonesia, masalahnya, kita tidak punya kemewahan itu,&quot; kata  Ahmad.
Sementara itu, Siti Nadia Tarmizi dari Kementerian Kesehatan  mengungkap alasan mengapa diperlukan waktu hampir empat bulan untuk  mengonfirmasi varian baru dari Afrika Selatan terdeteksi di Indonesia.Ia mengatakan hanya ada 17 laboratorium - dari sekitar 700   laboratorium yang ada di Indonesia - yang bisa melakukan whole genome   sequencing (WGS) untuk mengetahui varian virus Covid-19
&quot;Dan mengapa prosesnya lama, ini sangat tergantung pada bagaimana   pengambilan spesimen. Karena dari pengambilan spesimen, dia harus   mengalami suatu proses kalau proses itu baik dan menghasilkan kualitas   spesimen yang sesuai, itu baru bisa dibaca oleh mesinnya. Karena kalau   spesimennya tidak baik dan dalam prosesnya tidak baik, pasti akan dibaca   negatif oleh mesinnya. Ini lebih memang perlu sedikit kehati-hatian,&quot;   katanya.
Hingga saat ini, baru ada sekitar 1.771 sekuens genom virus corona di   Indonesia, atau hanya 0,098% dari total kasus di seluruh dunia, yang   diunggah ke Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID),   sebuah inisiatif global dan sumber utama yang menyediakan akses terbuka   ke data genom virus influenza dan corona yang bertanggung jawab atas   pandemi Covid-19.
Minimnya data informasi genom ini akan berpengaruh pada penanganan Covid-19.</content:encoded></item></channel></rss>
