<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PBB: Somalia, Kongo, Afghanistan, Suriah, Negara Paling Berbahaya bagi Anak-Anak</title><description>PBB mengatakan Somalia, Kongo, Afghanistan, dan Suriah menempati urutan teratas zona konflik paling berbahaya bagi anak-anak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/22/18/2429062/pbb-somalia-kongo-afghanistan-suriah-negara-paling-berbahaya-bagi-anak-anak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/22/18/2429062/pbb-somalia-kongo-afghanistan-suriah-negara-paling-berbahaya-bagi-anak-anak"/><item><title>PBB: Somalia, Kongo, Afghanistan, Suriah, Negara Paling Berbahaya bagi Anak-Anak</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/22/18/2429062/pbb-somalia-kongo-afghanistan-suriah-negara-paling-berbahaya-bagi-anak-anak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/22/18/2429062/pbb-somalia-kongo-afghanistan-suriah-negara-paling-berbahaya-bagi-anak-anak</guid><pubDate>Selasa 22 Juni 2021 14:16 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/22/18/2429062/pbb-somalia-kongo-afghanistan-suriah-negara-paling-berbahaya-bagi-anak-anak-n0DDDi8SMC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Anak-anak pengungsi dari Republik Demokratik Kongo (Foto: AFP via VOA)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/22/18/2429062/pbb-somalia-kongo-afghanistan-suriah-negara-paling-berbahaya-bagi-anak-anak-n0DDDi8SMC.jpg</image><title>Anak-anak pengungsi dari Republik Demokratik Kongo (Foto: AFP via VOA)</title></images><description>NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Senin (21/6), mengatakan Somalia, Kongo, Afghanistan, dan Suriah menempati urutan teratas zona konflik paling berbahaya bagi anak-anak. PBB mencatat hampir 60 persen dari semua pelanggaran yang masuk dalam daftar hitam tahunan negara-negara di mana anak-anak menderita pelanggaran berat ada di empat negara itu.
&quot;Anak-anak tidak dapat dijadikan prioritas terakhir dalam agenda internasional atau kelompok individu yang paling tidak dilindungi di planet ini,&quot; Virginia Gamba, perwakilan khusus PBB untuk anak-anak dalam konflik bersenjata, kepada wartawan dalam peluncuran laporan itu, Senin (21/6).
Gamba menyampaikan pelanggaran paling luas pada 2020 mencakup perekrutan dan penggunaan anak-anak oleh pasukan keamanan dan kelompok bersenjata termasuk pembunuhan dan tindakan yang melukai anak-anak.
(Baca juga: Gembong Narkoba Siksa dan Bunuh Musuh, Mayatnya Digantung Tanpa Pakaian di Jembatan)
&quot;Kami sangat khawatir dengan meningkatnya penculikan anak-anak sebesar 90 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya, termasuk peningkatan pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya. Itu tercatat mengalami peningkatan 70 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya,&quot; tambahnya.
Laporan itu menyebutkan lebih dari 3.200 anak dipastikan telah diculik selama konflik berlangsung pada 2020, dan sedikitnya 1.268 telah menjadi korban kekerasan seksual.
(Baca juga: Viral, Pendaki Berhubungan Seks di Ketinggian 1.981 Meter di Atas Gunung)
Dari sejumlah pelanggaran terburuk, Gamba mengungkapkan Somalia mengalami &quot;pelanggaran terbanyak sejauh ini,&quot; terutama yang dilakukan oleh kelompok teroris al-Shabab. Di Afghanistan, ia menjelaskan Taliban bertanggung jawab atas dua pertiga pelanggaran, termasuk pemerintah dan sisanya adalah milisi yang pro-pemerintah.
Myanmar juga menempati peringkat tinggi dalam daftar pelanggaran berat, termasuk jumlah tertinggi anak-anak yang direkrut dan dimanfaatkan. Sedangkan  Yaman mencapai angka tertinggi untuk anak-anak yang terbunuh atau menderita cacat.
Serangan terhadap sejumlah sekolah dan rumah sakit tetap tinggi tahun lalu mencapai angka 856, sebagian besar di Afghanistan, Kongo, Suriah dan Burkina Faso.
</description><content:encoded>NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Senin (21/6), mengatakan Somalia, Kongo, Afghanistan, dan Suriah menempati urutan teratas zona konflik paling berbahaya bagi anak-anak. PBB mencatat hampir 60 persen dari semua pelanggaran yang masuk dalam daftar hitam tahunan negara-negara di mana anak-anak menderita pelanggaran berat ada di empat negara itu.
&quot;Anak-anak tidak dapat dijadikan prioritas terakhir dalam agenda internasional atau kelompok individu yang paling tidak dilindungi di planet ini,&quot; Virginia Gamba, perwakilan khusus PBB untuk anak-anak dalam konflik bersenjata, kepada wartawan dalam peluncuran laporan itu, Senin (21/6).
Gamba menyampaikan pelanggaran paling luas pada 2020 mencakup perekrutan dan penggunaan anak-anak oleh pasukan keamanan dan kelompok bersenjata termasuk pembunuhan dan tindakan yang melukai anak-anak.
(Baca juga: Gembong Narkoba Siksa dan Bunuh Musuh, Mayatnya Digantung Tanpa Pakaian di Jembatan)
&quot;Kami sangat khawatir dengan meningkatnya penculikan anak-anak sebesar 90 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya, termasuk peningkatan pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya. Itu tercatat mengalami peningkatan 70 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya,&quot; tambahnya.
Laporan itu menyebutkan lebih dari 3.200 anak dipastikan telah diculik selama konflik berlangsung pada 2020, dan sedikitnya 1.268 telah menjadi korban kekerasan seksual.
(Baca juga: Viral, Pendaki Berhubungan Seks di Ketinggian 1.981 Meter di Atas Gunung)
Dari sejumlah pelanggaran terburuk, Gamba mengungkapkan Somalia mengalami &quot;pelanggaran terbanyak sejauh ini,&quot; terutama yang dilakukan oleh kelompok teroris al-Shabab. Di Afghanistan, ia menjelaskan Taliban bertanggung jawab atas dua pertiga pelanggaran, termasuk pemerintah dan sisanya adalah milisi yang pro-pemerintah.
Myanmar juga menempati peringkat tinggi dalam daftar pelanggaran berat, termasuk jumlah tertinggi anak-anak yang direkrut dan dimanfaatkan. Sedangkan  Yaman mencapai angka tertinggi untuk anak-anak yang terbunuh atau menderita cacat.
Serangan terhadap sejumlah sekolah dan rumah sakit tetap tinggi tahun lalu mencapai angka 856, sebagian besar di Afghanistan, Kongo, Suriah dan Burkina Faso.
</content:encoded></item></channel></rss>
