<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Ratusan Prajurit Pangeran Diponegoro Gugur Dibantai Pasukan Belanda di Benteng Plered   </title><description>SEJARAWAN Peter Carey dalam bukunya Kuasa Ramalan, vol.II: p.757 menceritakan tentang pertempuran antara pasukan Pangeran Diponegoro</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/19/337/2427574/kisah-ratusan-prajurit-pangeran-diponegoro-gugur-dibantai-pasukan-belanda-di-benteng-plered</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/19/337/2427574/kisah-ratusan-prajurit-pangeran-diponegoro-gugur-dibantai-pasukan-belanda-di-benteng-plered"/><item><title>Kisah Ratusan Prajurit Pangeran Diponegoro Gugur Dibantai Pasukan Belanda di Benteng Plered   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/19/337/2427574/kisah-ratusan-prajurit-pangeran-diponegoro-gugur-dibantai-pasukan-belanda-di-benteng-plered</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/19/337/2427574/kisah-ratusan-prajurit-pangeran-diponegoro-gugur-dibantai-pasukan-belanda-di-benteng-plered</guid><pubDate>Sabtu 19 Juni 2021 06:41 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/19/337/2427574/kisah-ratusan-prajurit-pangeran-diponegoro-gugur-dibantai-pasukan-belanda-di-benteng-plered-j1qPLqhktZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pangeran Diponegoro.(Foto:Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/19/337/2427574/kisah-ratusan-prajurit-pangeran-diponegoro-gugur-dibantai-pasukan-belanda-di-benteng-plered-j1qPLqhktZ.jpg</image><title>Pangeran Diponegoro.(Foto:Dok Okezone)</title></images><description>SEJARAWAN Peter Carey dalam bukunya Kuasa Ramalan, vol.II: p.757 menceritakan tentang pertempuran antara pasukan Pangeran Diponegoro dan pemerintah Hindia Belanda.
Selama musim hujan November 1825 hingga April 1826, pasukan-pasukan P.Diponegoro terus bergerak dengan sangat leluasa di seluruh pedesaan Mataram dan ketika musim hujan berakhir pada April 1826, 800 orang prajuritnya mulai bersantai di keraton lama, Plered.
Pada 9 Juni, Kolonel Frans David Cochius (1787&amp;ndash;1876), perwira zeni De Kock yang paling senior, telah mengerahkan pasukan berkekuatan 4.200 serdadu untuk menyingkirkan para penghuni itu dengan pertumpahan darah yang menewaskan semua kecuali 40 dari 400 prajurit yang ditugaskan oleh Diponegoro untuk menjaga reruntuhan itu (Louw dan De Klerck 1894&amp;ndash;1909, II:297&amp;ndash;9)
Patroli dikirim ke semua titik kandang, dan semua yang ditemukan dibunuh dengan bayonet dan tombak. &quot;Toko daging &quot; berakhir sekitar pukul tiga.
Baca Juga:&amp;nbsp;Kisah Pangeran Diponegoro dengan Keris Kiai Ageng Bondoyudo yang Ikut Dikubur di Makassar
Sekitar tujuh ratus pemberontak tetap di tanah. Di pihak kami, Kapten Desteur, yang masuk bersama kami, menerima tiga tembakan, termasuk yang agak berbahaya mengenai tulang paha; Furstenburg, letnan dua, terbunuh; perwira prajurit berkuda yang tidak ditugaskan terbunuh.
Secara keseluruhan, Belanda  tujuh tewas dan tiga puluh tujuh terluka di kolom kami; Saya tidak tahu kehilangan orang lain.
12 Juni 1826 Pagi ini, Kapten Van Geen pergi dengan seratus orang ke Plered untuk melihat apakah pasukan Sekutu dipasang dengan benar.&amp;nbsp;Dia kembali malam ini dan melaporkan bahwa dia berbau sangat busuk di sana, yang tidak mengherankan, karena Belanda tidak akan menemukan, untuk menguburkan mereka, mayat-mayat itu ditinggalkan di sawah dan di rerumputan tinggi.
Waktu Opziener van vogelnestklippen (Inspektur Tempat Sarang Burung Walet) di Pantai Kidul di Rongkob- Paulus Daniel Portier alias Nur Salim ditangkap oleh pasukan Diponegoro di Pacitan pada Juni 1826 - dan dibawah ke markas DN di Kulon Progo pada bulan Agustus-September 1826 , dia menemukan banyak sekali keluarga di Kulon Progo yang kehilangan bapak dan anak lelaki dalam pertempuran Plered yang baru terjadi.
Walau sebagian besar pertempuran yang dialami Kapten Errembault de Dudzeele et d'Orroir (1789-1830) hanya berskala kecil, terdapat dua pertempuran yang jauh lebih mengesankan. Yang pertama adalah ketika ia berpartisipasi dalam sebuah serangan fajar terhadap pertahanan Diponegoro di Plered, pada tanggal 9 Juni 1826.
