<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wajah Bung Karno Kini Tengah Muram di Kota Ende NTT   </title><description>Kota Ende yang berada di Kabupaten Ende, Kepulauan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki sejarah</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/01/337/2417924/wajah-bung-karno-kini-tengah-muram-di-kota-ende-ntt</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/01/337/2417924/wajah-bung-karno-kini-tengah-muram-di-kota-ende-ntt"/><item><title>Wajah Bung Karno Kini Tengah Muram di Kota Ende NTT   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/01/337/2417924/wajah-bung-karno-kini-tengah-muram-di-kota-ende-ntt</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/01/337/2417924/wajah-bung-karno-kini-tengah-muram-di-kota-ende-ntt</guid><pubDate>Selasa 01 Juni 2021 10:05 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Koran Sindo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/05/31/337/2417924/wajah-bung-karno-kini-tengah-muram-di-kota-ende-ntt-AuE8LMx3TO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Taman Renungan Bung Karno di Ende, NTT.(Foto:Koran SINDO)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/05/31/337/2417924/wajah-bung-karno-kini-tengah-muram-di-kota-ende-ntt-AuE8LMx3TO.jpg</image><title>Taman Renungan Bung Karno di Ende, NTT.(Foto:Koran SINDO)</title></images><description>ENDE - Kota Ende yang berada di Kabupaten Ende, Kepulauan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki sejarah tersendiri dalam cerita perjalanan bangsa ini.
Di sanalah, bapak pendiri bangsa Ir Soekarno melahirkan konsep dasar negara yang di kemudian hari dikenal dengan Pancasila. Sayangnya hari-hari ini, wajah Presiden Pertama Indonesia yang diabadikan di sana sedang muram.
Ende memang wilayah terpencil. Justru karena itulah Pemerintahan India Belanda pada saat itu memilihnya untuk menjadi pengasingan Bung Karno. Selama empat tahun si bung bersama Inggit Garnasih (istri), Ibu Asmi (mertua), Ratna Djuani, dan Kartika (anak angkat), menjalani hari-hari sepinya. Di sana Bung Karno tinggal di rumah kecil milik Abdullah Ambuwaru. Rumah sederhana itu tidak bernomor dan berada di tengah rumah penduduk yang beratap ilalang.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila: Peran Penting Soekarno dalam Perumusan Pancasila
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada 1951. Ia bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar rumah tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan yang kedua tepatnya pada 1954, Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Rumah Bung Karno pada 16 Mei 1954.
Tak jauh dari Situs Rumah Bung Karno, terdapat Taman Renungan Bung Karno atau ada pula yang menyebut Taman Renungan Pancasila. Lokasinya berada di Kelurahan Rukun Lima. Di taman itu, tepatnya di bawah pohon sukun, Bung Karno dulu memikirkan tentang Pancasila. Kawasan Taman Renungan Soekarno sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusiPada Selasa (28/7/2020), KORAN SINDO bersama rombongan Wakil Ketua  MPR Jazilul Fawaid berkesempatan datang ke lokasi bersejarah itu untuk  melihat langsung Taman Perenungan Bung Karno. Sayangnya, taman tersebut  kini kondisinya sangat memprihatinkan. Area taman dipenuhi dengan sampah  dedaunan.
Patung Bung Karno yang sedang duduk merenung juga terlihat kusam  kurang terawat bahkan dindingnya berlumut. Patung Bung Karno sedang  merenung itu menghadap ke arah Pantai Ria. Di bawah patung seharusnya  ada kolam air mancur, namun kini kondisinya kering berkarat. Dinding di  sekitar patung catnya juga banyak yang kusam dan mengelupas. Begitu pula  lantai kayu banyak yang sudah lapuk tak terurus.
Sementara di samping patung, terdapat pohon sukun yang masih tumbuh  segar nan hijau. Namun, pohon sukun tersebut bukan pohon sukun yang sama  dengan ketika Bung Karno berteduh dan sering merenung di bawahnya.  Sebab, pohon sukun yang awal tersebut sudah tumbang sejak 1960.  Sementara pohon sukun yang tumbuh sekarang merupakan pohon yang ditanam  pada 1981. Namun, ada kesamaan yakni sama-sama memiliki lima cabang yang  sering dikaitkan pula dengan lima sila.
