<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puncak Kejayaan Kerajaan Majapahit dan Peran Sentral Sungai Bengawan Solo</title><description>Sejarah maritim Sungai Bengawan Solo pernah diteliti oleh Ilham Arsandi, Jihan Putri Mileniawati, dan Mila Nursindi Rahayu</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/20/337/2473992/puncak-kejayaan-kerajaan-majapahit-dan-peran-sentral-sungai-bengawan-solo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/09/20/337/2473992/puncak-kejayaan-kerajaan-majapahit-dan-peran-sentral-sungai-bengawan-solo"/><item><title>Puncak Kejayaan Kerajaan Majapahit dan Peran Sentral Sungai Bengawan Solo</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/20/337/2473992/puncak-kejayaan-kerajaan-majapahit-dan-peran-sentral-sungai-bengawan-solo</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/09/20/337/2473992/puncak-kejayaan-kerajaan-majapahit-dan-peran-sentral-sungai-bengawan-solo</guid><pubDate>Senin 20 September 2021 12:52 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Solopos</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/20/337/2473992/puncak-kejayaan-kerajaan-majapahit-dan-peran-sentral-sungai-bengawan-solo-V2Ddfc63jX.png" expression="full" type="image/jpeg">Sungai Bengawan Solo kini (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/20/337/2473992/puncak-kejayaan-kerajaan-majapahit-dan-peran-sentral-sungai-bengawan-solo-V2Ddfc63jX.png</image><title>Sungai Bengawan Solo kini (Foto: Okezone)</title></images><description>SOLO &amp;ndash; Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Pulau Jawa memiliki sejarah maritim yang luar biasa pada masa kejayaan Majapahit. Pada masa lalu tepatnya masa kejayaan Majapahit, sungai ini menjadi jalur pedagangan dan transportasi di Laut Jawa.

Sejarah maritim Sungai Bengawan Solo pernah diteliti oleh Ilham Arsandi, Jihan Putri Mileniawati, dan Mila Nursindi Rahayu dalam Riwayat: Educational Journal of History and Humanities yang diterbitkan Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh pada 2020.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka itu menjelaskan betapa pentingnya Sungai Bengawan Solo pada masa Kerajaan Majapahit. Kala itu, Sungai Bengawan Solo menjadi jalur perdagangan dan transportasi utama bagi Kerajaan Majapahit.

Dikutip dari laman petabudaya.kemendikbud.go.id, Minggu (19/9/2021), sejak abad XIII-XIV, ketika Kerajaan Majapahit masih berada pada puncak kekuasaannya di Jawa Timur, Sungai Bengawan Solo menjadi jalur transportasi yang ramai.

Baca Juga: Kegagalan Gajah Mada Habisi Nyawa Raja Malaka
 

Pada saat itu Gresik yang masih disebut sebagai pelabuhan Ujung Galuh, menjadi pelabuhan laut terpenting di Jawa Timur bersama Tuban. Sejak masa itu, pelabuhan tersebut merupakan sebuah sarana pendaratan bagi kapal besar dengan jumlah pasukan yang cukup banyak.

Lokasi Gresik ini sangat strategis karena terletak di muara sungai besar yang disebut sebagai Bengawan Semanggi atau kini dikenal sebagai Bengawan Solo.

Berdasarkan data dari Kementerian PUPR Ditjen Sumber Daya Air BBWS Bengawan Solo, sungai ini merupakan yang terbesar di Pulau Jawa. Sungai ini memiliki aliran sungai yang luasnya sekitar 16.100 km persegi yang membentang dari Pegunungan Sewu, tepatnya di perbatasan antara Pacitan dan Wonogiri, hingga ke laut Jawa di sebelah utara Surabaya.

Sungai ini terpanjang di Pulau Jawa ini melintasi dua provinsi, Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan panjang 548,53 km. Hulu sungai ini berada di Gunung Lawu yang mengalir melintasi berbagai kota besar mulai dari Wonogiri, Solo, Ngawi, dan Bojonegoro yang bermuara di Laut Jawa wilayah Gresik.

Aliran Sungai Bengawan Solo

Mata air Sungai Bengawan Solo berasal dari lereng gunung seribu  [pegunungan Sewu] yang terletak di sebelah tenggara wilayah  eks-Keresidenan Surakarta. Mata air tersebut mengalir ke arah barat daya  dan menjadi batas antara wilayah Kabupaten Pacitan dengan Kabupaten  Wonogiri.

Aliran air terus mengarah ke timur hingga sampai ke mata air Gunung  Gamping di wilayah tenggara Rembang. Selanjutnya air mengalir ke timur  sampai di perbatasan Bojonegoro dan Tuban hingga memasuki wilayah Gresik  dan Kota Sedayu sebelum bermuara ke Laut Jawa di sebelah utara Selat  Madura.

