<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Junta Myanmar Bela Langkah Tanggapan Krisisnya di Tengah Kritik ASEAN</title><description>Pemimpin ASEAN mengkritik kemajuan yang lambat dari proposal Myanmar untuk mengakhiri kekacauan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/08/18/2421974/junta-myanmar-bela-langkah-tanggapan-krisisnya-di-tengah-kritik-asean</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/08/18/2421974/junta-myanmar-bela-langkah-tanggapan-krisisnya-di-tengah-kritik-asean"/><item><title>Junta Myanmar Bela Langkah Tanggapan Krisisnya di Tengah Kritik ASEAN</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/08/18/2421974/junta-myanmar-bela-langkah-tanggapan-krisisnya-di-tengah-kritik-asean</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/08/18/2421974/junta-myanmar-bela-langkah-tanggapan-krisisnya-di-tengah-kritik-asean</guid><pubDate>Selasa 08 Juni 2021 16:01 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/08/18/2421974/junta-myanmar-bela-langkah-tanggapan-krisisnya-di-tengah-kritik-asean-WKP0OiqIWE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/08/18/2421974/junta-myanmar-bela-langkah-tanggapan-krisisnya-di-tengah-kritik-asean-WKP0OiqIWE.jpg</image><title>Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. (Foto: Reuters)</title></images><description>NAYPYIDAW - Menteri luar negeri junta Myanmar, Wunna Maung Lwin, membela langkah yang akan diambil junta untuk memulihkan demokrasi di negara itu, demikian dilaporkan media pemerintah, Selasa (8/6/2021).
Sikap tersebut ditegaskan setelah pertemuan, yang di dalamnya negara-negara lain anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menekan junta untuk menerapkan perjanjian regional yang dimaksudkan untuk mengakhiri krisis.
BACA JUGA: Indonesia Desak ASEAN Segera Tunjuk Utusan untuk Mediasi di Myanmar
Junta tidak terlalu mengindahkan tuntutan dari ASEAN untuk menghormati &quot;konsensus&quot; yang disepakati pada akhir April 2021 untuk mengakhiri kekerasan dan junta mengadakan pembicaraan politik dengan lawan-lawannya.
Para menteri luar negeri ASEAN menyatakan kekecewaannya pada pertemuan di China pada Senin (7/6/2021) atas kemajuan &quot;sangat lambat&quot; yang dibuat oleh Myanmar pada proposalnya untuk mengakhiri kekacauan sejak tentara menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.
Media pemerintah mengutip Wunna Maung Lwin, menteri luar negeri yang ditunjuk junta, yang mengatakan pada pertemuan para menteri luar negeri ASEAN-China bahwa militer telah membuat kemajuan pada peta jalan lima langkah yang dibuat oleh junta untuk Myanmar. Peta itu diungkapkan oleh militer setelah melakukan kudeta.
BACA JUGA: ASEAN Ingin Batalkan Seruan PBB Embargo Senjata Myanmar
&quot;Menteri (Wunna Maung Lwin) memberi tahu pertemuan (ASEAN-China) itu bahwa satu-satunya cara untuk memastikan sistem demokrasi yang disiplin dan murni adalah melalui lima poin program masa depan yang dideklarasikan pada Februari,&quot; kata surat kabar Global New Light of Myanmar.
Maung Lwin mengatakan bahwa sebagian besar dari poin-poin itu telah dipenuhi, termasuk langkah-langkah pencegahan COVID-19 dan pembentukan komisi pemilihan baru untuk dugaan penipuan selama pemilihan umum pada November 2020 --yang dimenangkan oleh partai Suu Kyi, menurut surat kabar itu.

Pihak militer membela aksinya dalam merebut kekuasaan, setelah satu  dekade langkah tentatif Myanmar menuju demokrasi, dengan mengatakan  komisi pemilihan umum yang lama telah mengabaikan pengaduannya tentang  kecurangan pemilu.
Junta telah gagal menerapkan kontrol sejak menggulingkan pemerintahan  sipil Suu Kyi, yang berada di antara lebih dari 4.500 orang yang  ditahan sejak kudeta.
Pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 849 pengunjuk  rasa, kata sebuah kelompok hak asasi manusia, meskipun tentara membantah  angka itu. Selain itu, aksi pemberontakan berkobar di beberapa daerah  di Myanmar.
Khawatir dengan gejolak tersebut, beberapa anggota ASEAN telah  menyerukan pembebasan tahanan politik, pengakhiran kekerasan dan agar  pihak-pihak yang bersengketa politik di Myanmar mengadakan pembicaraan  untuk mengakhiri krisis. Seruan itu tercermin dalam konsensus ASEAN.
Namun, dalam satu-satunya referensi untuk proposal ASEAN, menteri  Myanmar yang dikutip oleh media mengatakan bahwa &quot;diskusi dilakukan  dengan ramah&quot; selama kunjungan pekan lalu oleh dua utusan ASEAN, yang  juga menyerukan pembebasan tahanan politik.
Para penentang junta telah menunjukkan rasa frustrasi yang meningkat  pada ketidakmampuan ASEAN untuk menekan junta dan kegagalan perhimpunan  regional itu untuk melibatkan para pemangku kepentingan politik lainnya,  terutama dari pemerintah sipil Myanmar yang digulingkan. Sementara,  pihak junta telah mencap lawan-lawan politiknya sebagai &quot;teroris&quot;.
Surat kabar milik pemerintah China Global Times mengutip   pemimpin junta Min Aung Hlaing yang mengatakan kepada duta besar China   bahwa Myanmar bersedia mengoordinasikan pelaksanaan konsensus.