Taman dan Patung Perenungan Bung Karno itu diresmikan Wakil Presiden  saat itu, Boediono pada 2013. Di bawah pohon sukun terdapat lambang  Garuda. &quot;Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun  ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.&quot; Kutipan kata-kata  emas Sang Proklamator Bung Karno itu terukir di sebuah batu marmer hitam  di bawah pohon sukun tersebut. &quot;Ini patung Bung Karno sedang merenung,  tapi sedih,&quot; ujar Jazilul Fawaid menggambarkan kondisi Taman dan Patung  Bung Karno.
Tak jauh dari Taman Perenungan Bung Karno , terdapat Situs Rumah  Pengasingan Bung Karno yang berada di Jalan Perwira Ende. Berbeda dengan  kondisi Taman Renungan Bung Karno yang kurang terawat, Situs Rumah  Pengasingan Bung Karno terlihat masih terawat dengan bagus.
Dalam catatan sejarah, Situs Bung Karno mulai direnovasi pada 1 Mei  2012 dengan dimulai peletakan batu pertama. Selanjutnya pada 23 Juni  2012 resmi dilakukan renovasi total mulai dari dinding, lantai, sampai  atap, tetapi tidak mengubah bangunan lama.
Rencana renovasi merupakan inisiatif Wakil Presiden Boediono yang  berkunjung ke Ende pada 2009 dalam rangka menelusuri jejak pelopor utama  kemerdekaan. Kondisi rumah ini masih terawat dengan baik. Di halaman  rumah terdapat patung Bung Karno yang sedang berdiri tegak.
Di dalam rumah terdapat benda-benda peninggalan Bung Karno, seperti  lukisan di dinding, akta nikah dengan Ibu Inggit, berbagai macam  perabotan rumah, serta 2 tongkat yang biasa digunakan oleh Bung Karno.  Kamar tidur Bung Karno terdapat di bagian tengah, berhadapan dengan 1  kamar tidur lain yang diisi mertua dan anak angkatnya.
Di bagian belakang rumah terdapat sebuah sumur, kamar mandi, dan  dapur yang terlihat seperti sedia kala. Sumur tersebut hingga kini  airnya masih jernih. Umumnya, pengunjung yang datang kerap kali menimba  air untuk sekadar membasuh muka atau berkumur. Seperti yang dilakukan  Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid yang langsung menimba air dan mengusap  wajahnya. &quot;Segar sekali,&quot; ungkapnya.
Gus Jazil mengatakan, Bung Karno menyatakan bahwa bangsa yang besar  adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. &quot;Di Kota Ende ini sebenarnya  Proklamator kita, Bung Karno, menemukan di bawah pohon sukun ini, lima  mutiara di bawah pohon sukun, tapi kondisi yang ada memprihatinkan. Ini  bahkan ibarat kandang ayam,&quot; tuturnya.
Karena itu, dirinya  mengajak semua kalangan, baik pihak swasta maupun pemerintah pusat,  khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk ikut  datang ke Ende dan menyelesaikan situs Taman Bung Karno yang juga  sebagai Taman Perenungan Pancasila.
&quot;Kalau lihat kondisinya  begini, kecil sekali kita melihat Pancasila ini. Di tempatnya ditemukan,  bukan mutiara kalau ini, ini batu kayak batu kali, nggak ada harganya.  Padahal ini view-nya bagus ke laut,&quot; keluhnya.
Sebagai Wakil Ketua  MPR, Gus Jazil juga mengajak para praktisi pendidikan yang memiliki  keahlian desain tata kota untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran  untuk membangun kembali situs bersejarah tersebut.
&quot;Kita ingin  menguatkan Empat Pilar, tapi masa di tempat ditemukannya pilar besar  yang disebut dengan Pancasila, suasana memprihatinkan, gak selesai. Itu  artinya kita tidak memberikan penghargaan. Saya miris. Karena itu  setelah ini, saya bersama dengan Pak Bupati akan berkampanye untuk  merawat situs ini,&quot; katanya.
Wakil Ketua Umum DPP PKB ini  mengatakan, di tempat itu, Bung Karno mencurahkan pikirannya dan memeras  otaknya untuk menemukan cara bagaimana menemukan nilai yang dapat  mempersatukan Indonesia yang besar dengan berbagai adat-istiadat.
