<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Kaum Milenial Australia yang 'Ingin Sekali' Divaksin Covid-19</title><description>Kaum milenial bukanlah prioritas peneriman vaksin Covid-19 di Negeri Kanguru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/07/18/2421242/cerita-kaum-milenial-australia-yang-ingin-sekali-divaksin-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/07/18/2421242/cerita-kaum-milenial-australia-yang-ingin-sekali-divaksin-covid-19"/><item><title>Cerita Kaum Milenial Australia yang 'Ingin Sekali' Divaksin Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/07/18/2421242/cerita-kaum-milenial-australia-yang-ingin-sekali-divaksin-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/07/18/2421242/cerita-kaum-milenial-australia-yang-ingin-sekali-divaksin-covid-19</guid><pubDate>Senin 07 Juni 2021 12:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/07/18/2421242/cerita-kaum-milenial-australia-yang-ingin-sekali-divaksin-covid-19-LwbC1nu7pI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Seorang pria berjalan di Kota Melbourne, Victoria, Australia menjelang pemberlakuan lockdown Covid-19. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/07/18/2421242/cerita-kaum-milenial-australia-yang-ingin-sekali-divaksin-covid-19-LwbC1nu7pI.jpg</image><title>Seorang pria berjalan di Kota Melbourne, Victoria, Australia menjelang pemberlakuan lockdown Covid-19. (Foto: Reuters)</title></images><description>APA barang yang sedang 'hot' dan sangat dicari anak-anak muda di Australia saat ini? Bukan sepatu Yeezy atau iPhone - tapi vaksin covid-19, kalau bisa yang buatan Pfizer.
Tapi bagi kebanyakan kaum milenial, vaksin itu masih mustahil didapat sekarang dan ini yang bikin cemas, karena menyangkut masa depan mereka.
Australia sudah empat bulan menggelar program vaksinasi, namun sebagian besar warga berusia di bawah 40 tahun masih belum bisa menerimanya.
BACA JUGA: Australia Deteksi Varian Virus Covid-19 Delta
Pemerintah negeri kanguru itu masih memprioritaskan vaksinasi untuk kaum usia lanjut maupun yang rentan.
Prosesnya pun tidak mulus, terhalang oleh masalah persediaan, pengiriman yang tidak tepat waktu dan juga kekhawatiran akan vaksin AstraZeneca.
Awal pekan ini di Sydney, BBC memantau antrean panjang di luar pusat vaksinasi yang tampaknya diikuti banyak kalangan milenial, berusia antara 25 hingga 40 tahun.
Sebagian dari kelompok usia itu bisa dapat vaksin karena mereka masuk daftar &quot;petugas garis depan.&quot; Mereka mendapat keistimewaan untuk lebih dulu divaksin.
Julia Bald, seorang penulis musik berusia 28 tahun, melangkah keluar dari klinik dengan rasa senang setelah disuntik.
&quot;Saya pikir semua orang lagi mati-matian untuk mendapatkannya,&quot; kata dia kepada BBC, dengan merujuk kepada teman-temannya.
BACA JUGA: Australia Capai Rekor Jumlah Vaksinasi Covid-19
&quot;Kamu tahu nggak meme yang klasik itu?&quot; ujarnya merujuk pada kutipan dari komedian Eric Andre saat berupaya menerobos pagar. &quot;Semua orang seperti: Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk dong! Saya kepingin dapat sekarang!&quot;

