<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Mbah Djugo, Tabib Sakti yang Jinakkan Wabah Kolera di Tanah Jawa   </title><description>Mbah Djugo selalu muncul di saat rakyat kecil mengalami kesusahan. Begitu juga saat seluruh tanah Jawa dilanda pagebluk.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/14/337/2455382/cerita-mbah-djugo-tabib-sakti-yang-jinakkan-wabah-kolera-di-tanah-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/08/14/337/2455382/cerita-mbah-djugo-tabib-sakti-yang-jinakkan-wabah-kolera-di-tanah-jawa"/><item><title>Cerita Mbah Djugo, Tabib Sakti yang Jinakkan Wabah Kolera di Tanah Jawa   </title><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/14/337/2455382/cerita-mbah-djugo-tabib-sakti-yang-jinakkan-wabah-kolera-di-tanah-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/08/14/337/2455382/cerita-mbah-djugo-tabib-sakti-yang-jinakkan-wabah-kolera-di-tanah-jawa</guid><pubDate>Sabtu 14 Agustus 2021 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/13/337/2455382/cerita-mbah-djugo-tabib-sakti-yang-jinakkan-wabah-kolera-di-tanah-jawa-vzzcyMhs9m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">foto: istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/13/337/2455382/cerita-mbah-djugo-tabib-sakti-yang-jinakkan-wabah-kolera-di-tanah-jawa-vzzcyMhs9m.jpg</image><title>foto: istimewa</title></images><description>MBAH DJUGO selalu muncul di saat rakyat kecil mengalami kesusahan. Begitu juga saat seluruh tanah Jawa dilanda pagebluk wabah penyakit kolera. Sekitar tahun 1870. Seorang laki-laki tua dengan kumis dan jenggot panjang, tiba-tiba kembali muncul di Desa Djugo.
Perawakannya jangkung. Dengan kulit wajah yang senantiasa memerah seperti kebanyakan tersiram matahari. Yang membedakan Mbah Djugo dengan orang pada umumnya, kedua daun telinganya terlihat lebih besar.
&amp;nbsp;Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kisah M Hatta, Punya 8.000 Judul Buku Diangkut dengan 14 Peti
Yang juga diingat setiap orang yang pernah ditolongnya. Penampilannya sepintas mirip gelandangan. Namun anehnya baju yang dikenakan tidak pernah tampak compang camping maupun kotor.

&quot;Ketika menampak kedatangannya, penduduk Desa Djugo memburu dengan menangis sebagai anak-anak melihat ibunya datang dari bepergian jauh,&quot; tulis Im Yang Tju dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi. &quot;Mereka mengadukan penderitaannya, minta obat, minta dilindungi keselamatannya&quot;.
Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Cerita Untung Surapati Tertuang dalam Novel dari Zaman ke Zaman
Desa Djugo atau Jugo berada di wilayah Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Malang sekaligus berdekatan dengan Gunung Kawi. Mbah Djugo muncul dari dalam belukar hutan. Melihat antusias orang yang merindukan kehadirannya, ia berjalan ke arah kandang sapi yang lama tidak terpakai. Sebelum masuk hutan dan kemudian menghilang, di kandang sapi di pinggir hutan tersebut, Mbah Djugo biasa seperti termangu sendirian.

&quot;Hayo, siapa yang sakit boleh datang kemari, yang tidak bisa jalan boleh suruhan orang saja membawa air di botol atau bumbung. Nanti kuberi obat supaya waras kembali,&quot; seloroh Mbah Djugo seperti dituturkan Im Yang Tju.
Terutama bagi kaum kromo atau rakyat jelata. Wabah kolera menimbulkan ketakutan sekaligus kesengsaraan. Kematian terjadi di mana mana. Sejarawan Susan Blackburn menyebut epidemi kolera pecah di Hindia Belanda mulai tahun 1820.

Hubungan dagang antara Jawa dengan India melalui selat Malaka, menjadi pemicunya. Serangan pertama muncul di sepanjang pesisir pantai utara Jawa. Dari Batavia, penyakit kolera menyebar ke Semarang hingga Surabaya. Orang Jawa menyebut pagebluk. Pagi mengeluh demam disertai muntah dan berak, sore sudah meninggal dunia. Begitu juga sore sakit, paginya meregang nyawa. Tercatat pada tahun 1910 sebanyak 60 ribu penduduk Jawa dan Madura tewas akibat kolera.

Di Desa Djugo, Kabupaten Blitar. Begitu mendengar Mbah Djugo mengatakan cukup membawa air, warga sontak berduyun-duyun mencari tempat air.

&quot;Ada yang pakai cangkir, ada yang pakai kelowoh, ada yang pakai bumbung,&quot; kata Im Yang Tju seperti dituturkan dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi.

Air di dalam wadah yang beragam tersebut, diletakkan di depan Mbah Djugo. Laki-laki tua itu hanya diam. Semua wadah air itu hanya dipandangnya.

Sejurus kemudian. Warga dimintanya membawa air itu pulang. Air diminumkan kepada si sakit. Juga dioleskan pada tubuh yang dianggap sakit. Ajaib. Dalam waktu singkat semua berangsur-angsur sembuh, sehat seperti sedia kala. Kabar munculnya Mbah Djugo dengan cepat menyebar ke desa-desa lain. Ke arah Timur bergetok tular sampai wilayah Sumberpucung dan Kepanjen (Wilayah Kabupaten Malang).

