<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Brigjen KH Syam'un, Pahlawan dari Banten Gugur dalam Perang Gerilya Lawan Belanda</title><description>Ini kisah Brigjen KH Syam'un, pahlawan dari Banten.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/29/337/2462695/brigjen-kh-syam-un-pahlawan-dari-banten-gugur-dalam-perang-gerilya-lawan-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/08/29/337/2462695/brigjen-kh-syam-un-pahlawan-dari-banten-gugur-dalam-perang-gerilya-lawan-belanda"/><item><title>Brigjen KH Syam'un, Pahlawan dari Banten Gugur dalam Perang Gerilya Lawan Belanda</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/08/29/337/2462695/brigjen-kh-syam-un-pahlawan-dari-banten-gugur-dalam-perang-gerilya-lawan-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/08/29/337/2462695/brigjen-kh-syam-un-pahlawan-dari-banten-gugur-dalam-perang-gerilya-lawan-belanda</guid><pubDate>Minggu 29 Agustus 2021 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/28/337/2462695/brigjen-kh-syam-un-pahlawan-dari-banten-gugur-dalam-perang-gerilya-lawan-belanda-FGtcsqYvx0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Brigjen KH Syam'un. (Foto: WIkipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/28/337/2462695/brigjen-kh-syam-un-pahlawan-dari-banten-gugur-dalam-perang-gerilya-lawan-belanda-FGtcsqYvx0.jpg</image><title>Brigjen KH Syam'un. (Foto: WIkipedia)</title></images><description>JAKARTA - KH Syam&amp;rsquo;un bin H. Alwiyan adalah pendiri Perguruan Tinggi lslam Al-Khairiyah Citangkil, Desa Wanasari Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon, Banten.
Perguruan tersebut didirikan dalam dua tahap. Bermula dengan sistem Pesantren (tradisional) dan dikembangkan tahap kedua dengan sistem madrasah (klasikal). Demikian dilansir dari bantenprov.go.id.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah Perjuangan Kompi Gagak Lodra Bertempur Lawan Belanda di Coban Jahe&amp;nbsp;
Brigjen KH Syam&amp;rsquo;un merupakan putra pasangan taat beragama H Hajar dan Hj Aiwiyan, KH Syam&amp;rsquo;un masih keturunan dari KH Wasid, tokoh &quot;Geger Cilegon&quot; 1888, yang melakukan perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda.
Sejak masih anak-anak Brigjen KH. Syam&amp;rsquo;un mendapat pendidikan pesantren, tepatnya pada usia 4 tahun sudah dikirim orang tuanya menimba ilmu agama di pesantren Delingseng, selama dua tahun disana (1898-1900), Ki Syam'un yang masih usia balita belajar dibawah asuhan KH Sa&amp;rsquo;i, dilanjutkan ke Pesantren Kamasan (1901-1904) dibawah asuhan KH Jasim.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah Kapten Muslihat, Pahlawan dari Bogor Gugur di Usia 19 Tahun&amp;nbsp;
Pada umur 11 tahun atau seusia murid sekolah dasar kelas 5, ia melanjutkan studi ke Makkah, Arab Saudi (1905-1910). Dia berguru di masjid Al-Haram tempat ahli-ahli keislaman terbaik di dunia berkumpul membagi ilmu.
Pendidikan akademiknya dilalui di Al-Azhar University Cairo Mesir, yang saat itu masih masuk dalam jajaran perguruan tinggi termasyhur di dunia. Ki Syam&amp;rsquo;un kuliah dari 1910-1915.
Selanjutnya, dia malah bergabung dalam PETA yang notabene adalah gerakan pemuda bentukan Jepang. Bagi orang yang tidak mengerti ia mungkin dianggap plin-plan, padahal yang ia Iakukan adalah Iangkah KH Syam&amp;rsquo;un mempersiapkan perlawanan, karena dalam peperangan kalau tanpa persiapan merupakan haI yang konyol, bukan kemenangan yang didapat malah kekalahan yang akan datang.
Dalam PETA jabatan KH Syam&amp;rsquo;un adalah Dai Dan Tyo yang membawahi seluruh Dai Dan I PETA yang wilayah kekuasaannya meliputi Serang, yang pada akhirnya pindah ke Labuan.
Selama menjadi Sai Dan Tyo KH Syam&amp;rsquo;un sering mengajak anak buahnya untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang, maksud tersebut ia utarakan kepada Pemimpin Dai Dan Tyo M KH Oyong Ternaya dan Dai Dan Tyo IV Uding Surya Atmadja untuk mengumpulkan kekuatan.
Keterlibatan KH Syam&amp;rsquo;un dalam dunia militer mengantarkan KH. Syam&amp;rsquo;un menjadi pimpinan Brigade l Tirtayasa Badan Keamaman Rakyat (BKR) yang berubah menjadi Tentala Keamanan Rakyat (TKR) dan berganti menjadi TNI Divisi Siliwangi. Dengan pangkat terakhir Brigadir Jendral (Brigjen), Karir KH. Syam'un di ketentaraan terbilang gemilang hingga diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949.
