<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Belajar Daring Sebabkan Kemampuan Akademis Siswa Menurun</title><description>Belajar secara daring dapat menurunkan kemampuan belajar siswa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/08/337/2468280/belajar-daring-sebabkan-kemampuan-akademis-siswa-menurun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/09/08/337/2468280/belajar-daring-sebabkan-kemampuan-akademis-siswa-menurun"/><item><title>Belajar Daring Sebabkan Kemampuan Akademis Siswa Menurun</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/08/337/2468280/belajar-daring-sebabkan-kemampuan-akademis-siswa-menurun</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/09/08/337/2468280/belajar-daring-sebabkan-kemampuan-akademis-siswa-menurun</guid><pubDate>Rabu 08 September 2021 18:11 WIB</pubDate><dc:creator>Ajeng Wirachmi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/08/337/2468280/belajar-daring-sebabkan-kemampuan-akademis-siswa-menurun-B9PacxD2Fl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto : Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/08/337/2468280/belajar-daring-sebabkan-kemampuan-akademis-siswa-menurun-B9PacxD2Fl.jpg</image><title>(Foto : Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi virus corona (Covid-19) sangat berdampak terhadap dunia pendidikan, yang harus menerapkan metode pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Metode ini ternyata membuat peserta didik mengalami kemunduran akademis dan nonakademis.
Melansir University Wolrd News, para pelajar di Australia misalnya, mengalami penurunan kemampuan belajar atau learning loss selama pandemi. Penurunan ini terutama dalam membaca sebanyak 22 persen. Sementara ada 33 persen pelajar kemampuan berhitungnya menurun.
Kondisi serupa terjadi di Indonesia. Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui laman resminya menyebut PJJ menimbulkan keterbatasan dalam sektor pembelajaran. Itu karena pendidik tidak bisa memberikan materi maksimal dalam pembelajaran daring.
Apalagi, belum sepenuhnya wilayah di Tanah Air mendapat akses internet. Seperti diketahui, PJJ sangat mengandalkan jaringan internet. Jika hal tersebut tidak mampu terpenuhi, PJJ tak bisa maksimal.
Sementara itu, penurunan jumlah penerimaan peserta didik baru di beberapa universitas bergengsi luar negeri juga terjadi. Salah satu universitas ternama dengan jumlah peserta didik yang lolos seleksi masuk menurun adalah Harvard University.
Mengutip laman resmi Harvard Magazine, Harvard hanya menerima 3,4 persen dari total pelamar pada 2021. Padahal, di tahun sebelumnya Harvard bisa menerima 4,9 persen mahasiswa dari jumlah pelamar secara keseluruhan.

Baca Juga : 7 Alasan Mengapa PTM Penting Digelar di Tengah PandemiPenurunan jumlah peserta didik yang diterima tersebut mendapat atensi dari banyak pihak. Seperti dilansir dari laman the Harvard Crimson, salah satu faktor yang dirasa menjadi penyebabnya meningkatnya patokan nilai kelulusan di Harvard. Selama pandemi, Harvard menerapkan proses seleksi yang semakin ketat.
Di Indonesia, penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas yang digelar sejak Senin (30/8/2021) di beberapa daerah diharapkan bisa menekan risiko learning loss. Apalagi, pemulihan penurunan kemampuan peserta didik baik akademis dan nonakademis karena tidak memperoleh pembelajaran yang optimal ini butuh waktu lama. Berdasarkan kajian Kemendikbud Ristek, pemulihan learning loss bisa memakan waktu hingga sembilan tahun.
Baca pembahasan mengenai Pembelajaran Tatap Muka selengkapnya di iNews.id melalui link berikut https://www.inews.id/tag/ptm
</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi virus corona (Covid-19) sangat berdampak terhadap dunia pendidikan, yang harus menerapkan metode pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Metode ini ternyata membuat peserta didik mengalami kemunduran akademis dan nonakademis.
Melansir University Wolrd News, para pelajar di Australia misalnya, mengalami penurunan kemampuan belajar atau learning loss selama pandemi. Penurunan ini terutama dalam membaca sebanyak 22 persen. Sementara ada 33 persen pelajar kemampuan berhitungnya menurun.
Kondisi serupa terjadi di Indonesia. Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui laman resminya menyebut PJJ menimbulkan keterbatasan dalam sektor pembelajaran. Itu karena pendidik tidak bisa memberikan materi maksimal dalam pembelajaran daring.
Apalagi, belum sepenuhnya wilayah di Tanah Air mendapat akses internet. Seperti diketahui, PJJ sangat mengandalkan jaringan internet. Jika hal tersebut tidak mampu terpenuhi, PJJ tak bisa maksimal.
Sementara itu, penurunan jumlah penerimaan peserta didik baru di beberapa universitas bergengsi luar negeri juga terjadi. Salah satu universitas ternama dengan jumlah peserta didik yang lolos seleksi masuk menurun adalah Harvard University.
Mengutip laman resmi Harvard Magazine, Harvard hanya menerima 3,4 persen dari total pelamar pada 2021. Padahal, di tahun sebelumnya Harvard bisa menerima 4,9 persen mahasiswa dari jumlah pelamar secara keseluruhan.

Baca Juga : 7 Alasan Mengapa PTM Penting Digelar di Tengah PandemiPenurunan jumlah peserta didik yang diterima tersebut mendapat atensi dari banyak pihak. Seperti dilansir dari laman the Harvard Crimson, salah satu faktor yang dirasa menjadi penyebabnya meningkatnya patokan nilai kelulusan di Harvard. Selama pandemi, Harvard menerapkan proses seleksi yang semakin ketat.
Di Indonesia, penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas yang digelar sejak Senin (30/8/2021) di beberapa daerah diharapkan bisa menekan risiko learning loss. Apalagi, pemulihan penurunan kemampuan peserta didik baik akademis dan nonakademis karena tidak memperoleh pembelajaran yang optimal ini butuh waktu lama. Berdasarkan kajian Kemendikbud Ristek, pemulihan learning loss bisa memakan waktu hingga sembilan tahun.
Baca pembahasan mengenai Pembelajaran Tatap Muka selengkapnya di iNews.id melalui link berikut https://www.inews.id/tag/ptm
</content:encoded></item></channel></rss>
