<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Jagoan Condet yang Gugur Diberondong Marsose di tengah Sungai Ciliwung</title><description>Para penduduk yang mencoba memperjuangkan hak-haknya ditangkapi dan disiksa para marsose.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/23/337/2444665/kisah-jagoan-condet-yang-gugur-diberondong-marsose-di-tengah-sungai-ciliwung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/07/23/337/2444665/kisah-jagoan-condet-yang-gugur-diberondong-marsose-di-tengah-sungai-ciliwung"/><item><title>Kisah Jagoan Condet yang Gugur Diberondong Marsose di tengah Sungai Ciliwung</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/07/23/337/2444665/kisah-jagoan-condet-yang-gugur-diberondong-marsose-di-tengah-sungai-ciliwung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/07/23/337/2444665/kisah-jagoan-condet-yang-gugur-diberondong-marsose-di-tengah-sungai-ciliwung</guid><pubDate>Jum'at 23 Juli 2021 06:34 WIB</pubDate><dc:creator>Doddy Handoko </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/23/337/2444665/kisah-jagoan-condet-yang-gugur-diberondong-marsose-di-tengah-sungai-ciliwung-hzXE7QPjV5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Arsip penjajahan Belanda (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/23/337/2444665/kisah-jagoan-condet-yang-gugur-diberondong-marsose-di-tengah-sungai-ciliwung-hzXE7QPjV5.jpg</image><title>Arsip penjajahan Belanda (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Pada tahun 1912  saat Landrad di Mesteer Cornelis (sekarang pasar Jatinegara) memberlakukan peraturan yang berkaitan dengan keagrariaan yang pada zaman itu lebih dikenal dengan istilah Tuan Tanah. Jaan Ameen , Tuan Tanah untuk sub distrik Pasar Rebo kerap melayangkan pengaduan ke Landrad perihal tunggakan upeti hasil bumi penduduk Condet dinilai terlalu manja.

Pengaduan itu berakibat disitanya rumah-rumah dan tanah-tanah penduduk Condet, bahkan tak sedikit rumah penduduk yang dibakar. Aksi sewenang-wenang ini semakin merajalela. Penduduk mulai marah, dan puncak kekecewaan penduduk terjadi pada tahun 1914.

&quot;Gubernemen menjatuhkan sanski pada seorang penduduk Condet untuk membayar denda sejumlah 7.20 Gulden atau kalau tidak pihak Gubernemen akan menyita semua miliknya. Penduduk Condet bertambah marah,&quot;ujar Yahya A Saputra, budayawan Betawi.

Para penduduk yang mencoba memperjuangkan hak-haknya ditangkapi dan disiksa para marsose. Entah sudah berapa jumlah penduduk yang ditangkapi. Namun, tindakan penyiksaan itu terus berlanjut.

Salah satu tokoh yang pernah disiksa Belanda adalah bang Latip, seorang warga Condet yang tergolong nekat. Serdadu Belanda merendamnya di rawa-rawa Asem Baris (sekarang pool taksi Gamya) selama sehari semalam tanpa diberi makan dan minum.


Malamnya, di tengah suasana yang masih panas , Entong Gendut -seorang putra kampung Condet-membubarkan pertunjukan topeng yang diadakan Jaan Ameen di landhuis Tanjung Oost (sekarang Gedong tinggi).

Tindakan Entong Gendut membuat Jaan Ameen tersinggung. Ia mengadukannya pada pihak Gubernemen. Pengaduan tersebut langsung ditanggapi pihak pejabat landrad Meester Cornelis yang langsung memanggil Entong Gendut untuk datang menghadap, tapi Entong Gendut tidak mau.

&quot;Dipimpin oleh Demang dan mantri polisi, sejumlah marsose dikerahkan untuk &amp;ldquo;memberi pelajaran&amp;rdquo; pada pria berjuluk Raja Muda ini,&quot;ucap Yahya.

Di rumahnya, di Batu Ampar, Entong Gendut duduk santai menyambut utusan gubernemen itu. Ada bang Awab dan bang Maliki, karib Entong Gendut dengan puluhan pemuda yang telah bersiap dengan hunusan goloknya.

