<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Survei Kemenag: 81% Masyarakat Indonesia Lebih Religius di Masa Pandemi</title><description>Sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19, tingkat religius (taat beragama) secara umum naik sebesar 81 persen.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/22/337/2444129/survei-kemenag-81-masyarakat-indonesia-lebih-religius-di-masa-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/22/337/2444129/survei-kemenag-81-masyarakat-indonesia-lebih-religius-di-masa-pandemi"/><item><title>Survei Kemenag: 81% Masyarakat Indonesia Lebih Religius di Masa Pandemi</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/22/337/2444129/survei-kemenag-81-masyarakat-indonesia-lebih-religius-di-masa-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/22/337/2444129/survei-kemenag-81-masyarakat-indonesia-lebih-religius-di-masa-pandemi</guid><pubDate>Kamis 22 Juli 2021 08:20 WIB</pubDate><dc:creator>Widya Michella</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/22/337/2444129/survei-kemenag-81-masyarakat-indonesia-lebih-religius-di-masa-pandemi-htdzHGSavY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi masyarakat sholat di tengah pandemi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/22/337/2444129/survei-kemenag-81-masyarakat-indonesia-lebih-religius-di-masa-pandemi-htdzHGSavY.jpg</image><title>Ilustrasi masyarakat sholat di tengah pandemi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19, tingkat religius (taat beragama) secara umum naik sebesar 81 persen. Hal ini disampaikan Kepala Balitbangdiklat Kemenag, Achmad Gunaryo pada survei tentang Urgensi Layanan Keagamaan di Masa Pandemi.&amp;nbsp;
&quot;Survei kita lakukan secara daring, pada 8-17 Maret 2021. Ditemukan, mayoritas responden merasa semakin relijius (taat beragama) sejak mereka mengalami/menjalani pandemi Covid-19. Nilainya mencapai 81%,&quot; kata Achmad Gunaryo seperti dikutip pada laman Kemenag, Kamis (22/7/2021).
Lalu juga ditemukan sebanyak 97% responden yang merasa keyakinan/keberagamaan secara psikologis dapat membantu dalam menghadapi Pandemi Covid-19 dan dampaknya. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya layanan konsultasi psiko-spiritual (psikologi keagamaan) yang tersedia.
&quot;Menurut teori, dalam situasi krisis, seperti pandemi Covid-19 ini, ketika orang mengalami ketakutan, penderitaan, atau penyakit  sering mengalami pembaruan spiritual,&quot; jelasnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;PPKM Darurat Diperpanjang, Perlukah Pembaruan STRP?
Sebanyak 1.550 responden dikerahkan untuk survei daring ini yang terdiri dari para penderita covid-19, penyitas dan masyarakat di 34 Provinsi di Indonesia. &quot;Dengan Metode Accidental sampling (non-probabilitas), temuan hanya berlaku bagi responden. Selanjutnya dilakukan pengumpulan informasi kualitatif, dengan mewawancara per telepon 20 informan terpilih,&quot; tambahnya.
Berikut hasil sejumlah temuan atas pertanyaan survei dan menggunakan teori dan instrumen FICA Spiritual History Tool yang dikembangkan Puchalski (1996):
- Kebanyakan responden sangat setuju dan setuju (55,1%), merasa Covid memengaruhi keyakinan/praktik keberagamaan.
- Sebanyak 61.6% responden merasa bahwa pandemi Covid yang berlangsung lama mendorong mereka menemukan makna hidup.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;PPKM Diperpanjang, MUI Harapkan Partisipasi Masyarakat Himpun Zakat dan Infak untuk Sesama
- Mayoritas responden (81%) merasa semakin religius (taat beragama) sejak mengalami/menjalani pandemi Covid-19.

- Mayoritas responden (97%) merasa keyakinan/keberagamaan mereka membantu (secara psikologis) mereka menghadapi Covid dan dampaknya.

- Sebanyak 86,7% responden berupaya terhubung dengan (mencari support dari) pemuka agama dan komunitas agama mereka.