&quot;Ditemukanlah  Pancasila dan terbukti memang Pancasila itulah yang mengikat. Pancasila  lahir di sini, di tempat yang sederhana sebenarnya. Hari ini mestinya  ditebus dengan satu kemegahan, penghargaan terhadap sejarah,&quot; tuturnya.
Karena  itu, Gus Jazil meminta pemerintah pusat untuk memberikan prioritas  perawatan dan pembangunan kembali situs ini sehingga masyarakat dari  berbagai penjuru negeri bisa datang dan belajar tentang Pancasila di  Ende.
&quot;Saya minta Menteri Pariwisata atau Mendikbud untuk segera  ke sini ,diselesaikan dulu lah, sebelum situs-situs yang lain. Saya  yakin DPR Komisi X juga memberikan dukungan,&quot; katanya. Gus Jazil  mengusulkan tempat itu menjadi ikon Pancasila dengan dibangun  perpustakaan atau laboratorium Pancasila.
Sementara untuk Situs  Rumah Pengasingan Bung Karno, menurut Gus Jazil, selama ini sepertinya  di tempat itu hanya sebatas dijaga apa yang ada saja. Karena itu, Gus  Jazil mendorong agar di sekitar situs pengasingan dibangun lahan parkir  sehingga kendaraan pengunjung tidak berhenti di jalan.Selain itu, perlu adanya sentuhan teknologi dari  koleksi-koleksi yang ada. Dengan sentuhan teknologi, diharap mampu lebih  menjelaskan asal usul koleksi dan barang yang ada, terutama bagi  anak-anak muda.
&amp;ldquo;Misalnya, setrika yang ada itu buatan mana, mesin  ketik yang dipakai Bung Karno itu merek apa,&amp;rdquo; tuturnya. Dengan sentuhan  teknologi, lewat digitalisasi, koleksi atau artefak di situs tersebut  bisa dijelaskan lebih detail barang-barang koleksi dibuat dari daerah  atau negara mana.
Koordinator Nasional Nusantara Mengaji minta  agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperhatikan Situs Rumah  Pengasingan Bung Karno di Ende. Ia menyayangkan kalau bantuan dari  pemerintah pusat diberikan bila sesuatu itu menguntungkan atau  memberikan pendapatan.
Menjaga situs-situs sejarah perjuangan  bangsa, menurut pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu, perlu agar anak  dan cucu kita mengerti dan paham sejarah perjuangan bangsa.
&amp;ldquo;Kita  harus tahu betapa sulitnya Bung Karno dan keluarga hidup di pengasingan  pada 1934,&amp;rdquo; ungkapnya. Sangat disayangkan jika generasi milenial lebih  paham K-Pop sebab pemahaman dan pendidikan sejarah buat mereka belum  disampaikan secara masif dan dengan teknologi dan budaya yang sesuai  dengan perkembangan zaman.
Anggota DPR dari Fraksi PKB Dipo  Nusantara Pua Upa mendorong pemerintah menjadikan Situs Bung Karno dan  Rumah Pengasingan Bung Karno tersebut menjadi aset nasional.
&quot;Dengan  menjadikan situs ini sebagai aset nasional, maka Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata dapat terlibat untuk  membenahi situs ini,&quot; kata anggota Komisi III DPR ini saat mengunjungi  kawasan Taman Bung Karno dan Rumah Pengasingan Bung Karno bersama  Jazilul Fawaid.
Selain bantuan dari pemerintah, Dipo juga  mendorong keterlibatan pihak swasta bekerja sama dengan pemda untuk  melestarikan situs Bung Karno sebagai aset nasional yang sangat  bersejarah ini.
&quot;Keterlibatan pihak swasta tentu saja diperlukan  supaya aset ini bisa terawat dengan baik. Sebab, biasanya kita mudah  untuk membangun, tetapi merawatnya susah,&amp;rdquo; kata politikus dari Daerah  Pemilihan NTT II yang meliputi seluruh daratan Flores, Lembata, dan  Alor. Dipo juga mengaku prihatin karena situs Bung Karno belum  terpelihara dengan baik.
