<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Kembali Dikukuhkan Jadi Negara Paling Dermawan di Dunia</title><description>Indonesia Kembali dikukukan sebagai negara paling dermawan di dunia versi world giving Indexx2021.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/14/337/2425073/indonesia-kembali-dikukuhkan-jadi-negara-paling-dermawan-di-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/14/337/2425073/indonesia-kembali-dikukuhkan-jadi-negara-paling-dermawan-di-dunia"/><item><title>Indonesia Kembali Dikukuhkan Jadi Negara Paling Dermawan di Dunia</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/14/337/2425073/indonesia-kembali-dikukuhkan-jadi-negara-paling-dermawan-di-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/14/337/2425073/indonesia-kembali-dikukuhkan-jadi-negara-paling-dermawan-di-dunia</guid><pubDate>Senin 14 Juni 2021 19:43 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/14/337/2425073/indonesia-kembali-dikukuhkan-jadi-negara-paling-dermawan-di-dunia-gxMcmy1amO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/14/337/2425073/indonesia-kembali-dikukuhkan-jadi-negara-paling-dermawan-di-dunia-gxMcmy1amO.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia Kembali dikukukan sebagai negara paling dermawan di dunia versi world giving Indexx2021.

Laporan World Giving Index (WGI) yang dirilis senin (14/6/2021) oleh CAF (Charity aid Foundation) menempatkan Indonesia di peringkat pertama dengan skor dari 69%, naik dari dari skor 59% di indeks tahunan terakhir yang diterbitkan pada tahun 2018. Pada saat itu, Indonesia juga menempati peringkat pertama dalam WGI.

The World Giving Index (WGI) adalah laporan tahunan yang diterbitkan oleh Charities Aid Foundation, menggunakan data yang dikumpulkan oleh Gallup, dan memeringkat lebih dari 140 negara di dunia berdasarkan seberapa dermawan mereka dalam menyumbang.

Pada laporan WGI 2021 Indonesia menempati 2 peringkat teratas dari 3 katagori atau indikator yang menjadi ukuran WGI, yakni menyumbang pada orang asing/tidak dikenal, menyumbang uang dan kegiatan kerelawanan/volunteer.

Hasil penelitian CAF menunjukkan lebih dari 8 (delapan) dari 10 orang Indonesia menyumbangkan uang pada tahun ini, sementara tingkat kerelawanan di Indonesia tiga kali lipat lebih besar dari rata-rata tingkat kerelawanan dunia.

Direktur Filantropi Inonesia, Hamid Abidin, menyambut baik pretasi yang ditorehkan oleh sektor filantropi Indonesia ini. Menurutnya, Pandemi dan krisis ekonomi nampaknya tak menghalangi masyarakat Indonesia untuk berbagi.

Pandemi dan krisis justru meningkatkan semangat solidaritas masyarakat untuk membantu sesama. &amp;ldquo;Yang berubah hanya bentuk sumbangan dan jumlahnya saja. Masyarakat yang terkena dampak tetap berdonasi uang meski nilai sumbangan lebih kecil, atau berdonasi dalam bentuk lain, seperti barang dan tenaga (relawan). Terbukti di beberapa Lembaga social dan filantropi jumlah donasi tetap naik, meski peningkatannya tidak setinggi pada saat normal,&amp;rdquo; katanya.

Laporan WGI menunjukkan Indonesia berhasil mempertahankan posisinya di peringkat pertama di tengah pandemi dibandingkan negara-negara lain yang posisinya jatuh dalam WIG karen penerapan kebijakan penguncian dan pembatasan wilayah.

Sebagian besar negara Barat yang biasanya menempati 10 Besar WGI merosot peringkatnya kemungkinan karena efek pandemi. Misalnya, Amerika Serikat jatuh ke posisi 19 dunia, setelah sebelumnya secara konsisten ditempatkan di Top 5. Sementara Irlandia, Inggris dan Singapura merosot dari peringkat 5 dan6 ke peringkat 26 dan 22.

Hamid menilai keberhasilan Indonesia untuk mempertahankan posisinya sebagai bangsa pemurah didukung oleh beberapa faktor:

Pertama, kuatnya pengaruh ajaran agama dan tradisi lokal yang  berkaitan dengan kegiatan berderma dan menolong sesama di Indonesia. Hal  ini terbukti dari temuan WIG yang menunjukkan bahwa donasi berbasi  keagamaan (khususnya Zakat, infaq dan sedekah) menjadi penggerak utama  kegiatan filantropi di Indonesia di masa pandemi.

