<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2 Tokoh Nasional yang Diketahui Pindah Agama, Salah Satunya Pahlawan Revolusi</title><description>2 tokoh nasional ini memutuskan untuk pindah keyakinan ketika dewasa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/29/337/2493327/2-tokoh-nasional-yang-diketahui-pindah-agama-salah-satunya-pahlawan-revolusi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2021/10/29/337/2493327/2-tokoh-nasional-yang-diketahui-pindah-agama-salah-satunya-pahlawan-revolusi"/><item><title>2 Tokoh Nasional yang Diketahui Pindah Agama, Salah Satunya Pahlawan Revolusi</title><link>https://news.okezone.com/read/2021/10/29/337/2493327/2-tokoh-nasional-yang-diketahui-pindah-agama-salah-satunya-pahlawan-revolusi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2021/10/29/337/2493327/2-tokoh-nasional-yang-diketahui-pindah-agama-salah-satunya-pahlawan-revolusi</guid><pubDate>Jum'at 29 Oktober 2021 07:06 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Litbang MPI</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/28/337/2493327/2-tokoh-nasional-yang-diketahui-pindah-agama-salah-satunya-pahlawan-revolusi-yzwTSQeD1G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sugiono Mangunwiyoto (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/28/337/2493327/2-tokoh-nasional-yang-diketahui-pindah-agama-salah-satunya-pahlawan-revolusi-yzwTSQeD1G.jpg</image><title>Sugiono Mangunwiyoto (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Meskipun menganut agama Islam sejak kecil, namun 2 tokoh nasional ini memutuskan untuk pindah keyakinan ketika dewasa.

Mereka adalah Slamet Riyadi dan Sugiyono Mangunwiyoto. Beragam faktor mempengaruhi perpindahan agama keduanya. Mulai dari terkesima dengan lantunan lagu gereja, hingga menikah dengan pasangan. Berikut kisahnya.

Slamet Riyadi

Brigjen TNI (Anm) TNI Ignatius Slamet Riyadi merupakan pahlawan Indonesia yang lahir di Surakarta, 27 Juli 1927. Ketika dilahirkan, orangtuanya memberi nama Soekamto. Namun ketika berusia 7 tahun, ibunya menjatuhkan Soekamto dan setelahnya ia sering sakit-sakitan. Akhirnya, orangtuanya mengganti nama Soekamto menjadi Slamet.

Sementara itu, Riyadi (nama belakangnya) diberikan kepadanya saat duduk di bangku sekolah. Sebab, sudah banyak teman-temannya yang memiliki nama Slamet.

Usai lulus dari bangku sekolah menengah atas, Slamet memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke akademi pelaut Jakarta pada tahun 1942. Ia pun bekerja sebagai navigator setelah menyelesaikan pendidikannya itu.

Saat mendapat kabar kekalahan Jepang, Slamet langsung mendukung perlawanan dan ikut melakukan gencatan senjata di Surakarta. Ia juga mempertahankan kemerdekaan saat Belanda kembali berusaha menduduki tanah air, setelah kekalahan Jepang.

Berbagai sumber menyebut, Slamet mengalami kejadian religi saat melakukan perlawanannya ini. Ia memutuskan pindah agama menjadi Katolik karena mendengar alunan lagu yang diputar di sebuahgereja.

Slamet dibaptis pada 1949 di Solo, saat usianya menginjak 22 tahun. Dirinya juga mendapat nama baptis, yakni Ignatius. Slamet gugur pada 1950, saat perang di RMS atau Republik Maluku Selatan. Dirinya dianugerahi pangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) TNI.

Sugijono Mangunwiyoto

Kolonel Inf (Anumerta) Sugijono Mangunwiyoto atau Sugiyono merupakan  pahlawan nasional yang menjadi korban kebengisan Gerakan 30 September  pada 1965.

Sugiyono lahir di Gunung Kidul, 12 Agustus 1926. Sebenarnya, ia  sempat mengenyam pendidikan di sekolah keguruan. Namun setelah lulus,  Sugiyono tidak berminat menjadi guru.