Bupati Ende Djafar Achmad mengatakan,  pihaknya kesulitan untuk mengembangkan areal Taman Renungan Bung Karno  maupun Situs Rumah Pengasingan Bung Karno karena kesulitan pendanaan.  &quot;Di sini di bawah pohon sukun ini, tempat perenungan Bung Karno. Kita  ingin di sini kita siapkan museum. Kami juga ingin se-Indonesia belajar  ekstrakurikuler tentang Pancasila, datanglah ke Ende ini. Lihat tempat  perenungan Bung Karno,&quot; katanya.
Djafar mengatakan, suasana toleransi di Ende sangat terasa.  Keberadaan Soekarno selama empat tahun di pengungsian, dinilai sangat  menginspirasi masyarakat untuk bertoleransi tinggi. &quot;Apa yang ada di  Ende, semua agama menjadi satu, rukun, saling gotong royong,&quot; katanya.</description><content:encoded>ENDE - Kota Ende yang berada di Kabupaten Ende, Kepulauan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki sejarah tersendiri dalam cerita perjalanan bangsa ini.
Di sanalah, bapak pendiri bangsa Ir Soekarno melahirkan konsep dasar negara yang di kemudian hari dikenal dengan Pancasila. Sayangnya hari-hari ini, wajah Presiden Pertama Indonesia yang diabadikan di sana sedang muram.
Ende memang wilayah terpencil. Justru karena itulah Pemerintahan India Belanda pada saat itu memilihnya untuk menjadi pengasingan Bung Karno. Selama empat tahun si bung bersama Inggit Garnasih (istri), Ibu Asmi (mertua), Ratna Djuani, dan Kartika (anak angkat), menjalani hari-hari sepinya. Di sana Bung Karno tinggal di rumah kecil milik Abdullah Ambuwaru. Rumah sederhana itu tidak bernomor dan berada di tengah rumah penduduk yang beratap ilalang.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila: Peran Penting Soekarno dalam Perumusan Pancasila
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada 1951. Ia bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar rumah tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan yang kedua tepatnya pada 1954, Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Rumah Bung Karno pada 16 Mei 1954.
Tak jauh dari Situs Rumah Bung Karno, terdapat Taman Renungan Bung Karno atau ada pula yang menyebut Taman Renungan Pancasila. Lokasinya berada di Kelurahan Rukun Lima. Di taman itu, tepatnya di bawah pohon sukun, Bung Karno dulu memikirkan tentang Pancasila. Kawasan Taman Renungan Soekarno sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusiPada Selasa (28/7/2020), KORAN SINDO bersama rombongan Wakil Ketua  MPR Jazilul Fawaid berkesempatan datang ke lokasi bersejarah itu untuk  melihat langsung Taman Perenungan Bung Karno. Sayangnya, taman tersebut  kini kondisinya sangat memprihatinkan. Area taman dipenuhi dengan sampah  dedaunan.
Patung Bung Karno yang sedang duduk merenung juga terlihat kusam  kurang terawat bahkan dindingnya berlumut. Patung Bung Karno sedang  merenung itu menghadap ke arah Pantai Ria. Di bawah patung seharusnya  ada kolam air mancur, namun kini kondisinya kering berkarat. Dinding di  sekitar patung catnya juga banyak yang kusam dan mengelupas. Begitu pula  lantai kayu banyak yang sudah lapuk tak terurus.
Sementara di samping patung, terdapat pohon sukun yang masih tumbuh  segar nan hijau. Namun, pohon sukun tersebut bukan pohon sukun yang sama  dengan ketika Bung Karno berteduh dan sering merenung di bawahnya.  Sebab, pohon sukun yang awal tersebut sudah tumbang sejak 1960.  Sementara pohon sukun yang tumbuh sekarang merupakan pohon yang ditanam  pada 1981. Namun, ada kesamaan yakni sama-sama memiliki lima cabang yang  sering dikaitkan pula dengan lima sila.
Taman dan Patung Perenungan Bung Karno itu diresmikan Wakil Presiden  saat itu, Boediono pada 2013. Di bawah pohon sukun terdapat lambang  Garuda. &quot;Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun  ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.&quot; Kutipan kata-kata  emas Sang Proklamator Bung Karno itu terukir di sebuah batu marmer hitam  di bawah pohon sukun tersebut. &quot;Ini patung Bung Karno sedang merenung,  tapi sedih,&quot; ujar Jazilul Fawaid menggambarkan kondisi Taman dan Patung  Bung Karno.
