<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sosok Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, Ibu Soekarno dan Inspirasi Sukmawati Pindah ke Agama Hindu</title><description>Keputusan Sukmawati, yang memilih pindah agama dari Islam ke Hindu sedang menjadi perbincangan yang hangat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/23/337/2490660/sosok-ida-ayu-nyoman-rai-srimben-ibu-soekarno-dan-inspirasi-sukmawati-pindah-ke-agama-hindu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/10/23/337/2490660/sosok-ida-ayu-nyoman-rai-srimben-ibu-soekarno-dan-inspirasi-sukmawati-pindah-ke-agama-hindu"/><item><title>Sosok Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, Ibu Soekarno dan Inspirasi Sukmawati Pindah ke Agama Hindu</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/23/337/2490660/sosok-ida-ayu-nyoman-rai-srimben-ibu-soekarno-dan-inspirasi-sukmawati-pindah-ke-agama-hindu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/10/23/337/2490660/sosok-ida-ayu-nyoman-rai-srimben-ibu-soekarno-dan-inspirasi-sukmawati-pindah-ke-agama-hindu</guid><pubDate>Sabtu 23 Oktober 2021 19:34 WIB</pubDate><dc:creator>Vanessa Nathania</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/23/337/2490660/sosok-ida-ayu-nyoman-rai-srimben-ibu-soekarno-dan-inspirasi-sukmawati-pindah-ke-agama-hindu-NzXzoVXIkc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ida Ayo Nyoman Rai Srimben, ibunda Soekarno (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/23/337/2490660/sosok-ida-ayu-nyoman-rai-srimben-ibu-soekarno-dan-inspirasi-sukmawati-pindah-ke-agama-hindu-NzXzoVXIkc.jpg</image><title>Ida Ayo Nyoman Rai Srimben, ibunda Soekarno (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Keputusan Sukmawati, anak dari Soekarno yang memilih pindah agama dari Islam ke Hindu, sedang menjadi perbincangan yang hangat. Sukmawati sendiri mengakui salah satu alasannya adalah karena neneknya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben merupakan seorang yang beragama Hindu. Lalu, siapakah sosok Ida Ayu Nyoman Rai Srimben?

&amp;ldquo;Nenek beliau Nyoman Rai Sirimben asal Singaraja juga seorang Hindu. Jadi beliau juga menginginkan tempatnya bukan di Jakarta tapi di Bali,&quot; ujar Wedakarna menyampaikan keinginan Sukmawati yang ingin kembali ke agama leluhurnya.

Oleh karena itu, simak bahasan berikut ini, terkait sosok Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, sosok yang menjadi inspirasi dari Sukmawati.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan situs web Kepustakaan Presiden diketahui bahwa Ida Ayu Nyoman Rai Srimben lahir pada tahun 1881 sebagai Warga Negara Indonesia, berasal dari pasangan Nyoman Pasek dan ibunya, Ni Made Liran sebagai anak kedua.

Nama asli dari Ida Ayu Nyoman Rai Srimben adalah Nyoman Rai dengan nama sehari-hari dikenal sebagai Rai Srimben, yang berasal dari kata &amp;ldquo;Sri&amp;rdquo;, berarti kebahagiaan dan &amp;ldquo;Mben&amp;rdquo; yang bermakna rimbun. Sehingga nama Srimben juga dapat diartikan sebagai limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan.

Sedangkan nama Ida Ayu yang menjadi nama depannya sekarang, merupakan sebuah gelar yang diberikan langsung oleh Bung Karno, karena sudah melahirkan dan membesarkannya.

Ida Nyoman Rai diketahui tinggal dan tumbuh dewasa di suatu daerah yang dikenal dengan nama Banjar Bale Agung, berlokasi dekat dengan Pura Bale Agung atau disebut juga Pura Desa Buleleng.

Berdasarkan sumber disebutkan bahwa pertemuan Ida Ayu dengan R. Soekemi, ayah dari Ir. Soekarno berawal dari kedatangan Soekemi yang saat itu menjadi guru muda berwibawa ke rumah Ida Ayu. Soekami seringkali melihat Ida Ayu saat sedang berjalan menuju pura atau sedang melakukan kegiatan menari. Dari situlah hubungan mereka mulai dibangun.

Keduanya semakin mengenal satu sama lain setelah sahabat Ida Ayu, Made Lastri memperkenalkan keduanya.