Setelah pertemuan ASEAN-China pada Senin, Menteri Luar Negeri   Indonesia Retno Marsudi mengatakan bantuan China akan &quot;sangat dihargai   karena bantuan itu akan berkontribusi untuk mencapai solusi damai&quot;.
Sebuah pemerintahan bayangan yang dibentuk oleh penentang anti kudeta   mengkritik kedutaan besar China di Myanmar karena menyebut kepala  junta  sebagai &quot;pemimpin&quot; Myanmar dalam sebuah unggahan di situsnya.
</description><content:encoded>NAYPYIDAW - Menteri luar negeri junta Myanmar, Wunna Maung Lwin, membela langkah yang akan diambil junta untuk memulihkan demokrasi di negara itu, demikian dilaporkan media pemerintah, Selasa (8/6/2021).
Sikap tersebut ditegaskan setelah pertemuan, yang di dalamnya negara-negara lain anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menekan junta untuk menerapkan perjanjian regional yang dimaksudkan untuk mengakhiri krisis.
BACA JUGA: Indonesia Desak ASEAN Segera Tunjuk Utusan untuk Mediasi di Myanmar
Junta tidak terlalu mengindahkan tuntutan dari ASEAN untuk menghormati &quot;konsensus&quot; yang disepakati pada akhir April 2021 untuk mengakhiri kekerasan dan junta mengadakan pembicaraan politik dengan lawan-lawannya.
Para menteri luar negeri ASEAN menyatakan kekecewaannya pada pertemuan di China pada Senin (7/6/2021) atas kemajuan &quot;sangat lambat&quot; yang dibuat oleh Myanmar pada proposalnya untuk mengakhiri kekacauan sejak tentara menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.
Media pemerintah mengutip Wunna Maung Lwin, menteri luar negeri yang ditunjuk junta, yang mengatakan pada pertemuan para menteri luar negeri ASEAN-China bahwa militer telah membuat kemajuan pada peta jalan lima langkah yang dibuat oleh junta untuk Myanmar. Peta itu diungkapkan oleh militer setelah melakukan kudeta.
BACA JUGA: ASEAN Ingin Batalkan Seruan PBB Embargo Senjata Myanmar
&quot;Menteri (Wunna Maung Lwin) memberi tahu pertemuan (ASEAN-China) itu bahwa satu-satunya cara untuk memastikan sistem demokrasi yang disiplin dan murni adalah melalui lima poin program masa depan yang dideklarasikan pada Februari,&quot; kata surat kabar Global New Light of Myanmar.
Maung Lwin mengatakan bahwa sebagian besar dari poin-poin itu telah dipenuhi, termasuk langkah-langkah pencegahan COVID-19 dan pembentukan komisi pemilihan baru untuk dugaan penipuan selama pemilihan umum pada November 2020 --yang dimenangkan oleh partai Suu Kyi, menurut surat kabar itu.

Pihak militer membela aksinya dalam merebut kekuasaan, setelah satu  dekade langkah tentatif Myanmar menuju demokrasi, dengan mengatakan  komisi pemilihan umum yang lama telah mengabaikan pengaduannya tentang  kecurangan pemilu.
Junta telah gagal menerapkan kontrol sejak menggulingkan pemerintahan  sipil Suu Kyi, yang berada di antara lebih dari 4.500 orang yang  ditahan sejak kudeta.
Pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 849 pengunjuk  rasa, kata sebuah kelompok hak asasi manusia, meskipun tentara membantah  angka itu. Selain itu, aksi pemberontakan berkobar di beberapa daerah  di Myanmar.
Khawatir dengan gejolak tersebut, beberapa anggota ASEAN telah  menyerukan pembebasan tahanan politik, pengakhiran kekerasan dan agar  pihak-pihak yang bersengketa politik di Myanmar mengadakan pembicaraan  untuk mengakhiri krisis. Seruan itu tercermin dalam konsensus ASEAN.
Namun, dalam satu-satunya referensi untuk proposal ASEAN, menteri  Myanmar yang dikutip oleh media mengatakan bahwa &quot;diskusi dilakukan  dengan ramah&quot; selama kunjungan pekan lalu oleh dua utusan ASEAN, yang  juga menyerukan pembebasan tahanan politik.
Para penentang junta telah menunjukkan rasa frustrasi yang meningkat  pada ketidakmampuan ASEAN untuk menekan junta dan kegagalan perhimpunan  regional itu untuk melibatkan para pemangku kepentingan politik lainnya,  terutama dari pemerintah sipil Myanmar yang digulingkan. Sementara,  pihak junta telah mencap lawan-lawan politiknya sebagai &quot;teroris&quot;.
Surat kabar milik pemerintah China Global Times mengutip   pemimpin junta Min Aung Hlaing yang mengatakan kepada duta besar China   bahwa Myanmar bersedia mengoordinasikan pelaksanaan konsensus.
Setelah pertemuan ASEAN-China pada Senin, Menteri Luar Negeri   Indonesia Retno Marsudi mengatakan bantuan China akan &quot;sangat dihargai   karena bantuan itu akan berkontribusi untuk mencapai solusi damai&quot;.
Sebuah pemerintahan bayangan yang dibentuk oleh penentang anti kudeta   mengkritik kedutaan besar China di Myanmar karena menyebut kepala  junta  sebagai &quot;pemimpin&quot; Myanmar dalam sebuah unggahan di situsnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
