<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Dunia: Krisis Lebanon Adalah yang Terburuk di Dunia Sejak 1850-an</title><description>Lebanon telah mengalami krisis ekonomi dan keuangan yang parah dalam beberapa tahun belakangan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/02/18/2418839/bank-dunia-krisis-lebanon-adalah-yang-terburuk-di-dunia-sejak-1850-an</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/02/18/2418839/bank-dunia-krisis-lebanon-adalah-yang-terburuk-di-dunia-sejak-1850-an"/><item><title>Bank Dunia: Krisis Lebanon Adalah yang Terburuk di Dunia Sejak 1850-an</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/02/18/2418839/bank-dunia-krisis-lebanon-adalah-yang-terburuk-di-dunia-sejak-1850-an</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/02/18/2418839/bank-dunia-krisis-lebanon-adalah-yang-terburuk-di-dunia-sejak-1850-an</guid><pubDate>Rabu 02 Juni 2021 12:33 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/02/18/2418839/bank-dunia-krisis-lebanon-adalah-yang-terburuk-di-dunia-sejak-1850-an-bjqzVURA9p.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Seorang pria berjalan di dekat gedung Bank Sentral Lebanon di Beirut, Lebanon, 12 November 2020. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/02/18/2418839/bank-dunia-krisis-lebanon-adalah-yang-terburuk-di-dunia-sejak-1850-an-bjqzVURA9p.jpg</image><title>Seorang pria berjalan di dekat gedung Bank Sentral Lebanon di Beirut, Lebanon, 12 November 2020. (Foto: Reuters)</title></images><description>WASHINGTON &amp;ndash; Dalam laporannya, Selasa (1/6/2021) Bank Dunia menyebut krisis ekonomi dan keuangan parah yang terjadi di Lebanon saat ini sebagai salah satu yang terburuk di dunia dalam kurun waktu lebih dari 150 tahun.
Bank Dunia mengatakan sejak akhir 2019, Lebanon telah menghadapi tantangan berat, termasuk krisis ekonomi dan keuangan terburuk pada masa damai; perebakan luas virus corona; dan ledakan di Pelabuhan Beirut pada 2020 yang dianggap sebagai salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah dunia.
BACA JUGA: Ledakan di Beirut, Ini Fakta Unik Lebanon yang Pernah Berjaya dalam Sejarah Islam
Dalam beberapa bulan terakhir ini krisis itu telah semakin memburuk, di tengah perebutan kekuasaan yang melumpuhkan Lebanon. Perebutan antara presiden dan perdana menteri yang ditunjuk itu telah menangguhkan pembentukan pemerintahan baru.
Kabinet Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri beberapa hari setelah ledakan pada 4 Agustus 2020 itu, dan sejak itu Lebanon tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi penuh. Ledakan di Pelabuhan Beirut itu menewaskan 211 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya. Ledakan itu juga menghancurkan seluruh lingkungan di sekitarnya.
BACA JUGA: WHO Meminta Bantuan USD76 Juta untuk Bantu Lebanon Pasca Ledakan
Bank Dunia mengatakan kelambanan kebijakan yang terus terjadi dan tidak adanya pemerintah yang berfungsi penuh dalam menghadapi tantangan besar ini, mengancam kondisi sosial-ekonomi yang sudah sangat buruk dan perdamaian sosial yang rapuh.
&amp;ldquo;Krisis ekonomi dan keuangan ini mungkin akan menempati peringkat 10 besar, mungkin tiga teratas, episode krisis paling parah secara global sejak pertengahan abad ke-19,&amp;rdquo; tambah laporan itu.

Laporan Bank Dunia itu juga menyatakan produk domestik bruto (PDB)  Lebanon diproyeksikan mengalami kontraksi 9,5 persen pada 2021, setelah  menyusut 20,3 persen pada 2020 dan 6,7 persen pada 2019. PDB Lebanon  anjlok dari hampir USD55 miliar pada 2018 menjadi sekitar USD33 miliar  pada 2020, sementara GDP per kapita anjlok sekitar 40 persen dalam  dolar.
