<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Preman Terminal Menjadi Prajurit Elite TNI</title><description>Seseorang yang dulunya merupakan preman di sebuah terminal, menjadi Pabandya Tatib Makopassus dengan lencana Letkol.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/23/337/2475523/ketika-preman-terminal-menjadi-prajurit-elite-tni</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/09/23/337/2475523/ketika-preman-terminal-menjadi-prajurit-elite-tni"/><item><title>Ketika Preman Terminal Menjadi Prajurit Elite TNI</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/23/337/2475523/ketika-preman-terminal-menjadi-prajurit-elite-tni</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/09/23/337/2475523/ketika-preman-terminal-menjadi-prajurit-elite-tni</guid><pubDate>Kamis 23 September 2021 07:15 WIB</pubDate><dc:creator>Mohammad Adrianto S</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/23/337/2475523/ketika-preman-terminal-menjadi-prajurit-elite-tni-1h0WiC3kgO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kopassus (Foto: kopassus.mil.id)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/23/337/2475523/ketika-preman-terminal-menjadi-prajurit-elite-tni-1h0WiC3kgO.jpg</image><title>Kopassus (Foto: kopassus.mil.id)</title></images><description>JAKARTA - Setiap prajurit TNI memiliki latar belakang berbeda-beda. Terlepas dari latar belakang mereka, semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni dalam melindungi dan mengayomi NKRI dari marabahaya.
Mengutip dari buku Kopassus untuk Indonesia karangan Iwan Santosa E. A. Natanegara, mengisahkan perputaran roda kehidupan. Seseorang yang dulunya merupakan preman di sebuah terminal di Semarang, menjadi Pabandya Tatib Makopassus dengan lencana Letkol.
Sebelum masuk ke dalam Kopassus, Untung Pranoto, sering nongkrong di terminal kota Semarang, dengan gaya pakaian bak preman mengenakan kaos singlet, rambut panjang, serta sepatu boots koboi. Suatu waktu, dirinya melihat pengumuman pendaftaran TNI dan tanpa pikir panjang langsung mendaftar.
Baca Juga:&amp;nbsp;Kisah Romansa Pilot Cantik dan Prajurit Tamtama TNI AD
Nahas, baru memasuki pintu pendaftaran Pranoto sudah diusir oleh petugas pendaftaran yang meminta untuk mengenakan pakaian rapih dan memotong rambut lebih pendek. Dirinya menuruti perintah petugas untuk tampil lebih baik.
Sebelum kembali mendaftar, Pranoto meminta doa restu dari ibunya agar bisa masuk menjadi TNI. Dirinya berdalih, jika tidak menjadi tentara, maka akan menjadi bajingan.
&quot;Kalau saya tidak jadi tentara, saya akan jadi bajingan!&quot; tegas Pranoto.
Akhirnya, dirinya berhasil menjadi TNI dengan pangkat yang paling rendah yaitu Prajurit 2. Bermodalkan minat, fisik, serta kepolosan, Pranoto memutuskan untuk menjadi Kopassus, diawali dengan pangkat yang paling rendah juga. Gaji sebulan saat itu hanya mencapai Rp75.000.
Baca Juga:&amp;nbsp;Saat Panglima TNI Bernostalgia Masa Taruna di Lembah Tidar 35 Tahun Silam
Dirinya sempat pulang kampung dan mencoba melamar seorang wanita, mengingat dirinya sudah memasuki umur layak nikah. Namun, oleh orangtua si wanita, Pranoto dimintai uang sebesar Rp2 juta/ Kesal dengan permintaan tersebut, dirinya meninggalkan rumah wanita itu.



&quot;Saya cari uang Rp2 juta, tapi anak Bapak tidak akan saya kasih makan seumur hidup!&quot; ucapnya sebelum meninggalkan rumah.



Beruntung, tidak lama dirinya bertemu wanita lain yang mau menerima dia apa adanya. Pranoto langsung melamar wanita tersebut 2 hari setelah bertemu, hanya bermodalkan niat baik mau menafkahi.



