<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ida Ayu Nyoman Rai Srimben: Nenek Sukmawati yang Nekat Melawan Adat Demi Cinta</title><description>Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Soekarno, bakal pindah agama dari Islam ke Hindu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/26/337/2491735/ida-ayu-nyoman-rai-srimben-nenek-sukmawati-yang-nekat-melawan-adat-demi-cinta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/10/26/337/2491735/ida-ayu-nyoman-rai-srimben-nenek-sukmawati-yang-nekat-melawan-adat-demi-cinta"/><item><title>Ida Ayu Nyoman Rai Srimben: Nenek Sukmawati yang Nekat Melawan Adat Demi Cinta</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/26/337/2491735/ida-ayu-nyoman-rai-srimben-nenek-sukmawati-yang-nekat-melawan-adat-demi-cinta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/10/26/337/2491735/ida-ayu-nyoman-rai-srimben-nenek-sukmawati-yang-nekat-melawan-adat-demi-cinta</guid><pubDate>Selasa 26 Oktober 2021 09:01 WIB</pubDate><dc:creator>Mohamad Chusna</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/26/337/2491735/ida-ayu-nyoman-rai-srimben-nenek-sukmawati-yang-nekat-melawan-adat-demi-cinta-e6HA9yjzl5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ida Ayu Nyoman Rai Srimben (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/26/337/2491735/ida-ayu-nyoman-rai-srimben-nenek-sukmawati-yang-nekat-melawan-adat-demi-cinta-e6HA9yjzl5.jpg</image><title>Ida Ayu Nyoman Rai Srimben (Foto: Ist)</title></images><description>DENPASAR - Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Soekarno, bakal pindah agama dari Islam ke Hindu. Keputusan itu diambil lantaran dia ingin kembali ke agama leluhurnya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.

Srimben lahir pada 1881 dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Lahir sebagai anak kedua, Srimben dari kecil tinggal di Bale Agung hingga tumbuh menjadi gadis.

Rumah keluarga besar Srimben yang kini ikut wilayah Banjar Bale Agung terbilang sangat luas. &quot;Rumah kami keluarga besar dengan luas tanah sekitar setengah hektar. Antara satu rumah dengan rumah lain ada hubungan persaudaraan,&quot; kata Jro Made Arsana, salah satu pewaris Bale Agung.

Arsana yang juga menjadi penglingsir Bale Agung mengisahkan, Srimben sejak kecil hidup dalam adat Bali yang kuat. Ini karena keluarganya merupakan pemangku atau pemuka agama Hindu.

Setiap hari, Srimben menghabiskan waktunya untuk ngayah atau bekerja dengan tulus ikhlas di Pura Bale Agung. Mulai dari membersihkan pura hingga menyiapkan sesajen yang setiap hari dipakai bersembahyang di pura.

Hingga satu ketika, Srimben sedang membawakan tarian di pura, tepatnya saat Hari Raya Galungan. Tiba-tiba, matanya tertuju kepada seorang lekaki yang sejak tadi menatapnya. Pria itu tidak lain adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Soekemi merupakan guru sekolah rendah di Singaraja yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan Kolonial Belanda. Saat itu, guru asal Jawa itu sudah dua tahun ditempatkan di Bali.

Setelah berkenalan di pura, beberapa hari kemudian Soekemi memberanikan diri ke rumah Srimben. Tanpa disangka, keluarga besar Bale Agung membukakan pintu lebar. Soekemi rupanya punya keahlian membaca lontar sehingga dikagumi keluarga Srimben.

Soekemi memanfaatkan kesempatan itu untuk terus melakukan pendekatan  kepada Srimben. Singkat cerita, Srimben pun tak kuasa menolak ketika  Soekemi menyatakan cintanya.

Dengan penuh keyakinan, Soekemi lalu datang menemui Nyoman Pasek  seraya menyatakan ingin menikahi anaknya. &quot;Bapak Srimben dengan tegas  menjawab tidak bisa. Soekemi orang Jawa, agamanya Islam,&quot; tutur Arsana.

Menurut Arsana, penolakan Nyoman Pasek memang sesuai doktrin leluhurnya jaman itu.
&quot;Dulu ada semacam doktrin di leluhur kami, kalau laki-laki dan perempuan kawinnya intern di sini saja,&quot; ungkapnya.

Puncaknya, 15 Juni 1887. Srimben yang saat itu berumur 17 tahun nekat  meninggalkan keluarga besar dan melepas adatnya untuk kawin lari  bersama Soekemi. Keduanya menikah tanpa restu orangtua Srimben.

Dalam buku &quot;Ibu Indonesia dalam Kenangan&quot; yang ditulis Nurinwa Ki S  Hendrowinoto dkk terungkap, setelah pernikahan, Soekemi dan Srimben  menemui Nyoman Pasek lewat bantuan seorang kepala polisi.

Nyoman Pasek lalu menanyai Srimben. &quot;Kenapa kamu berani merangkat  dengan orang luar? Padahal kamu tahu ini sangat bertentangan dengan adat  keluarga Bale Agung. Tidakkah kamu dipaksa?&amp;rdquo;

Srimben tak kuasa membendung air mata sambil menjawab &quot;Bapak, saya  berani merangkat karena saya sangat mencintai I Raden, begitu pula I  Raden terhadap saya&quot;.

Meski kecewa, Nyoman Pasek berusaha berbesar hati seraya menimpali  &quot;Walaupun begitu, kamu dan I Raden tetap bersalah tidak diperkenankan  pulang ke Bale Agung sebelum mendapat izin dari Bapak, dan Bapak akan  tetap menyelesaikan persoalan ini ke pengadilan&quot;.