Kebalikan dari rasa puas diri
Bagi banyak kaum milenial, vaksin dianggap pelindung bagi orang tua mereka, memungkinkan mereka untuk jalan-jalan dan langkah menuju normal baru.
Antusiasme banyak orang muda Australia ternyata sangat berkebalikan dengan generasi orang tua mereka - justru banyak yang masih ragu-ragu untuk divaksin dan ini masalah besar, kata para pakar.
Sejak Mei, warga berusia 50 tahun ke atas diperbolehkan terima vaksin dengan AstraZeneca. Namun, banyak yang enggan setelah dengar kabar soal risiko besar akan kasus pembekuan darah setelah menerima vaksin itu.
Keraguan ini yang menyebabkan banyak warga lanjut usia Australia  membatalkan jadwal vaksinasi mereka atau menolak disuntik begitu tahu  bahwa itulah satu-satunya vaksin yang tersedia di klinik.
Kini, alternatifnya hanya Pfizer, yang sayangnya tidak banyak persediaannya.
Mengingat infeksi covid tergolong sangat rendah di Australia,  pemerintah meminta agar kaum muda bersabar hingga persediaan Pfizer atau  vaksin jenis mRNA lainnya tercukupi.
Sarah Martin, 36 tahun, mulai melancarkan petisi agar kaum muda  mendapat akses yang sama setelah dia mendapat vaksin di suatu klinik  yang nyaris kosong beberapa pekan lalu.
&quot;Tidak ada antrean saat itu di pusat vaksinasi massal, jadi saya  memohon untuk mendapatkannya dan saya beruntung,&quot; ujarnya. Petisi itu  memuat slogan &quot;Tidak perlu menyerobot kalau memang tidak ada antrean!&quot;  dan telah mendapat hampir 4.000 dukungan.

Bukan 'prioritas'
Lonjakan kasus yang sudah cukup mengancam di Melbourne membuat banyak  kaum muda - tanpa ada pilihan untuk divaksin - merasa rentan dan  kecewa.
Munculnya kluster penularan membuat kota terbesar kedua di Australia  itu, bersama negara bagian Victoria, menerapkan karantina wilayah atau  lockdown. Sudah empat kali karantina wilayah diterapkan sejak pandemi  tahun lalu.

Hingga kini baru 2% rakyat Australia yang divaksin. Banyak warga yang  kesal karena lagi-lagi harus terkurung di rumah saat vaksin sudah  tersedia di penjuru dunia dalam tujuh bulan terakhir.
Perasaan itu begitu kuat mendera kalangan milenial, yang rutin  membaca di media sosial bahwa teman-teman mereka di Inggris dan AS sudah  kembali beraktivitas setelah divaksin.
Aashna Pillai, 29 tahun, merasa bahwa generasinya yang dapat nomor  urut paling belakang untuk divaksinasi kian menebalkan perasaan bahwa  mereka dibiarkan tanpa dukungan.
Dia telah melakukan empat pekerjaan yang berbeda dalam setahun terakhir untuk menyambung hidup.
&quot;Generasi kami dilihatnya seperti, 'Oh, masih muda ini, pasti sembuh   dari Covid, pasti baik-baik saja', jadi kami tidak masuk dalam daftar   prioritas,&quot; ujarnya.
Namun, bagi Pillai, dengan lagi-lagi diterapkannya lockdown -   ketimbang vaksinasi sebagai jalan keluar mengatasi pandemi - sama saja   menghambat kaum muda.
Padahal, menurutnya, kebijakan yang diambil saat ini sangat   menentukan bagi kehidupan beberapa puluh tahun mendatang. Segala peluang   bisa jadi hilang - baik itu impian pindah ke luar negeri atau merasa   percaya diri untuk memulai karier baru.
&quot;Untuk hal ini, saya jadi bertanya-tanya, apakah saya memilih untuk   berkeluarga atau kembali ke universitas? Saya sudah melewatkan satu   tahun penuh dan penundaan vaksin ini menyebabkan kemunduran baru.&quot;
Ungkapan Pillai ini juga serupa dengan sejumlah pakar yang menyerukan   agar vaksinasi kini harus terbuka bagi segala usia, mengingat  rendahnya  minat warga yang lebih tua untuk divaksin. Bila dosisnya  cukup, kenapa  kaum muda masih harus menunggu, tanya mereka.