Sekarang, Pranoto sudah menjadi letkol yang sudah 17 kali naik pangkat. Melihat dulunya hanya sosok preman terminal, dirinya justru malah menjadi staf pengurus tata tertib di Kopassus, dengan tugas memberi instruksi dan nasihat kepada bawahan-bawahannya agar tetap berdedikasi dan loyal terhadap pemimpin.



Pranoto, kini menjadi sosok yang patut diapresiasi dedikasi serta integritasnya dalam badan Kopassus.

</description><content:encoded>JAKARTA - Setiap prajurit TNI memiliki latar belakang berbeda-beda. Terlepas dari latar belakang mereka, semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni dalam melindungi dan mengayomi NKRI dari marabahaya.
Mengutip dari buku Kopassus untuk Indonesia karangan Iwan Santosa E. A. Natanegara, mengisahkan perputaran roda kehidupan. Seseorang yang dulunya merupakan preman di sebuah terminal di Semarang, menjadi Pabandya Tatib Makopassus dengan lencana Letkol.
Sebelum masuk ke dalam Kopassus, Untung Pranoto, sering nongkrong di terminal kota Semarang, dengan gaya pakaian bak preman mengenakan kaos singlet, rambut panjang, serta sepatu boots koboi. Suatu waktu, dirinya melihat pengumuman pendaftaran TNI dan tanpa pikir panjang langsung mendaftar.
Baca Juga:&amp;nbsp;Kisah Romansa Pilot Cantik dan Prajurit Tamtama TNI AD
Nahas, baru memasuki pintu pendaftaran Pranoto sudah diusir oleh petugas pendaftaran yang meminta untuk mengenakan pakaian rapih dan memotong rambut lebih pendek. Dirinya menuruti perintah petugas untuk tampil lebih baik.
Sebelum kembali mendaftar, Pranoto meminta doa restu dari ibunya agar bisa masuk menjadi TNI. Dirinya berdalih, jika tidak menjadi tentara, maka akan menjadi bajingan.
&quot;Kalau saya tidak jadi tentara, saya akan jadi bajingan!&quot; tegas Pranoto.
Akhirnya, dirinya berhasil menjadi TNI dengan pangkat yang paling rendah yaitu Prajurit 2. Bermodalkan minat, fisik, serta kepolosan, Pranoto memutuskan untuk menjadi Kopassus, diawali dengan pangkat yang paling rendah juga. Gaji sebulan saat itu hanya mencapai Rp75.000.
Baca Juga:&amp;nbsp;Saat Panglima TNI Bernostalgia Masa Taruna di Lembah Tidar 35 Tahun Silam
Dirinya sempat pulang kampung dan mencoba melamar seorang wanita, mengingat dirinya sudah memasuki umur layak nikah. Namun, oleh orangtua si wanita, Pranoto dimintai uang sebesar Rp2 juta/ Kesal dengan permintaan tersebut, dirinya meninggalkan rumah wanita itu.



&quot;Saya cari uang Rp2 juta, tapi anak Bapak tidak akan saya kasih makan seumur hidup!&quot; ucapnya sebelum meninggalkan rumah.



Beruntung, tidak lama dirinya bertemu wanita lain yang mau menerima dia apa adanya. Pranoto langsung melamar wanita tersebut 2 hari setelah bertemu, hanya bermodalkan niat baik mau menafkahi.



Sekarang, Pranoto sudah menjadi letkol yang sudah 17 kali naik pangkat. Melihat dulunya hanya sosok preman terminal, dirinya justru malah menjadi staf pengurus tata tertib di Kopassus, dengan tugas memberi instruksi dan nasihat kepada bawahan-bawahannya agar tetap berdedikasi dan loyal terhadap pemimpin.



Pranoto, kini menjadi sosok yang patut diapresiasi dedikasi serta integritasnya dalam badan Kopassus.

</content:encoded></item></channel></rss>
