<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Misteri Syailendra, si Pembuat Candi Borobudur</title><description>Banyak tafsiran seputar asal usul wangsa ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/23/337/2459378/misteri-syailendra-si-pembuat-candi-borobudur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/08/23/337/2459378/misteri-syailendra-si-pembuat-candi-borobudur"/><item><title>Misteri Syailendra, si Pembuat Candi Borobudur</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/23/337/2459378/misteri-syailendra-si-pembuat-candi-borobudur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/08/23/337/2459378/misteri-syailendra-si-pembuat-candi-borobudur</guid><pubDate>Senin 23 Agustus 2021 07:35 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/22/337/2459378/mistri-syailendra-si-pembuat-candi-borobudur-TA60ivwLQk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/22/337/2459378/mistri-syailendra-si-pembuat-candi-borobudur-TA60ivwLQk.jpg</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>MENURUT Bernard HM Vlekke, Syailendra dari Jawa pastilah penguasa yang sangat kaya dan kuat, mengingat wangsa ini bisa membangun monumen sebesar dan sesempurna Candi Borobudur.
Pertanyaannya ialah, siapakah Syailendra? Nama Syailendra dijumpai pertama kali dalam prasasti Kalasan (778 M). Kemudian muncul lagi dalam inskripsi Kelurak (782 M), Abhayagiriwihara (792 M), Sojomerto dari sekitar akhir abad ke-7 Masehi, dan Kayumwunan (824 M).
Sedangkan dari luar Indonesia nama ini ditemukan dalam prasasti Ligor (775 M) dan Prasasti Nalanda. Merujuk tafsiran Vlekkek, Syailendra yang berarti &amp;ldquo;Raja Gunung&amp;rdquo; pastilah sudah dipakai lebih lama di Fu-nan di Kamboja sebelum diperkenalkan di Jawa. Demikian dilansir dari indonesia.go.id.
Baca juga:&amp;nbsp;Candi Borobudur, Mendut dan Pawon Diguyur Hujan Abu Vulkanik Merapi
Banyak tafsiran seputar asal usul wangsa ini. Majumdar beranggapan, keluarga Syailendra baik di Sriwijaya (Sumatera) maupun di Medang Kamulan (Jawa) berasal dari Kalingga (India Selatan).
Pendapat yang sama juga dikemukakan Nilakanta Sastri dan Moens. George Coedes lain lagi, peneliti ini lebih condong kepada anggapan asal Syailendra ialah Funan (Kamboja).
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Bilik Gundik Perempuan dalam Kapal-Kapal di Zaman Kerajaan SriwijayaSementara itu tafsiran Syailendra berasal dari Indonesia mengemuka dari, salah satunya tokoh Poerbatjaraka. Teori ini mengajukan hipotesa, wangsa Syailendra bisa jadi berasal dari Sumatra dan kemudian berpindah ke Jawa, atau mungkin juga asli Jawa tetapi mendapatkan pengaruh dan dukungan kuat dari Sriwijaya atau Sumatra.
Bahkan menurut Poerbatjaraka, sebenarnya Sanjaya dan keturunannya yang ialah pendiri candi-candi Hindu pertama di Jawa ialah raja-raja dari keluarga Syailendra. Pada awalnya mereka memang menganut agama Hindu-Siwa.
Namun sejak Raja Panamkaran atau Panangkarana berpindah agama menjadi pemeluk Buddha Mahayana, sekalipun nantinya pada generasi pelanjut mereka yang di Jawa kembali memeluk Siwais dan yang di Sumatra tetap kukuh memeluk Buddha.
Baca juga:&amp;nbsp;Berikut Daftar Kerajaan di Jateng, Termasuk yang Bangun Candi Prambanan dan Borobudur
Hipotesis Poerbatjaraka ini juga sesuai dengan isi Prasasti Raja Sankhara. Sebuah prasasti berasal dari abad ke-8 yang pernah dikoleksi oleh Museum Adam Malik namun kini hilang entah ke mana.
Tafsiran Vlekke juga menarik disimak. Dia menunjukkan adanya perkawinan antara Wishnu, yaitu anak Raja Sanjaya, pendiri Mataram Hindu di Jawa, dengan putri penguasa Fu-nan di Kamboja.
Singkat cerita, putra Sanjaya itu lantas memiliki dua anak yang keduanya menjadi raja. Anak tertuanya menerima gelar Maharja, namun kalah pamor dengan adiknya yang bergelar &amp;ldquo;Sri Maharaja Syailendravamca Sarvarimadamathana,&amp;rdquo; &amp;ldquo;Tuan pembasmi musuh-musuhnya.&amp;rdquo; Adiknya ini pulalah yang mengambil gelar Syailendra.
Baca juga:&amp;nbsp;Ditemukan Tak Sengaja, Inilah Candi Boto Tumpang yang Diduga Lebih Tua dari BorobudurDalam perjalanannya kemudian setelah berhasil menjadi raja paling berkuasa di Asia Tenggara, ia mengawinkan putranya yaitu Samaragrawira dengan putri pewaris Sriwijaya di Sumatra. Pada konteks inilah, mengikuti tafsiran sejarawan NJ Krom, Vlekke menganggap Samaragrawira ialah identik dengan Samaratungga, si pendiri Borobudur.
