<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Panembahan Senapati Bertemu Ratu Pantai Selatan Ketahuan Manusia</title><description>Menurut legenda pada suatu ketika Panembahan Senapati sedang duduk bersama-sama dengan Penguasa Laut Selatan</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422796/kisah-panembahan-senapati-bertemu-ratu-pantai-selatan-ketahuan-manusia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422796/kisah-panembahan-senapati-bertemu-ratu-pantai-selatan-ketahuan-manusia"/><item><title>Kisah Panembahan Senapati Bertemu Ratu Pantai Selatan Ketahuan Manusia</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422796/kisah-panembahan-senapati-bertemu-ratu-pantai-selatan-ketahuan-manusia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422796/kisah-panembahan-senapati-bertemu-ratu-pantai-selatan-ketahuan-manusia</guid><pubDate>Kamis 10 Juni 2021 07:09 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/10/337/2422796/kisah-panembahan-senapati-bertemu-ratu-pantai-selatan-ketahuan-manusia-nZDIV42Pa3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/10/337/2422796/kisah-panembahan-senapati-bertemu-ratu-pantai-selatan-ketahuan-manusia-nZDIV42Pa3.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>WONOGIRI - Dlepih sebuah desa di kecamatan Tirtomoyo, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di desa itu terdapat bukit yang bermata air yang disebut Pasiraman Kahyangan.

&quot;Menurut legenda tempat ini merupakan pertemuan Panembahan Senapati, raja Mataram I dengan Ratu Penguasa Laut Selatan ( Ratu Kidul )&quot;,kata budayawan jawa, Kp.Norman Hadinegoro.

Menurut legenda pada suatu ketika Panembahan Senapati sedang duduk bersama-sama dengan Penguasa Laut Selatan, sekonyong-konyong datang seorang pembantu, Nyai Puju yang akan menyajikan sesuatu yang menjadi keperluan Sang Panembahan.

Dengan kedatangan Nyai Puju tersebut Penguasa Laut Selatan menjadi sadar, bahwa pertemuannya dengan Penembahan Senapati sudah diketahui oleh seseorang manusia ( kamanungsan ). Penguasa Laut Selatan cepat-cepat menghindar sambil menarik tangan Penembahan Senapati.

Tersambarlah tasbih Sang Panembahan yang masih berada dalam genggamannya, tali tasbih terputus dan manik-manik anak tasbih berhamburan jatuh ke dalam Kedung Pasiraman.

Serta merta Kanjeng Ratu Kidul berujar, &amp;ldquo; Barangsiapa dapat menemukan manik-manik anak tasbih yang terendam di Pasiraman Dlepih, dialah yang benar-benar akan mendapatkan untung besar ( begja kemayangan-bahasa jawa ), karena anak tasbih Penembahan Senapati merupakan manik-manik yang bertuah bagi penggunanya&amp;rdquo;.

&quot;Dari kata-kata begja kemayangan akhirnya berubah menjadi kayangan, dan lebih terkenal lagi adalah Kayangan Dlepih,&quot;ucapnya.

Serangkain dengan legenda tentang terjadinya Kayangan Dlepih, maka manik-manik tasbih Panembahan Senapati yang berada di dalam Kedung Pasiraman dipercaya sebagai batu-batu mulia yang memiliki khasiat, di antaranya : khasiat batu mulia dapat untuk menyembuhkan penyakit,  penangkal bahaya, dan menambah kewibawaan.

Batu mulia yang bermula dari manik-manik anak tasbih yang terendam  dalam kedung itu ternyata menjadi bertambah jumlahnya, menyebar sampai  di luar Kedung Pasiraman.

Bentuk dan warnanya batu mulia pun bermacam-macam, bentuk bulat  tengah berlubang seperti bentuk anak tasbih disebut batu mulia Walirang  Bang.

&quot;Jenis batu mulia ini di percaya berasal dari tumpahan anak tasbih  Panembahan Senapati, oleh karena itu banyak diminati dan  dicari,&quot;ujarnya.

Bentuk bundar dengan warna putih mengkilat disebut Manik Tirta atau Manik Toya,

Bentuk bundar dengan warna kebiru-biruan disebut Nila Pakaja, bentuk bundar dengan warna kehijau-hijauan disebut Manik Ringin.

Bentuk bundar dengan warna ungu disebut Manik Mlaka, sedangkan bentuk  bundar dengan warna kehitam-hitaman di sebut Manik Bonglot.