- Selama menjalani pandemi, mayoritas responden (89,4%) merasa mendapat dukungan mental-spiritual (ada support system) dari pemuka agama dan komunitas agamanya.



- Saat isolasi/menyendiri, ragam aktivitas dilakukan. Sebanyak 56,3% mendengar/membaca kitab suci, 47,2% mendengar ceramah, dan 42,8% dzikir/meditasi. Sedikit sekali yang konsultasi-psikologis khusus. Hanya 22,1% responden yang mengaku pernah mendapat konseling psikologis-keagamaan, selama menjalani pandemi ini.



</description><content:encoded>JAKARTA - Sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19, tingkat religius (taat beragama) secara umum naik sebesar 81 persen. Hal ini disampaikan Kepala Balitbangdiklat Kemenag, Achmad Gunaryo pada survei tentang Urgensi Layanan Keagamaan di Masa Pandemi.&amp;nbsp;
&quot;Survei kita lakukan secara daring, pada 8-17 Maret 2021. Ditemukan, mayoritas responden merasa semakin relijius (taat beragama) sejak mereka mengalami/menjalani pandemi Covid-19. Nilainya mencapai 81%,&quot; kata Achmad Gunaryo seperti dikutip pada laman Kemenag, Kamis (22/7/2021).
Lalu juga ditemukan sebanyak 97% responden yang merasa keyakinan/keberagamaan secara psikologis dapat membantu dalam menghadapi Pandemi Covid-19 dan dampaknya. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya layanan konsultasi psiko-spiritual (psikologi keagamaan) yang tersedia.
&quot;Menurut teori, dalam situasi krisis, seperti pandemi Covid-19 ini, ketika orang mengalami ketakutan, penderitaan, atau penyakit  sering mengalami pembaruan spiritual,&quot; jelasnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;PPKM Darurat Diperpanjang, Perlukah Pembaruan STRP?
Sebanyak 1.550 responden dikerahkan untuk survei daring ini yang terdiri dari para penderita covid-19, penyitas dan masyarakat di 34 Provinsi di Indonesia. &quot;Dengan Metode Accidental sampling (non-probabilitas), temuan hanya berlaku bagi responden. Selanjutnya dilakukan pengumpulan informasi kualitatif, dengan mewawancara per telepon 20 informan terpilih,&quot; tambahnya.
Berikut hasil sejumlah temuan atas pertanyaan survei dan menggunakan teori dan instrumen FICA Spiritual History Tool yang dikembangkan Puchalski (1996):
- Kebanyakan responden sangat setuju dan setuju (55,1%), merasa Covid memengaruhi keyakinan/praktik keberagamaan.
- Sebanyak 61.6% responden merasa bahwa pandemi Covid yang berlangsung lama mendorong mereka menemukan makna hidup.
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;PPKM Diperpanjang, MUI Harapkan Partisipasi Masyarakat Himpun Zakat dan Infak untuk Sesama
- Mayoritas responden (81%) merasa semakin religius (taat beragama) sejak mengalami/menjalani pandemi Covid-19.

- Mayoritas responden (97%) merasa keyakinan/keberagamaan mereka membantu (secara psikologis) mereka menghadapi Covid dan dampaknya.

- Sebanyak 86,7% responden berupaya terhubung dengan (mencari support dari) pemuka agama dan komunitas agama mereka.

- Selama menjalani pandemi, mayoritas responden (89,4%) merasa mendapat dukungan mental-spiritual (ada support system) dari pemuka agama dan komunitas agamanya.



- Saat isolasi/menyendiri, ragam aktivitas dilakukan. Sebanyak 56,3% mendengar/membaca kitab suci, 47,2% mendengar ceramah, dan 42,8% dzikir/meditasi. Sedikit sekali yang konsultasi-psikologis khusus. Hanya 22,1% responden yang mengaku pernah mendapat konseling psikologis-keagamaan, selama menjalani pandemi ini.



</content:encoded></item></channel></rss>
