<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konon Kabarnya, Ratu Belanda Wilhelmina Pernah Jatuh Cinta pada Sultan Siak Syarif Kasim II   </title><description>RATU Wilhelmina (Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau) lahir 31 Agustus 1880, meninggal 28 November 1962 pada umur 82 tahun</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434215/konon-kabarnya-ratu-belanda-wilhelmina-pernah-jatuh-cinta-pada-sultan-siak-syarif-kasim-ii</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434215/konon-kabarnya-ratu-belanda-wilhelmina-pernah-jatuh-cinta-pada-sultan-siak-syarif-kasim-ii"/><item><title>Konon Kabarnya, Ratu Belanda Wilhelmina Pernah Jatuh Cinta pada Sultan Siak Syarif Kasim II   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434215/konon-kabarnya-ratu-belanda-wilhelmina-pernah-jatuh-cinta-pada-sultan-siak-syarif-kasim-ii</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/02/337/2434215/konon-kabarnya-ratu-belanda-wilhelmina-pernah-jatuh-cinta-pada-sultan-siak-syarif-kasim-ii</guid><pubDate>Jum'at 02 Juli 2021 07:08 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/02/337/2434215/konon-kabarnya-ratu-belanda-wilhelmina-pernah-jatuh-cinta-pada-sultan-siak-syarif-kasim-ii-Qaf5guVn63.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ratu Belanda Wilhelmina.(Foto:Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/02/337/2434215/konon-kabarnya-ratu-belanda-wilhelmina-pernah-jatuh-cinta-pada-sultan-siak-syarif-kasim-ii-Qaf5guVn63.jpg</image><title>Ratu Belanda Wilhelmina.(Foto:Istimewa)</title></images><description>RATU Wilhelmina (Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau) lahir 31 Agustus 1880, meninggal 28 November 1962 pada umur 82 tahun, Putri Orange-Nassau, adalah Ratu Belanda sejak 1890-1948. Ia juga Ibu Suri (dengan sebutan Putri) sejak 1948 - 1962.
Wihelmina memimpin Belanda selama lebih dari 50 tahun.  Kekuasannya menjadi saksi seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Krisis Ekonomi tahun 1933. Selain itu juga, kejatuhan Belanda sebagai penguasa kolonial di Hindia Belanda.
Dihimpun dari berbagai sumber, konon kabarnya Ratu Wilhelmina pernah jatuh cinta pada Sultan Sultan Syarif Kasim II, penguasa dari kerajaan Siak di Riau.
Sultan Syarif Kasim II naik tahta pada 13 Maret 1915 di usia 21 tahun untuk menggantikan sang ayah yang wafat 1908. Ia memiliki  darah Arab  yang mengalir ditubuhnya, perawakannya tegap, gagah, rapi, berkharisma.
Baca Juga:&amp;nbsp;Kisah Ratu Belanda Juliana Tanda Tangan Naskah Pengakuan Kedaulatan
Awal pertemuan mereka, saat sang ratu berkunjung ke Istana Siak Sri Indrapura. pada momen Sultan menjabat, pada saat itulah Ratu Wilhelmina jatuh hati pada Sultan Syarif Kasim II.
Sultan juga diundang secara pribadi untuk menghadiri penobatan ratu Wilhelmina,  Sultan mendapat penghormatan tersendiri yang lebih dibandingkan tamu-tamunya yang lain.
Ratu Wilhelmina kembali mengundang Sultan Syarif Kasim secara pribadi pada perayaan pesta ulang tahunnya. Sultan mendapat sambutan yang luar biasa meriah.
Ratu juga sempat meminta agar sang sultan membuat patung dirinya untuk disimpan di Belanda. Sebagai gantinya, ia turut mengirim patung dirinya untuk disimpan di istana Siak Sri Indrapura sebagai kenang-kenangan. Keduanya juga sering bertukar kado.
Namun perbedaan yang menyolok seperti perbedaan agama, adat, bangsa, membuat Sultan mundur secara halus dan perlahan.Ia memilih banyak menghabiskan waktu di nasjid dan dekat dengan rakyatnya. Ia mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang terletak di samping sekolah berbahasa Melayu untuk seluruh masyarakat.
Ia juga membangun sarana transportasi agar para siswa dengan mudah bersekolah dengan menyediakan perahu gratis.
Bahkan istilah bea siswa telah diterapkan Sultan demi mencerdaskan rakyatnya. Mereka yang berbakat dikirim Syarif menuju Padang, Medan, maupun Batavia untuk memperdalam pendidikannya.
Dia juga membuat sekolah agama yang dikhususnya untuk para pria. Sekolah yang diberi nama Taufiqiah Al-Hasyimah itu dikonsep menjadi sebuah tempat memperoleh ilmu agama dari para guru profesional yang didatangkan dari Padang dan juga Mesir.
Ia secara terang-terangan berani menentang kebijakan Belanda mengenai kewajiban kerja rodi. Sikap tersebut sangat dibenci oleh Belanda, dan diadianggap sebagai pemberontak. Ia juga menentang kebijakan romusha oleh Jepang karena tak terima rakyatnya diperlakukan demikian.
Hingga akhirnya ketika dia mendengar kabar terkait kemerdekaan Indonesia, Sultan mengirim surat berisi dukungan penuh pada Soekarno dan Hatta.