Kemudian aliran sungai berbelok ke barat memasuki wilayah Kabupaten  Wonogiri. Setelah sampai di Desa Kakap aliran sungainya mengalir ke arah  utara, dan ketika sampai di sebelah selatan kota Wonogiri, menjadi  lebih besar karena adanya tumpahan air kali Keduwang yang sumbernya dari  Gunung Lawu.

Setelah melewati kota Wonogiri aliran sungai ini menuju ke arah barat  laut, dan mendapatkan tumpahan air kali Dengkeng yang mata airnya dari  Gunung Merapi.

Sungai Bengawan Solo kemudian mengalir ke arah timur laut memasuki  Kota Solo yang mendapatkan tumpahan air Kali Pepe yang mata airnya  berasal dari Gunung Merbabu. Air terus mengalir kea rah timur laut yang  menerima tumpahan dari Kali Kedungbang di Gunung Lawu dan berbelok ke  utara mengarah ke Sragen, kemudian ke timur di perbatasan wilayah Ngawi  dan Sragen.

Aliran Sungai Bengawan Solo bertambah Panjang karena mendapatkan  limpahan air dari Kali Kedungbanteng dari Gunung Lawu hingga terus  mengalir ke tumor sampai bertemu di Sungai Madiun. Dari situlah Sungai  Bengawan Solo menjadi lebih besar, karena semua sungai dari Wilayah  Panaraga, Madiun, Magetan dan Ngawi.

Dari Kota Ngawi air sungai ini mengalir ke arah utara memasuki  wilayah kabupaten Rembang, di antara Kabupaten Blora dan Kabupaten  Bojonegora, terus ke utara sampai di wilayah Cepu mendapatkan tambahan  dari Kali Batokan yang sumbernya dari mata air Gunung Gamping sebelah  utara kota Blora.

Bengawan Solo Riwayatmu Kini

Kini, sungai yang menjadi rute transportasi vital pada masa lalu itu   tercemar limbah dan kondisinya sangat memprihatinkan. Selama sepekan   terakhir Sungai Bengawan Solo menjadi perhatian karena airnya menghitam   akibat tercemar limbah ciu. Hal ini bukan hanya menimbulkan bau busuk   yang menyengat, tetapi juga membuat ikan-ikan yang hidup di aliran   sungai mabuk hingga menyembul ke permukaan.

Berdasarkan hasil penyidikan, aparat Polres Sukoharjo menangkap dua   tersangka berinisial J, 36, dan H, 40, yang membuang limbah ciu ke   aliran sungai. Kedua tersangka itu dengan sengaja mengumpulkan limbah   dari produsen alkohol yang semestinya dibawa ke instalasi pengolahan air   limbah (IPAL), tetapi malah dibuang ke sungai. Kedua tersangka membuka   jasa pembuangan limbah itu selama setahun terakhir dengan modal dua   mobil pikap dan mesin diesel.</description><content:encoded>SOLO &amp;ndash; Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Pulau Jawa memiliki sejarah maritim yang luar biasa pada masa kejayaan Majapahit. Pada masa lalu tepatnya masa kejayaan Majapahit, sungai ini menjadi jalur pedagangan dan transportasi di Laut Jawa.

Sejarah maritim Sungai Bengawan Solo pernah diteliti oleh Ilham Arsandi, Jihan Putri Mileniawati, dan Mila Nursindi Rahayu dalam Riwayat: Educational Journal of History and Humanities yang diterbitkan Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh pada 2020.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka itu menjelaskan betapa pentingnya Sungai Bengawan Solo pada masa Kerajaan Majapahit. Kala itu, Sungai Bengawan Solo menjadi jalur perdagangan dan transportasi utama bagi Kerajaan Majapahit.

Dikutip dari laman petabudaya.kemendikbud.go.id, Minggu (19/9/2021), sejak abad XIII-XIV, ketika Kerajaan Majapahit masih berada pada puncak kekuasaannya di Jawa Timur, Sungai Bengawan Solo menjadi jalur transportasi yang ramai.

Baca Juga: Kegagalan Gajah Mada Habisi Nyawa Raja Malaka
 

Pada saat itu Gresik yang masih disebut sebagai pelabuhan Ujung Galuh, menjadi pelabuhan laut terpenting di Jawa Timur bersama Tuban. Sejak masa itu, pelabuhan tersebut merupakan sebuah sarana pendaratan bagi kapal besar dengan jumlah pasukan yang cukup banyak.

