<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>ICC Serukan Penyelidikan Penuh Perang Narkoba Filipina, Duterte Tolak Bekerja Sama</title><description>Filipina keluar dari ICC setelah penyelidikan awal diumumkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/15/18/2425558/icc-serukan-penyelidikan-penuh-perang-narkoba-filipina-duterte-tolak-bekerja-sama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/15/18/2425558/icc-serukan-penyelidikan-penuh-perang-narkoba-filipina-duterte-tolak-bekerja-sama"/><item><title>ICC Serukan Penyelidikan Penuh Perang Narkoba Filipina, Duterte Tolak Bekerja Sama</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/15/18/2425558/icc-serukan-penyelidikan-penuh-perang-narkoba-filipina-duterte-tolak-bekerja-sama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/15/18/2425558/icc-serukan-penyelidikan-penuh-perang-narkoba-filipina-duterte-tolak-bekerja-sama</guid><pubDate>Selasa 15 Juni 2021 16:02 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/15/18/2425558/icc-serukan-penyelidikan-penuh-perang-narkoba-filipina-duterte-tolak-bekerja-sama-BsuLTgmNYL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/15/18/2425558/icc-serukan-penyelidikan-penuh-perang-narkoba-filipina-duterte-tolak-bekerja-sama-BsuLTgmNYL.jpg</image><title>Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)</title></images><description>DEN HAAG - Kepala jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah menyerukan penyelidikan penuh terhadap dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang berdarah terhadap narkotika yang dilakukan oleh Pemerintah Filipina.
Fatou Bensouda, yang meninggalkan jabatannya pekan ini, membuka penyelidikan awal terhadap perang narkoba Filipina pada 2018. Presiden Filipina Rodrigo Duterte menarik diri dari ICC segera setelah itu.
BACA JUGA: Hakim ICC Akan Selidiki Kejahatan Kemanusiaan di Palestina
Ribuan warga sipil Filipina diketahui tewas dalam kampanye tersebut. Data pemerintah mengakui lebih dari 6.000 kematian, tetapi kelompok hak asasi manusia (HAM) internasional
Data nasional mengakui lebih dari 6.000 kematian, tetapi kelompok hak asasi internasional telah lama memperingatkan angka itu bisa jauh lebih tinggi, demikian diwartakan BBC.
Seorang juru bicara Presiden Duterte mengatakan pemerintahnya tidak akan bekerja sama dengan penyelidikan ICC karena Filipina tidak lagi menjadi anggota. Duterte telah berulangkali mengatakan bahwa ICC tidak memiliki yurisdiksi terhadap dirinya.
BACA JUGA: ICC Tolak Selidiki China Terkait Pengaduan Genosida Uighur
Tindakan keras anti-narkoba yang kontroversial telah memicu kecaman internasional terhadap Filipina selama bertahun-tahun, termasuk dari PBB.
Bensouda pertama kali mengatakan dia &quot;sangat prihatin&quot; tentang laporan pembunuhan di luar proses hukum pada Oktober 2016.
Pada Senin dia mengatakan dia telah memutuskan ada dasar yang masuk akal untuk percaya bahwa pembunuhan telah dilakukan, dan dia meminta hakim di pengadilan kejahatan perang untuk mengizinkan penyelidikan penuh di bawah penggantinya.
Bensouda yang mengakhiri masa jabatannya sebagai Jaksa Pimpinan ICC  pada Rabu (16/6/2021) akan digantikan oleh Karim Khan, seorang pengacara  Inggris.
Dalam pernyataannya, Bensouda mengatakan bahwa informasi yang  tersedia menunjukkan bahwa anggota polisi Filipina, dan orang lain yang  bertindak bersama mereka, telah membunuh secara tidak sah antara  beberapa ribu dan puluhan ribu warga sipil selama periode antara Juli  2016 dan Maret 2019.
Dia mengatakan pengadilan memiliki wewenang untuk memeriksa dugaan  kejahatan selama negara itu menjadi pihak dalam ICC, sebelum pengunduran  diri Duterte mulai berlaku.
Perkembangan tersebut disambut baik oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia.
Amnesty International menggambarkan penyelidikan itu sebagai &quot;langkah  penting&quot;, yang dapat memberikan  harapan bagi ribuan keluarga yang  berduka atas kematian orang-orang yang mereka cintai dalam &amp;ldquo;perang&amp;rdquo;  berdarah itu.
</description><content:encoded>DEN HAAG - Kepala jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah menyerukan penyelidikan penuh terhadap dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang berdarah terhadap narkotika yang dilakukan oleh Pemerintah Filipina.
Fatou Bensouda, yang meninggalkan jabatannya pekan ini, membuka penyelidikan awal terhadap perang narkoba Filipina pada 2018. Presiden Filipina Rodrigo Duterte menarik diri dari ICC segera setelah itu.
BACA JUGA: Hakim ICC Akan Selidiki Kejahatan Kemanusiaan di Palestina
Ribuan warga sipil Filipina diketahui tewas dalam kampanye tersebut. Data pemerintah mengakui lebih dari 6.000 kematian, tetapi kelompok hak asasi manusia (HAM) internasional
Data nasional mengakui lebih dari 6.000 kematian, tetapi kelompok hak asasi internasional telah lama memperingatkan angka itu bisa jauh lebih tinggi, demikian diwartakan BBC.
Seorang juru bicara Presiden Duterte mengatakan pemerintahnya tidak akan bekerja sama dengan penyelidikan ICC karena Filipina tidak lagi menjadi anggota. Duterte telah berulangkali mengatakan bahwa ICC tidak memiliki yurisdiksi terhadap dirinya.
BACA JUGA: ICC Tolak Selidiki China Terkait Pengaduan Genosida Uighur
Tindakan keras anti-narkoba yang kontroversial telah memicu kecaman internasional terhadap Filipina selama bertahun-tahun, termasuk dari PBB.
Bensouda pertama kali mengatakan dia &quot;sangat prihatin&quot; tentang laporan pembunuhan di luar proses hukum pada Oktober 2016.
Pada Senin dia mengatakan dia telah memutuskan ada dasar yang masuk akal untuk percaya bahwa pembunuhan telah dilakukan, dan dia meminta hakim di pengadilan kejahatan perang untuk mengizinkan penyelidikan penuh di bawah penggantinya.
Bensouda yang mengakhiri masa jabatannya sebagai Jaksa Pimpinan ICC  pada Rabu (16/6/2021) akan digantikan oleh Karim Khan, seorang pengacara  Inggris.
Dalam pernyataannya, Bensouda mengatakan bahwa informasi yang  tersedia menunjukkan bahwa anggota polisi Filipina, dan orang lain yang  bertindak bersama mereka, telah membunuh secara tidak sah antara  beberapa ribu dan puluhan ribu warga sipil selama periode antara Juli  2016 dan Maret 2019.
Dia mengatakan pengadilan memiliki wewenang untuk memeriksa dugaan  kejahatan selama negara itu menjadi pihak dalam ICC, sebelum pengunduran  diri Duterte mulai berlaku.
Perkembangan tersebut disambut baik oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia.
Amnesty International menggambarkan penyelidikan itu sebagai &quot;langkah  penting&quot;, yang dapat memberikan  harapan bagi ribuan keluarga yang  berduka atas kematian orang-orang yang mereka cintai dalam &amp;ldquo;perang&amp;rdquo;  berdarah itu.
</content:encoded></item></channel></rss>
