<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Prajurit VOC Digantung Gara-Gara Asmara</title><description>Prajurit VOC itu terlibat asmara dengan bocah 12 tahun yang merupakan putri pejabat tinggi VOC.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434210/kisah-prajurit-voc-digantung-gara-gara-asmara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434210/kisah-prajurit-voc-digantung-gara-gara-asmara"/><item><title>Kisah Prajurit VOC Digantung Gara-Gara Asmara</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434210/kisah-prajurit-voc-digantung-gara-gara-asmara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434210/kisah-prajurit-voc-digantung-gara-gara-asmara</guid><pubDate>Jum'at 02 Juli 2021 06:50 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/02/337/2434210/kisah-prajurit-voc-digantung-gara-gara-asmara-l8bGVWmFcv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/02/337/2434210/kisah-prajurit-voc-digantung-gara-gara-asmara-l8bGVWmFcv.jpg</image><title>Ilustrasi (Shutterstock)</title></images><description>SEJAK zaman VOC telah berkembang praktik prostitusi di Batavia. Gubernur Jenderal Hindia Belanda JP Coen secara tegas tidak setuju.

Adolf Heuken dalam buku &quot;Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta&quot; menuliskan kisah asmara yang tragis, antara prajurit VOC, Pieter J Cortenhoeff dan Sarah Specx.
Di gedung balai kota Batavia atau Stadhuisplein, 19 Juni 1629 dilaksanakam eksekusi mati seorang serdadu muda yang menjaga balai kota Batavia, tempat tinggal Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen.

Si prajurit muda adalah Pieter J Cortenhoeff. Ia terlibat asmara dengan bocah cilik putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx. Gadis kecil itu bernama Sara Specx.

Sara Specx berusia 12 tahun saat tinggal di Batavia. Ia jatuh cinta pada Cortenhoeff. Hingga akhirnya malam itu pun tiba. Mereka melakukan hubungan asmara  di rumah Jan Pieterszoon Coen. Mengetahui hal itu, Coen marah. Ia lantas memerintahkan untuk menggantung keduanya.

Raad van Justitie segera bergerak. Setelah melakukan sidang terhadap kasus tersebut, pada 18 Juni 1692 Raad van Justitie menetapkan keduanya bersalah.

Jika Pieter dihukum gantung di halaman balai kota (stadhuisplein) maka Sara dihukum cambuk di hadapan warga Batavia di gerbang balai kota Batavia.

Pekembangan prostitusi pertama di Jakarta terkonsentrasi di kawasan Macao Po (Jakarta Kota) pada abad XVII.

Lamijo dalam tulisannya &quot;Prostitusi di Jakarta Dalam Tiga Kekuasaan, 1930-1959: Sejarah dan Perkembangannya &quot; menguraikan panjang lebar tentang prostitusi di Batavia.

Seiring dengan perkembangan ekonomi dan fisik kota Jakarta, serta peran dan posisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, tempat-tempat pelacuran pun juga mengalami perkembangan, bergeser.

Baca Juga : Kisah Perang Lasem Lawan VOC, Panji Margono Gugur Perutnya Disabet Pedang

Prostitusi tidak terkonsentrasi di satu tempat saja, misalnya kemudian berkembang tempat pelacuran kelas rendah di sebelah timur Macao Po (sekitar jalan Jayakarta sekarang), yang saat itu bernama Gang Mangga.
Tempat ini cukup terkenal sebagai salah satu tempat berlangsungnya kegiatan prostitusi. Bahkan saat itu orang menyebut sakit sipilis dengan sebutan sakit mangga.

Dalam perkembangan selanjutnya, kompleks pelacuran Gang Mangga kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. Kompleks pelacuran semacam ini kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh Jakarta.

Karena sering terjadi keributan, maka pada awal abad XX soehian-soehian di sekitar Gang Mangga kemudian ditutup oleh pemerintah Belanda. Pemicu ditutupnya soehian adalah peristiwa terbunuhnya pelacur Indo yang tinggal di Kwitang bernama Fientje de Ferick pada tahun 1919 di soehian Petamburan.

