<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakistan Tak Mau Lagi Jadi Mitra AS dalam Perang</title><description>Kebijakan itu dituding sebagai penyebab tantangan ekonomi dan keamanan yang dihadapi Pakistan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/01/18/2433874/pakistan-tak-mau-lagi-jadi-mitra-as-dalam-perang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/01/18/2433874/pakistan-tak-mau-lagi-jadi-mitra-as-dalam-perang"/><item><title>Pakistan Tak Mau Lagi Jadi Mitra AS dalam Perang</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/01/18/2433874/pakistan-tak-mau-lagi-jadi-mitra-as-dalam-perang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/01/18/2433874/pakistan-tak-mau-lagi-jadi-mitra-as-dalam-perang</guid><pubDate>Kamis 01 Juli 2021 14:49 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/01/18/2433874/pakistan-tak-mau-lagi-jadi-mitra-as-dalam-perang-zHlly52N7Q.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Perdana Menteri Pakistan Imran Khan. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/01/18/2433874/pakistan-tak-mau-lagi-jadi-mitra-as-dalam-perang-zHlly52N7Q.JPG</image><title>Perdana Menteri Pakistan Imran Khan. (Foto: Reuters)</title></images><description>ISLAMABAD - Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, Rabu (30/6/2021), mengecam kebijakan masa lalu negaranya sebagai &quot;kebodohan&quot; karena menjadi &quot;negara garis depan&quot; dalam perang yang dipimpin Amerika Serikat (AS) melawan terorisme di Afghanistan.
Khan menyalahkan kebijakan itu karena tantangan keamanan dan ekonomi yang terus-menerus dihadapi Islamabad.
BACA JUGA:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ancam Bunuh Peraih Nobel, Ulama Pakistan Ditangkap
&amp;ldquo;Kita bisa dan akan tetap menjadi mitra damai dengan Amerika. Kita tidak akan pernah menjadi mitra lagi dalam konflik,&amp;rdquo; kata Khan kepada Parlemen dalam sebuah pernyataan.
Khan sekali lagi mengesampingkan kemungkinan menyediakan pangkalan Pakistan kepada militer AS untuk serangan anti-terorisme di Afghanistan, menyusul rencana penarikan pasukan AS dari negara tetangga itu setelah hampir 20 tahun.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Provinsi Pakistan Ancam Tak Gaji Pegawai yang Tidak Divaksinasi Covid-19
Perdana Menteri itu menceritakan keputusan Pakistan untuk bergabung dengan AS dalam perang, memicu reaksi militan di negaranya yang menyebabkan 70 ribu orang Pakistan tewas dalam serangan bom bunuh diri dan serangan teror lainnya. Negara itu menderita kerugian sekitar USD150 miliar sehingga ekonomi nasional terpuruk.
</description><content:encoded>ISLAMABAD - Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, Rabu (30/6/2021), mengecam kebijakan masa lalu negaranya sebagai &quot;kebodohan&quot; karena menjadi &quot;negara garis depan&quot; dalam perang yang dipimpin Amerika Serikat (AS) melawan terorisme di Afghanistan.
Khan menyalahkan kebijakan itu karena tantangan keamanan dan ekonomi yang terus-menerus dihadapi Islamabad.
BACA JUGA:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Ancam Bunuh Peraih Nobel, Ulama Pakistan Ditangkap
&amp;ldquo;Kita bisa dan akan tetap menjadi mitra damai dengan Amerika. Kita tidak akan pernah menjadi mitra lagi dalam konflik,&amp;rdquo; kata Khan kepada Parlemen dalam sebuah pernyataan.
Khan sekali lagi mengesampingkan kemungkinan menyediakan pangkalan Pakistan kepada militer AS untuk serangan anti-terorisme di Afghanistan, menyusul rencana penarikan pasukan AS dari negara tetangga itu setelah hampir 20 tahun.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Provinsi Pakistan Ancam Tak Gaji Pegawai yang Tidak Divaksinasi Covid-19
Perdana Menteri itu menceritakan keputusan Pakistan untuk bergabung dengan AS dalam perang, memicu reaksi militan di negaranya yang menyebabkan 70 ribu orang Pakistan tewas dalam serangan bom bunuh diri dan serangan teror lainnya. Negara itu menderita kerugian sekitar USD150 miliar sehingga ekonomi nasional terpuruk.
</content:encoded></item></channel></rss>
