<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Sultan Yogyakarta Isyaratkan Lockdown Total</title><description>Gubernur DIY, Sri Sultan HB X pun mewacanakan penerapan lockdown bagi DIY karena PPKM mikro yang belum berjalan maksimal.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/18/510/2427239/kasus-covid-19-terus-melonjak-sultan-yogyakarta-isyaratkan-lockdown-total</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/18/510/2427239/kasus-covid-19-terus-melonjak-sultan-yogyakarta-isyaratkan-lockdown-total"/><item><title>Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Sultan Yogyakarta Isyaratkan Lockdown Total</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/18/510/2427239/kasus-covid-19-terus-melonjak-sultan-yogyakarta-isyaratkan-lockdown-total</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/18/510/2427239/kasus-covid-19-terus-melonjak-sultan-yogyakarta-isyaratkan-lockdown-total</guid><pubDate>Jum'at 18 Juni 2021 14:18 WIB</pubDate><dc:creator>krjogja.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/18/510/2427239/kasus-covid-19-terus-melonjak-sultan-yogyakarta-isyaratkan-lockdown-total-NTGMU6oxZr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/18/510/2427239/kasus-covid-19-terus-melonjak-sultan-yogyakarta-isyaratkan-lockdown-total-NTGMU6oxZr.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>YOGYAKARTA &amp;ndash; Terus bertambahnya kasus positif harian Covid-19 DIY hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang pandemi dengan 595 kasus pada Kamis (17/6/2021) mendapat perhatian dari Pemda DIY.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X pun mewacanakan penerapan lockdown bagi DIY karena PPKM mikro yang belum berjalan maksimal.

Sultan mengatakan saat ini kasus positif memang terus fluktiatif atau naik turun tak hanya di DIY saja namun juga di seluruh dunia termasuk Malaysia dan Singapura. Namun begitu, hal tersebut tak menjadi alasan kemudian masyarakat tak menerapkan disiplin protokol kesehatan yang membuat penularan terus terjadi.

&amp;ldquo;BOR rumah sakit, yang sedianya 36 koma sekian sekarang sudah 75 persen hanya dalam waktu satu minggu. Kalau terus naik di atas 500 seperti ini kan tidak mungkin. Kabupaten/kota harus menyediakan shelter, dan dimungkinkan dalam APBD meski hanya lima bed. Kita coba 75 kali 50 memungkinkan terjadinya 3000-an orang yang dikarantina. Kita belum bisa cari jalan keluar, nek ora iso yowes tidak ada pilihan, lockdown,&amp;rdquo; ungkap Sultan pada wartawan, Jumat (18/6/2021).

Pilihan lockdown menurut Sultan dipilih ketika tak ada cara lain yang bisa diambil pemerintah daerah. Penularan menurut Sultan sudah menjangkau ranah terbawah yakni keluarga dan tetangga, ditambah adanya mobilitas warga yang begitu masif di akhir pekan.


&amp;ldquo;Mungkin semua sudah baca aturan yang kita keluarkan tanggal 15  (Juni) kemarin kan sudah sampai mau menyelenggarakan aktivitas  masyarakat tidak cukup keputusan kelurahan harus kapanewon juga ikut,  coba sampai atasannya juga ikut dengan harapan makin ketat, kita coba  gitu. Tapi kalau masih tembus lagi terus arep opo meneh, kita kan jadi  sulit selama masyarakat itu tdk mengapresiasi dirinya sendiri untuk  disiplin gitu lho. Biarpun kita tau yang meninggal 50 tahun ke atas  semua kan gitu,&amp;rdquo; sambung Sultan.

Sultan meminta masyarakat untuk taat protokol kesehatan dan sebisa  mungkin mengurangi mobilitas untuk menekan penularan. Jika memang hal  tersebut tak bisa dilakukan, dan kasus terus naik dengan BOR rumah sakit  yang semakin menipis, maka pilihan lockdown meski dengan konsekuensi  berat harus dilakukan.

&amp;ldquo;(Kalau ngeyel masyarakat, maka pilihak lockdown) Nek BOR rumah sakit tidak mampu lagi, terus arep ngopo,&amp;rdquo; tegas Sultan.</description><content:encoded>YOGYAKARTA &amp;ndash; Terus bertambahnya kasus positif harian Covid-19 DIY hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang pandemi dengan 595 kasus pada Kamis (17/6/2021) mendapat perhatian dari Pemda DIY.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X pun mewacanakan penerapan lockdown bagi DIY karena PPKM mikro yang belum berjalan maksimal.

Sultan mengatakan saat ini kasus positif memang terus fluktiatif atau naik turun tak hanya di DIY saja namun juga di seluruh dunia termasuk Malaysia dan Singapura. Namun begitu, hal tersebut tak menjadi alasan kemudian masyarakat tak menerapkan disiplin protokol kesehatan yang membuat penularan terus terjadi.

&amp;ldquo;BOR rumah sakit, yang sedianya 36 koma sekian sekarang sudah 75 persen hanya dalam waktu satu minggu. Kalau terus naik di atas 500 seperti ini kan tidak mungkin. Kabupaten/kota harus menyediakan shelter, dan dimungkinkan dalam APBD meski hanya lima bed. Kita coba 75 kali 50 memungkinkan terjadinya 3000-an orang yang dikarantina. Kita belum bisa cari jalan keluar, nek ora iso yowes tidak ada pilihan, lockdown,&amp;rdquo; ungkap Sultan pada wartawan, Jumat (18/6/2021).

Pilihan lockdown menurut Sultan dipilih ketika tak ada cara lain yang bisa diambil pemerintah daerah. Penularan menurut Sultan sudah menjangkau ranah terbawah yakni keluarga dan tetangga, ditambah adanya mobilitas warga yang begitu masif di akhir pekan.


&amp;ldquo;Mungkin semua sudah baca aturan yang kita keluarkan tanggal 15  (Juni) kemarin kan sudah sampai mau menyelenggarakan aktivitas  masyarakat tidak cukup keputusan kelurahan harus kapanewon juga ikut,  coba sampai atasannya juga ikut dengan harapan makin ketat, kita coba  gitu. Tapi kalau masih tembus lagi terus arep opo meneh, kita kan jadi  sulit selama masyarakat itu tdk mengapresiasi dirinya sendiri untuk  disiplin gitu lho. Biarpun kita tau yang meninggal 50 tahun ke atas  semua kan gitu,&amp;rdquo; sambung Sultan.

Sultan meminta masyarakat untuk taat protokol kesehatan dan sebisa  mungkin mengurangi mobilitas untuk menekan penularan. Jika memang hal  tersebut tak bisa dilakukan, dan kasus terus naik dengan BOR rumah sakit  yang semakin menipis, maka pilihan lockdown meski dengan konsekuensi  berat harus dilakukan.

&amp;ldquo;(Kalau ngeyel masyarakat, maka pilihak lockdown) Nek BOR rumah sakit tidak mampu lagi, terus arep ngopo,&amp;rdquo; tegas Sultan.</content:encoded></item></channel></rss>