Kurangnya kejelasan
Yang membuat kaum muda Australia makin resah adalah kurangnya transparansi seputar program vaksinasi covid.
Para milenial tidak tahu kapan program vaksinasi dibuka untuk untuk mereka, atau berapa banyak dosis Pfizer yang sudah tersedia.
Di tahap ini, pemerintah Australia baru bisa menjanjikan bahwa semua   warga dewasa setidaknya sudah menerima dosis pertama vaksin di akhir   tahun ini.
Tidak sampai 20 persen rakyat Australia yang sudah menerima dosis    pertama saat ini, bandingkan dengan di AS yang sudah 67% dan 75% yang di    Inggris.
&quot;Saya terkejut akan kurangnya informasi,&quot; kata Bald. &quot;Tampaknya lebih    sering terdengar omongan dari mulut ke mulut ketimbang pemberitahuan    resmi dari pemerintah.&quot;
Kaum milenial merasa mereka dibiarkan mencari informasi lewat &quot;kabar    burung&quot; ketimbang dari sumber resmi. Dan ini sifatnya untung-untungan.
BBC telah mengonfirmasi beberapa contoh di mana lokasi-lokasi    vaksinasi memberi suntikan kepada siapa saja yang datang karena sayang    banyak dosis akan kedaluwarsa bila tidak dipakai.

Situasi seperti ini dialami oleh milenial yang bisa divaksin walau    tidak masuk daftar karena kebetulan sedang mengantar orang tua mereka    atau warga yang masuk daftar di lokasi vaksinasi.
Tarun, 31 tahun, kepada BBC mengaku tidak tahu kalau tidak    masuk daftar penerima. Tapi saat dia datang ke klinik vaksinasi, perawat    di sana tetap memberinya vaksin.
&quot;Saya pikir wajar saat petugasnya bilang, 'Karena kamu sudah di sini,    kamu bisa disuntik.' Karena pada akhirnya itu tujuan mereka bukan?&quot;    ujarnya.
&quot;Kita ingin semuanya dapat vaksin dan bila ada yang tidak datang, dan ada yang menggantikan, kita pasti akan membolehkan.&quot;
Namun aturan-aturan yang tidak jelas itu malah meresahkan banyak     warga. Ada yang khawatir tidak dapat vaksin - terutama saat muncul kabar     mereka yang sudah divaksin bakal diperbolehkan jalan-jalan.
&quot;Saya kepingin sekali dapat vaksin,&quot; kata Pillai.
&quot;Saya sudah berada di titik menentukan dalam hidup di mana saya     benar-benar dipaksa untuk berdiam diri di rumah karena tidak divaksin.
&quot;Dan kalau pemerintah bilang, saya akhirnya bisa dapat vaksin dalam     setahun - itu akan menjadi satu tahun lagi di mana saya tidak bisa     maju-maju, di mana saya mengejar ketinggalan.&quot;
</description><content:encoded>APA barang yang sedang 'hot' dan sangat dicari anak-anak muda di Australia saat ini? Bukan sepatu Yeezy atau iPhone - tapi vaksin covid-19, kalau bisa yang buatan Pfizer.
Tapi bagi kebanyakan kaum milenial, vaksin itu masih mustahil didapat sekarang dan ini yang bikin cemas, karena menyangkut masa depan mereka.
Australia sudah empat bulan menggelar program vaksinasi, namun sebagian besar warga berusia di bawah 40 tahun masih belum bisa menerimanya.
BACA JUGA: Australia Deteksi Varian Virus Covid-19 Delta
Pemerintah negeri kanguru itu masih memprioritaskan vaksinasi untuk kaum usia lanjut maupun yang rentan.
Prosesnya pun tidak mulus, terhalang oleh masalah persediaan, pengiriman yang tidak tepat waktu dan juga kekhawatiran akan vaksin AstraZeneca.
Awal pekan ini di Sydney, BBC memantau antrean panjang di luar pusat vaksinasi yang tampaknya diikuti banyak kalangan milenial, berusia antara 25 hingga 40 tahun.
Sebagian dari kelompok usia itu bisa dapat vaksin karena mereka masuk daftar &quot;petugas garis depan.&quot; Mereka mendapat keistimewaan untuk lebih dulu divaksin.
Julia Bald, seorang penulis musik berusia 28 tahun, melangkah keluar dari klinik dengan rasa senang setelah disuntik.
&quot;Saya pikir semua orang lagi mati-matian untuk mendapatkannya,&quot; kata dia kepada BBC, dengan merujuk kepada teman-temannya.
BACA JUGA: Australia Capai Rekor Jumlah Vaksinasi Covid-19
&quot;Kamu tahu nggak meme yang klasik itu?&quot; ujarnya merujuk pada kutipan dari komedian Eric Andre saat berupaya menerobos pagar. &quot;Semua orang seperti: Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk dong! Saya kepingin dapat sekarang!&quot;