Keduanya resmi menikah pada 15 Juni 1887. Anak pertama mereka adalah  Raden Soekarmini, yang juga dikenal sebagai Bu Wardoyo, yang lahir pada  29 Maret 1898. Setelah itu mereka pindah ke Surabaya.

Lalu, pada tanggal 6 Juni 1901, Ida Ayu melahirkan Soekarno atau  dikenal sebagai &amp;lsquo;Putera Sang Fajar&amp;rsquo; di Surabaya sekitar Makam Belanda  Kampong Pandean III, saat genap berusia 20 tahun.

Ida Ayu mendidik kedua anaknya dengan bekal spiritual pengajaran Hindu, sesuai dengan yang pernah dipelajarinya.

Enam bulan kemudian, Ida Ayu mengikuti suaminya ke kota kecil  kecamatan Ploso, Jombang, namun saat tinggal di sini, kesehatan kedua  anaknya tidak terlalu baik. Akhirnya, karena faktor kesehatan, Ida Ayu  sempat berpisah dengan Soekarno karena harus dirawat dan diasuh oleh  mertuanya di Tulung Agung.

Ida Ayu bertemu kembali dengan Soekarno saat mereka harus pindah ke  Mojokerto. Di sini pula, sang putri sulung menikah dan kemudian tinggal  bersama suaminya. Ida Ayu kala itu sangat sedih karena harus berpisah  dengan putri sulungnya, namun akhirnya ia memilih untuk fokus merawat  Soekarno. Namun, tidak berhenti disitu, Ida Ayu juga harus menetapkan  pilihannya ketika ia harus mengikuti suaminya bertugas di Blitar,  sedangkan Soekarno harus bersekolah di Surabaya. Dengan berat hati, ia  mengikuti suaminya dan menitipkan Soekarno di rumah HOS Cokroaminoto  untuk meneruskan sekolahnya.

Di Blitar, Ida Ayu tinggal di asrama sekolah yang sekarang dikenal  dengan Sekolah Menengah Umum 1 Blitar. Dirinya dipercaya untuk mengelola  asrama dan sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama  tersebut.

Blitar juga menjadi saksi kebahagiaan dari Ida Ayu yang saat itu  menikahkan Soekarno dengan putri HOS Cokroaminoto, Utari. Namun,  kemudian Soekarno memilih untuk menceraikannya. Perasaan Ida Ayu pun  hancur, tetapi dirinya hanya bisa mengatakan, &amp;ldquo;Pilihlah jalan yang  terbaik, dan kalau itu niatmu, silahkan jalani dengan baik.&amp;rdquo;

Perasaan haru, khawatir, suka dan duka selalu dirasakan Ida Ayu tiap  kali sebuah peristiwa terjadi oleh Soekarno. Ida Ayu kembali merasa  terharu saat putranya kembali ingin menikah bersama dengan janda bernama  Inggit Ganarsih, di Bandung. Akan tetapi, perasaan khawatir dan duka  kembali harus dirasakannya kala mendengar berita Soekarno harus  dipenjara di Penjara Sukamiskin Bandung, ia pun langsung datang ke  Bandung dan berniat menemui anaknya. Ketidaktahuannya akan politik  membuat Ida Ayu diusir oleh petugas Belanda, alih-alih dapat menemui  putranya.

Sejak saat itu, Ida Ayu sangat memperlihatkan ketidaksukaannya  terhadap orang Belanda. Disaat bersamaan, rumahnya yang di Blitar  diawasi oleh pejabat kala itu karena putranya dianggap melawan penjajah  Belanda. Pengalamannya di rumah tahanan, membuat Soekemi untuk  memutuskan pensiun dini sebagai guru dari Kementrian Pendidikan Belanda  di Batavia. Ida Ayu pun terus mendampingi suaminya di Blitar, sambil  menunggu surat kabar atau berita yang dibawa oleh kenalan dan saudaranya  tentang Soekarno baik di dalam maupun di luar tahanan.

Ida Ayu juga mendengar berita saat Soekarno memilih untuk bercerai  dengan Inggit dan menikah dengan Fatmawati. Hasil pernikahan keduanya  menghasilkan seorang cucu yang sangat diharapkan oleh Ida Ayu dan  Soekemi, keduanya melihat secara langsung kelahiran cucu mereka di  Jakarta.

