<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sunan Gunung Jati Bangun Vihara di Banten</title><description>Sekitar 1 kilometer dari masjid masih terdapat kampong Pecinan. Kini hanya ditinggali empat keluarga keturunan Tionghoa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/26/337/2431151/kisah-sunan-gunung-jati-bangun-vihara-di-banten</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/06/26/337/2431151/kisah-sunan-gunung-jati-bangun-vihara-di-banten"/><item><title>Kisah Sunan Gunung Jati Bangun Vihara di Banten</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/06/26/337/2431151/kisah-sunan-gunung-jati-bangun-vihara-di-banten</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/06/26/337/2431151/kisah-sunan-gunung-jati-bangun-vihara-di-banten</guid><pubDate>Sabtu 26 Juni 2021 06:25 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/06/26/337/2431151/kisah-sunan-gunung-jati-bangun-vihara-di-banten-iIGvLRhgsA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sunan Gunung Jati (Foto : Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/06/26/337/2431151/kisah-sunan-gunung-jati-bangun-vihara-di-banten-iIGvLRhgsA.jpg</image><title>Sunan Gunung Jati (Foto : Istimewa)</title></images><description>DI Banten Lama terdapat situs masjid Tionghoa. Masjid pecinan tinggi, seperti namanya dibangun di daerah pemukiman tionghoa  pada masa kesultanan Banten.

&amp;ldquo;Setahu saya masjid Pecinan Tinggi merupakan masjid yang pertama kali di bangun oleh Sultan Hasanudin sebelum  mendirikan Mesjid Agung Banten,&amp;rdquo; kata (alm) Ismetullah Al Abbas, Sultan Banten.

Masjid Pecinan Tinggi bisa dikatakan tinggal puing-puingnya. Selain sisa fondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang, juga masih ada bagian dinding mihrabnya. Di halaman depan di sebelah kiri (utara) mesjid tersebut,  masih terdapat pula sisa bangunan menaranya yang berdenah bujur sangkar. Menara ini terbuat dari bata dengan fondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang.

Reruntuhan bangunan yang terlihat hanya  menara masjid.  Itu adalah sisa dari bangunan masjid bergaya arsitektur tionghoa. Selain menara masjid pecinan tinggi, di sebelah selatan masih tersisa lantai masjid dan bangunan mimbar masjid.

Di sebelah utara terdapat gundukan tanah besar yang merupakan makam khas tionghoa lengkap dengan nisannya. Makam tersebut hanya satu-satunya yang terdapat di lokasi ini. Tulisan cina yang ada di makam tersebut masih terpatri dengan jelas.

Tulisan itu menjelaskan bahwa yang dikuburkan disana adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng+Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao, batu nisan tersebut didirikan pada tahun 1843. &amp;ldquo;Mungkin kedua orang itu adalah pemuka agama sehingga layak dimakamkan disamping Masjid Pecinan Tinggi,&amp;rdquo; katanya.

Sekitar 1 kilometer dari masjid masih terdapat kampong Pecinan. Kini hanya ditinggali empat keluarga keturunan Tionghoa. Di dekatnya terdapat kelenteng atau vihara , yang berdiri sejak awal Kerajaan Islam Banten. Kelenteng ini banyak didatangi pengunjung dari luar Banten, terutama pada malam ciit (tanggal 1 penanggalan Cina) dan malam cap goh meh.

Vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara ini, telah berdiri sejak abad ke 16 dan dikenal sebagai salah satu vihara tertua di Indonesia.

Vihara ini dibangun oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Saat itu Syeh Syarief Hidayatullah  tahun 1652.  Dia menikahi seorang putri Tiongkok.

Sunan Gunung Jati yang merupakan salah seorang dari wali songo, melihat bahwa ada banyak perantau dari tiongkok yang membutuhkan tempat ibadah.

Maka kemudian Sunan Gunung Jati berinisiatif untuk membangun sebuah vihara untuk tempat peribadatan umat Budha pada masa itu, vihara tersebut kemudian diberi nama Vihara Avalokitesvara.</description><content:encoded>DI Banten Lama terdapat situs masjid Tionghoa. Masjid pecinan tinggi, seperti namanya dibangun di daerah pemukiman tionghoa  pada masa kesultanan Banten.

&amp;ldquo;Setahu saya masjid Pecinan Tinggi merupakan masjid yang pertama kali di bangun oleh Sultan Hasanudin sebelum  mendirikan Mesjid Agung Banten,&amp;rdquo; kata (alm) Ismetullah Al Abbas, Sultan Banten.

Masjid Pecinan Tinggi bisa dikatakan tinggal puing-puingnya. Selain sisa fondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang, juga masih ada bagian dinding mihrabnya. Di halaman depan di sebelah kiri (utara) mesjid tersebut,  masih terdapat pula sisa bangunan menaranya yang berdenah bujur sangkar. Menara ini terbuat dari bata dengan fondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang.

Reruntuhan bangunan yang terlihat hanya  menara masjid.  Itu adalah sisa dari bangunan masjid bergaya arsitektur tionghoa. Selain menara masjid pecinan tinggi, di sebelah selatan masih tersisa lantai masjid dan bangunan mimbar masjid.

Di sebelah utara terdapat gundukan tanah besar yang merupakan makam khas tionghoa lengkap dengan nisannya. Makam tersebut hanya satu-satunya yang terdapat di lokasi ini. Tulisan cina yang ada di makam tersebut masih terpatri dengan jelas.

Tulisan itu menjelaskan bahwa yang dikuburkan disana adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng+Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao, batu nisan tersebut didirikan pada tahun 1843. &amp;ldquo;Mungkin kedua orang itu adalah pemuka agama sehingga layak dimakamkan disamping Masjid Pecinan Tinggi,&amp;rdquo; katanya.

Sekitar 1 kilometer dari masjid masih terdapat kampong Pecinan. Kini hanya ditinggali empat keluarga keturunan Tionghoa. Di dekatnya terdapat kelenteng atau vihara , yang berdiri sejak awal Kerajaan Islam Banten. Kelenteng ini banyak didatangi pengunjung dari luar Banten, terutama pada malam ciit (tanggal 1 penanggalan Cina) dan malam cap goh meh.

Vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara ini, telah berdiri sejak abad ke 16 dan dikenal sebagai salah satu vihara tertua di Indonesia.

Vihara ini dibangun oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Saat itu Syeh Syarief Hidayatullah  tahun 1652.  Dia menikahi seorang putri Tiongkok.

Sunan Gunung Jati yang merupakan salah seorang dari wali songo, melihat bahwa ada banyak perantau dari tiongkok yang membutuhkan tempat ibadah.

Maka kemudian Sunan Gunung Jati berinisiatif untuk membangun sebuah vihara untuk tempat peribadatan umat Budha pada masa itu, vihara tersebut kemudian diberi nama Vihara Avalokitesvara.</content:encoded></item></channel></rss>
