<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Soeharto Salat di Dalam Kakbah, Bingung Menghadap Mana</title><description>Soeharto amat bersyukur diberi kesempatan untuk bersembahyang di dalam Kakbah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/09/337/2438121/cerita-soeharto-salat-di-dalam-kakbah-bingung-menghadap-mana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/09/337/2438121/cerita-soeharto-salat-di-dalam-kakbah-bingung-menghadap-mana"/><item><title>Cerita Soeharto Salat di Dalam Kakbah, Bingung Menghadap Mana</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/09/337/2438121/cerita-soeharto-salat-di-dalam-kakbah-bingung-menghadap-mana</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/09/337/2438121/cerita-soeharto-salat-di-dalam-kakbah-bingung-menghadap-mana</guid><pubDate>Sabtu 10 Juli 2021 06:39 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/09/337/2438121/cerita-soeharto-salat-di-dalam-kakbah-bingung-menghadap-mana-vMegxY7WLX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: tututsoeharto.id)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/09/337/2438121/cerita-soeharto-salat-di-dalam-kakbah-bingung-menghadap-mana-vMegxY7WLX.jpg</image><title>(Foto: tututsoeharto.id)</title></images><description>JAKARTA - Presiden kedua Indonesia Soeharto amat bersyukur bisa menjalani ibadah umrah pada 1977. Betul-betul umroh, menjalankan ibadah sunnah.

Dengan perjalanan itu, Soeharto memenuhi pula undangan pemerintah Arab Saudi. Waktu dia tiba di Ka&amp;rsquo;bah, benar-benar saya pasrah, dirinya resapkan perasaan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

&quot;Saya bersyukur, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bersembahyang di dalam Ka&amp;rsquo;bah juga. Ka&amp;rsquo;bah yang menjadi kiblat semua umat Islam waktu bersembahyang,&quot; demikian penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku &amp;ldquo;Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya&amp;rdquo; yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

Baca juga:&amp;nbsp;Ketika Presiden Soeharto Bicara soal Peran Wanita dan Kawin Lagi

Baca juga:&amp;nbsp;Cerita Soeharto Bujuk Jenderal Soedirman Kembali ke Yogyakarta

Waktu akan sembahyang di sana, Soeharto berpikir dan berbisik, &amp;ldquo;Harus mengarah ke mana, nih?&amp;rdquo;

Sebabnya, karena Ka&amp;rsquo;bah itu adalah kiblat, arah ke mana kita mesti menghadap. Tetapi kalau kita sudah berada di dalamnya, jadinya kita mesti mengarah ke mana waktu sembahyang di sana?
Maka Soeharto merasa bersyukur, bisa bersembahyang beberapa kali dengan mengarah ke semua arah, ke utara, lalu ke selatan, timur, dan barat, sesuai dengan petunjuk yang Soeharto dapatkan. Setiap kali dua rakaat. Sungguh, dirinya merasa bersyukur.

Orang bertanya, apakah Soeharto waktu berada di dalam Ka&amp;rsquo;bah itu menemukan perasaan khusus? Terus terang mesti menjawab, tidak.

&quot;Sebabnya, karena saya merasa di mana pun saya selalu berusaha dekat dengan Tuhan. Tidak hanya waktu berada di dalam Ka&amp;rsquo;bah saja. Saya selalu melatih diri supaya dekat dengan Tuhan,&quot; ungkap dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden kedua Indonesia Soeharto amat bersyukur bisa menjalani ibadah umrah pada 1977. Betul-betul umroh, menjalankan ibadah sunnah.

Dengan perjalanan itu, Soeharto memenuhi pula undangan pemerintah Arab Saudi. Waktu dia tiba di Ka&amp;rsquo;bah, benar-benar saya pasrah, dirinya resapkan perasaan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

&quot;Saya bersyukur, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bersembahyang di dalam Ka&amp;rsquo;bah juga. Ka&amp;rsquo;bah yang menjadi kiblat semua umat Islam waktu bersembahyang,&quot; demikian penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku &amp;ldquo;Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya&amp;rdquo; yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.

Baca juga:&amp;nbsp;Ketika Presiden Soeharto Bicara soal Peran Wanita dan Kawin Lagi

Baca juga:&amp;nbsp;Cerita Soeharto Bujuk Jenderal Soedirman Kembali ke Yogyakarta

Waktu akan sembahyang di sana, Soeharto berpikir dan berbisik, &amp;ldquo;Harus mengarah ke mana, nih?&amp;rdquo;

Sebabnya, karena Ka&amp;rsquo;bah itu adalah kiblat, arah ke mana kita mesti menghadap. Tetapi kalau kita sudah berada di dalamnya, jadinya kita mesti mengarah ke mana waktu sembahyang di sana?
Maka Soeharto merasa bersyukur, bisa bersembahyang beberapa kali dengan mengarah ke semua arah, ke utara, lalu ke selatan, timur, dan barat, sesuai dengan petunjuk yang Soeharto dapatkan. Setiap kali dua rakaat. Sungguh, dirinya merasa bersyukur.

Orang bertanya, apakah Soeharto waktu berada di dalam Ka&amp;rsquo;bah itu menemukan perasaan khusus? Terus terang mesti menjawab, tidak.

&quot;Sebabnya, karena saya merasa di mana pun saya selalu berusaha dekat dengan Tuhan. Tidak hanya waktu berada di dalam Ka&amp;rsquo;bah saja. Saya selalu melatih diri supaya dekat dengan Tuhan,&quot; ungkap dia.</content:encoded></item></channel></rss>