Kedua, Kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan  negara-negara lain. Harus diakui pandemi memukul sektor ekonomi yang  juga berdampak pada daya beli dan kapasitas menyumbang masyarakat.

Namun, dibandingkan negara-negara lain, kebijakan penanganan Covid-19  di Indonesia dinilai lebih baik sehingga tidak berdampak buruk pada  kondisi ekonomi. WIG mencatat beberapa negara yang salah menerapkan  kebijakan penanganan pandemi posisinya dalam WIG merosot  dibanding  sebelumnya karena berdampak pada sektor ekonomi dan kapasitas menyumbang  masyarakat.

Ketiga, Pegiat filantropi di Indonesia relatif berhasil dalam  mendorong transformasi kegiatan filantropi dari filantropi konvensional  ke digital.

Berbagai kendala dalam penggalangan donasi di masa pandemi karena  adanya pembatasan interaksi dan mobilitas warga berhasil diatasi  sehingga tidak terlalu berpengaruh pada kegiatan filantropi. Hal ini  ditandai dengan peningkatan jumlah donasi di Lembaga-lembaga filantropi  yang menggunakan platform digital, khususnya pada saat pandemi

Keempat, meningkatnya peran dan keterlibatan kalangan muda dan key  opinion leader/ influencer dalam kegiatan filantropi. Keterlibatan  mereka membuat filantropi bisa dikemas dan dikomunikasikan dengan  popular ke semua kalangan, khususnya anak muda.

Namun,, di tengah prestasi yang menggembirakan itu, ada sejumlah PR  yang harus diatasi dalam rangka memajukan filantropi Indonesia. Hamid  menyebut potensi filantropi Indonesia yang cukup besar belum tergalang  optimal karena pola menyumbang masyarakat yang masih direct giving dan  belum terorganisir dengan baik.
Masyarakat lebih suka menyumbang langsung ke individu penerima  manfaat dibandingkan ke organisasi social. Donasi untuk kegiatan  keagamaan, penyantunan dan pelayanan sosial juga masih dominan  dibandingkan program-program yang sifatnya jangka Panjang, seperti  pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan  sebagainya.

Selain itu, pengembangan filantropi di Indonesia belum didukung  dengan data yang memadai karena pemerintah dan pemangku kepentingan  lainnya belum punya kesadaran pentingnya data dalam pengembangan  filantropi.

&amp;ldquo;Yang lebih ironis, kegiatan kerelawanan kita yang dalam WIG  dinyatakan lebih banyak dari tiga kali rata-rata global belum  mendapatkan dukungan dan perlindungan. Banyak relawan yang bekerja tanpa  perlengkapan yang memadai serta tidak mendapatkan jaminan sosial. Yang  menyedihkan, relawan atau pegiat kemanusiaan tidak dimasukkan pada  kelompok yang mendapat prioritas utama untuk mendapatkan vaksin.  Padahal, pada saat pandemi ribuan relawan dan pekerja kemanusiaan terjun  lagsung membantu masyarakat yang membuat mereka berpotensi terpapar  Covid-19&amp;rdquo; katanya,

Di luar faktor pendukunng tersebut, Hamid menyebut regulasi  filantropi dan insentif perpajakan sebagai faktor yang kurang mendukung,  bahkan menghambat sektor filantropi Indonesia.  Regulasi terkait  filantropi sudah ketinggalan jaman, kurang apresiatif dan cenderung  restriktif terhadap kegiatan filantropi.
Sementara kebijakan insentif pajak yang biasanya menjadi faktor  pendorong kegiatan filantropi juga ketinggalan dibandingkan kebijakan  insentif pajak di negara-negara lain. Insentif pajak belum menjadi  pendorong warga untuk berdonasi karena cakupannya terbatas,  jumlah  insentif yang kecil, serta ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan dalam  penerapannya.

&amp;ldquo;Itu yang membuat masyarakat enggan untuk mengakses insentif pajak kita pada saat mereka menyumbang,&amp;rdquo; katanya.