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sumatra dan di Jawa inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut tafsiran Vlekke membuat bangsa Nusantara sanggup mendirikan Borobudur yang agung.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Penemuan Kembali Candi Borobudur yang Tersembunyi di Hutan Belantara
(fkh)</description><content:encoded>MENURUT Bernard HM Vlekke, Syailendra dari Jawa pastilah penguasa yang sangat kaya dan kuat, mengingat wangsa ini bisa membangun monumen sebesar dan sesempurna Candi Borobudur.
Pertanyaannya ialah, siapakah Syailendra? Nama Syailendra dijumpai pertama kali dalam prasasti Kalasan (778 M). Kemudian muncul lagi dalam inskripsi Kelurak (782 M), Abhayagiriwihara (792 M), Sojomerto dari sekitar akhir abad ke-7 Masehi, dan Kayumwunan (824 M).
Sedangkan dari luar Indonesia nama ini ditemukan dalam prasasti Ligor (775 M) dan Prasasti Nalanda. Merujuk tafsiran Vlekkek, Syailendra yang berarti &amp;ldquo;Raja Gunung&amp;rdquo; pastilah sudah dipakai lebih lama di Fu-nan di Kamboja sebelum diperkenalkan di Jawa. Demikian dilansir dari indonesia.go.id.
Baca juga:&amp;nbsp;Candi Borobudur, Mendut dan Pawon Diguyur Hujan Abu Vulkanik Merapi
Banyak tafsiran seputar asal usul wangsa ini. Majumdar beranggapan, keluarga Syailendra baik di Sriwijaya (Sumatera) maupun di Medang Kamulan (Jawa) berasal dari Kalingga (India Selatan).
Pendapat yang sama juga dikemukakan Nilakanta Sastri dan Moens. George Coedes lain lagi, peneliti ini lebih condong kepada anggapan asal Syailendra ialah Funan (Kamboja).
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Bilik Gundik Perempuan dalam Kapal-Kapal di Zaman Kerajaan SriwijayaSementara itu tafsiran Syailendra berasal dari Indonesia mengemuka dari, salah satunya tokoh Poerbatjaraka. Teori ini mengajukan hipotesa, wangsa Syailendra bisa jadi berasal dari Sumatra dan kemudian berpindah ke Jawa, atau mungkin juga asli Jawa tetapi mendapatkan pengaruh dan dukungan kuat dari Sriwijaya atau Sumatra.
Bahkan menurut Poerbatjaraka, sebenarnya Sanjaya dan keturunannya yang ialah pendiri candi-candi Hindu pertama di Jawa ialah raja-raja dari keluarga Syailendra. Pada awalnya mereka memang menganut agama Hindu-Siwa.
Namun sejak Raja Panamkaran atau Panangkarana berpindah agama menjadi pemeluk Buddha Mahayana, sekalipun nantinya pada generasi pelanjut mereka yang di Jawa kembali memeluk Siwais dan yang di Sumatra tetap kukuh memeluk Buddha.
Baca juga:&amp;nbsp;Berikut Daftar Kerajaan di Jateng, Termasuk yang Bangun Candi Prambanan dan Borobudur
Hipotesis Poerbatjaraka ini juga sesuai dengan isi Prasasti Raja Sankhara. Sebuah prasasti berasal dari abad ke-8 yang pernah dikoleksi oleh Museum Adam Malik namun kini hilang entah ke mana.
Tafsiran Vlekke juga menarik disimak. Dia menunjukkan adanya perkawinan antara Wishnu, yaitu anak Raja Sanjaya, pendiri Mataram Hindu di Jawa, dengan putri penguasa Fu-nan di Kamboja.
Singkat cerita, putra Sanjaya itu lantas memiliki dua anak yang keduanya menjadi raja. Anak tertuanya menerima gelar Maharja, namun kalah pamor dengan adiknya yang bergelar &amp;ldquo;Sri Maharaja Syailendravamca Sarvarimadamathana,&amp;rdquo; &amp;ldquo;Tuan pembasmi musuh-musuhnya.&amp;rdquo; Adiknya ini pulalah yang mengambil gelar Syailendra.
Baca juga:&amp;nbsp;Ditemukan Tak Sengaja, Inilah Candi Boto Tumpang yang Diduga Lebih Tua dari BorobudurDalam perjalanannya kemudian setelah berhasil menjadi raja paling berkuasa di Asia Tenggara, ia mengawinkan putranya yaitu Samaragrawira dengan putri pewaris Sriwijaya di Sumatra. Pada konteks inilah, mengikuti tafsiran sejarawan NJ Krom, Vlekke menganggap Samaragrawira ialah identik dengan Samaratungga, si pendiri Borobudur.
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sumatra dan di Jawa inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut tafsiran Vlekke membuat bangsa Nusantara sanggup mendirikan Borobudur yang agung.
Baca juga:&amp;nbsp;Kisah Penemuan Kembali Candi Borobudur yang Tersembunyi di Hutan Belantara
(fkh)</content:encoded></item></channel></rss>