Ke barat menyebar sampai wilayah Wlingi hingga Kota Blitar. Nama Mbah Djugo menjadi buah bibir. Diucapkan di mana-mana dengan penuh hormat. &quot;Tidak lama wabah penyakit kolera yang meliputi seluruh daerah Blitar, Tulungagung, Kediri, Wlingi, Kepanjen, Malang dan desa-desa sepanjang pesisir laut selatan, telah terbasmi musnah. Rakyat telah negeri telah tentram kembali hidupnya,&quot; tulis Im Yang Tju. (din)</description><content:encoded>MBAH DJUGO selalu muncul di saat rakyat kecil mengalami kesusahan. Begitu juga saat seluruh tanah Jawa dilanda pagebluk wabah penyakit kolera. Sekitar tahun 1870. Seorang laki-laki tua dengan kumis dan jenggot panjang, tiba-tiba kembali muncul di Desa Djugo.
Perawakannya jangkung. Dengan kulit wajah yang senantiasa memerah seperti kebanyakan tersiram matahari. Yang membedakan Mbah Djugo dengan orang pada umumnya, kedua daun telinganya terlihat lebih besar.
&amp;nbsp;Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kisah M Hatta, Punya 8.000 Judul Buku Diangkut dengan 14 Peti
Yang juga diingat setiap orang yang pernah ditolongnya. Penampilannya sepintas mirip gelandangan. Namun anehnya baju yang dikenakan tidak pernah tampak compang camping maupun kotor.

&quot;Ketika menampak kedatangannya, penduduk Desa Djugo memburu dengan menangis sebagai anak-anak melihat ibunya datang dari bepergian jauh,&quot; tulis Im Yang Tju dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi. &quot;Mereka mengadukan penderitaannya, minta obat, minta dilindungi keselamatannya&quot;.
Baca juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Cerita Untung Surapati Tertuang dalam Novel dari Zaman ke Zaman
Desa Djugo atau Jugo berada di wilayah Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Malang sekaligus berdekatan dengan Gunung Kawi. Mbah Djugo muncul dari dalam belukar hutan. Melihat antusias orang yang merindukan kehadirannya, ia berjalan ke arah kandang sapi yang lama tidak terpakai. Sebelum masuk hutan dan kemudian menghilang, di kandang sapi di pinggir hutan tersebut, Mbah Djugo biasa seperti termangu sendirian.

&quot;Hayo, siapa yang sakit boleh datang kemari, yang tidak bisa jalan boleh suruhan orang saja membawa air di botol atau bumbung. Nanti kuberi obat supaya waras kembali,&quot; seloroh Mbah Djugo seperti dituturkan Im Yang Tju.
Terutama bagi kaum kromo atau rakyat jelata. Wabah kolera menimbulkan ketakutan sekaligus kesengsaraan. Kematian terjadi di mana mana. Sejarawan Susan Blackburn menyebut epidemi kolera pecah di Hindia Belanda mulai tahun 1820.

Hubungan dagang antara Jawa dengan India melalui selat Malaka, menjadi pemicunya. Serangan pertama muncul di sepanjang pesisir pantai utara Jawa. Dari Batavia, penyakit kolera menyebar ke Semarang hingga Surabaya. Orang Jawa menyebut pagebluk. Pagi mengeluh demam disertai muntah dan berak, sore sudah meninggal dunia. Begitu juga sore sakit, paginya meregang nyawa. Tercatat pada tahun 1910 sebanyak 60 ribu penduduk Jawa dan Madura tewas akibat kolera.

Di Desa Djugo, Kabupaten Blitar. Begitu mendengar Mbah Djugo mengatakan cukup membawa air, warga sontak berduyun-duyun mencari tempat air.

&quot;Ada yang pakai cangkir, ada yang pakai kelowoh, ada yang pakai bumbung,&quot; kata Im Yang Tju seperti dituturkan dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi.

Air di dalam wadah yang beragam tersebut, diletakkan di depan Mbah Djugo. Laki-laki tua itu hanya diam. Semua wadah air itu hanya dipandangnya.

Sejurus kemudian. Warga dimintanya membawa air itu pulang. Air diminumkan kepada si sakit. Juga dioleskan pada tubuh yang dianggap sakit. Ajaib. Dalam waktu singkat semua berangsur-angsur sembuh, sehat seperti sedia kala. Kabar munculnya Mbah Djugo dengan cepat menyebar ke desa-desa lain. Ke arah Timur bergetok tular sampai wilayah Sumberpucung dan Kepanjen (Wilayah Kabupaten Malang).

Ke barat menyebar sampai wilayah Wlingi hingga Kota Blitar. Nama Mbah Djugo menjadi buah bibir. Diucapkan di mana-mana dengan penuh hormat. &quot;Tidak lama wabah penyakit kolera yang meliputi seluruh daerah Blitar, Tulungagung, Kediri, Wlingi, Kepanjen, Malang dan desa-desa sepanjang pesisir laut selatan, telah terbasmi musnah. Rakyat telah negeri telah tentram kembali hidupnya,&quot; tulis Im Yang Tju. (din)</content:encoded></item></channel></rss>
