<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Positivity Rate 3 Kali Lipat dari WHO, Satgas: Harus Diwaspadai dan Dikendalikan</title><description>Positivity rate ditentukan dari jumlah orang yang diperiksa, maka ada beberapa kondisi yang mempengaruhi akurasinya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/25/337/2430751/positivity-rate-3-kali-lipat-dari-who-satgas-harus-diwaspadai-dan-dikendalikan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/25/337/2430751/positivity-rate-3-kali-lipat-dari-who-satgas-harus-diwaspadai-dan-dikendalikan"/><item><title>Positivity Rate 3 Kali Lipat dari WHO, Satgas: Harus Diwaspadai dan Dikendalikan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/25/337/2430751/positivity-rate-3-kali-lipat-dari-who-satgas-harus-diwaspadai-dan-dikendalikan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/25/337/2430751/positivity-rate-3-kali-lipat-dari-who-satgas-harus-diwaspadai-dan-dikendalikan</guid><pubDate>Jum'at 25 Juni 2021 11:15 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/25/337/2430751/positivity-rate-3-kali-lipat-dari-who-satgas-harus-diwaspadai-dan-dikendalikan-0vzWzxx0sE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wiku Adisasmito (Foto : BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/25/337/2430751/positivity-rate-3-kali-lipat-dari-who-satgas-harus-diwaspadai-dan-dikendalikan-0vzWzxx0sE.jpg</image><title>Wiku Adisasmito (Foto : BNPB)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia terus mengalami kenaikan kasus Covid-19. Bahkan, kini positivity rate secara nasional pun di angka 14,64%. Artinya, angka ini jauh lebih tinggi atau tiga kali lipat dibandingkan dengan standar yang dipatok World Health Organization (WHO) yaitu 5%.
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan jika berkaca pada data sejak awal pandemi, positivity rate di Indonesia pernah mencapai puncak paling tinggi, sebesar 28,25% di 2 minggu pertama Januari 2021.
&amp;ldquo;Karena itu, positivity rate sekarang yang sudah mendekati 15% ini harus diwaspadai dan semaksimal mungkin dikendalikan,&amp;rdquo; tegas Wiku dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/6/2021).
Wiku pun mengatakan bahwa dalam waktu 14 hari ini, harus dilakukan langkah intervensi agar tidak terjadi kenaikan positivity rate. &amp;ldquo;Rentang waktu 14 hari adalah yang paling efektif dalam penentuan langkah intervensi kebijakan selanjutnya, karena rentang yang terlalu singkat atau terlalu lama seperti harian atau 2 bulanan dapat mengaburkan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan,&amp;rdquo; jelas Wiku.
Baca juga:&amp;nbsp;Kasus Covid-19 Naik Terus, PPKM Mikro Belum Efektif?
Wiku menjelaskan, karena positivity rate ditentukan dari jumlah orang yang diperiksa, maka ada beberapa kondisi yang mempengaruhi akurasinya. &amp;ldquo;Salah satunya terbatasnya sumber daya dan akses pada fasilitas tes. Ini karena penggunaan fasilitas tes diprioritaskan untuk yang sudah memiliki gejala atau kontak erat,&amp;rdquo; jelasnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Kasus Covid-19 Pecah Rekor, Kemenkes: Belum Terlambat Menekan Laju PenularanDengan begitu, kata Wiku, bukan tidak mungkin hasil tes cenderung menunjukkan positif Covid-19, karena sudah dikerucutkan pada kelompok orang yang memang memiliki gejala atau kontak erat.
&amp;ldquo;Di Indonesia, pada umumnya orang sehat tidak menjalani tes Covid-19, dan hal ini dapat mempengaruhi angka positivity rate menjadi tinggi,&amp;rdquo; ujar Wiku.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia terus mengalami kenaikan kasus Covid-19. Bahkan, kini positivity rate secara nasional pun di angka 14,64%. Artinya, angka ini jauh lebih tinggi atau tiga kali lipat dibandingkan dengan standar yang dipatok World Health Organization (WHO) yaitu 5%.
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan jika berkaca pada data sejak awal pandemi, positivity rate di Indonesia pernah mencapai puncak paling tinggi, sebesar 28,25% di 2 minggu pertama Januari 2021.
&amp;ldquo;Karena itu, positivity rate sekarang yang sudah mendekati 15% ini harus diwaspadai dan semaksimal mungkin dikendalikan,&amp;rdquo; tegas Wiku dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/6/2021).
Wiku pun mengatakan bahwa dalam waktu 14 hari ini, harus dilakukan langkah intervensi agar tidak terjadi kenaikan positivity rate. &amp;ldquo;Rentang waktu 14 hari adalah yang paling efektif dalam penentuan langkah intervensi kebijakan selanjutnya, karena rentang yang terlalu singkat atau terlalu lama seperti harian atau 2 bulanan dapat mengaburkan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan,&amp;rdquo; jelas Wiku.
Baca juga:&amp;nbsp;Kasus Covid-19 Naik Terus, PPKM Mikro Belum Efektif?
Wiku menjelaskan, karena positivity rate ditentukan dari jumlah orang yang diperiksa, maka ada beberapa kondisi yang mempengaruhi akurasinya. &amp;ldquo;Salah satunya terbatasnya sumber daya dan akses pada fasilitas tes. Ini karena penggunaan fasilitas tes diprioritaskan untuk yang sudah memiliki gejala atau kontak erat,&amp;rdquo; jelasnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Kasus Covid-19 Pecah Rekor, Kemenkes: Belum Terlambat Menekan Laju PenularanDengan begitu, kata Wiku, bukan tidak mungkin hasil tes cenderung menunjukkan positif Covid-19, karena sudah dikerucutkan pada kelompok orang yang memang memiliki gejala atau kontak erat.
&amp;ldquo;Di Indonesia, pada umumnya orang sehat tidak menjalani tes Covid-19, dan hal ini dapat mempengaruhi angka positivity rate menjadi tinggi,&amp;rdquo; ujar Wiku.</content:encoded></item></channel></rss>