Sultan menemui Presiden Soekarno di Jakarta pada bulan Oktober atau tiga bulan setelah Proklamasi untuk menyerahkan Mahkota Kesultanan, Istana Siak beserta semua perangkatnya sekaligus menyumbangkan uang 13 juta gulden atau setara satu triliun rupiah lebih.
Sultan berbesar hati menyatukan kerajaannya untuk bergabung dengan NKRI setelah mendengar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.
Sultan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 1998 dan namanya dijadikan sebagai nama Bandar Udara Pekanbaru.
Ia menjadi Sultan terakhir kerajaan Siak karena tidak memiliki keturunan.Sultan Syarif Kassim II g menikah dua kali tidak mempunyai keturunan. Istri pertama meninggal dan dia kawin kedua kali, namun bercerai, tanpa anak.Dia meninggal di Rumbai tahun 1968 pada usia 74 tahun, dalam keadaan tidak berharta.</description><content:encoded>RATU Wilhelmina (Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau) lahir 31 Agustus 1880, meninggal 28 November 1962 pada umur 82 tahun, Putri Orange-Nassau, adalah Ratu Belanda sejak 1890-1948. Ia juga Ibu Suri (dengan sebutan Putri) sejak 1948 - 1962.
Wihelmina memimpin Belanda selama lebih dari 50 tahun.  Kekuasannya menjadi saksi seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Krisis Ekonomi tahun 1933. Selain itu juga, kejatuhan Belanda sebagai penguasa kolonial di Hindia Belanda.
Dihimpun dari berbagai sumber, konon kabarnya Ratu Wilhelmina pernah jatuh cinta pada Sultan Sultan Syarif Kasim II, penguasa dari kerajaan Siak di Riau.
Sultan Syarif Kasim II naik tahta pada 13 Maret 1915 di usia 21 tahun untuk menggantikan sang ayah yang wafat 1908. Ia memiliki  darah Arab  yang mengalir ditubuhnya, perawakannya tegap, gagah, rapi, berkharisma.
Baca Juga:&amp;nbsp;Kisah Ratu Belanda Juliana Tanda Tangan Naskah Pengakuan Kedaulatan
Awal pertemuan mereka, saat sang ratu berkunjung ke Istana Siak Sri Indrapura. pada momen Sultan menjabat, pada saat itulah Ratu Wilhelmina jatuh hati pada Sultan Syarif Kasim II.
Sultan juga diundang secara pribadi untuk menghadiri penobatan ratu Wilhelmina,  Sultan mendapat penghormatan tersendiri yang lebih dibandingkan tamu-tamunya yang lain.
Ratu Wilhelmina kembali mengundang Sultan Syarif Kasim secara pribadi pada perayaan pesta ulang tahunnya. Sultan mendapat sambutan yang luar biasa meriah.
Ratu juga sempat meminta agar sang sultan membuat patung dirinya untuk disimpan di Belanda. Sebagai gantinya, ia turut mengirim patung dirinya untuk disimpan di istana Siak Sri Indrapura sebagai kenang-kenangan. Keduanya juga sering bertukar kado.
Namun perbedaan yang menyolok seperti perbedaan agama, adat, bangsa, membuat Sultan mundur secara halus dan perlahan.Ia memilih banyak menghabiskan waktu di nasjid dan dekat dengan rakyatnya. Ia mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang terletak di samping sekolah berbahasa Melayu untuk seluruh masyarakat.
Ia juga membangun sarana transportasi agar para siswa dengan mudah bersekolah dengan menyediakan perahu gratis.
Bahkan istilah bea siswa telah diterapkan Sultan demi mencerdaskan rakyatnya. Mereka yang berbakat dikirim Syarif menuju Padang, Medan, maupun Batavia untuk memperdalam pendidikannya.
Dia juga membuat sekolah agama yang dikhususnya untuk para pria. Sekolah yang diberi nama Taufiqiah Al-Hasyimah itu dikonsep menjadi sebuah tempat memperoleh ilmu agama dari para guru profesional yang didatangkan dari Padang dan juga Mesir.
Ia secara terang-terangan berani menentang kebijakan Belanda mengenai kewajiban kerja rodi. Sikap tersebut sangat dibenci oleh Belanda, dan diadianggap sebagai pemberontak. Ia juga menentang kebijakan romusha oleh Jepang karena tak terima rakyatnya diperlakukan demikian.
Hingga akhirnya ketika dia mendengar kabar terkait kemerdekaan Indonesia, Sultan mengirim surat berisi dukungan penuh pada Soekarno dan Hatta.
Sultan menemui Presiden Soekarno di Jakarta pada bulan Oktober atau tiga bulan setelah Proklamasi untuk menyerahkan Mahkota Kesultanan, Istana Siak beserta semua perangkatnya sekaligus menyumbangkan uang 13 juta gulden atau setara satu triliun rupiah lebih.
Sultan berbesar hati menyatukan kerajaannya untuk bergabung dengan NKRI setelah mendengar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.
Sultan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 1998 dan namanya dijadikan sebagai nama Bandar Udara Pekanbaru.
Ia menjadi Sultan terakhir kerajaan Siak karena tidak memiliki keturunan.Sultan Syarif Kassim II g menikah dua kali tidak mempunyai keturunan. Istri pertama meninggal dan dia kawin kedua kali, namun bercerai, tanpa anak.Dia meninggal di Rumbai tahun 1968 pada usia 74 tahun, dalam keadaan tidak berharta.</content:encoded></item></channel></rss>