Ini adalah baptis api baginya dalam Perang Jawa dan dia terlibat sebagai seorang komandan infanteri untuk 900 prajurit Belanda dan Jawa (kebanyakan dari Legiun Mangkunegaran) dalam serangan langsung terhadap benteng keraton yang terbuat dari bata yang dibangun pada medio abad ke-17.
Setelah tembakan terakhir dilepaskan dan bayonet terakhir ditusukkan pada jam tiga sore, kemungkinan sekitar 700 orang Jawa yang mempertahankan benteng tersebut gugur.
Walau sudah berpengalaman selama bertahun-tahun berperang di Eropa (1806-15) pada masa Perang Napoleon, bahkan Errembault pun mengakui bahwa pertempuran ini adalah sebuah &amp;ldquo;pembantaian besar-besaran yang mengerikan (un carnage affreux)&amp;rdquo; (Errembault 1825-30, 9 Juni 1826).</description><content:encoded>SEJARAWAN Peter Carey dalam bukunya Kuasa Ramalan, vol.II: p.757 menceritakan tentang pertempuran antara pasukan Pangeran Diponegoro dan pemerintah Hindia Belanda.
Selama musim hujan November 1825 hingga April 1826, pasukan-pasukan P.Diponegoro terus bergerak dengan sangat leluasa di seluruh pedesaan Mataram dan ketika musim hujan berakhir pada April 1826, 800 orang prajuritnya mulai bersantai di keraton lama, Plered.
Pada 9 Juni, Kolonel Frans David Cochius (1787&amp;ndash;1876), perwira zeni De Kock yang paling senior, telah mengerahkan pasukan berkekuatan 4.200 serdadu untuk menyingkirkan para penghuni itu dengan pertumpahan darah yang menewaskan semua kecuali 40 dari 400 prajurit yang ditugaskan oleh Diponegoro untuk menjaga reruntuhan itu (Louw dan De Klerck 1894&amp;ndash;1909, II:297&amp;ndash;9)
Patroli dikirim ke semua titik kandang, dan semua yang ditemukan dibunuh dengan bayonet dan tombak. &quot;Toko daging &quot; berakhir sekitar pukul tiga.
Baca Juga:&amp;nbsp;Kisah Pangeran Diponegoro dengan Keris Kiai Ageng Bondoyudo yang Ikut Dikubur di Makassar
Sekitar tujuh ratus pemberontak tetap di tanah. Di pihak kami, Kapten Desteur, yang masuk bersama kami, menerima tiga tembakan, termasuk yang agak berbahaya mengenai tulang paha; Furstenburg, letnan dua, terbunuh; perwira prajurit berkuda yang tidak ditugaskan terbunuh.
Secara keseluruhan, Belanda  tujuh tewas dan tiga puluh tujuh terluka di kolom kami; Saya tidak tahu kehilangan orang lain.
12 Juni 1826 Pagi ini, Kapten Van Geen pergi dengan seratus orang ke Plered untuk melihat apakah pasukan Sekutu dipasang dengan benar.&amp;nbsp;Dia kembali malam ini dan melaporkan bahwa dia berbau sangat busuk di sana, yang tidak mengherankan, karena Belanda tidak akan menemukan, untuk menguburkan mereka, mayat-mayat itu ditinggalkan di sawah dan di rerumputan tinggi.
Waktu Opziener van vogelnestklippen (Inspektur Tempat Sarang Burung Walet) di Pantai Kidul di Rongkob- Paulus Daniel Portier alias Nur Salim ditangkap oleh pasukan Diponegoro di Pacitan pada Juni 1826 - dan dibawah ke markas DN di Kulon Progo pada bulan Agustus-September 1826 , dia menemukan banyak sekali keluarga di Kulon Progo yang kehilangan bapak dan anak lelaki dalam pertempuran Plered yang baru terjadi.
Walau sebagian besar pertempuran yang dialami Kapten Errembault de Dudzeele et d'Orroir (1789-1830) hanya berskala kecil, terdapat dua pertempuran yang jauh lebih mengesankan. Yang pertama adalah ketika ia berpartisipasi dalam sebuah serangan fajar terhadap pertahanan Diponegoro di Plered, pada tanggal 9 Juni 1826.
Ini adalah baptis api baginya dalam Perang Jawa dan dia terlibat sebagai seorang komandan infanteri untuk 900 prajurit Belanda dan Jawa (kebanyakan dari Legiun Mangkunegaran) dalam serangan langsung terhadap benteng keraton yang terbuat dari bata yang dibangun pada medio abad ke-17.
Setelah tembakan terakhir dilepaskan dan bayonet terakhir ditusukkan pada jam tiga sore, kemungkinan sekitar 700 orang Jawa yang mempertahankan benteng tersebut gugur.
Walau sudah berpengalaman selama bertahun-tahun berperang di Eropa (1806-15) pada masa Perang Napoleon, bahkan Errembault pun mengakui bahwa pertempuran ini adalah sebuah &amp;ldquo;pembantaian besar-besaran yang mengerikan (un carnage affreux)&amp;rdquo; (Errembault 1825-30, 9 Juni 1826).</content:encoded></item></channel></rss>