Baca Juga : Kisah Nyimas Utari, Mata-Mata Mataram yang Membunuh Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen&amp;nbsp;

Setelah soehian ditutup, sebagai gantinya muncul kompleks pelacuran serupa di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (Sawah Besar). Sampai awal tahun 1970-an Gang Hauber masih dihuni oleh para pelacur, sedangkan Kaligot sudah tutup pada akhir 1950-an.

</description><content:encoded>SEJAK zaman VOC telah berkembang praktik prostitusi di Batavia. Gubernur Jenderal Hindia Belanda JP Coen secara tegas tidak setuju.

Adolf Heuken dalam buku &quot;Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta&quot; menuliskan kisah asmara yang tragis, antara prajurit VOC, Pieter J Cortenhoeff dan Sarah Specx.
Di gedung balai kota Batavia atau Stadhuisplein, 19 Juni 1629 dilaksanakam eksekusi mati seorang serdadu muda yang menjaga balai kota Batavia, tempat tinggal Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen.

Si prajurit muda adalah Pieter J Cortenhoeff. Ia terlibat asmara dengan bocah cilik putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx. Gadis kecil itu bernama Sara Specx.

Sara Specx berusia 12 tahun saat tinggal di Batavia. Ia jatuh cinta pada Cortenhoeff. Hingga akhirnya malam itu pun tiba. Mereka melakukan hubungan asmara  di rumah Jan Pieterszoon Coen. Mengetahui hal itu, Coen marah. Ia lantas memerintahkan untuk menggantung keduanya.

Raad van Justitie segera bergerak. Setelah melakukan sidang terhadap kasus tersebut, pada 18 Juni 1692 Raad van Justitie menetapkan keduanya bersalah.

Jika Pieter dihukum gantung di halaman balai kota (stadhuisplein) maka Sara dihukum cambuk di hadapan warga Batavia di gerbang balai kota Batavia.

Pekembangan prostitusi pertama di Jakarta terkonsentrasi di kawasan Macao Po (Jakarta Kota) pada abad XVII.

Lamijo dalam tulisannya &quot;Prostitusi di Jakarta Dalam Tiga Kekuasaan, 1930-1959: Sejarah dan Perkembangannya &quot; menguraikan panjang lebar tentang prostitusi di Batavia.

Seiring dengan perkembangan ekonomi dan fisik kota Jakarta, serta peran dan posisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, tempat-tempat pelacuran pun juga mengalami perkembangan, bergeser.

Baca Juga : Kisah Perang Lasem Lawan VOC, Panji Margono Gugur Perutnya Disabet Pedang

Prostitusi tidak terkonsentrasi di satu tempat saja, misalnya kemudian berkembang tempat pelacuran kelas rendah di sebelah timur Macao Po (sekitar jalan Jayakarta sekarang), yang saat itu bernama Gang Mangga.
Tempat ini cukup terkenal sebagai salah satu tempat berlangsungnya kegiatan prostitusi. Bahkan saat itu orang menyebut sakit sipilis dengan sebutan sakit mangga.

Dalam perkembangan selanjutnya, kompleks pelacuran Gang Mangga kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. Kompleks pelacuran semacam ini kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh Jakarta.

Karena sering terjadi keributan, maka pada awal abad XX soehian-soehian di sekitar Gang Mangga kemudian ditutup oleh pemerintah Belanda. Pemicu ditutupnya soehian adalah peristiwa terbunuhnya pelacur Indo yang tinggal di Kwitang bernama Fientje de Ferick pada tahun 1919 di soehian Petamburan.

Baca Juga : Kisah Nyimas Utari, Mata-Mata Mataram yang Membunuh Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen&amp;nbsp;

Setelah soehian ditutup, sebagai gantinya muncul kompleks pelacuran serupa di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (Sawah Besar). Sampai awal tahun 1970-an Gang Hauber masih dihuni oleh para pelacur, sedangkan Kaligot sudah tutup pada akhir 1950-an.

</content:encoded></item></channel></rss>
