<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tinggal Tunggu Persetujuan Presiden, Pancasila Jadi Mata Pelajaran Sekolah?</title><description>Menurut Yudian, mata pelajaran Pancasila nantinya akan menggunakan metode buku yang terdiri dari 70 persen teori dan 30 persen praktik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/30/337/2479514/tinggal-tunggu-persetujuan-presiden-pancasila-jadi-mata-pelajaran-sekolah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/09/30/337/2479514/tinggal-tunggu-persetujuan-presiden-pancasila-jadi-mata-pelajaran-sekolah"/><item><title>Tinggal Tunggu Persetujuan Presiden, Pancasila Jadi Mata Pelajaran Sekolah?</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/09/30/337/2479514/tinggal-tunggu-persetujuan-presiden-pancasila-jadi-mata-pelajaran-sekolah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/09/30/337/2479514/tinggal-tunggu-persetujuan-presiden-pancasila-jadi-mata-pelajaran-sekolah</guid><pubDate>Kamis 30 September 2021 20:58 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Refi Sandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/30/337/2479514/tinggal-tunggu-persetujuan-presiden-pancasila-jadi-mata-pelajaran-sekolah-um8xa4N48D.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/30/337/2479514/tinggal-tunggu-persetujuan-presiden-pancasila-jadi-mata-pelajaran-sekolah-um8xa4N48D.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi menyebut pihaknya sedang membahas terkait mata pelajaran Pancasila di seluruh jenjang pendidikan Indonesia bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy. Menurutnya, rencana tersebut tinggal menunggu keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

&quot;Sedang kami bahas sama Pak Menko, yaitu akan menjadikan kembali Pancasila sebagai mata pelajaran dari PAUD hingga ke Perguruan Tinggi. Ini tinggal tunggu teken Presiden,&quot; kata Yudian dalam akun Youtube Bamusi TV, Kamis (30/9/2021).

Menurut Yudian, mata pelajaran Pancasila nantinya akan menggunakan metode buku yang terdiri dari 70 persen teori dan 30 persen praktik. Adapun yang dimaksud teroritis termasuk siapa penggagas Pancasila, kapan dan di mana rapat perumusannya dan lain sebagainya.

&amp;ldquo;Nanti termasuk peraturan perundang-undangannya, sehingga menjadi Pancasila misalnya sebagai falsafah negara, Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai pemersatu, itu tanda petik kognitif atau pengetahuan teoritis,&amp;rdquo; tuturnya.

Kemudian, 30 persen praktik dalam buku tersebut berisi keteladanan dari tokoh sejarah hingga masyarakat yang tetap menjunjung tinggi nilai Pancasila. Tak lain tunjuannya agar anak didik meneladani dan meniru keteladanan para tokoh.


Lebih lanjut, buku mata pelajaran Pancasila nantinya tidak hanya  tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta saja. Melainkan yokoh masyarakat  di tiap daerah akan ditampilkan dalam buku tersebut.

&amp;ldquo;Jadi keteladanan nanti didalam buku ini lebih ditampilkan pada  lokalitas masing-masing. Jadi kalau orang di Maluku nanti baca Pancasila  itu tokoh-tokohnya banyak yang dari Maluku, yang akan mereka bicarakan  di dalam kelas. Bagaimana orang Maluku muncul sebagai seorang  Pacasilais. Nanti di Aceh juga begitu,&amp;rdquo; terangnya.

&amp;ldquo;Walaupun seperti yang saya katakan, tetap dari atas ada tokoh-tokoh  utama itu dalam sejarah ada, yang diharapkan juga kita adil, tapi tidak  menutup pintu bagi yang belum muncul. Jadi teladan Pancasila akan selalu  hadir karena itu menyangkut detik nafas kehidupan kita. Jadi siapapun  di situ bisa jadi teladan Pancasila,&amp;rdquo; tutupnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi menyebut pihaknya sedang membahas terkait mata pelajaran Pancasila di seluruh jenjang pendidikan Indonesia bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy. Menurutnya, rencana tersebut tinggal menunggu keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

&quot;Sedang kami bahas sama Pak Menko, yaitu akan menjadikan kembali Pancasila sebagai mata pelajaran dari PAUD hingga ke Perguruan Tinggi. Ini tinggal tunggu teken Presiden,&quot; kata Yudian dalam akun Youtube Bamusi TV, Kamis (30/9/2021).

Menurut Yudian, mata pelajaran Pancasila nantinya akan menggunakan metode buku yang terdiri dari 70 persen teori dan 30 persen praktik. Adapun yang dimaksud teroritis termasuk siapa penggagas Pancasila, kapan dan di mana rapat perumusannya dan lain sebagainya.

&amp;ldquo;Nanti termasuk peraturan perundang-undangannya, sehingga menjadi Pancasila misalnya sebagai falsafah negara, Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai pemersatu, itu tanda petik kognitif atau pengetahuan teoritis,&amp;rdquo; tuturnya.

Kemudian, 30 persen praktik dalam buku tersebut berisi keteladanan dari tokoh sejarah hingga masyarakat yang tetap menjunjung tinggi nilai Pancasila. Tak lain tunjuannya agar anak didik meneladani dan meniru keteladanan para tokoh.


Lebih lanjut, buku mata pelajaran Pancasila nantinya tidak hanya  tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta saja. Melainkan yokoh masyarakat  di tiap daerah akan ditampilkan dalam buku tersebut.

&amp;ldquo;Jadi keteladanan nanti didalam buku ini lebih ditampilkan pada  lokalitas masing-masing. Jadi kalau orang di Maluku nanti baca Pancasila  itu tokoh-tokohnya banyak yang dari Maluku, yang akan mereka bicarakan  di dalam kelas. Bagaimana orang Maluku muncul sebagai seorang  Pacasilais. Nanti di Aceh juga begitu,&amp;rdquo; terangnya.

&amp;ldquo;Walaupun seperti yang saya katakan, tetap dari atas ada tokoh-tokoh  utama itu dalam sejarah ada, yang diharapkan juga kita adil, tapi tidak  menutup pintu bagi yang belum muncul. Jadi teladan Pancasila akan selalu  hadir karena itu menyangkut detik nafas kehidupan kita. Jadi siapapun  di situ bisa jadi teladan Pancasila,&amp;rdquo; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
