<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pulihkan Kerja Sama Pertahanan, Ini Alasan Filipina Lebih Memilih AS Daripada China</title><description>Filipina memiliki hubungan yang cukup dekat dengan AS dan China.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/05/18/2451491/pulihkan-kerja-sama-pertahanan-ini-alasan-filipina-lebih-memilih-as-daripada-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/08/05/18/2451491/pulihkan-kerja-sama-pertahanan-ini-alasan-filipina-lebih-memilih-as-daripada-china"/><item><title>Pulihkan Kerja Sama Pertahanan, Ini Alasan Filipina Lebih Memilih AS Daripada China</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/05/18/2451491/pulihkan-kerja-sama-pertahanan-ini-alasan-filipina-lebih-memilih-as-daripada-china</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/08/05/18/2451491/pulihkan-kerja-sama-pertahanan-ini-alasan-filipina-lebih-memilih-as-daripada-china</guid><pubDate>Kamis 05 Agustus 2021 17:27 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/05/18/2451491/pulihkan-kerja-sama-pertahanan-ini-alasan-filipina-lebih-memilih-as-daripada-china-1kCJL6scCL.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Filipina Rodrigo Duterte bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Llyod Austin di Istana Malacanang, Manila, Filipina, 29 Juli 2021. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/05/18/2451491/pulihkan-kerja-sama-pertahanan-ini-alasan-filipina-lebih-memilih-as-daripada-china-1kCJL6scCL.JPG</image><title>Presiden Filipina Rodrigo Duterte bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Llyod Austin di Istana Malacanang, Manila, Filipina, 29 Juli 2021. (Foto: Reuters)</title></images><description>MANILA - Para analis mengatakan, keputusan Pemerintah Filipina untuk memulihkan Pakta Pertahanan dengan militer Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa China belum memberi cukup banyak kepada negara Asia Tenggara itu untuk mempertahankan persahabatan atau mengambil hati rakyat Filipina.
Sebelumnya, Pemerintah Filipina selama 18 bulan mengancam akan membatalkan pakta tersebut.
BACA JUGA:&amp;nbsp;AS Peringatkan China, Bela Angkatan Bersenjata Filipina Terkait Sengketa Laut China Selatan&amp;nbsp;
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan pada 29 Juli dalam kunjungan Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin ke Manila, bahwa ia akan melanjutkan pakta yang berusia 22 tahun, secara umum dikenal sebagai Visiting Force Agreement (VFA).
Duterte mengatakan sejak Februari 2020 bahwa ia berencana untuk keluar dari pakta itu.
Para pakar mengatakan, Duterte yang menjabat 2016, menyadari bahwa China tidak akan memenuhi janji memberi bantuan dan investasi senilai $33 miliar kepada negara kepulauan di Asia Tenggara yang tumbuh cepat dan haus infrastruktur.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Manila Klaim Hampir 300 Kapal Milisi China Terobos Perairan Filipina&amp;nbsp;
Pada Maret dan April Filipina terkejut dengan 220 kapal China yang ditambatkan di karang yang disengketakan oleh kedua negara. Para analis mengatakan tindakan itu semakin membuat marah para pejabat di Manila, mengingatkan mereka akan sengketa kedaulatan maritim yang lebih luas dengan Beijing.
</description><content:encoded>MANILA - Para analis mengatakan, keputusan Pemerintah Filipina untuk memulihkan Pakta Pertahanan dengan militer Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa China belum memberi cukup banyak kepada negara Asia Tenggara itu untuk mempertahankan persahabatan atau mengambil hati rakyat Filipina.
Sebelumnya, Pemerintah Filipina selama 18 bulan mengancam akan membatalkan pakta tersebut.
BACA JUGA:&amp;nbsp;AS Peringatkan China, Bela Angkatan Bersenjata Filipina Terkait Sengketa Laut China Selatan&amp;nbsp;
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan pada 29 Juli dalam kunjungan Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin ke Manila, bahwa ia akan melanjutkan pakta yang berusia 22 tahun, secara umum dikenal sebagai Visiting Force Agreement (VFA).
Duterte mengatakan sejak Februari 2020 bahwa ia berencana untuk keluar dari pakta itu.
Para pakar mengatakan, Duterte yang menjabat 2016, menyadari bahwa China tidak akan memenuhi janji memberi bantuan dan investasi senilai $33 miliar kepada negara kepulauan di Asia Tenggara yang tumbuh cepat dan haus infrastruktur.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Manila Klaim Hampir 300 Kapal Milisi China Terobos Perairan Filipina&amp;nbsp;
Pada Maret dan April Filipina terkejut dengan 220 kapal China yang ditambatkan di karang yang disengketakan oleh kedua negara. Para analis mengatakan tindakan itu semakin membuat marah para pejabat di Manila, mengingatkan mereka akan sengketa kedaulatan maritim yang lebih luas dengan Beijing.
</content:encoded></item></channel></rss>