Kebalikan dari rasa puas diri
Bagi banyak kaum milenial, vaksin dianggap pelindung bagi orang tua mereka, memungkinkan mereka untuk jalan-jalan dan langkah menuju normal baru.
Antusiasme banyak orang muda Australia ternyata sangat berkebalikan dengan generasi orang tua mereka - justru banyak yang masih ragu-ragu untuk divaksin dan ini masalah besar, kata para pakar.
Sejak Mei, warga berusia 50 tahun ke atas diperbolehkan terima vaksin dengan AstraZeneca. Namun, banyak yang enggan setelah dengar kabar soal risiko besar akan kasus pembekuan darah setelah menerima vaksin itu.
Keraguan ini yang menyebabkan banyak warga lanjut usia Australia  membatalkan jadwal vaksinasi mereka atau menolak disuntik begitu tahu  bahwa itulah satu-satunya vaksin yang tersedia di klinik.
Kini, alternatifnya hanya Pfizer, yang sayangnya tidak banyak persediaannya.
Mengingat infeksi covid tergolong sangat rendah di Australia,  pemerintah meminta agar kaum muda bersabar hingga persediaan Pfizer atau  vaksin jenis mRNA lainnya tercukupi.
Sarah Martin, 36 tahun, mulai melancarkan petisi agar kaum muda  mendapat akses yang sama setelah dia mendapat vaksin di suatu klinik  yang nyaris kosong beberapa pekan lalu.
&quot;Tidak ada antrean saat itu di pusat vaksinasi massal, jadi saya  memohon untuk mendapatkannya dan saya beruntung,&quot; ujarnya. Petisi itu  memuat slogan &quot;Tidak perlu menyerobot kalau memang tidak ada antrean!&quot;  dan telah mendapat hampir 4.000 dukungan.

Bukan 'prioritas'
Lonjakan kasus yang sudah cukup mengancam di Melbourne membuat banyak  kaum muda - tanpa ada pilihan untuk divaksin - merasa rentan dan  kecewa.
Munculnya kluster penularan membuat kota terbesar kedua di Australia  itu, bersama negara bagian Victoria, menerapkan karantina wilayah atau  lockdown. Sudah empat kali karantina wilayah diterapkan sejak pandemi  tahun lalu.

