<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penjelasan Pemprov Jabar soal Kabar Ratusan Sekolah Jadi Klaster Covid-19: Salah Paham</title><description>Pemprov Jawa Barat membantah kabar tentang ratusan sekolah di Jabar menjadi klaster Covid-19</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/25/525/2476721/penjelasan-pemprov-jabar-soal-kabar-ratusan-sekolah-jadi-klaster-covid-19-salah-paham</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/09/25/525/2476721/penjelasan-pemprov-jabar-soal-kabar-ratusan-sekolah-jadi-klaster-covid-19-salah-paham"/><item><title>Penjelasan Pemprov Jabar soal Kabar Ratusan Sekolah Jadi Klaster Covid-19: Salah Paham</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/25/525/2476721/penjelasan-pemprov-jabar-soal-kabar-ratusan-sekolah-jadi-klaster-covid-19-salah-paham</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/09/25/525/2476721/penjelasan-pemprov-jabar-soal-kabar-ratusan-sekolah-jadi-klaster-covid-19-salah-paham</guid><pubDate>Sabtu 25 September 2021 14:28 WIB</pubDate><dc:creator>Agung Bakti Sarasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/25/525/2476721/penjelasan-pemprov-jabar-soal-kabar-ratusan-sekolah-jadi-klaster-covid-19-salah-paham-Dspe4bFb2o.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Kadisdik Jabar, Dedi Supandi (Foto: MPI/Agung)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/25/525/2476721/penjelasan-pemprov-jabar-soal-kabar-ratusan-sekolah-jadi-klaster-covid-19-salah-paham-Dspe4bFb2o.JPG</image><title>Kadisdik Jabar, Dedi Supandi (Foto: MPI/Agung)</title></images><description>BANDUNG - Pemprov Jawa Barat membantah kabar tentang ratusan sekolah di Jabar menjadi klaster Covid-19 menyusul pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar, Dedi Supandi menyatakan, pihaknya telah melakukan kroscek kepada 1.295 sekolah di Jabar yang telah menggelar uji coba PTM pascaramainya kabar tersebut. Hasilnya, tidak ada satu pun sekolah di Jabar yang menjadi klaster COVID-19.

&quot;Ada isu muncul klaster PTM di Jabar. Saya sudah mengecek, dari jumlah sekolah yang tahun ini ada peningkatan sesuai data dapodik 5.033 (sekolah), yang (menggelar) PTM ada 1.295. Kita sudah cek lewat pengawasan dan cabang dinas di berbagai daerah, tidak ada satu pun klaster PTM,&quot; tegas Dedi di sela peninjauan vaksinasi massal bagi kalangan disabilitas di SLB Negeri Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Sabtu (25/9/2021).

Tidak sampai di situ, lanjut Dedi, untuk memastikan kabar tersebut, pihaknya juga melakukan pengecekan langsung kepada laman https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ sebagai sumber awal kabar tersebut beredar, termasuk kepada Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) hinga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

&quot;Kita juga coba mengecek ke jejaring dari sumber yang ada. Ternyata sumber itu setelah dibuka dan diklik tidak muncul datanya dan kita konfirmasi ke Pusdatin dan Kemendikbud, ternyata telah terjadi salah paham, miss comunication,&quot; terang Dedi.

Dedi menjelaskan, data yang sempat muncul di laman https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ tersebut bukan menunjukkan adanya klaster COVID-19 pascauji coba PTM, melainkan data terkait peserta didik yang pernah terpapar COVID-19 sebelum uji coba PTM dilaksanakan.

&quot;Jadi yang dimaksud bukan ada klaster PTM, tapi saat ini ada data sekian (sekolah) yang melakukan PTM, yang anak-anaknya dulu sempat terkena COVID-19. Jadi salah paham. Jadi kita sampaikan kepada publik bahwa tidak ada klaster PTM dan mohon doanya jangan sampai ada klaster PTM di Jabar,&quot; jelas Dedi.

Meski begitu, Dedi juga menekankan bahwa pihaknya tetap mengantisipasi munculnya klaster COVID-19 pascapelaksanaan PTM.

&quot;Kalau ditemukan kasus COVID-19 di klaster PTM, pertama sekolah harus melakukan tindakan segera. Kedua, menutup (sekolah) sementara. Ketiga, setelah menutup sementara terus disemprot disinfektan, maka silakan bukan kembali,&quot; tandas Dedi.

Diketahui, berdasarkan survei Kemendikbud Ristek terhadap sekolah  yang dipublikasikan pada laman https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ per  Kamis, 23 September 2021, terdapat 149 klaster COVID-19 sekolah  ditemukan selama PTM di Provinsi Jabar.

Jumlah sekolah tersebut setara dengan 2,25 persen dari total 6.616  sekolah di Jabar yang telah mengisi survei. Dalam klaster tersebut,  terungkap bahwa 1.152 guru dan tenaga kependidikan serta 2.478 siswa  terpapar COVID-19.

Persentase klaster COVID-19 paling tinggi didapati pada jenjang  Sekolah Menengah Pertama (SMA) sebanyak 4,66 persen atau 16 sekolah dari  343 sekolah. Di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 29  sekolah atau 1,89 persen dan di jenjang Sekolah Dasar (SD) ada 61  sekolah atau 2,14 persen.