Kebahagiaan atas lahirnya seorang cucu tidak berlangsung lama, Ida  Ayu harus menghadapi kenyataan saat suaminya mengalami sakit keras saat  di Jakarta dan akhirnya meninggal pada tanggal 8 Mei 1945. Ida Ayu pun  memilih kembali ke Blitar dan di hari tuanya, saat Soekarno sudah  menjadi orang pertama di Indonesia, Ida Ayu tidak pernah mau  menginjakkan kaki di Istana Negara.

Pada 12 September 1958, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben meninggal dunia  dan dimakamkan berdampingan dengan suami, Soekemi dan putranya,  Soekarno.

Kisah Ida Ayu bersama dengan Soekemi menjadi pelopor perkawinan  campuran antar suku, sehingga memberikan inspirasi juga untuk Soekarno  menyatakan Nusantara menjadi Republik Indonesia.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Keputusan Sukmawati, anak dari Soekarno yang memilih pindah agama dari Islam ke Hindu, sedang menjadi perbincangan yang hangat. Sukmawati sendiri mengakui salah satu alasannya adalah karena neneknya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben merupakan seorang yang beragama Hindu. Lalu, siapakah sosok Ida Ayu Nyoman Rai Srimben?

&amp;ldquo;Nenek beliau Nyoman Rai Sirimben asal Singaraja juga seorang Hindu. Jadi beliau juga menginginkan tempatnya bukan di Jakarta tapi di Bali,&quot; ujar Wedakarna menyampaikan keinginan Sukmawati yang ingin kembali ke agama leluhurnya.

Oleh karena itu, simak bahasan berikut ini, terkait sosok Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, sosok yang menjadi inspirasi dari Sukmawati.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan situs web Kepustakaan Presiden diketahui bahwa Ida Ayu Nyoman Rai Srimben lahir pada tahun 1881 sebagai Warga Negara Indonesia, berasal dari pasangan Nyoman Pasek dan ibunya, Ni Made Liran sebagai anak kedua.

Nama asli dari Ida Ayu Nyoman Rai Srimben adalah Nyoman Rai dengan nama sehari-hari dikenal sebagai Rai Srimben, yang berasal dari kata &amp;ldquo;Sri&amp;rdquo;, berarti kebahagiaan dan &amp;ldquo;Mben&amp;rdquo; yang bermakna rimbun. Sehingga nama Srimben juga dapat diartikan sebagai limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan.

Sedangkan nama Ida Ayu yang menjadi nama depannya sekarang, merupakan sebuah gelar yang diberikan langsung oleh Bung Karno, karena sudah melahirkan dan membesarkannya.

Ida Nyoman Rai diketahui tinggal dan tumbuh dewasa di suatu daerah yang dikenal dengan nama Banjar Bale Agung, berlokasi dekat dengan Pura Bale Agung atau disebut juga Pura Desa Buleleng.

Berdasarkan sumber disebutkan bahwa pertemuan Ida Ayu dengan R. Soekemi, ayah dari Ir. Soekarno berawal dari kedatangan Soekemi yang saat itu menjadi guru muda berwibawa ke rumah Ida Ayu. Soekami seringkali melihat Ida Ayu saat sedang berjalan menuju pura atau sedang melakukan kegiatan menari. Dari situlah hubungan mereka mulai dibangun.

Keduanya semakin mengenal satu sama lain setelah sahabat Ida Ayu, Made Lastri memperkenalkan keduanya.

Keduanya resmi menikah pada 15 Juni 1887. Anak pertama mereka adalah  Raden Soekarmini, yang juga dikenal sebagai Bu Wardoyo, yang lahir pada  29 Maret 1898. Setelah itu mereka pindah ke Surabaya.

Lalu, pada tanggal 6 Juni 1901, Ida Ayu melahirkan Soekarno atau  dikenal sebagai &amp;lsquo;Putera Sang Fajar&amp;rsquo; di Surabaya sekitar Makam Belanda  Kampong Pandean III, saat genap berusia 20 tahun.

Ida Ayu mendidik kedua anaknya dengan bekal spiritual pengajaran Hindu, sesuai dengan yang pernah dipelajarinya.