Ia justru masuk ke pendidikan militer PETA (pembelatanah air) dan  menjadi ajudan Komando Brigade 10, Letkol Soeharto di tahun 1946.

Tragis, ia ikut dibunuh bersama atasannya, Brigjen Katamso. Jasad  keduanya dimasukkan ke lubang yang sama di Yogyakarta. Setelah berhasil  ditemukan, ia dan Katamso dimakamkan di TMP Kusumanegara, Yogyakarta.

Sugiyono rupanya juga memutuskan untuk memeluk agama Kristen saat menikahi istrinya, Soeprapti pada 1953.



</description><content:encoded>JAKARTA - Meskipun menganut agama Islam sejak kecil, namun 2 tokoh nasional ini memutuskan untuk pindah keyakinan ketika dewasa.

Mereka adalah Slamet Riyadi dan Sugiyono Mangunwiyoto. Beragam faktor mempengaruhi perpindahan agama keduanya. Mulai dari terkesima dengan lantunan lagu gereja, hingga menikah dengan pasangan. Berikut kisahnya.

Slamet Riyadi

Brigjen TNI (Anm) TNI Ignatius Slamet Riyadi merupakan pahlawan Indonesia yang lahir di Surakarta, 27 Juli 1927. Ketika dilahirkan, orangtuanya memberi nama Soekamto. Namun ketika berusia 7 tahun, ibunya menjatuhkan Soekamto dan setelahnya ia sering sakit-sakitan. Akhirnya, orangtuanya mengganti nama Soekamto menjadi Slamet.

Sementara itu, Riyadi (nama belakangnya) diberikan kepadanya saat duduk di bangku sekolah. Sebab, sudah banyak teman-temannya yang memiliki nama Slamet.

Usai lulus dari bangku sekolah menengah atas, Slamet memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke akademi pelaut Jakarta pada tahun 1942. Ia pun bekerja sebagai navigator setelah menyelesaikan pendidikannya itu.

Saat mendapat kabar kekalahan Jepang, Slamet langsung mendukung perlawanan dan ikut melakukan gencatan senjata di Surakarta. Ia juga mempertahankan kemerdekaan saat Belanda kembali berusaha menduduki tanah air, setelah kekalahan Jepang.

Berbagai sumber menyebut, Slamet mengalami kejadian religi saat melakukan perlawanannya ini. Ia memutuskan pindah agama menjadi Katolik karena mendengar alunan lagu yang diputar di sebuahgereja.

Slamet dibaptis pada 1949 di Solo, saat usianya menginjak 22 tahun. Dirinya juga mendapat nama baptis, yakni Ignatius. Slamet gugur pada 1950, saat perang di RMS atau Republik Maluku Selatan. Dirinya dianugerahi pangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) TNI.

Sugijono Mangunwiyoto

Kolonel Inf (Anumerta) Sugijono Mangunwiyoto atau Sugiyono merupakan  pahlawan nasional yang menjadi korban kebengisan Gerakan 30 September  pada 1965.

Sugiyono lahir di Gunung Kidul, 12 Agustus 1926. Sebenarnya, ia  sempat mengenyam pendidikan di sekolah keguruan. Namun setelah lulus,  Sugiyono tidak berminat menjadi guru.

Ia justru masuk ke pendidikan militer PETA (pembelatanah air) dan  menjadi ajudan Komando Brigade 10, Letkol Soeharto di tahun 1946.

Tragis, ia ikut dibunuh bersama atasannya, Brigjen Katamso. Jasad  keduanya dimasukkan ke lubang yang sama di Yogyakarta. Setelah berhasil  ditemukan, ia dan Katamso dimakamkan di TMP Kusumanegara, Yogyakarta.

Sugiyono rupanya juga memutuskan untuk memeluk agama Kristen saat menikahi istrinya, Soeprapti pada 1953.



</content:encoded></item></channel></rss>