Sementara klaster Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat 24 sekolah  atau 2,15 persen dan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada sembilan  sekolah atau 1,72 persen serta Sekolah Luar Biasa (SLB) terdapat dua  sekolah atau 2,06 persen.

&quot;Nah ini yang penting ada temuan Kemendikbud Ristek ada 150 katanya  klaster sekolah di Jabar Covid, tapi laporan hari ini dari Dinas  Pendidikan kami bahwa itu datanya belum valid, sudah dicek ke pusat dari  mana datanya itu masih belum terkonfimasi ya,&quot; ungkap Ridwan Kamil  dalam konferensi pers yang digelar virtual, Kamis (24/9/2021).</description><content:encoded>BANDUNG - Pemprov Jawa Barat membantah kabar tentang ratusan sekolah di Jabar menjadi klaster Covid-19 menyusul pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar, Dedi Supandi menyatakan, pihaknya telah melakukan kroscek kepada 1.295 sekolah di Jabar yang telah menggelar uji coba PTM pascaramainya kabar tersebut. Hasilnya, tidak ada satu pun sekolah di Jabar yang menjadi klaster COVID-19.

&quot;Ada isu muncul klaster PTM di Jabar. Saya sudah mengecek, dari jumlah sekolah yang tahun ini ada peningkatan sesuai data dapodik 5.033 (sekolah), yang (menggelar) PTM ada 1.295. Kita sudah cek lewat pengawasan dan cabang dinas di berbagai daerah, tidak ada satu pun klaster PTM,&quot; tegas Dedi di sela peninjauan vaksinasi massal bagi kalangan disabilitas di SLB Negeri Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Sabtu (25/9/2021).

Tidak sampai di situ, lanjut Dedi, untuk memastikan kabar tersebut, pihaknya juga melakukan pengecekan langsung kepada laman https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ sebagai sumber awal kabar tersebut beredar, termasuk kepada Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) hinga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

&quot;Kita juga coba mengecek ke jejaring dari sumber yang ada. Ternyata sumber itu setelah dibuka dan diklik tidak muncul datanya dan kita konfirmasi ke Pusdatin dan Kemendikbud, ternyata telah terjadi salah paham, miss comunication,&quot; terang Dedi.

Dedi menjelaskan, data yang sempat muncul di laman https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ tersebut bukan menunjukkan adanya klaster COVID-19 pascauji coba PTM, melainkan data terkait peserta didik yang pernah terpapar COVID-19 sebelum uji coba PTM dilaksanakan.

&quot;Jadi yang dimaksud bukan ada klaster PTM, tapi saat ini ada data sekian (sekolah) yang melakukan PTM, yang anak-anaknya dulu sempat terkena COVID-19. Jadi salah paham. Jadi kita sampaikan kepada publik bahwa tidak ada klaster PTM dan mohon doanya jangan sampai ada klaster PTM di Jabar,&quot; jelas Dedi.

Meski begitu, Dedi juga menekankan bahwa pihaknya tetap mengantisipasi munculnya klaster COVID-19 pascapelaksanaan PTM.

&quot;Kalau ditemukan kasus COVID-19 di klaster PTM, pertama sekolah harus melakukan tindakan segera. Kedua, menutup (sekolah) sementara. Ketiga, setelah menutup sementara terus disemprot disinfektan, maka silakan bukan kembali,&quot; tandas Dedi.

Diketahui, berdasarkan survei Kemendikbud Ristek terhadap sekolah  yang dipublikasikan pada laman https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/ per  Kamis, 23 September 2021, terdapat 149 klaster COVID-19 sekolah  ditemukan selama PTM di Provinsi Jabar.

Jumlah sekolah tersebut setara dengan 2,25 persen dari total 6.616  sekolah di Jabar yang telah mengisi survei. Dalam klaster tersebut,  terungkap bahwa 1.152 guru dan tenaga kependidikan serta 2.478 siswa  terpapar COVID-19.

Persentase klaster COVID-19 paling tinggi didapati pada jenjang  Sekolah Menengah Pertama (SMA) sebanyak 4,66 persen atau 16 sekolah dari  343 sekolah. Di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 29  sekolah atau 1,89 persen dan di jenjang Sekolah Dasar (SD) ada 61  sekolah atau 2,14 persen.

Sementara klaster Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat 24 sekolah  atau 2,15 persen dan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ada sembilan  sekolah atau 1,72 persen serta Sekolah Luar Biasa (SLB) terdapat dua  sekolah atau 2,06 persen.

&quot;Nah ini yang penting ada temuan Kemendikbud Ristek ada 150 katanya  klaster sekolah di Jabar Covid, tapi laporan hari ini dari Dinas  Pendidikan kami bahwa itu datanya belum valid, sudah dicek ke pusat dari  mana datanya itu masih belum terkonfimasi ya,&quot; ungkap Ridwan Kamil  dalam konferensi pers yang digelar virtual, Kamis (24/9/2021).</content:encoded></item></channel></rss>
