<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masih Dikaji BPOM, Vaksin Nusantara Siap Diuji Klinis Fase 3</title><description>Masyarakat masih menunggu hasil uji klinis Vaksin Nusantara yang dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/06/337/2482381/masih-dikaji-bpom-vaksin-nusantara-siap-diuji-klinis-fase-3</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/10/06/337/2482381/masih-dikaji-bpom-vaksin-nusantara-siap-diuji-klinis-fase-3"/><item><title>Masih Dikaji BPOM, Vaksin Nusantara Siap Diuji Klinis Fase 3</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/06/337/2482381/masih-dikaji-bpom-vaksin-nusantara-siap-diuji-klinis-fase-3</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/10/06/337/2482381/masih-dikaji-bpom-vaksin-nusantara-siap-diuji-klinis-fase-3</guid><pubDate>Rabu 06 Oktober 2021 20:22 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/06/337/2482381/masih-dikaji-bpom-vaksin-nusantara-siap-diuji-klinis-fase-3-GXKwCjgRkE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/06/337/2482381/masih-dikaji-bpom-vaksin-nusantara-siap-diuji-klinis-fase-3-GXKwCjgRkE.jpg</image><title>Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu hasil uji klinis Vaksin Nusantara yang dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto dan tim.

Tim Vaksin Nusantara siap melanjutkan uji klinis ke fase selanjutnya, namun masih menunggu hasil uji klinis fase 2 yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Mayor Jenderal TNI (Purn) dr Daniel Tjen Sp.S, salah seorang yang tergabung dalam Tim Vaksin Nusantara mengatakan, pihaknya siap melanjutkan uji klinis fase 3.

&quot;Jadi pada saat ini kemajuannya adalah, kita sedang menunggu publikasi dari uji klinis fase 2 dan apabila selesai kita akan lanjut (ke fase 3),&quot; ujar dr Daniel dalam webinar yang digelar Beranda Ruang Diskusi dengan moderator Chelsia Chan, Dosen Hukum Media Unika Atma Jaya, pada Rabu (6/10).&amp;nbsp;

dr Daniel berharap, Vaksin Nusantara yang secara khusus saat ini ditujukan kepada kelompok-kelompok yang sangat rentan, yang oleh sesuatu dan lain hal tidak bisa mendapatkan vaksin konvensional dapat menggunakan Vaksin Nusantara.

&quot;Apabila mereka terpapar oleh Covid-19, maka mereka akan berat. Sekali lagi keberadaan sel dendritik ini adalah untuk mengisi ruang sebagai peran serta kita karena kita ketahui bahwa ada kelompok masyarakat yang rentan hingga dan belum dapat perlindungan dari vaksin yang ada saat ini,&quot; tutur dr Daniel.

Tim Peneliti Vaksin Nusantara, kata dr Daniel, sesuai dengan arahan para pemimpin, termasuk dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tim akan bekerja sesuai dengan kaidah ilmiah. Hal itu juga menjadi patokan tim untuk menentukan siapa saja yang bisa menjadi relawan Vaksin Nusantara.

&quot;Jadi tim peneliti cermat dan kita yakin akan bekerja secara  profesional. Dan di situ ada kriteria kelompok masyarakat yang mana saja  bisa menjadi relawan,&quot; kata dia.

Vaksin Nusantara, kata dr Daniel, bersifat personal. Platform sel  dendritik sebagai salah satu platform imunoterapi sangat bersifat  individual dan presisi.

&quot;Ada perbedaan pendekatan pendekatan platform vaksin dendritik dengan  vaksin yang lain. Yang kita datangkan adalah perangkatnya,&quot; ungkapnya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melkiades Laka Lena  mengatakan, pihaknya sudah meminta agar BPOM segera mengeluarkan hasil  uji klinis tahap 2.

&quot;Intinya, dukungan dari DPR RI dari awal sejak vaksin ini belum  menjadi perhatian secara umum. Artinya, kami terus mendukung dan sejauh  ini kami melakukan berbagai upaya agar progres Vaksin Nusantara maju ke  depan. Komunikasi para pimpinan DPR RI dengan pemerintah, dengan  Presiden, Wapres dan menteri terkait termasuk BPOM terus kami lakukan,&quot;  tuturnya.