Hingga kini baru 2% rakyat Australia yang divaksin. Banyak warga yang  kesal karena lagi-lagi harus terkurung di rumah saat vaksin sudah  tersedia di penjuru dunia dalam tujuh bulan terakhir.
Perasaan itu begitu kuat mendera kalangan milenial, yang rutin  membaca di media sosial bahwa teman-teman mereka di Inggris dan AS sudah  kembali beraktivitas setelah divaksin.
Aashna Pillai, 29 tahun, merasa bahwa generasinya yang dapat nomor  urut paling belakang untuk divaksinasi kian menebalkan perasaan bahwa  mereka dibiarkan tanpa dukungan.
Dia telah melakukan empat pekerjaan yang berbeda dalam setahun terakhir untuk menyambung hidup.
&quot;Generasi kami dilihatnya seperti, 'Oh, masih muda ini, pasti sembuh   dari Covid, pasti baik-baik saja', jadi kami tidak masuk dalam daftar   prioritas,&quot; ujarnya.
Namun, bagi Pillai, dengan lagi-lagi diterapkannya lockdown -   ketimbang vaksinasi sebagai jalan keluar mengatasi pandemi - sama saja   menghambat kaum muda.
Padahal, menurutnya, kebijakan yang diambil saat ini sangat   menentukan bagi kehidupan beberapa puluh tahun mendatang. Segala peluang   bisa jadi hilang - baik itu impian pindah ke luar negeri atau merasa   percaya diri untuk memulai karier baru.
&quot;Untuk hal ini, saya jadi bertanya-tanya, apakah saya memilih untuk   berkeluarga atau kembali ke universitas? Saya sudah melewatkan satu   tahun penuh dan penundaan vaksin ini menyebabkan kemunduran baru.&quot;
Ungkapan Pillai ini juga serupa dengan sejumlah pakar yang menyerukan   agar vaksinasi kini harus terbuka bagi segala usia, mengingat  rendahnya  minat warga yang lebih tua untuk divaksin. Bila dosisnya  cukup, kenapa  kaum muda masih harus menunggu, tanya mereka.

Kurangnya kejelasan
Yang membuat kaum muda Australia makin resah adalah kurangnya transparansi seputar program vaksinasi covid.
Para milenial tidak tahu kapan program vaksinasi dibuka untuk untuk mereka, atau berapa banyak dosis Pfizer yang sudah tersedia.
Di tahap ini, pemerintah Australia baru bisa menjanjikan bahwa semua   warga dewasa setidaknya sudah menerima dosis pertama vaksin di akhir   tahun ini.
Tidak sampai 20 persen rakyat Australia yang sudah menerima dosis    pertama saat ini, bandingkan dengan di AS yang sudah 67% dan 75% yang di    Inggris.
&quot;Saya terkejut akan kurangnya informasi,&quot; kata Bald. &quot;Tampaknya lebih    sering terdengar omongan dari mulut ke mulut ketimbang pemberitahuan    resmi dari pemerintah.&quot;
Kaum milenial merasa mereka dibiarkan mencari informasi lewat &quot;kabar    burung&quot; ketimbang dari sumber resmi. Dan ini sifatnya untung-untungan.
BBC telah mengonfirmasi beberapa contoh di mana lokasi-lokasi    vaksinasi memberi suntikan kepada siapa saja yang datang karena sayang    banyak dosis akan kedaluwarsa bila tidak dipakai.

Situasi seperti ini dialami oleh milenial yang bisa divaksin walau    tidak masuk daftar karena kebetulan sedang mengantar orang tua mereka    atau warga yang masuk daftar di lokasi vaksinasi.
Tarun, 31 tahun, kepada BBC mengaku tidak tahu kalau tidak    masuk daftar penerima. Tapi saat dia datang ke klinik vaksinasi, perawat    di sana tetap memberinya vaksin.
&quot;Saya pikir wajar saat petugasnya bilang, 'Karena kamu sudah di sini,    kamu bisa disuntik.' Karena pada akhirnya itu tujuan mereka bukan?&quot;    ujarnya.
&quot;Kita ingin semuanya dapat vaksin dan bila ada yang tidak datang, dan ada yang menggantikan, kita pasti akan membolehkan.&quot;
Namun aturan-aturan yang tidak jelas itu malah meresahkan banyak     warga. Ada yang khawatir tidak dapat vaksin - terutama saat muncul kabar     mereka yang sudah divaksin bakal diperbolehkan jalan-jalan.
&quot;Saya kepingin sekali dapat vaksin,&quot; kata Pillai.
&quot;Saya sudah berada di titik menentukan dalam hidup di mana saya     benar-benar dipaksa untuk berdiam diri di rumah karena tidak divaksin.
&quot;Dan kalau pemerintah bilang, saya akhirnya bisa dapat vaksin dalam     setahun - itu akan menjadi satu tahun lagi di mana saya tidak bisa     maju-maju, di mana saya mengejar ketinggalan.&quot;
</content:encoded></item></channel></rss>