Tak jauh dari Taman Perenungan Bung Karno , terdapat Situs Rumah  Pengasingan Bung Karno yang berada di Jalan Perwira Ende. Berbeda dengan  kondisi Taman Renungan Bung Karno yang kurang terawat, Situs Rumah  Pengasingan Bung Karno terlihat masih terawat dengan bagus.
Dalam catatan sejarah, Situs Bung Karno mulai direnovasi pada 1 Mei  2012 dengan dimulai peletakan batu pertama. Selanjutnya pada 23 Juni  2012 resmi dilakukan renovasi total mulai dari dinding, lantai, sampai  atap, tetapi tidak mengubah bangunan lama.
Rencana renovasi merupakan inisiatif Wakil Presiden Boediono yang  berkunjung ke Ende pada 2009 dalam rangka menelusuri jejak pelopor utama  kemerdekaan. Kondisi rumah ini masih terawat dengan baik. Di halaman  rumah terdapat patung Bung Karno yang sedang berdiri tegak.
Di dalam rumah terdapat benda-benda peninggalan Bung Karno, seperti  lukisan di dinding, akta nikah dengan Ibu Inggit, berbagai macam  perabotan rumah, serta 2 tongkat yang biasa digunakan oleh Bung Karno.  Kamar tidur Bung Karno terdapat di bagian tengah, berhadapan dengan 1  kamar tidur lain yang diisi mertua dan anak angkatnya.
Di bagian belakang rumah terdapat sebuah sumur, kamar mandi, dan  dapur yang terlihat seperti sedia kala. Sumur tersebut hingga kini  airnya masih jernih. Umumnya, pengunjung yang datang kerap kali menimba  air untuk sekadar membasuh muka atau berkumur. Seperti yang dilakukan  Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid yang langsung menimba air dan mengusap  wajahnya. &quot;Segar sekali,&quot; ungkapnya.
Gus Jazil mengatakan, Bung Karno menyatakan bahwa bangsa yang besar  adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. &quot;Di Kota Ende ini sebenarnya  Proklamator kita, Bung Karno, menemukan di bawah pohon sukun ini, lima  mutiara di bawah pohon sukun, tapi kondisi yang ada memprihatinkan. Ini  bahkan ibarat kandang ayam,&quot; tuturnya.
Karena itu, dirinya  mengajak semua kalangan, baik pihak swasta maupun pemerintah pusat,  khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk ikut  datang ke Ende dan menyelesaikan situs Taman Bung Karno yang juga  sebagai Taman Perenungan Pancasila.
&quot;Kalau lihat kondisinya  begini, kecil sekali kita melihat Pancasila ini. Di tempatnya ditemukan,  bukan mutiara kalau ini, ini batu kayak batu kali, nggak ada harganya.  Padahal ini view-nya bagus ke laut,&quot; keluhnya.
Sebagai Wakil Ketua  MPR, Gus Jazil juga mengajak para praktisi pendidikan yang memiliki  keahlian desain tata kota untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran  untuk membangun kembali situs bersejarah tersebut.
&quot;Kita ingin  menguatkan Empat Pilar, tapi masa di tempat ditemukannya pilar besar  yang disebut dengan Pancasila, suasana memprihatinkan, gak selesai. Itu  artinya kita tidak memberikan penghargaan. Saya miris. Karena itu  setelah ini, saya bersama dengan Pak Bupati akan berkampanye untuk  merawat situs ini,&quot; katanya.
Wakil Ketua Umum DPP PKB ini  mengatakan, di tempat itu, Bung Karno mencurahkan pikirannya dan memeras  otaknya untuk menemukan cara bagaimana menemukan nilai yang dapat  mempersatukan Indonesia yang besar dengan berbagai adat-istiadat.
&quot;Ditemukanlah  Pancasila dan terbukti memang Pancasila itulah yang mengikat. Pancasila  lahir di sini, di tempat yang sederhana sebenarnya. Hari ini mestinya  ditebus dengan satu kemegahan, penghargaan terhadap sejarah,&quot; tuturnya.
Karena  itu, Gus Jazil meminta pemerintah pusat untuk memberikan prioritas  perawatan dan pembangunan kembali situs ini sehingga masyarakat dari  berbagai penjuru negeri bisa datang dan belajar tentang Pancasila di  Ende.