Di sisi lain, Melki mengaku dia dan keluarganya merupakan bagian dari relawan Vaksin Nusantara.

&quot;Saya termasuk yang beruntung, saya relawan Vaksin Nusantara. Istri  saya relawan, anak saya relawan, ponakan saya relawan, mama saya  relawan,&quot; ucapnya.

Namun lantaran Vaksin Nusantara belum ada di aplikasi Pedulilindungi,  Melki mengaku juga melakukan vaksinasi dengan vaksin konvensional.

&quot;Tapi untuk pengobatan murni saya pakai Vaksin Nusantara yang kemudian juga diterima oleh keluarga saya,&quot; imbuhnya.

Anggota DPD RI, Prof Dr Hj Silviana Murni SH, MSi sebagai salah  seorang yang mendapatkan penyuntikan langsung Vaksin Nusantara dari  Terawan mengaku tidak mendapatkan gejala apapun usai disuntik.

&quot;Saya meyakini bahwa Vaksin Nusantara ini mampu mengakselerasi  mengatasi pandemi Covid-19. Saya merasakan bahwa saya sehat. Bahkan,  saya keliling Indonesia. Alhamdullilah saya bisa bertestemoni agar  orang-orang bisa yakin bahwa Vaksin Nusantara ini memang sangat  ditunggu,&quot; terang Silviana Murni.

Silviana bahkan mengaku, ada salah satu temannya yang sengaja  menunggu Vaksin Nusantara dan belum melakukan vaksinasi konvesional.

&quot;Menunggu Vaksin Nusantara. Kasihan sekali mereka menunggu Vaksin Nusantara,&quot; imbuhnya.

Silviana berharap, pilihan terhadap Vaksin Nusantara dapat segera terwujud.

&quot;Pak Terawan mengatakan 'Saya tidak ingin apa-apa, saya hanya ingin  berbuat banyak untuk masyarakat lainnya'. Mudah-mudahan ini menjadi  langkah kita mengatasi pandemi Covid-19. Vaksin Nusantara Insyaallah itu  lah yang sangat kita butuhkan sebagai bangsa yang mandiri,&quot; tandasnya.

Hadir dalam Webinar dengan tema &quot;Merindukan Vaksin Nusantara&quot; para  pendiri Beranda Ruang Diskusi, Raldy Doy (tvOne) dan Dar Edi Yoga  (askara.co) serta wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.</description><content:encoded>JAKARTA - Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu hasil uji klinis Vaksin Nusantara yang dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto dan tim.

Tim Vaksin Nusantara siap melanjutkan uji klinis ke fase selanjutnya, namun masih menunggu hasil uji klinis fase 2 yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Mayor Jenderal TNI (Purn) dr Daniel Tjen Sp.S, salah seorang yang tergabung dalam Tim Vaksin Nusantara mengatakan, pihaknya siap melanjutkan uji klinis fase 3.

&quot;Jadi pada saat ini kemajuannya adalah, kita sedang menunggu publikasi dari uji klinis fase 2 dan apabila selesai kita akan lanjut (ke fase 3),&quot; ujar dr Daniel dalam webinar yang digelar Beranda Ruang Diskusi dengan moderator Chelsia Chan, Dosen Hukum Media Unika Atma Jaya, pada Rabu (6/10).&amp;nbsp;

dr Daniel berharap, Vaksin Nusantara yang secara khusus saat ini ditujukan kepada kelompok-kelompok yang sangat rentan, yang oleh sesuatu dan lain hal tidak bisa mendapatkan vaksin konvensional dapat menggunakan Vaksin Nusantara.

&quot;Apabila mereka terpapar oleh Covid-19, maka mereka akan berat. Sekali lagi keberadaan sel dendritik ini adalah untuk mengisi ruang sebagai peran serta kita karena kita ketahui bahwa ada kelompok masyarakat yang rentan hingga dan belum dapat perlindungan dari vaksin yang ada saat ini,&quot; tutur dr Daniel.

