<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Tiga Istri Bhrawijaya V Cantik Jelita yang Melahirkan Raja-raja Jawa   </title><description>DALAM Negarakretagama diceritakan, Raja Majapahit, Ratu Suhita wafat pada 1447. Lantaran Ratu Suhita tidak tidak dikaruniai anak</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422802/kisah-tiga-istri-bhrawijaya-v-cantik-jelita-yang-melahirkan-raja-raja-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422802/kisah-tiga-istri-bhrawijaya-v-cantik-jelita-yang-melahirkan-raja-raja-jawa"/><item><title>Kisah Tiga Istri Bhrawijaya V Cantik Jelita yang Melahirkan Raja-raja Jawa   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422802/kisah-tiga-istri-bhrawijaya-v-cantik-jelita-yang-melahirkan-raja-raja-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/10/337/2422802/kisah-tiga-istri-bhrawijaya-v-cantik-jelita-yang-melahirkan-raja-raja-jawa</guid><pubDate>Kamis 10 Juni 2021 07:30 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/10/337/2422802/kisah-tiga-istri-bhrawijaya-v-cantik-jelita-yang-melahirkan-raja-raja-jawa-LnBXLwMZLK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Majapahit.(Foto:Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/10/337/2422802/kisah-tiga-istri-bhrawijaya-v-cantik-jelita-yang-melahirkan-raja-raja-jawa-LnBXLwMZLK.jpg</image><title>Raja Majapahit.(Foto:Dok Okezone)</title></images><description>DALAM Negarakretagama diceritakan, Raja Majapahit, Ratu Suhita wafat pada 1447. Lantaran Ratu Suhita tidak tidak dikaruniai anak, maka yang dinobatkan sebagai penguasa Majapahit berikutnya adalah Kertawijaya (1447-1451).
Kertawijaya, adik bungsu Ratu Suhita, adalah Raja Majapahit yang mulai memakai nama Brawijaya sebagai pengingat akan pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya.
Lalu muncul nama Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V (1468 -1478), sosok yang diyakini sebagai raja terakhir Majapahit.
Istilah &quot;Brawijaya&quot; baru muncul dalam karya-karya sastra berbentuk babad  dan serat yang ditulis kemudian, seperti Babad Tanah Jawu, Serat Kandha, dan Serat Darmogandul, serta sumber cerita rakyat.
Bhre Kertabumi memiliki 3 (tiga) istri cantik jelita  yang menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa.
Baca Juga: Cerita Raja Majapahit Menikahi Abdi Dalem Istana, Supaya Sembuh dari 'Raja Singa'
Satu diantara istrinya dikenal dengan nama puteri Champa. Nama aslinya adalah Amaravati, putri Raja Kauthara negara bagian Champa. Ayahnya berdarah Cina, yakni Bong Tak Keng sedangkan ibunya adalah putri Maharaja Champa, Raja Indravarman VI, asli etnis Champa (Indochina).
Karena berasal dari Champa, Amaravati dikenal rakyat Majapahit dengan sebutan &quot;Putri Cempo&quot; (ejaan Jawa). Ia menjadi permaisuri Bhre Kertabhumi saat masih menjadi Raja Keling, negara bagian Majapahit dengan nama Jawa &quot;Dewi Amarawati&quot;.
Dewi Amarawati adalah adik Chandravati, ibunda Sunan Ampel (pendiri Majelis Walisongo berdarah China-Champa). Dengan demikian, Sunan Ampel adalah keponakan Dewi Amarawati, istri permaisuri Bhre Kertabhumi.Putri Campa ini melahirkan bayi perempuan bernama Retno Pembayun atau  dikenali dengan nama Putri Pembayun. Putri Brawijaya 5 dari Dewi  Amarawati ini diambil istri oleh Pangeran Andayaningrat, penguasa  Pengging yang dikenal Ki Ageng Pengging sepuh.
Pernikahan keduanya melahirkan Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging), ayah  Mas Karebet atau Joko Tingkir. Putra Kebo Kenongo inilah yang berhasil  mendirikan Kasultanan Pajang, setelah menikahi Ratu Mas Cempaka putri  bungsu Sultan Trenggono Raja Demak. Ia juga mengalahkan Adipati Jipang  Panolan, Arya Penangsang.