Disela jabatannya sebagai Bupati Serang sekira tahun 1948, KH. Syam&amp;rsquo;un masih mengurus pesantren. Pada tahun yang sama, meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH. Syam&amp;rsquo;un bergerilya dari Gunung Karang Kabupaten Pandeglang hingga ke Kampung Kamasan Kec Cinangka Kabupaten Serang, daerah ini menjadi tempat tinggal salah satu gurunya, KH. Jasim.
Di kampung ini KH. Syam&amp;rsquo;un meninggal pada 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan.</description><content:encoded>JAKARTA - KH Syam&amp;rsquo;un bin H. Alwiyan adalah pendiri Perguruan Tinggi lslam Al-Khairiyah Citangkil, Desa Wanasari Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon, Banten.
Perguruan tersebut didirikan dalam dua tahap. Bermula dengan sistem Pesantren (tradisional) dan dikembangkan tahap kedua dengan sistem madrasah (klasikal). Demikian dilansir dari bantenprov.go.id.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah Perjuangan Kompi Gagak Lodra Bertempur Lawan Belanda di Coban Jahe&amp;nbsp;
Brigjen KH Syam&amp;rsquo;un merupakan putra pasangan taat beragama H Hajar dan Hj Aiwiyan, KH Syam&amp;rsquo;un masih keturunan dari KH Wasid, tokoh &quot;Geger Cilegon&quot; 1888, yang melakukan perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda.
Sejak masih anak-anak Brigjen KH. Syam&amp;rsquo;un mendapat pendidikan pesantren, tepatnya pada usia 4 tahun sudah dikirim orang tuanya menimba ilmu agama di pesantren Delingseng, selama dua tahun disana (1898-1900), Ki Syam'un yang masih usia balita belajar dibawah asuhan KH Sa&amp;rsquo;i, dilanjutkan ke Pesantren Kamasan (1901-1904) dibawah asuhan KH Jasim.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah Kapten Muslihat, Pahlawan dari Bogor Gugur di Usia 19 Tahun&amp;nbsp;
Pada umur 11 tahun atau seusia murid sekolah dasar kelas 5, ia melanjutkan studi ke Makkah, Arab Saudi (1905-1910). Dia berguru di masjid Al-Haram tempat ahli-ahli keislaman terbaik di dunia berkumpul membagi ilmu.
Pendidikan akademiknya dilalui di Al-Azhar University Cairo Mesir, yang saat itu masih masuk dalam jajaran perguruan tinggi termasyhur di dunia. Ki Syam&amp;rsquo;un kuliah dari 1910-1915.
Selanjutnya, dia malah bergabung dalam PETA yang notabene adalah gerakan pemuda bentukan Jepang. Bagi orang yang tidak mengerti ia mungkin dianggap plin-plan, padahal yang ia Iakukan adalah Iangkah KH Syam&amp;rsquo;un mempersiapkan perlawanan, karena dalam peperangan kalau tanpa persiapan merupakan haI yang konyol, bukan kemenangan yang didapat malah kekalahan yang akan datang.
Dalam PETA jabatan KH Syam&amp;rsquo;un adalah Dai Dan Tyo yang membawahi seluruh Dai Dan I PETA yang wilayah kekuasaannya meliputi Serang, yang pada akhirnya pindah ke Labuan.
Selama menjadi Sai Dan Tyo KH Syam&amp;rsquo;un sering mengajak anak buahnya untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang, maksud tersebut ia utarakan kepada Pemimpin Dai Dan Tyo M KH Oyong Ternaya dan Dai Dan Tyo IV Uding Surya Atmadja untuk mengumpulkan kekuatan.
Keterlibatan KH Syam&amp;rsquo;un dalam dunia militer mengantarkan KH. Syam&amp;rsquo;un menjadi pimpinan Brigade l Tirtayasa Badan Keamaman Rakyat (BKR) yang berubah menjadi Tentala Keamanan Rakyat (TKR) dan berganti menjadi TNI Divisi Siliwangi. Dengan pangkat terakhir Brigadir Jendral (Brigjen), Karir KH. Syam'un di ketentaraan terbilang gemilang hingga diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949.
Disela jabatannya sebagai Bupati Serang sekira tahun 1948, KH. Syam&amp;rsquo;un masih mengurus pesantren. Pada tahun yang sama, meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH. Syam&amp;rsquo;un bergerilya dari Gunung Karang Kabupaten Pandeglang hingga ke Kampung Kamasan Kec Cinangka Kabupaten Serang, daerah ini menjadi tempat tinggal salah satu gurunya, KH. Jasim.
Di kampung ini KH. Syam&amp;rsquo;un meninggal pada 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan.</content:encoded></item></channel></rss>