&amp;ldquo;Kontraksi brutal seperti ini biasanya terjadi dalam konflik atau perang,&amp;rdquo; kata Bank Dunia dalam laporan itu.
Seorang juru bicara Bank Dunia mengatakan laporan itu dirilis dua  hari sebelum Wakil Presiden Bank Dunia Untuk Timur Tengah dan Afrika  Utara Ferid Belhaj dan Direktur Eksekutif Bank Dunia Merza Hussain Hasan  dijadwalkan tiba di Lebanon untuk bertemu dengan para pejabat Lebanon  dan mendesak mereka mengatasi krisis &amp;ldquo;segera.&amp;rdquo;</description><content:encoded>WASHINGTON &amp;ndash; Dalam laporannya, Selasa (1/6/2021) Bank Dunia menyebut krisis ekonomi dan keuangan parah yang terjadi di Lebanon saat ini sebagai salah satu yang terburuk di dunia dalam kurun waktu lebih dari 150 tahun.
Bank Dunia mengatakan sejak akhir 2019, Lebanon telah menghadapi tantangan berat, termasuk krisis ekonomi dan keuangan terburuk pada masa damai; perebakan luas virus corona; dan ledakan di Pelabuhan Beirut pada 2020 yang dianggap sebagai salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah dunia.
BACA JUGA: Ledakan di Beirut, Ini Fakta Unik Lebanon yang Pernah Berjaya dalam Sejarah Islam
Dalam beberapa bulan terakhir ini krisis itu telah semakin memburuk, di tengah perebutan kekuasaan yang melumpuhkan Lebanon. Perebutan antara presiden dan perdana menteri yang ditunjuk itu telah menangguhkan pembentukan pemerintahan baru.
Kabinet Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri beberapa hari setelah ledakan pada 4 Agustus 2020 itu, dan sejak itu Lebanon tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi penuh. Ledakan di Pelabuhan Beirut itu menewaskan 211 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya. Ledakan itu juga menghancurkan seluruh lingkungan di sekitarnya.
BACA JUGA: WHO Meminta Bantuan USD76 Juta untuk Bantu Lebanon Pasca Ledakan
Bank Dunia mengatakan kelambanan kebijakan yang terus terjadi dan tidak adanya pemerintah yang berfungsi penuh dalam menghadapi tantangan besar ini, mengancam kondisi sosial-ekonomi yang sudah sangat buruk dan perdamaian sosial yang rapuh.
&amp;ldquo;Krisis ekonomi dan keuangan ini mungkin akan menempati peringkat 10 besar, mungkin tiga teratas, episode krisis paling parah secara global sejak pertengahan abad ke-19,&amp;rdquo; tambah laporan itu.

Laporan Bank Dunia itu juga menyatakan produk domestik bruto (PDB)  Lebanon diproyeksikan mengalami kontraksi 9,5 persen pada 2021, setelah  menyusut 20,3 persen pada 2020 dan 6,7 persen pada 2019. PDB Lebanon  anjlok dari hampir USD55 miliar pada 2018 menjadi sekitar USD33 miliar  pada 2020, sementara GDP per kapita anjlok sekitar 40 persen dalam  dolar.
&amp;ldquo;Kontraksi brutal seperti ini biasanya terjadi dalam konflik atau perang,&amp;rdquo; kata Bank Dunia dalam laporan itu.
Seorang juru bicara Bank Dunia mengatakan laporan itu dirilis dua  hari sebelum Wakil Presiden Bank Dunia Untuk Timur Tengah dan Afrika  Utara Ferid Belhaj dan Direktur Eksekutif Bank Dunia Merza Hussain Hasan  dijadwalkan tiba di Lebanon untuk bertemu dengan para pejabat Lebanon  dan mendesak mereka mengatasi krisis &amp;ldquo;segera.&amp;rdquo;</content:encoded></item></channel></rss>