Putri Cempo adalah nenek buyut Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya.  Istri beriikutnya adalah  Siu Ban Ci atau catatan lain menyebut Tan Eng  Kian, putri dari Tan Go Hwat dari negeri Cina. Ia adalah putri seorang  pedagang sekaligus ulama etnis Tionghoa yang dikenal dengan sebutan  Syekh Bentong.
Syekh Bentong adalah putra Syekh Quro ulama yang menyebarkan agama  Islam di Tanah Sunda. Sementara Syekh Quro adalah putra Syekh Yusuf  Siddik bin Syekh Jamaluddin Akbar al Husain.
Setelah diambil sebagai istri selir Bhre Kertabhumi yang waktu itu  masih menjadi Raja Keling Majapahit, Siu Ban Ci atau Tan Eng Kian  dikenal masyarakat Majapahit dengan sebutan &quot;Putri Cina.&quot;
Siu Ban Ci adalah ibunda Raden Patah, pendiri Kasultanan Demak  Bintoro. Putri Cina ini adalah leluhur perempuan dari Raja-raja di  Kasultanan Demak Bintoro.
Istri lainnya adalah selir bernama Dewi Wandan Kuning. Nama aslinya  Bondrit Cemara, seorang pelayan istana asal daerah Wandhan, Sulawesi. Ia  diambil istri selir Bhre Kertabhumi karena wangsit yang diterima saat  sakit sipilis atau raja singa.
Dalam meditasinya, ia mendapatkan pawisik jika ingin sembuh, ia harus  menikahi seorang pelayan wanita berdarah Wandhan. Perempuan itu harus  menjadi istri Bhre Kertabhumi yang terakhir.
Bhre Kertabhumi sembuh setelah menikahi Bondrit Cemara. Ia kemudian  dikenal sebagai Wandhan Kuning yang melahirkan Raden Bondan Kejawan.
Bondan Kejawan dititipkan Akuwu ring Tarub yang dikenal dengan Ki  Ageng Tarub (Joko Tarub). Putra Bhre Kertabhumi itu selanjutnya menikah  dengan Dewi Nawangsih, putri Joko Tarub dari istrinya, Dewi Nawang  Wulan.
Bondan Kejawan lantas memiliki anak bernama Getas Pendawa, Getas  Pendhawa berputra Ki Ageng Selo berputra Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng  Pamanahan berputra Panembahan Senopati, raja Mataram pertama.
Dewi Bondrit Cemara merupakan leluhur perempuan dari orang-orang Sela  yang selanjutnya menurunkan Panembahan Senopati, pendiri kerajaan   Mataram.</description><content:encoded>DALAM Negarakretagama diceritakan, Raja Majapahit, Ratu Suhita wafat pada 1447. Lantaran Ratu Suhita tidak tidak dikaruniai anak, maka yang dinobatkan sebagai penguasa Majapahit berikutnya adalah Kertawijaya (1447-1451).
Kertawijaya, adik bungsu Ratu Suhita, adalah Raja Majapahit yang mulai memakai nama Brawijaya sebagai pengingat akan pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya.
Lalu muncul nama Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V (1468 -1478), sosok yang diyakini sebagai raja terakhir Majapahit.
Istilah &quot;Brawijaya&quot; baru muncul dalam karya-karya sastra berbentuk babad  dan serat yang ditulis kemudian, seperti Babad Tanah Jawu, Serat Kandha, dan Serat Darmogandul, serta sumber cerita rakyat.
Bhre Kertabumi memiliki 3 (tiga) istri cantik jelita  yang menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa.
Baca Juga: Cerita Raja Majapahit Menikahi Abdi Dalem Istana, Supaya Sembuh dari 'Raja Singa'
Satu diantara istrinya dikenal dengan nama puteri Champa. Nama aslinya adalah Amaravati, putri Raja Kauthara negara bagian Champa. Ayahnya berdarah Cina, yakni Bong Tak Keng sedangkan ibunya adalah putri Maharaja Champa, Raja Indravarman VI, asli etnis Champa (Indochina).
