<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Bung Karno Pinjam Uang untuk Beli Rambutan dan Menikahkan Anak</title><description>sebagai Presiden, Bung Karno jarang mempunyai uang, juga tidak bergelimang harta benda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/11/337/2438811/kisah-bung-karno-pinjam-uang-untuk-beli-rambutan-dan-menikahkan-anak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/11/337/2438811/kisah-bung-karno-pinjam-uang-untuk-beli-rambutan-dan-menikahkan-anak"/><item><title>Kisah Bung Karno Pinjam Uang untuk Beli Rambutan dan Menikahkan Anak</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/11/337/2438811/kisah-bung-karno-pinjam-uang-untuk-beli-rambutan-dan-menikahkan-anak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/11/337/2438811/kisah-bung-karno-pinjam-uang-untuk-beli-rambutan-dan-menikahkan-anak</guid><pubDate>Minggu 11 Juli 2021 06:40 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/11/337/2438811/kisah-bung-karno-tak-saat-melarat-pinjam-uang-untuk-beli-rambutan-dan-menikahkan-anak-EEnyiSrEFS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Karno saat berpidato (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/11/337/2438811/kisah-bung-karno-tak-saat-melarat-pinjam-uang-untuk-beli-rambutan-dan-menikahkan-anak-EEnyiSrEFS.jpg</image><title>Bung Karno saat berpidato (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Dalam buku &quot;Total Bung Karno&quot; karya Roso Daras diceritakan bahwa sebagai Presiden, Bung Karno jarang mempunyai uang, juga tidak bergelimang harta benda.
Soekarno tak punya uang simpanan di akhir hidupnya. Ketika salah seorang putrinya hendak menikah, Soekarno tak punya uang. Dengan malu dan terpaksa, dia meminta bantuan salah seorang istrinya, Yurike Sanger, untuk mencarikan utangan Rp 2 juta.
Dengan pengawalan ketat, Soekarno menemui Yurike. Wanita itu menangis melihat Soekarno. Tak ada lagi kegagahan yang dulu tampak. Sosok Soekarno kini tua dan renta karena tekanan batin.
&quot;Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal. Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang. Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional,&quot; beber Soekarno dengan getir.
Untungnya beberapa hari kemudian Yurike bisa mendapatkan uang itu. Dia mendapat pinjaman lunak dari seorang pengusaha.
Hal itu diceritakan Yurike Sanger dalam memoarnya yang ditulis Kadjat Adra'i dan diterbitkan Komunitas Bambu.
Suatu hari TD Pardede, pengusaha terkenal asal Medan yang dekat dengan Bung Karno dipanggil mendadak ke Jakarta. Setelah berbincang-bincang bersama menteri lainnya, Presiden Republik Indonesia itu mengajak TD Pardede ke pojok ruangan.
&amp;ldquo;Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang ?&amp;ldquo;
Ia gelagapan karena langsung ditodong oleh penguasa negeri.TD Pardede merogoh saku saku jasnya dan memberikan seribu dollar dari  kantongnya. Namun Bung Karno hanya mengambil secukupnya dan  mengembalikan sisanya kepada Pardede.
Ajudan terakhir Bung Karno adalah Putu Sugianitri, ex. polisi wanita  yang setelah Bung Karno tidak menjabat lagi, harus pensiun tanpa  kejelasan.
Suatu saat setelah tidak menjadi presiden, Bung Karno berjalan-jalan keliling kota dan tiba tiba ingin buah rambutan.
&amp;rdquo;Tri, beli rambutan.&amp;ldquo; &amp;rdquo;Uangnya mana ?&amp;rdquo; tanya si polwan asal Bali itu.
&amp;rdquo;Sing ngelah pis&amp;rdquo; kata Bung Karno dalam bahasa Bali yang artinya &quot;Saya tak punya uang.&quot;
Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang.</description><content:encoded>JAKARTA - Dalam buku &quot;Total Bung Karno&quot; karya Roso Daras diceritakan bahwa sebagai Presiden, Bung Karno jarang mempunyai uang, juga tidak bergelimang harta benda.
Soekarno tak punya uang simpanan di akhir hidupnya. Ketika salah seorang putrinya hendak menikah, Soekarno tak punya uang. Dengan malu dan terpaksa, dia meminta bantuan salah seorang istrinya, Yurike Sanger, untuk mencarikan utangan Rp 2 juta.
Dengan pengawalan ketat, Soekarno menemui Yurike. Wanita itu menangis melihat Soekarno. Tak ada lagi kegagahan yang dulu tampak. Sosok Soekarno kini tua dan renta karena tekanan batin.
&quot;Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal. Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang. Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional,&quot; beber Soekarno dengan getir.
Untungnya beberapa hari kemudian Yurike bisa mendapatkan uang itu. Dia mendapat pinjaman lunak dari seorang pengusaha.
Hal itu diceritakan Yurike Sanger dalam memoarnya yang ditulis Kadjat Adra'i dan diterbitkan Komunitas Bambu.
Suatu hari TD Pardede, pengusaha terkenal asal Medan yang dekat dengan Bung Karno dipanggil mendadak ke Jakarta. Setelah berbincang-bincang bersama menteri lainnya, Presiden Republik Indonesia itu mengajak TD Pardede ke pojok ruangan.
&amp;ldquo;Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang ?&amp;ldquo;
Ia gelagapan karena langsung ditodong oleh penguasa negeri.TD Pardede merogoh saku saku jasnya dan memberikan seribu dollar dari  kantongnya. Namun Bung Karno hanya mengambil secukupnya dan  mengembalikan sisanya kepada Pardede.
Ajudan terakhir Bung Karno adalah Putu Sugianitri, ex. polisi wanita  yang setelah Bung Karno tidak menjabat lagi, harus pensiun tanpa  kejelasan.
Suatu saat setelah tidak menjadi presiden, Bung Karno berjalan-jalan keliling kota dan tiba tiba ingin buah rambutan.
&amp;rdquo;Tri, beli rambutan.&amp;ldquo; &amp;rdquo;Uangnya mana ?&amp;rdquo; tanya si polwan asal Bali itu.
&amp;rdquo;Sing ngelah pis&amp;rdquo; kata Bung Karno dalam bahasa Bali yang artinya &quot;Saya tak punya uang.&quot;
Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang.</content:encoded></item></channel></rss>