Utusan Gubernemen bertanya pada Entong Gendut, mengapa ia berani membubarkan pertunjukan topeng yang sedang berlangsung.

&amp;ldquo;Demi agama yang saya anut&amp;rdquo; katanya singkat tapi lugas.

&amp;ldquo;Di sana marak praktek perjudian&amp;rdquo;, sambungnya geram.

Sesaat kemudian terjadi perdebatan. Entong Gendut menyalahkan  Gubernemen yang terlalu memihak pada kepentingan Belanda dan mengecam  kebijakan-kebijakan mereka yang banyak merugikan penduduk. Utusan  Gubernemen tidak siap untuk disudutkan, mereka murka.

Suasana semakin memanas, Entong Gendut berteriak, &amp;ldquo;Aya gedruk ni  tanah bakal jadi laut...!&amp;rdquo;. Namun mereka tidak berani bertindak konyol.

Suatu ketika, pemerintah Hindia Belanda dikejutkan oleh sepucuk surat  dari Entong Gendut, di dalam suratnya, gantian Entong Gendut yang  memanggil pejabat Gubernemen untuk menghadap dirinya, alias Raja muda,  alias Entong Gendut untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang  mereka lakukan pada penduduk Condet.

Belanda tidak tinggal diam, mereka mempersiapkan sejumlah pasukan  untuk sebuah operasi. Entong Gendut sebagai target operasi mereka,  sementara pasukannya akan dilibas habis.        Para mantri polisi dan  Wedana yang langsung memimpin operasi penangkapan Entong Gendut.

Mereka para marsose itu mengepung rumah Entong Gendut, Wedana  berteriak lantang memerintahkan Entong Gendut menyerah. Moncong-moncong  senapan sudah mengarah ke sasaran, hanya tinggal menunggu aba-aba.

Tapi konsentrasi massa yang terdiri dari para pemuda Condet berilmu  tinggi telah bersiap di hadapan mereka. Di dalam rumah, Entong Gendut  malah bersembahyang dengan tenangnya, suara-suara teriakan wedana itu  sama sekali tak mengganggu konsentrasi ibadah si Raja Muda. Sepertinya  ia sengaja membiarkan pasukan Belanda berlama-lama menunggu.

Setelah sembahyang Entong Gendut keluar. Di tangannya ia menggenggam  tombak ditutupi kain putih, goloknya yang setia itu nampak terselip di  pinggang. Di tangan satunya lagi ada bendera merah dengan gambar bulan  sabit berwarna putih. Ia membalas teriakan wedana dengan mengatakan  bahwa dirinya tidak akan tunduk pada siapapun termasuk Belanda.

&amp;ldquo;Sabilullah..., sabilullah...!&amp;rdquo; pasukannya mengamini.

Pertempuran tak dapat dihindarkan. Tapi kemenangan ada di pihak  Entong Gendut. Marsose-marsose banyak yang mati, wedana pun menjadi  tawanan.

Dan bukan main marahnya Belanda ketika mengetahui wedana telah  ditawan dan marsose-marsose itu kalah oleh penduduk yang hanya  mengandalkan tangan kosong atau golok. Bala bantuan berkekuatan besar  segera didatangkan.

Hari itu Belanda benar-benar mengerahkan kekuatan penuh untuk  melumpuhkan Entong Gendut. Kali ini mereka menerapkan siasat baru.  Entong Gendut sengaja telah dijebak.

Jawara Condet sakti itu tidak menyadari siasat baru operasi  penangkapan yang diterapkan Belanda. Di Balekambang, di tepi anak sungai  Ciliwung, insiden berdarah di Condet itu pun terjadi.

&amp;ldquo;Di anak sungai Ciliwung, kampung Balekambang, para marsose yang  telah menemukan kelemahan Entong Gendut itu mengakhiri sepak terjang  pahlawan Condet tadi,&amp;rdquo;tambahnya.

Semula para marsose sempat dipukul mundur, mereka berlarian kocar  kacir menyeberangi anak sungai Ciliwung. Entong Gendut berusaha  mengejar, tapi kawan-kawannya memperingati agar tidak ikut menyeberangi  sungai. Emosi sudah naik ke ubun-ubun, Entong Gendut tidak lagi  menggubris peringatan kawan-kawannya. Ia tetap berenang menyeberangi  sungai mengejar para marsose.