Tim Peneliti Vaksin Nusantara, kata dr Daniel, sesuai dengan arahan para pemimpin, termasuk dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tim akan bekerja sesuai dengan kaidah ilmiah. Hal itu juga menjadi patokan tim untuk menentukan siapa saja yang bisa menjadi relawan Vaksin Nusantara.

&quot;Jadi tim peneliti cermat dan kita yakin akan bekerja secara  profesional. Dan di situ ada kriteria kelompok masyarakat yang mana saja  bisa menjadi relawan,&quot; kata dia.

Vaksin Nusantara, kata dr Daniel, bersifat personal. Platform sel  dendritik sebagai salah satu platform imunoterapi sangat bersifat  individual dan presisi.

&quot;Ada perbedaan pendekatan pendekatan platform vaksin dendritik dengan  vaksin yang lain. Yang kita datangkan adalah perangkatnya,&quot; ungkapnya.

Sementara, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melkiades Laka Lena  mengatakan, pihaknya sudah meminta agar BPOM segera mengeluarkan hasil  uji klinis tahap 2.

&quot;Intinya, dukungan dari DPR RI dari awal sejak vaksin ini belum  menjadi perhatian secara umum. Artinya, kami terus mendukung dan sejauh  ini kami melakukan berbagai upaya agar progres Vaksin Nusantara maju ke  depan. Komunikasi para pimpinan DPR RI dengan pemerintah, dengan  Presiden, Wapres dan menteri terkait termasuk BPOM terus kami lakukan,&quot;  tuturnya.

Di sisi lain, Melki mengaku dia dan keluarganya merupakan bagian dari relawan Vaksin Nusantara.

&quot;Saya termasuk yang beruntung, saya relawan Vaksin Nusantara. Istri  saya relawan, anak saya relawan, ponakan saya relawan, mama saya  relawan,&quot; ucapnya.

Namun lantaran Vaksin Nusantara belum ada di aplikasi Pedulilindungi,  Melki mengaku juga melakukan vaksinasi dengan vaksin konvensional.

&quot;Tapi untuk pengobatan murni saya pakai Vaksin Nusantara yang kemudian juga diterima oleh keluarga saya,&quot; imbuhnya.

Anggota DPD RI, Prof Dr Hj Silviana Murni SH, MSi sebagai salah  seorang yang mendapatkan penyuntikan langsung Vaksin Nusantara dari  Terawan mengaku tidak mendapatkan gejala apapun usai disuntik.

&quot;Saya meyakini bahwa Vaksin Nusantara ini mampu mengakselerasi  mengatasi pandemi Covid-19. Saya merasakan bahwa saya sehat. Bahkan,  saya keliling Indonesia. Alhamdullilah saya bisa bertestemoni agar  orang-orang bisa yakin bahwa Vaksin Nusantara ini memang sangat  ditunggu,&quot; terang Silviana Murni.

Silviana bahkan mengaku, ada salah satu temannya yang sengaja  menunggu Vaksin Nusantara dan belum melakukan vaksinasi konvesional.

&quot;Menunggu Vaksin Nusantara. Kasihan sekali mereka menunggu Vaksin Nusantara,&quot; imbuhnya.

Silviana berharap, pilihan terhadap Vaksin Nusantara dapat segera terwujud.

&quot;Pak Terawan mengatakan 'Saya tidak ingin apa-apa, saya hanya ingin  berbuat banyak untuk masyarakat lainnya'. Mudah-mudahan ini menjadi  langkah kita mengatasi pandemi Covid-19. Vaksin Nusantara Insyaallah itu  lah yang sangat kita butuhkan sebagai bangsa yang mandiri,&quot; tandasnya.

Hadir dalam Webinar dengan tema &quot;Merindukan Vaksin Nusantara&quot; para  pendiri Beranda Ruang Diskusi, Raldy Doy (tvOne) dan Dar Edi Yoga  (askara.co) serta wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