Hamid berharap pengakuan dunia internasional terhadap potensi  filantropi Indonesia ini bisa menggerakkan pemerintah untuk mendukung  dan menggerakkan sektor filantropi sebagai aktor dan sumber daya  pembangunan nasional. Apalagi Filantropi sudah diakui sebagai salah satu  pilar dalam pencapaian SDGs di Indoneaia.

&amp;ldquo;Dukungan itu bisa diberikan melalui  berbagai regulasi  yang  kondusif, kemudahan, serta insentif pada Lembaga dan pegiat  filantropi  serta para donatur,&amp;rdquo; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia Kembali dikukukan sebagai negara paling dermawan di dunia versi world giving Indexx2021.

Laporan World Giving Index (WGI) yang dirilis senin (14/6/2021) oleh CAF (Charity aid Foundation) menempatkan Indonesia di peringkat pertama dengan skor dari 69%, naik dari dari skor 59% di indeks tahunan terakhir yang diterbitkan pada tahun 2018. Pada saat itu, Indonesia juga menempati peringkat pertama dalam WGI.

The World Giving Index (WGI) adalah laporan tahunan yang diterbitkan oleh Charities Aid Foundation, menggunakan data yang dikumpulkan oleh Gallup, dan memeringkat lebih dari 140 negara di dunia berdasarkan seberapa dermawan mereka dalam menyumbang.

Pada laporan WGI 2021 Indonesia menempati 2 peringkat teratas dari 3 katagori atau indikator yang menjadi ukuran WGI, yakni menyumbang pada orang asing/tidak dikenal, menyumbang uang dan kegiatan kerelawanan/volunteer.

Hasil penelitian CAF menunjukkan lebih dari 8 (delapan) dari 10 orang Indonesia menyumbangkan uang pada tahun ini, sementara tingkat kerelawanan di Indonesia tiga kali lipat lebih besar dari rata-rata tingkat kerelawanan dunia.

Direktur Filantropi Inonesia, Hamid Abidin, menyambut baik pretasi yang ditorehkan oleh sektor filantropi Indonesia ini. Menurutnya, Pandemi dan krisis ekonomi nampaknya tak menghalangi masyarakat Indonesia untuk berbagi.

Pandemi dan krisis justru meningkatkan semangat solidaritas masyarakat untuk membantu sesama. &amp;ldquo;Yang berubah hanya bentuk sumbangan dan jumlahnya saja. Masyarakat yang terkena dampak tetap berdonasi uang meski nilai sumbangan lebih kecil, atau berdonasi dalam bentuk lain, seperti barang dan tenaga (relawan). Terbukti di beberapa Lembaga social dan filantropi jumlah donasi tetap naik, meski peningkatannya tidak setinggi pada saat normal,&amp;rdquo; katanya.

Laporan WGI menunjukkan Indonesia berhasil mempertahankan posisinya di peringkat pertama di tengah pandemi dibandingkan negara-negara lain yang posisinya jatuh dalam WIG karen penerapan kebijakan penguncian dan pembatasan wilayah.

Sebagian besar negara Barat yang biasanya menempati 10 Besar WGI merosot peringkatnya kemungkinan karena efek pandemi. Misalnya, Amerika Serikat jatuh ke posisi 19 dunia, setelah sebelumnya secara konsisten ditempatkan di Top 5. Sementara Irlandia, Inggris dan Singapura merosot dari peringkat 5 dan6 ke peringkat 26 dan 22.

Hamid menilai keberhasilan Indonesia untuk mempertahankan posisinya sebagai bangsa pemurah didukung oleh beberapa faktor:

Pertama, kuatnya pengaruh ajaran agama dan tradisi lokal yang  berkaitan dengan kegiatan berderma dan menolong sesama di Indonesia. Hal  ini terbukti dari temuan WIG yang menunjukkan bahwa donasi berbasi  keagamaan (khususnya Zakat, infaq dan sedekah) menjadi penggerak utama  kegiatan filantropi di Indonesia di masa pandemi.

Kedua, Kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan  negara-negara lain. Harus diakui pandemi memukul sektor ekonomi yang  juga berdampak pada daya beli dan kapasitas menyumbang masyarakat.