Lokasi Gresik ini sangat strategis karena terletak di muara sungai besar yang disebut sebagai Bengawan Semanggi atau kini dikenal sebagai Bengawan Solo.

Berdasarkan data dari Kementerian PUPR Ditjen Sumber Daya Air BBWS Bengawan Solo, sungai ini merupakan yang terbesar di Pulau Jawa. Sungai ini memiliki aliran sungai yang luasnya sekitar 16.100 km persegi yang membentang dari Pegunungan Sewu, tepatnya di perbatasan antara Pacitan dan Wonogiri, hingga ke laut Jawa di sebelah utara Surabaya.

Sungai ini terpanjang di Pulau Jawa ini melintasi dua provinsi, Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan panjang 548,53 km. Hulu sungai ini berada di Gunung Lawu yang mengalir melintasi berbagai kota besar mulai dari Wonogiri, Solo, Ngawi, dan Bojonegoro yang bermuara di Laut Jawa wilayah Gresik.

Aliran Sungai Bengawan Solo

Mata air Sungai Bengawan Solo berasal dari lereng gunung seribu  [pegunungan Sewu] yang terletak di sebelah tenggara wilayah  eks-Keresidenan Surakarta. Mata air tersebut mengalir ke arah barat daya  dan menjadi batas antara wilayah Kabupaten Pacitan dengan Kabupaten  Wonogiri.

Aliran air terus mengarah ke timur hingga sampai ke mata air Gunung  Gamping di wilayah tenggara Rembang. Selanjutnya air mengalir ke timur  sampai di perbatasan Bojonegoro dan Tuban hingga memasuki wilayah Gresik  dan Kota Sedayu sebelum bermuara ke Laut Jawa di sebelah utara Selat  Madura.

Kemudian aliran sungai berbelok ke barat memasuki wilayah Kabupaten  Wonogiri. Setelah sampai di Desa Kakap aliran sungainya mengalir ke arah  utara, dan ketika sampai di sebelah selatan kota Wonogiri, menjadi  lebih besar karena adanya tumpahan air kali Keduwang yang sumbernya dari  Gunung Lawu.

Setelah melewati kota Wonogiri aliran sungai ini menuju ke arah barat  laut, dan mendapatkan tumpahan air kali Dengkeng yang mata airnya dari  Gunung Merapi.

Sungai Bengawan Solo kemudian mengalir ke arah timur laut memasuki  Kota Solo yang mendapatkan tumpahan air Kali Pepe yang mata airnya  berasal dari Gunung Merbabu. Air terus mengalir kea rah timur laut yang  menerima tumpahan dari Kali Kedungbang di Gunung Lawu dan berbelok ke  utara mengarah ke Sragen, kemudian ke timur di perbatasan wilayah Ngawi  dan Sragen.

Aliran Sungai Bengawan Solo bertambah Panjang karena mendapatkan  limpahan air dari Kali Kedungbanteng dari Gunung Lawu hingga terus  mengalir ke tumor sampai bertemu di Sungai Madiun. Dari situlah Sungai  Bengawan Solo menjadi lebih besar, karena semua sungai dari Wilayah  Panaraga, Madiun, Magetan dan Ngawi.

Dari Kota Ngawi air sungai ini mengalir ke arah utara memasuki  wilayah kabupaten Rembang, di antara Kabupaten Blora dan Kabupaten  Bojonegora, terus ke utara sampai di wilayah Cepu mendapatkan tambahan  dari Kali Batokan yang sumbernya dari mata air Gunung Gamping sebelah  utara kota Blora.

Bengawan Solo Riwayatmu Kini

Kini, sungai yang menjadi rute transportasi vital pada masa lalu itu   tercemar limbah dan kondisinya sangat memprihatinkan. Selama sepekan   terakhir Sungai Bengawan Solo menjadi perhatian karena airnya menghitam   akibat tercemar limbah ciu. Hal ini bukan hanya menimbulkan bau busuk   yang menyengat, tetapi juga membuat ikan-ikan yang hidup di aliran   sungai mabuk hingga menyembul ke permukaan.

Berdasarkan hasil penyidikan, aparat Polres Sukoharjo menangkap dua   tersangka berinisial J, 36, dan H, 40, yang membuang limbah ciu ke   aliran sungai. Kedua tersangka itu dengan sengaja mengumpulkan limbah   dari produsen alkohol yang semestinya dibawa ke instalasi pengolahan air   limbah (IPAL), tetapi malah dibuang ke sungai. Kedua tersangka membuka   jasa pembuangan limbah itu selama setahun terakhir dengan modal dua   mobil pikap dan mesin diesel.</content:encoded></item></channel></rss>