Enam bulan kemudian, Ida Ayu mengikuti suaminya ke kota kecil  kecamatan Ploso, Jombang, namun saat tinggal di sini, kesehatan kedua  anaknya tidak terlalu baik. Akhirnya, karena faktor kesehatan, Ida Ayu  sempat berpisah dengan Soekarno karena harus dirawat dan diasuh oleh  mertuanya di Tulung Agung.

Ida Ayu bertemu kembali dengan Soekarno saat mereka harus pindah ke  Mojokerto. Di sini pula, sang putri sulung menikah dan kemudian tinggal  bersama suaminya. Ida Ayu kala itu sangat sedih karena harus berpisah  dengan putri sulungnya, namun akhirnya ia memilih untuk fokus merawat  Soekarno. Namun, tidak berhenti disitu, Ida Ayu juga harus menetapkan  pilihannya ketika ia harus mengikuti suaminya bertugas di Blitar,  sedangkan Soekarno harus bersekolah di Surabaya. Dengan berat hati, ia  mengikuti suaminya dan menitipkan Soekarno di rumah HOS Cokroaminoto  untuk meneruskan sekolahnya.

Di Blitar, Ida Ayu tinggal di asrama sekolah yang sekarang dikenal  dengan Sekolah Menengah Umum 1 Blitar. Dirinya dipercaya untuk mengelola  asrama dan sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama  tersebut.

Blitar juga menjadi saksi kebahagiaan dari Ida Ayu yang saat itu  menikahkan Soekarno dengan putri HOS Cokroaminoto, Utari. Namun,  kemudian Soekarno memilih untuk menceraikannya. Perasaan Ida Ayu pun  hancur, tetapi dirinya hanya bisa mengatakan, &amp;ldquo;Pilihlah jalan yang  terbaik, dan kalau itu niatmu, silahkan jalani dengan baik.&amp;rdquo;

Perasaan haru, khawatir, suka dan duka selalu dirasakan Ida Ayu tiap  kali sebuah peristiwa terjadi oleh Soekarno. Ida Ayu kembali merasa  terharu saat putranya kembali ingin menikah bersama dengan janda bernama  Inggit Ganarsih, di Bandung. Akan tetapi, perasaan khawatir dan duka  kembali harus dirasakannya kala mendengar berita Soekarno harus  dipenjara di Penjara Sukamiskin Bandung, ia pun langsung datang ke  Bandung dan berniat menemui anaknya. Ketidaktahuannya akan politik  membuat Ida Ayu diusir oleh petugas Belanda, alih-alih dapat menemui  putranya.

Sejak saat itu, Ida Ayu sangat memperlihatkan ketidaksukaannya  terhadap orang Belanda. Disaat bersamaan, rumahnya yang di Blitar  diawasi oleh pejabat kala itu karena putranya dianggap melawan penjajah  Belanda. Pengalamannya di rumah tahanan, membuat Soekemi untuk  memutuskan pensiun dini sebagai guru dari Kementrian Pendidikan Belanda  di Batavia. Ida Ayu pun terus mendampingi suaminya di Blitar, sambil  menunggu surat kabar atau berita yang dibawa oleh kenalan dan saudaranya  tentang Soekarno baik di dalam maupun di luar tahanan.

Ida Ayu juga mendengar berita saat Soekarno memilih untuk bercerai  dengan Inggit dan menikah dengan Fatmawati. Hasil pernikahan keduanya  menghasilkan seorang cucu yang sangat diharapkan oleh Ida Ayu dan  Soekemi, keduanya melihat secara langsung kelahiran cucu mereka di  Jakarta.

Kebahagiaan atas lahirnya seorang cucu tidak berlangsung lama, Ida  Ayu harus menghadapi kenyataan saat suaminya mengalami sakit keras saat  di Jakarta dan akhirnya meninggal pada tanggal 8 Mei 1945. Ida Ayu pun  memilih kembali ke Blitar dan di hari tuanya, saat Soekarno sudah  menjadi orang pertama di Indonesia, Ida Ayu tidak pernah mau  menginjakkan kaki di Istana Negara.

Pada 12 September 1958, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben meninggal dunia  dan dimakamkan berdampingan dengan suami, Soekemi dan putranya,  Soekarno.

Kisah Ida Ayu bersama dengan Soekemi menjadi pelopor perkawinan  campuran antar suku, sehingga memberikan inspirasi juga untuk Soekarno  menyatakan Nusantara menjadi Republik Indonesia.
</content:encoded></item></channel></rss>
