<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kegiatan Keagamaan Akhirnya Dibuka Kembali Setelah Menanti 20 Bulan</title><description>Reisa mengungkapkan bahwa pembukaan kegiatan keagamaan ini akan dibuka secara bertahap.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/27/337/2492615/kegiatan-keagamaan-akhirnya-dibuka-kembali-setelah-menanti-20-bulan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/10/27/337/2492615/kegiatan-keagamaan-akhirnya-dibuka-kembali-setelah-menanti-20-bulan"/><item><title>Kegiatan Keagamaan Akhirnya Dibuka Kembali Setelah Menanti 20 Bulan</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/27/337/2492615/kegiatan-keagamaan-akhirnya-dibuka-kembali-setelah-menanti-20-bulan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/10/27/337/2492615/kegiatan-keagamaan-akhirnya-dibuka-kembali-setelah-menanti-20-bulan</guid><pubDate>Rabu 27 Oktober 2021 15:08 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/27/337/2492615/kegiatan-keagamaan-akhirnya-dibuka-kembali-setelah-menanti-20-bulan-PvxHRpyHBa.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Dokter Reisa Broto Asmoro (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/27/337/2492615/kegiatan-keagamaan-akhirnya-dibuka-kembali-setelah-menanti-20-bulan-PvxHRpyHBa.jpeg</image><title>Dokter Reisa Broto Asmoro (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Reisa Broto Asmoro menegaskan pembukaan kegiatan keagamaan saat ini kembali diizinkan setelah kurang lebih harus menanti sekitar 20 bulan lamanya.

Meskipun, Reisa mengungkapkan bahwa pembukaan kegiatan keagamaan ini akan dibuka secara bertahap. &amp;ldquo;Tentunya ini bertahap ya dan kegiatan itu juga dilakukan setelah menunggu kurang lebih sekitar 20 bulan, sampai situasi lebih kondusif. Tentu harus diperhatikan beberapa syarat yang memang harus dipenuhi kalau kita mau melakukan upacara atau kegiatan keagamaan di masyarakat,&amp;rdquo; ungkapnya secara virtual, Rabu (27/10/2021).

Reisa pun menceritakan belum lama ini kegiatan keagamaan &amp;ldquo;Ngaben&amp;rdquo; di Bali juga telah kembali bisa dilaksanakan secara besar-besaran.

&amp;ldquo;Sebenarnya saya sempat mengamati langsung kegiatan keagamaan di Bali Berapa tanggal 8 Oktober 2021 yang lalu telah diadakan acara kremasi seorang tokoh besar atau pelebon ya atau Ngaben ya pendeta yang waktu itu dilaksanakan secara besar-besaran.&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Kenapa itu boleh ya? Karena kita melihat berbagai prasyarat awalnya sudah dipenuhi. Dari mulai positivity rate,&amp;rdquo; kata Reisa.

Reisa menjelaskan pada saat itu positivity rate Bali itu berada  dibawah 1%, artinya tingkat konfirmasi harian rendah. &amp;ldquo;Padahal indikator  minimal positivity rate itu adalah 5%. Sedangkan angkat tracing atau  penelusuran sudah naik yang rata-rata 5 orang per kasus terkonfirmasi  kini jadi 8 orang atau lebih. Meski idealnya ada 15 orang ya.&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Kita juga lihat BOR atau tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit  dibawah 10%. Itu jauh dengan angka yang ditetapkan oleh WHO, kalau WHO  menetapkan standar minimal dibawah 60%,&amp;rdquo; paparnya.

Tentunya, kata Reisa dengan adanya terus menurun, kesembuhan tetap  terus tinggi, angka kasus aktif berkurang, dan case fatality turun.  &amp;ldquo;Maka beberapa upacara besar ya keagamaan itu sudah boleh dilakukan  kembali itu,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Reisa Broto Asmoro menegaskan pembukaan kegiatan keagamaan saat ini kembali diizinkan setelah kurang lebih harus menanti sekitar 20 bulan lamanya.

Meskipun, Reisa mengungkapkan bahwa pembukaan kegiatan keagamaan ini akan dibuka secara bertahap. &amp;ldquo;Tentunya ini bertahap ya dan kegiatan itu juga dilakukan setelah menunggu kurang lebih sekitar 20 bulan, sampai situasi lebih kondusif. Tentu harus diperhatikan beberapa syarat yang memang harus dipenuhi kalau kita mau melakukan upacara atau kegiatan keagamaan di masyarakat,&amp;rdquo; ungkapnya secara virtual, Rabu (27/10/2021).

Reisa pun menceritakan belum lama ini kegiatan keagamaan &amp;ldquo;Ngaben&amp;rdquo; di Bali juga telah kembali bisa dilaksanakan secara besar-besaran.

&amp;ldquo;Sebenarnya saya sempat mengamati langsung kegiatan keagamaan di Bali Berapa tanggal 8 Oktober 2021 yang lalu telah diadakan acara kremasi seorang tokoh besar atau pelebon ya atau Ngaben ya pendeta yang waktu itu dilaksanakan secara besar-besaran.&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Kenapa itu boleh ya? Karena kita melihat berbagai prasyarat awalnya sudah dipenuhi. Dari mulai positivity rate,&amp;rdquo; kata Reisa.

Reisa menjelaskan pada saat itu positivity rate Bali itu berada  dibawah 1%, artinya tingkat konfirmasi harian rendah. &amp;ldquo;Padahal indikator  minimal positivity rate itu adalah 5%. Sedangkan angkat tracing atau  penelusuran sudah naik yang rata-rata 5 orang per kasus terkonfirmasi  kini jadi 8 orang atau lebih. Meski idealnya ada 15 orang ya.&amp;rdquo;

&amp;ldquo;Kita juga lihat BOR atau tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit  dibawah 10%. Itu jauh dengan angka yang ditetapkan oleh WHO, kalau WHO  menetapkan standar minimal dibawah 60%,&amp;rdquo; paparnya.

Tentunya, kata Reisa dengan adanya terus menurun, kesembuhan tetap  terus tinggi, angka kasus aktif berkurang, dan case fatality turun.  &amp;ldquo;Maka beberapa upacara besar ya keagamaan itu sudah boleh dilakukan  kembali itu,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
