<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HUT Ke-76 RI, Ketua PP Muhammadiyah: Kita Harus Belajar dari Sejarah soal Persatuan Bangsa</title><description>Tidak boleh ada dendam politik yang hanya akan merusak semangat persatuan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/16/337/2456206/hut-ke-76-ri-ketua-pp-muhammadiyah-kita-harus-belajar-dari-sejarah-soal-persatuan-bangsa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/08/16/337/2456206/hut-ke-76-ri-ketua-pp-muhammadiyah-kita-harus-belajar-dari-sejarah-soal-persatuan-bangsa"/><item><title>HUT Ke-76 RI, Ketua PP Muhammadiyah: Kita Harus Belajar dari Sejarah soal Persatuan Bangsa</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/16/337/2456206/hut-ke-76-ri-ketua-pp-muhammadiyah-kita-harus-belajar-dari-sejarah-soal-persatuan-bangsa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/08/16/337/2456206/hut-ke-76-ri-ketua-pp-muhammadiyah-kita-harus-belajar-dari-sejarah-soal-persatuan-bangsa</guid><pubDate>Senin 16 Agustus 2021 10:40 WIB</pubDate><dc:creator>INews.id</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/16/337/2456206/hut-ke-76-ri-ketua-pp-muhammadiyah-kita-harus-belajar-dari-sejarah-soal-persatuan-bangsa-x7kj1JC7tx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/16/337/2456206/hut-ke-76-ri-ketua-pp-muhammadiyah-kita-harus-belajar-dari-sejarah-soal-persatuan-bangsa-x7kj1JC7tx.jpg</image><title>Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Okezone)</title></images><description>YOGYAKARTA &amp;ndash; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan merayakan kemerdekaan ke-76 pada 17 Agustus. Momentum peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia harus bisa dijadikan sarana untuk membingkai ulang persatuan Indonesia.
&amp;ldquo;76 tahun merdeka harus kita jadikan sebagai suasana memberi makna terhadap semangat persatuan Indonesia. Kita harus belajar dari sejarah. Negara yang besar berubah menjadi terpecah belah bahkan hilang namanya karena perpecahan,&amp;rdquo; kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam keterangan persnya, Senin (16/8/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp; Berikut Daftar Tokoh Nasional yang Berprofesi Wartawan 
Haedar pun mengucapkan syukur atas anugerah Kemerdekaan Indonesia yang sudah 76 tahun. Menurutnya, proklamasi kemerdekaan bukan sekadar penyataan bebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi juga mampu mewujudkan kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Semangat persatuan harus dijadikan tonggak dalam menyelesaikan masalah bangsa.
Masyarakat harus mewaspadai benih perpecahan antar komponen bangsa, yang mulai muncul melalui kanal media sosial. Perbedaan orientasi politik dan benturan kepentingan, menjadi dua alasan yang sangat potensial menjadi pemicu perpecahan yang tidak diinginkan.
&amp;ldquo;Seluruh komponen bangsa agar mengeliminasi segala potensi yang dapat membuat perpecahan antar bangsa,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;  Jejak Pendidikan Bung Karno dan Bung Hatta 
Saat ini, masyarakat harus mampu mengeliminasi setiap ujaran kebencian, intoleransi dan segala macam virus yang bisa mmebelah bangsa. Perbedaan politik dan kontestasi politik cukup selesai saat kita berkontestasi. Tidak boleh ada dendam politik yang hanya akan merusak semangat persatuan.Haedar juga minta kepada elite bangsa agar menjadi negarawan sejati dan teladan bangsa dalam bertutur kata dan bersikap. Saat mengambil kebijakan penting terhadap hajat hidup orang banyak, harus memperhitungkan kearifan sehingga menghindari perpecahan di berbagai sektor.

&amp;ldquo;Mari kita hayati nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan sejarah perjalanan bangsa yang membuat kita kokoh mampu menghadapi penjajah dan menjadikan Indonesia merdeka, karena kita bersatu,&amp;rdquo; katanya.
Haedar menaruh harapan, saat Indonesia sudah berusia 76 tahun menjadi negera berkemajuan yang tidak hanya mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya insani saja, tetapi juga potensi keragaman dalam bingkai persatuan dan persaudaraan.
&amp;ldquo;Tidak ada satu pun bangsa yang maju di atas puing-puing perpecahan. Tidak ada bangsa yang maju di atas alam yang rusak. Tidak ada bangsa yang maju di atas sumber daya manusia yang lemah. Maka menjadi niscaya, kita harus melangkah ke depan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,&amp;rdquo; ujar Haedar.

</description><content:encoded>YOGYAKARTA &amp;ndash; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan merayakan kemerdekaan ke-76 pada 17 Agustus. Momentum peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia harus bisa dijadikan sarana untuk membingkai ulang persatuan Indonesia.
&amp;ldquo;76 tahun merdeka harus kita jadikan sebagai suasana memberi makna terhadap semangat persatuan Indonesia. Kita harus belajar dari sejarah. Negara yang besar berubah menjadi terpecah belah bahkan hilang namanya karena perpecahan,&amp;rdquo; kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam keterangan persnya, Senin (16/8/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp; Berikut Daftar Tokoh Nasional yang Berprofesi Wartawan 
Haedar pun mengucapkan syukur atas anugerah Kemerdekaan Indonesia yang sudah 76 tahun. Menurutnya, proklamasi kemerdekaan bukan sekadar penyataan bebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi juga mampu mewujudkan kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Semangat persatuan harus dijadikan tonggak dalam menyelesaikan masalah bangsa.
Masyarakat harus mewaspadai benih perpecahan antar komponen bangsa, yang mulai muncul melalui kanal media sosial. Perbedaan orientasi politik dan benturan kepentingan, menjadi dua alasan yang sangat potensial menjadi pemicu perpecahan yang tidak diinginkan.
&amp;ldquo;Seluruh komponen bangsa agar mengeliminasi segala potensi yang dapat membuat perpecahan antar bangsa,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;  Jejak Pendidikan Bung Karno dan Bung Hatta 
Saat ini, masyarakat harus mampu mengeliminasi setiap ujaran kebencian, intoleransi dan segala macam virus yang bisa mmebelah bangsa. Perbedaan politik dan kontestasi politik cukup selesai saat kita berkontestasi. Tidak boleh ada dendam politik yang hanya akan merusak semangat persatuan.Haedar juga minta kepada elite bangsa agar menjadi negarawan sejati dan teladan bangsa dalam bertutur kata dan bersikap. Saat mengambil kebijakan penting terhadap hajat hidup orang banyak, harus memperhitungkan kearifan sehingga menghindari perpecahan di berbagai sektor.

&amp;ldquo;Mari kita hayati nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan sejarah perjalanan bangsa yang membuat kita kokoh mampu menghadapi penjajah dan menjadikan Indonesia merdeka, karena kita bersatu,&amp;rdquo; katanya.
Haedar menaruh harapan, saat Indonesia sudah berusia 76 tahun menjadi negera berkemajuan yang tidak hanya mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya insani saja, tetapi juga potensi keragaman dalam bingkai persatuan dan persaudaraan.
&amp;ldquo;Tidak ada satu pun bangsa yang maju di atas puing-puing perpecahan. Tidak ada bangsa yang maju di atas alam yang rusak. Tidak ada bangsa yang maju di atas sumber daya manusia yang lemah. Maka menjadi niscaya, kita harus melangkah ke depan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,&amp;rdquo; ujar Haedar.

</content:encoded></item></channel></rss>