Memang itu rencana yang diinginkan Belanda, yaitu membunuh Entong Gendut saat berada di sungai.

Rahasia kelemahan Entong Gendut yang telah diketahui pihak Belanda  itu adalah bocoran informasi dari pengkhianat bangsa kepada pihak  Belanda bahwa Entong Gendut hanya bisa dibunuh saat berada di dalam  sungai. Akhirnya Entong Gendut  tewas diberondong oleh peluru-peluru  marsose.</description><content:encoded>JAKARTA - Pada tahun 1912  saat Landrad di Mesteer Cornelis (sekarang pasar Jatinegara) memberlakukan peraturan yang berkaitan dengan keagrariaan yang pada zaman itu lebih dikenal dengan istilah Tuan Tanah. Jaan Ameen , Tuan Tanah untuk sub distrik Pasar Rebo kerap melayangkan pengaduan ke Landrad perihal tunggakan upeti hasil bumi penduduk Condet dinilai terlalu manja.

Pengaduan itu berakibat disitanya rumah-rumah dan tanah-tanah penduduk Condet, bahkan tak sedikit rumah penduduk yang dibakar. Aksi sewenang-wenang ini semakin merajalela. Penduduk mulai marah, dan puncak kekecewaan penduduk terjadi pada tahun 1914.

&quot;Gubernemen menjatuhkan sanski pada seorang penduduk Condet untuk membayar denda sejumlah 7.20 Gulden atau kalau tidak pihak Gubernemen akan menyita semua miliknya. Penduduk Condet bertambah marah,&quot;ujar Yahya A Saputra, budayawan Betawi.

Para penduduk yang mencoba memperjuangkan hak-haknya ditangkapi dan disiksa para marsose. Entah sudah berapa jumlah penduduk yang ditangkapi. Namun, tindakan penyiksaan itu terus berlanjut.

Salah satu tokoh yang pernah disiksa Belanda adalah bang Latip, seorang warga Condet yang tergolong nekat. Serdadu Belanda merendamnya di rawa-rawa Asem Baris (sekarang pool taksi Gamya) selama sehari semalam tanpa diberi makan dan minum.


Malamnya, di tengah suasana yang masih panas , Entong Gendut -seorang putra kampung Condet-membubarkan pertunjukan topeng yang diadakan Jaan Ameen di landhuis Tanjung Oost (sekarang Gedong tinggi).

Tindakan Entong Gendut membuat Jaan Ameen tersinggung. Ia mengadukannya pada pihak Gubernemen. Pengaduan tersebut langsung ditanggapi pihak pejabat landrad Meester Cornelis yang langsung memanggil Entong Gendut untuk datang menghadap, tapi Entong Gendut tidak mau.

&quot;Dipimpin oleh Demang dan mantri polisi, sejumlah marsose dikerahkan untuk &amp;ldquo;memberi pelajaran&amp;rdquo; pada pria berjuluk Raja Muda ini,&quot;ucap Yahya.

Di rumahnya, di Batu Ampar, Entong Gendut duduk santai menyambut utusan gubernemen itu. Ada bang Awab dan bang Maliki, karib Entong Gendut dengan puluhan pemuda yang telah bersiap dengan hunusan goloknya.

Utusan Gubernemen bertanya pada Entong Gendut, mengapa ia berani membubarkan pertunjukan topeng yang sedang berlangsung.

&amp;ldquo;Demi agama yang saya anut&amp;rdquo; katanya singkat tapi lugas.

&amp;ldquo;Di sana marak praktek perjudian&amp;rdquo;, sambungnya geram.

Sesaat kemudian terjadi perdebatan. Entong Gendut menyalahkan  Gubernemen yang terlalu memihak pada kepentingan Belanda dan mengecam  kebijakan-kebijakan mereka yang banyak merugikan penduduk. Utusan  Gubernemen tidak siap untuk disudutkan, mereka murka.