Untuk memasuki kawasan Kayangan Dlepih dari arah utara ke selatan  akan di jumpai beberapa petilasan yang&quot;&quot; sarwa sela&quot;-bahasa jawa,artinya  &amp;ldquo; serba batu &amp;ldquo; .

Sela Bethek, petilasan berupa batu besar yang pada bagian atasnya  berbentuk seperti atap dapat untuk berteduh. Sekelilingnya berpagar  bethek, anyaman bilah bambu.

Kekhususan petilasan sela bethek, tempat itu dipercaya sebagai tempat  tinggal Nyai Puju beserta keturunannya yang ditugasi oleh Panembahan  Senapati untuk menjaga Kayangan Dlepih.

Kemudian tempat itu menjadi pusat penempatan sesaji raja-raja trah  Mataram juga di situ sehingga tempat itu disebut juga Sela Pacaosan.

Sela Gapit, berupa dua buah batu besar yang pada bagaian atasnya  saling bersentuhan ( gathuk tetangkepan ) sehingga juga disebut Sela  Penangkep. Jika dilihat dari arah utara, bentuknya seperti gapura.

&quot;Sela Payung, berbentuk batu sangat besar yang pada bagian atasnya  manglung &amp;ldquo; melelai &amp;ldquo; ke tepian kali menyerupai payung. Petilasan ini  dipercaya sangat keramat,&quot;ungkapnya.

Pada zaman dahulu tempat itu menjadi semadi Panembahan Senapati, oleh karena itu tempat ini disebut juga Sela Pasemeder.

Ada kepercayaan bahwa di Sela Pasemeden tersebut sebagai tempat diterimanya Wahyu Kraton Mataram. Setelah berhasil mendirikan kerajaan Mataram, Penembahan Senapati  pada waktu-waktu tertentu masih datang bersemadi di Sela Pameden.

&quot;Untuk waktu-waktu kemudian Sela Payung digunakan untuk menempatkan Perangkat Pelabuhan,&quot;ucapnya.

Sela Gilang, bagian petilasan Kayangan Dlepih yang dianggap paling  keramat, berupa batu pipih mendatar yang mempunyai kekhususan tertentu,  yaitu dulu sebagi tempat bersujud Panembahan Senapati, disebut juga Sela  Pasujudan.

Konon menurut legenda Sela Gilang menjadi tempat pertemuan Panembahan  Senapati dengan Penguasa Laut selatan ( Kanjeng Ratu Kidul ).

&quot;Menjadi tempat Panembahan Senapati menenteramkan hati ( ngenggar-ngenggar penggalih -bahasa jawa),&quot;katanya.

Kayangan Dlepih ini,sampai sekarang masih dipergunakan masyarakat  untuk tirakat dan olah batin serta napak tilas Sang Panembahan.</description><content:encoded>WONOGIRI - Dlepih sebuah desa di kecamatan Tirtomoyo, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di desa itu terdapat bukit yang bermata air yang disebut Pasiraman Kahyangan.

&quot;Menurut legenda tempat ini merupakan pertemuan Panembahan Senapati, raja Mataram I dengan Ratu Penguasa Laut Selatan ( Ratu Kidul )&quot;,kata budayawan jawa, Kp.Norman Hadinegoro.

Menurut legenda pada suatu ketika Panembahan Senapati sedang duduk bersama-sama dengan Penguasa Laut Selatan, sekonyong-konyong datang seorang pembantu, Nyai Puju yang akan menyajikan sesuatu yang menjadi keperluan Sang Panembahan.

Dengan kedatangan Nyai Puju tersebut Penguasa Laut Selatan menjadi sadar, bahwa pertemuannya dengan Penembahan Senapati sudah diketahui oleh seseorang manusia ( kamanungsan ). Penguasa Laut Selatan cepat-cepat menghindar sambil menarik tangan Penembahan Senapati.

Tersambarlah tasbih Sang Panembahan yang masih berada dalam genggamannya, tali tasbih terputus dan manik-manik anak tasbih berhamburan jatuh ke dalam Kedung Pasiraman.

Serta merta Kanjeng Ratu Kidul berujar, &amp;ldquo; Barangsiapa dapat menemukan manik-manik anak tasbih yang terendam di Pasiraman Dlepih, dialah yang benar-benar akan mendapatkan untung besar ( begja kemayangan-bahasa jawa ), karena anak tasbih Penembahan Senapati merupakan manik-manik yang bertuah bagi penggunanya&amp;rdquo;.