Pengadilan akhirnya memutuskan menjatuhkan denda sebesar 25 ringgit  setara 25 dolar. Untuk membayar, Srimben harus menjual perhiasannya.

Menurut Arsana, Srimben memang melanggar adat. &quot;Tapi kami akhirnya  sadar diri. Rai Srimben itu kan perempuan Bali kawin dengan orang Jawa  dan melepaskan adatnya. Bagi kami sudah keluar, ya sudah,&quot; cetusnya.

Meski Srimben telah berani menentang adat, Arsana mengatakan semua  itu telah diatur dan direncanakan Tuhan. &quot;Ini takdir harus terjadi. Kita  juga tidak tahu akan lahir seorang Sukarno,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>DENPASAR - Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Soekarno, bakal pindah agama dari Islam ke Hindu. Keputusan itu diambil lantaran dia ingin kembali ke agama leluhurnya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.

Srimben lahir pada 1881 dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Lahir sebagai anak kedua, Srimben dari kecil tinggal di Bale Agung hingga tumbuh menjadi gadis.

Rumah keluarga besar Srimben yang kini ikut wilayah Banjar Bale Agung terbilang sangat luas. &quot;Rumah kami keluarga besar dengan luas tanah sekitar setengah hektar. Antara satu rumah dengan rumah lain ada hubungan persaudaraan,&quot; kata Jro Made Arsana, salah satu pewaris Bale Agung.

Arsana yang juga menjadi penglingsir Bale Agung mengisahkan, Srimben sejak kecil hidup dalam adat Bali yang kuat. Ini karena keluarganya merupakan pemangku atau pemuka agama Hindu.

Setiap hari, Srimben menghabiskan waktunya untuk ngayah atau bekerja dengan tulus ikhlas di Pura Bale Agung. Mulai dari membersihkan pura hingga menyiapkan sesajen yang setiap hari dipakai bersembahyang di pura.

Hingga satu ketika, Srimben sedang membawakan tarian di pura, tepatnya saat Hari Raya Galungan. Tiba-tiba, matanya tertuju kepada seorang lekaki yang sejak tadi menatapnya. Pria itu tidak lain adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Soekemi merupakan guru sekolah rendah di Singaraja yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan Kolonial Belanda. Saat itu, guru asal Jawa itu sudah dua tahun ditempatkan di Bali.

Setelah berkenalan di pura, beberapa hari kemudian Soekemi memberanikan diri ke rumah Srimben. Tanpa disangka, keluarga besar Bale Agung membukakan pintu lebar. Soekemi rupanya punya keahlian membaca lontar sehingga dikagumi keluarga Srimben.

Soekemi memanfaatkan kesempatan itu untuk terus melakukan pendekatan  kepada Srimben. Singkat cerita, Srimben pun tak kuasa menolak ketika  Soekemi menyatakan cintanya.

Dengan penuh keyakinan, Soekemi lalu datang menemui Nyoman Pasek  seraya menyatakan ingin menikahi anaknya. &quot;Bapak Srimben dengan tegas  menjawab tidak bisa. Soekemi orang Jawa, agamanya Islam,&quot; tutur Arsana.

Menurut Arsana, penolakan Nyoman Pasek memang sesuai doktrin leluhurnya jaman itu.
&quot;Dulu ada semacam doktrin di leluhur kami, kalau laki-laki dan perempuan kawinnya intern di sini saja,&quot; ungkapnya.

Puncaknya, 15 Juni 1887. Srimben yang saat itu berumur 17 tahun nekat  meninggalkan keluarga besar dan melepas adatnya untuk kawin lari  bersama Soekemi. Keduanya menikah tanpa restu orangtua Srimben.

Dalam buku &quot;Ibu Indonesia dalam Kenangan&quot; yang ditulis Nurinwa Ki S  Hendrowinoto dkk terungkap, setelah pernikahan, Soekemi dan Srimben  menemui Nyoman Pasek lewat bantuan seorang kepala polisi.

Nyoman Pasek lalu menanyai Srimben. &quot;Kenapa kamu berani merangkat  dengan orang luar? Padahal kamu tahu ini sangat bertentangan dengan adat  keluarga Bale Agung. Tidakkah kamu dipaksa?&amp;rdquo;

Srimben tak kuasa membendung air mata sambil menjawab &quot;Bapak, saya  berani merangkat karena saya sangat mencintai I Raden, begitu pula I  Raden terhadap saya&quot;.

Meski kecewa, Nyoman Pasek berusaha berbesar hati seraya menimpali  &quot;Walaupun begitu, kamu dan I Raden tetap bersalah tidak diperkenankan  pulang ke Bale Agung sebelum mendapat izin dari Bapak, dan Bapak akan  tetap menyelesaikan persoalan ini ke pengadilan&quot;.

Pengadilan akhirnya memutuskan menjatuhkan denda sebesar 25 ringgit  setara 25 dolar. Untuk membayar, Srimben harus menjual perhiasannya.

Menurut Arsana, Srimben memang melanggar adat. &quot;Tapi kami akhirnya  sadar diri. Rai Srimben itu kan perempuan Bali kawin dengan orang Jawa  dan melepaskan adatnya. Bagi kami sudah keluar, ya sudah,&quot; cetusnya.

Meski Srimben telah berani menentang adat, Arsana mengatakan semua  itu telah diatur dan direncanakan Tuhan. &quot;Ini takdir harus terjadi. Kita  juga tidak tahu akan lahir seorang Sukarno,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