Suasana semakin memanas, Entong Gendut berteriak, &amp;ldquo;Aya gedruk ni  tanah bakal jadi laut...!&amp;rdquo;. Namun mereka tidak berani bertindak konyol.

Suatu ketika, pemerintah Hindia Belanda dikejutkan oleh sepucuk surat  dari Entong Gendut, di dalam suratnya, gantian Entong Gendut yang  memanggil pejabat Gubernemen untuk menghadap dirinya, alias Raja muda,  alias Entong Gendut untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang  mereka lakukan pada penduduk Condet.

Belanda tidak tinggal diam, mereka mempersiapkan sejumlah pasukan  untuk sebuah operasi. Entong Gendut sebagai target operasi mereka,  sementara pasukannya akan dilibas habis.        Para mantri polisi dan  Wedana yang langsung memimpin operasi penangkapan Entong Gendut.

Mereka para marsose itu mengepung rumah Entong Gendut, Wedana  berteriak lantang memerintahkan Entong Gendut menyerah. Moncong-moncong  senapan sudah mengarah ke sasaran, hanya tinggal menunggu aba-aba.

Tapi konsentrasi massa yang terdiri dari para pemuda Condet berilmu  tinggi telah bersiap di hadapan mereka. Di dalam rumah, Entong Gendut  malah bersembahyang dengan tenangnya, suara-suara teriakan wedana itu  sama sekali tak mengganggu konsentrasi ibadah si Raja Muda. Sepertinya  ia sengaja membiarkan pasukan Belanda berlama-lama menunggu.

Setelah sembahyang Entong Gendut keluar. Di tangannya ia menggenggam  tombak ditutupi kain putih, goloknya yang setia itu nampak terselip di  pinggang. Di tangan satunya lagi ada bendera merah dengan gambar bulan  sabit berwarna putih. Ia membalas teriakan wedana dengan mengatakan  bahwa dirinya tidak akan tunduk pada siapapun termasuk Belanda.

&amp;ldquo;Sabilullah..., sabilullah...!&amp;rdquo; pasukannya mengamini.

Pertempuran tak dapat dihindarkan. Tapi kemenangan ada di pihak  Entong Gendut. Marsose-marsose banyak yang mati, wedana pun menjadi  tawanan.

Dan bukan main marahnya Belanda ketika mengetahui wedana telah  ditawan dan marsose-marsose itu kalah oleh penduduk yang hanya  mengandalkan tangan kosong atau golok. Bala bantuan berkekuatan besar  segera didatangkan.

Hari itu Belanda benar-benar mengerahkan kekuatan penuh untuk  melumpuhkan Entong Gendut. Kali ini mereka menerapkan siasat baru.  Entong Gendut sengaja telah dijebak.

Jawara Condet sakti itu tidak menyadari siasat baru operasi  penangkapan yang diterapkan Belanda. Di Balekambang, di tepi anak sungai  Ciliwung, insiden berdarah di Condet itu pun terjadi.

&amp;ldquo;Di anak sungai Ciliwung, kampung Balekambang, para marsose yang  telah menemukan kelemahan Entong Gendut itu mengakhiri sepak terjang  pahlawan Condet tadi,&amp;rdquo;tambahnya.

Semula para marsose sempat dipukul mundur, mereka berlarian kocar  kacir menyeberangi anak sungai Ciliwung. Entong Gendut berusaha  mengejar, tapi kawan-kawannya memperingati agar tidak ikut menyeberangi  sungai. Emosi sudah naik ke ubun-ubun, Entong Gendut tidak lagi  menggubris peringatan kawan-kawannya. Ia tetap berenang menyeberangi  sungai mengejar para marsose.

Memang itu rencana yang diinginkan Belanda, yaitu membunuh Entong Gendut saat berada di sungai.

Rahasia kelemahan Entong Gendut yang telah diketahui pihak Belanda  itu adalah bocoran informasi dari pengkhianat bangsa kepada pihak  Belanda bahwa Entong Gendut hanya bisa dibunuh saat berada di dalam  sungai. Akhirnya Entong Gendut  tewas diberondong oleh peluru-peluru  marsose.</content:encoded></item></channel></rss>