&quot;Dari kata-kata begja kemayangan akhirnya berubah menjadi kayangan, dan lebih terkenal lagi adalah Kayangan Dlepih,&quot;ucapnya.

Serangkain dengan legenda tentang terjadinya Kayangan Dlepih, maka manik-manik tasbih Panembahan Senapati yang berada di dalam Kedung Pasiraman dipercaya sebagai batu-batu mulia yang memiliki khasiat, di antaranya : khasiat batu mulia dapat untuk menyembuhkan penyakit,  penangkal bahaya, dan menambah kewibawaan.

Batu mulia yang bermula dari manik-manik anak tasbih yang terendam  dalam kedung itu ternyata menjadi bertambah jumlahnya, menyebar sampai  di luar Kedung Pasiraman.

Bentuk dan warnanya batu mulia pun bermacam-macam, bentuk bulat  tengah berlubang seperti bentuk anak tasbih disebut batu mulia Walirang  Bang.

&quot;Jenis batu mulia ini di percaya berasal dari tumpahan anak tasbih  Panembahan Senapati, oleh karena itu banyak diminati dan  dicari,&quot;ujarnya.

Bentuk bundar dengan warna putih mengkilat disebut Manik Tirta atau Manik Toya,

Bentuk bundar dengan warna kebiru-biruan disebut Nila Pakaja, bentuk bundar dengan warna kehijau-hijauan disebut Manik Ringin.

Bentuk bundar dengan warna ungu disebut Manik Mlaka, sedangkan bentuk  bundar dengan warna kehitam-hitaman di sebut Manik Bonglot.

Untuk memasuki kawasan Kayangan Dlepih dari arah utara ke selatan  akan di jumpai beberapa petilasan yang&quot;&quot; sarwa sela&quot;-bahasa jawa,artinya  &amp;ldquo; serba batu &amp;ldquo; .

Sela Bethek, petilasan berupa batu besar yang pada bagian atasnya  berbentuk seperti atap dapat untuk berteduh. Sekelilingnya berpagar  bethek, anyaman bilah bambu.

Kekhususan petilasan sela bethek, tempat itu dipercaya sebagai tempat  tinggal Nyai Puju beserta keturunannya yang ditugasi oleh Panembahan  Senapati untuk menjaga Kayangan Dlepih.

Kemudian tempat itu menjadi pusat penempatan sesaji raja-raja trah  Mataram juga di situ sehingga tempat itu disebut juga Sela Pacaosan.

Sela Gapit, berupa dua buah batu besar yang pada bagaian atasnya  saling bersentuhan ( gathuk tetangkepan ) sehingga juga disebut Sela  Penangkep. Jika dilihat dari arah utara, bentuknya seperti gapura.

&quot;Sela Payung, berbentuk batu sangat besar yang pada bagian atasnya  manglung &amp;ldquo; melelai &amp;ldquo; ke tepian kali menyerupai payung. Petilasan ini  dipercaya sangat keramat,&quot;ungkapnya.

Pada zaman dahulu tempat itu menjadi semadi Panembahan Senapati, oleh karena itu tempat ini disebut juga Sela Pasemeder.

Ada kepercayaan bahwa di Sela Pasemeden tersebut sebagai tempat diterimanya Wahyu Kraton Mataram. Setelah berhasil mendirikan kerajaan Mataram, Penembahan Senapati  pada waktu-waktu tertentu masih datang bersemadi di Sela Pameden.

&quot;Untuk waktu-waktu kemudian Sela Payung digunakan untuk menempatkan Perangkat Pelabuhan,&quot;ucapnya.

Sela Gilang, bagian petilasan Kayangan Dlepih yang dianggap paling  keramat, berupa batu pipih mendatar yang mempunyai kekhususan tertentu,  yaitu dulu sebagi tempat bersujud Panembahan Senapati, disebut juga Sela  Pasujudan.

Konon menurut legenda Sela Gilang menjadi tempat pertemuan Panembahan  Senapati dengan Penguasa Laut selatan ( Kanjeng Ratu Kidul ).

&quot;Menjadi tempat Panembahan Senapati menenteramkan hati ( ngenggar-ngenggar penggalih -bahasa jawa),&quot;katanya.

Kayangan Dlepih ini,sampai sekarang masih dipergunakan masyarakat  untuk tirakat dan olah batin serta napak tilas Sang Panembahan.</content:encoded></item></channel></rss>