&quot;Saya minta Menteri Pariwisata atau Mendikbud untuk segera  ke sini ,diselesaikan dulu lah, sebelum situs-situs yang lain. Saya  yakin DPR Komisi X juga memberikan dukungan,&quot; katanya. Gus Jazil  mengusulkan tempat itu menjadi ikon Pancasila dengan dibangun  perpustakaan atau laboratorium Pancasila.
Sementara untuk Situs  Rumah Pengasingan Bung Karno, menurut Gus Jazil, selama ini sepertinya  di tempat itu hanya sebatas dijaga apa yang ada saja. Karena itu, Gus  Jazil mendorong agar di sekitar situs pengasingan dibangun lahan parkir  sehingga kendaraan pengunjung tidak berhenti di jalan.Selain itu, perlu adanya sentuhan teknologi dari  koleksi-koleksi yang ada. Dengan sentuhan teknologi, diharap mampu lebih  menjelaskan asal usul koleksi dan barang yang ada, terutama bagi  anak-anak muda.
&amp;ldquo;Misalnya, setrika yang ada itu buatan mana, mesin  ketik yang dipakai Bung Karno itu merek apa,&amp;rdquo; tuturnya. Dengan sentuhan  teknologi, lewat digitalisasi, koleksi atau artefak di situs tersebut  bisa dijelaskan lebih detail barang-barang koleksi dibuat dari daerah  atau negara mana.
Koordinator Nasional Nusantara Mengaji minta  agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperhatikan Situs Rumah  Pengasingan Bung Karno di Ende. Ia menyayangkan kalau bantuan dari  pemerintah pusat diberikan bila sesuatu itu menguntungkan atau  memberikan pendapatan.
Menjaga situs-situs sejarah perjuangan  bangsa, menurut pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu, perlu agar anak  dan cucu kita mengerti dan paham sejarah perjuangan bangsa.
&amp;ldquo;Kita  harus tahu betapa sulitnya Bung Karno dan keluarga hidup di pengasingan  pada 1934,&amp;rdquo; ungkapnya. Sangat disayangkan jika generasi milenial lebih  paham K-Pop sebab pemahaman dan pendidikan sejarah buat mereka belum  disampaikan secara masif dan dengan teknologi dan budaya yang sesuai  dengan perkembangan zaman.
Anggota DPR dari Fraksi PKB Dipo  Nusantara Pua Upa mendorong pemerintah menjadikan Situs Bung Karno dan  Rumah Pengasingan Bung Karno tersebut menjadi aset nasional.
&quot;Dengan  menjadikan situs ini sebagai aset nasional, maka Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata dapat terlibat untuk  membenahi situs ini,&quot; kata anggota Komisi III DPR ini saat mengunjungi  kawasan Taman Bung Karno dan Rumah Pengasingan Bung Karno bersama  Jazilul Fawaid.
Selain bantuan dari pemerintah, Dipo juga  mendorong keterlibatan pihak swasta bekerja sama dengan pemda untuk  melestarikan situs Bung Karno sebagai aset nasional yang sangat  bersejarah ini.
&quot;Keterlibatan pihak swasta tentu saja diperlukan  supaya aset ini bisa terawat dengan baik. Sebab, biasanya kita mudah  untuk membangun, tetapi merawatnya susah,&amp;rdquo; kata politikus dari Daerah  Pemilihan NTT II yang meliputi seluruh daratan Flores, Lembata, dan  Alor. Dipo juga mengaku prihatin karena situs Bung Karno belum  terpelihara dengan baik.
Bupati Ende Djafar Achmad mengatakan,  pihaknya kesulitan untuk mengembangkan areal Taman Renungan Bung Karno  maupun Situs Rumah Pengasingan Bung Karno karena kesulitan pendanaan.  &quot;Di sini di bawah pohon sukun ini, tempat perenungan Bung Karno. Kita  ingin di sini kita siapkan museum. Kami juga ingin se-Indonesia belajar  ekstrakurikuler tentang Pancasila, datanglah ke Ende ini. Lihat tempat  perenungan Bung Karno,&quot; katanya.
Djafar mengatakan, suasana toleransi di Ende sangat terasa.  Keberadaan Soekarno selama empat tahun di pengungsian, dinilai sangat  menginspirasi masyarakat untuk bertoleransi tinggi. &quot;Apa yang ada di  Ende, semua agama menjadi satu, rukun, saling gotong royong,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