Karena berasal dari Champa, Amaravati dikenal rakyat Majapahit dengan sebutan &quot;Putri Cempo&quot; (ejaan Jawa). Ia menjadi permaisuri Bhre Kertabhumi saat masih menjadi Raja Keling, negara bagian Majapahit dengan nama Jawa &quot;Dewi Amarawati&quot;.
Dewi Amarawati adalah adik Chandravati, ibunda Sunan Ampel (pendiri Majelis Walisongo berdarah China-Champa). Dengan demikian, Sunan Ampel adalah keponakan Dewi Amarawati, istri permaisuri Bhre Kertabhumi.Putri Campa ini melahirkan bayi perempuan bernama Retno Pembayun atau  dikenali dengan nama Putri Pembayun. Putri Brawijaya 5 dari Dewi  Amarawati ini diambil istri oleh Pangeran Andayaningrat, penguasa  Pengging yang dikenal Ki Ageng Pengging sepuh.
Pernikahan keduanya melahirkan Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging), ayah  Mas Karebet atau Joko Tingkir. Putra Kebo Kenongo inilah yang berhasil  mendirikan Kasultanan Pajang, setelah menikahi Ratu Mas Cempaka putri  bungsu Sultan Trenggono Raja Demak. Ia juga mengalahkan Adipati Jipang  Panolan, Arya Penangsang.
Putri Cempo adalah nenek buyut Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya.  Istri beriikutnya adalah  Siu Ban Ci atau catatan lain menyebut Tan Eng  Kian, putri dari Tan Go Hwat dari negeri Cina. Ia adalah putri seorang  pedagang sekaligus ulama etnis Tionghoa yang dikenal dengan sebutan  Syekh Bentong.
Syekh Bentong adalah putra Syekh Quro ulama yang menyebarkan agama  Islam di Tanah Sunda. Sementara Syekh Quro adalah putra Syekh Yusuf  Siddik bin Syekh Jamaluddin Akbar al Husain.
Setelah diambil sebagai istri selir Bhre Kertabhumi yang waktu itu  masih menjadi Raja Keling Majapahit, Siu Ban Ci atau Tan Eng Kian  dikenal masyarakat Majapahit dengan sebutan &quot;Putri Cina.&quot;
Siu Ban Ci adalah ibunda Raden Patah, pendiri Kasultanan Demak  Bintoro. Putri Cina ini adalah leluhur perempuan dari Raja-raja di  Kasultanan Demak Bintoro.
Istri lainnya adalah selir bernama Dewi Wandan Kuning. Nama aslinya  Bondrit Cemara, seorang pelayan istana asal daerah Wandhan, Sulawesi. Ia  diambil istri selir Bhre Kertabhumi karena wangsit yang diterima saat  sakit sipilis atau raja singa.
Dalam meditasinya, ia mendapatkan pawisik jika ingin sembuh, ia harus  menikahi seorang pelayan wanita berdarah Wandhan. Perempuan itu harus  menjadi istri Bhre Kertabhumi yang terakhir.
Bhre Kertabhumi sembuh setelah menikahi Bondrit Cemara. Ia kemudian  dikenal sebagai Wandhan Kuning yang melahirkan Raden Bondan Kejawan.
Bondan Kejawan dititipkan Akuwu ring Tarub yang dikenal dengan Ki  Ageng Tarub (Joko Tarub). Putra Bhre Kertabhumi itu selanjutnya menikah  dengan Dewi Nawangsih, putri Joko Tarub dari istrinya, Dewi Nawang  Wulan.
Bondan Kejawan lantas memiliki anak bernama Getas Pendawa, Getas  Pendhawa berputra Ki Ageng Selo berputra Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng  Pamanahan berputra Panembahan Senopati, raja Mataram pertama.
Dewi Bondrit Cemara merupakan leluhur perempuan dari orang-orang Sela  yang selanjutnya menurunkan Panembahan Senopati, pendiri kerajaan   Mataram.</content:encoded></item></channel></rss>