Namun, dibandingkan negara-negara lain, kebijakan penanganan Covid-19  di Indonesia dinilai lebih baik sehingga tidak berdampak buruk pada  kondisi ekonomi. WIG mencatat beberapa negara yang salah menerapkan  kebijakan penanganan pandemi posisinya dalam WIG merosot  dibanding  sebelumnya karena berdampak pada sektor ekonomi dan kapasitas menyumbang  masyarakat.

Ketiga, Pegiat filantropi di Indonesia relatif berhasil dalam  mendorong transformasi kegiatan filantropi dari filantropi konvensional  ke digital.

Berbagai kendala dalam penggalangan donasi di masa pandemi karena  adanya pembatasan interaksi dan mobilitas warga berhasil diatasi  sehingga tidak terlalu berpengaruh pada kegiatan filantropi. Hal ini  ditandai dengan peningkatan jumlah donasi di Lembaga-lembaga filantropi  yang menggunakan platform digital, khususnya pada saat pandemi

Keempat, meningkatnya peran dan keterlibatan kalangan muda dan key  opinion leader/ influencer dalam kegiatan filantropi. Keterlibatan  mereka membuat filantropi bisa dikemas dan dikomunikasikan dengan  popular ke semua kalangan, khususnya anak muda.

Namun,, di tengah prestasi yang menggembirakan itu, ada sejumlah PR  yang harus diatasi dalam rangka memajukan filantropi Indonesia. Hamid  menyebut potensi filantropi Indonesia yang cukup besar belum tergalang  optimal karena pola menyumbang masyarakat yang masih direct giving dan  belum terorganisir dengan baik.
Masyarakat lebih suka menyumbang langsung ke individu penerima  manfaat dibandingkan ke organisasi social. Donasi untuk kegiatan  keagamaan, penyantunan dan pelayanan sosial juga masih dominan  dibandingkan program-program yang sifatnya jangka Panjang, seperti  pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan  sebagainya.

Selain itu, pengembangan filantropi di Indonesia belum didukung  dengan data yang memadai karena pemerintah dan pemangku kepentingan  lainnya belum punya kesadaran pentingnya data dalam pengembangan  filantropi.

&amp;ldquo;Yang lebih ironis, kegiatan kerelawanan kita yang dalam WIG  dinyatakan lebih banyak dari tiga kali rata-rata global belum  mendapatkan dukungan dan perlindungan. Banyak relawan yang bekerja tanpa  perlengkapan yang memadai serta tidak mendapatkan jaminan sosial. Yang  menyedihkan, relawan atau pegiat kemanusiaan tidak dimasukkan pada  kelompok yang mendapat prioritas utama untuk mendapatkan vaksin.  Padahal, pada saat pandemi ribuan relawan dan pekerja kemanusiaan terjun  lagsung membantu masyarakat yang membuat mereka berpotensi terpapar  Covid-19&amp;rdquo; katanya,

Di luar faktor pendukunng tersebut, Hamid menyebut regulasi  filantropi dan insentif perpajakan sebagai faktor yang kurang mendukung,  bahkan menghambat sektor filantropi Indonesia.  Regulasi terkait  filantropi sudah ketinggalan jaman, kurang apresiatif dan cenderung  restriktif terhadap kegiatan filantropi.
Sementara kebijakan insentif pajak yang biasanya menjadi faktor  pendorong kegiatan filantropi juga ketinggalan dibandingkan kebijakan  insentif pajak di negara-negara lain. Insentif pajak belum menjadi  pendorong warga untuk berdonasi karena cakupannya terbatas,  jumlah  insentif yang kecil, serta ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan dalam  penerapannya.

&amp;ldquo;Itu yang membuat masyarakat enggan untuk mengakses insentif pajak kita pada saat mereka menyumbang,&amp;rdquo; katanya.

Hamid berharap pengakuan dunia internasional terhadap potensi  filantropi Indonesia ini bisa menggerakkan pemerintah untuk mendukung  dan menggerakkan sektor filantropi sebagai aktor dan sumber daya  pembangunan nasional. Apalagi Filantropi sudah diakui sebagai salah satu  pilar dalam pencapaian SDGs di Indoneaia.

&amp;ldquo;Dukungan itu bisa diberikan melalui  berbagai regulasi  yang  kondusif, kemudahan, serta insentif pada Lembaga dan pegiat  filantropi  serta para donatur,&amp;rdquo; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
